Kamis, 30 Juni 2011

"Sebuah Diary Pink"

Berjalan keluar kelas dengan langkah malas tak menghiraukan teman-temannya. Melangkah dalam urutan terakhir dari semua anak-anak sekelasnya. Dengan langkah lunglai dan sedikit saja menghiraukan sekitar yg mulai memandanginya. Siswa laki-laki yg sering menjadi pujian teman-temannya karena terkenal sangat cuek di sekolah itu. Siswa yg menjadi buah bibir para siswa perempuan  karena tidak pernah peduli pada mereka jika bertemu. Yah namanya Aldo, siswa kelas 2 di SMA Jayabakti. Perlahan ia meninggalkan gerbang sekolah, sementara beberapa temannya masih asyik mengobrol dan bergurau sepulang sekolah. Beberapa lagi juga meninggalkan gerbang semakin jauh seperti halnya Aldo.
Sebentar ia berjalan menapaki jalan yg dilewatinya. Tanpa sadar kakinya menginjak sesuatu. Berwarna pink, sekecil ukuran kotak bungkus Susu Milo ukuran kecil. Tersampul pink rapi dan menampakkan gaya cewek sekali bila memandangnya. Benda itu diambil dan dilihatnya tertulis "Diary". ‘Milik siapa ini’ pikir Aldo dalam hati. Lalu dilihatnya di belakang buku itu tertulis ”Semua curahan hati tergores di dalam lembaran kertas, bertumpukkan di dalam sebuah kenangan dalam hati menjadi cerita di dalam hidup yang penuh warna”. Aldo berfikir ’Ah, sepertinya pemiliknya mempunyai sifat yang tertutup dalam sikap dan apa yang dilakukan’. Ia menoleh ke kanan dan kiri mengikuti sudut-sudut gang di jalan sekitar sekolahnya. Tak ada seorangpun yang terlihat. Hanya seorang penyapu jalan di siang hari dan beberapa anak yang sedang bermain bersenda gurau dalam usianya yang terlihat. Selain itu sudah tak ada. Karena teman-teman sekolahnya sudah pulang semua. Hanya tertinggal anak-anak yang berada di dalam halaman sekolah. Tapi itu tidak mungkin pikirnya.

Senin, 27 Juni 2011

Death Melody

"Suara pa tu?" tanya Steffi pada Anisa. 
"Mana? gak da suara apa" tuh. Perasaan kamu ja paling. udah jangan parno ah." Jawab Nisa dengan sedikit merasa aneh pada temannya. 
Mereka kembali berjalan meninggalkan ruang musik di kampus. Memang sering terdengar suara piano kampus dimainkan oleh seseorang, tapi setiap kali anak2 mencoba melihat siapa yg memainkan, selalu saja terjadi keanehan. tak ada seorangpun yg duduk di kursi piano itu. dan suara piano itu pun berhenti.

*****
Esok harinya. . . . 
"Eh Nis, benerkamu kemarin gak denger suara piano di ruang musik kemarin??"
"suara pa? kagak ada tu. Mulai deh parnonya. Gak lucu tau. . . "
"Eh siapa juga yg parno, orang aku bener2 denger kok."
 Brugggg!!!! TIba2 ja Steffi jatuh. 
"Aduuhh. . .  eh kalo punya mata liat2 donk da orang disini!!! Main nabrak ja!!!!!"
"Maaf aku buru2,. Kamu gak papa kan?"
"HUft. . . Sakit tau gak. . .  siii. . . .  "
Perkataan Steffi langsung berhenti tak bersuara satu katapun. Ia seperti dibungkam dengan segumpal kain hingga mulutnya tak bersuara. tapi mulutnya hanya bisa menganga saja melihat orang yg baru menabraknya. Sementara Anisa Hanya diam seperti patung dari tadi. . . 
"Maaf. . .  sekali lagi maaf. . . " Kata cowo itu
"Eh   . .  ya gak papa kok, aku juga gak terlalu parah, cuma bukuku ja yang jatuh. . . "
"Sekali lagi maaf ya. . . soalnya aku buru2 banget . . . "
"Yah gak papa kok. . .  mm. . .  Perkenalkan aku Steffi anak fakultas Hukum dan ini temanku Anisa."
"hm.  . Aku Ardha. . .  anak kesenian. . . "
mereka berjabat tangan. Tangan Steffi terus menyalami tangan cowok itu untuk beberapa lamanya. Ardha merasa aneh dengan Steffi saat itu. . 
"emm. . .  maaf.... tangan kamu. . . "
" eh maaf ...." sembari melepaskan tangannya dari Ardha. kemudian Ardha menyalami Anisa.
"maaf. . . aku harus buru2. . .  permisi. . "
Ardha berkelebat meninggalkan mereka yg berdiri bagai patung melihatnya. Steffi dan Anisa terus memandangi tubuh Ardha yg perlahan lenyap hilang dari pandangan mereka.

******
TENG. . TENG. . . . TENG. . ..... (gak tau gmn nulisnya suara piano)
Terdengar suara piano di ruang kesenian. begitu keras. . .  tapi iramanya begitu lembut. Mengesankan perasaan yg begitu terluka, tersayat oleh kehidupan, kalah oleh kerasnya kehidupan,  irama yg melantunkan keputusasaan. . . . tiada suara selain suara piano itu, alam begitu sunyi mendengarkan lantunan melodi piano tersebut. Mereka bagaikan berhenti berbisik mendengarkan maksud irama melodi itu. Begitu merdu, merasuk, dan juga menyedihkan, membuat bulu roma bergidik, , ,
Saat itu, seseorang melewati tempat itu dan mendengar irama melodi yg begitu membuat dirinya tertarik untuk mendekat mendengarkannya. Ia ingin tahu siapa yg memainkan melodi itu. Tapi saat dia melihat dari jendela, tak sedikitpun ia dapat melihat siapa orang yg duduk di etmpat itu. hanya bayangan hitam dengan mata yg terlihat diterangi cahaya purnama malam itu. Mata yg begitu sedih, putus asa, penuh dendam.
Ia lalu berlari saking takutnya. berlari dan terus berlari melewati lorong2 kampus yg sedikit gelap malam itu. Dan ia terus berlari hingga keluar dari gerbang pintu itu. . . . 

******
"Eh udah denger gak? katanya anak fakultas ekonomi kemarin mendengar melodi itu loh. . . . "
"eh masa? trus gimana"
"Anak itu denger melodi itu. Saat dia nelpon sohibnya sih dia sambil menggigil ketakutan gitu. Dia bilang ke sohibnya kalo dia melihat mata pemain itu. . . "
"trus2. . . gimana keadaan dia sekarang. . . ?"
"kabarnya sie tuh anak kecelakaan secara misterius gitu, mobilnya narbrak tiang listrik dan dia kesetrum sampe mati.  . . "
"bener2 ngeri ya. . .  kemarin lusa baru aja si Doni temen sefakultas aku. . .  sebelunya juga udah ada sekitar 4 anak yg mati secara mengenaskan. . . . "
Steffi yang tak sengaja melintas dan mendengar percakapan mereka kaget dan hanya menelan ludah. 'jadi suara piano yang di dengernya waktu itu yang menyebabkan beberapa anak kampus itu mati?' pikirnya dalam hati. Dia lalu mempercepat jalannya dan menghampiri sahabatnya. . . Anisa. . .

*** 
"Nis, kamu udah denger kabar itu??"
"Udah,  emank kenapa?"
"gak papa sie cuma waktu itu kan aku juga denger suara itu, kamu ingetkan waktu aku bilang ma kamu?"
"Inget, tapi mungkin ja hanya perasaan kamu. . . aku jadi penasaran, apa bener siara piano itu ada? aku malah ingin membuktikannya. kayak apa si bunyinya, apa lebih bagus dari permainan pianis terkemuka dunia . . . "
"Iiih. .  ogah lah aku, mending cari amannya aja. . ."
"Hihihi cuma bercanda kok,  laghian sapa juga yang mau mati cepet, Kawin aja blom. . . "
"Eh malah ngawur. . .  ngomongnya"
Saat mereka bersenda gurau, Tiba2 Ardha datang melintas di depan mereka. . . Kali ini berbeda tidak seperti saat pertama mereka bertemu. Kini Ardha jalan dengan santai sekali. tidak buru2. . .
Banyak yg membicarakan Ardha karna menurut semua mahasiswa merasa aneh dengan sikap dan kebiasaannya. Ardha tak pernah dekat dengan seorang pun selama dia masuk kampus. tersenyum pun jarang. menyapa seorang saja tak pernah. Dia dianggap anak aneh meskipun banyak diantara mahasiswi suka padanya.
"Hei, Ar! mau kemana? tumben gak keburu2?"
Ardha menoleh, , ,  "Eh, Kamu Steff . . .mau ke kantin dulu sarapan. . . "
"Mm . .  kebetulan banget. Aku juga mau ke kantin kok.  Bareng yuk. . ." sambil berkedip ke Anisa. Anisa bingung dengan tingkah sahabatnya itu. tapi sebelum ANisa protes, Steffi sudah menarik lengan Anisa dan mengajak mereka menuju kantin kampus.

Di kantin. . . .
"Oh ya Ar, kenapa waktu itu kamu buru2 banget? memang ada sesuatu yang penting ya?"
"Oh, waktu itu aku ada kelas, jadi buru2 aja. memang kenapa Steff. . .?"
 "Gak papa sie cuma tanya ja kok. . "
"Ar, kamu udah denger tentang suara piano2 itu?" tanya Nisa
"Suara piano?"
"iya, kamu kan anak fakultas kesenian. PAsti tau kan."
"Maaf banget aku baru denger ini, dan selama aku di kelas kesenian aku gak pernah denger suara piano yg aneh dan seperti yg kamu tanyaain."
"Aneh banget loh, masa cuma gara2 mendengar suara piano itu aja bisa jadi mati kaya gitu. . . ." 
"em, , aku gak tau ya, , ,  soalnya. . ." belum sempat Ardhi selesai bicara Steffi sudah menghentikan pembicaraan mereka. . .
"udah2, , , jangan ngomongin melodi itu lagi. . . "

*****
Malam purnama bulan November, seorang gadis berlari ketakutan menyusuri lorong ruangan kampus yang gelap. Dengan perasaan yang begitu kacau dia berlari kesana kemari menghidar dari suara ketakutan yang ia dengar. Bagitu menyayat hati sampai membuat tubuhnya menggigil ketakutan. . .  semakin dia menjauh semakin keras ia mendengar suara melodi itu. Seperti sumber suara itu dekat sekali dengan dirinya. Dia menjerit meminta tolong dan berlari kesana kemari tanpa tujuan. . .
Ya. . . gadis itu tak lain adalah Steffi. Mahasiswi fakultas hukum yg dulu juga pernah mendengar suara itu. Tapi kali ini lain sekali. tak seperti dulu waktu pertama kali dia mendengarkan. Begitu menakutkan dan membuat jantungnya berdetak sangat kencang. Pikirannya tak karuan. Sudah berapa kali dia mencoba menemukan jalan ke gerbang keluar,  tapi hanya jalan itu2 saja yang dia temuai, di seolah berputar2 saja dalam lorong itu. Steffi menangis ketakutan dan terus meminta tolong. Tapi tak ada satu pun yang mendengarkannya. 
Alangkah kagetnya Ia saat tau bahwa dia kembali di depan ruang kesenian, padahal dia sudah menjauhinya bahkan berusaha lari dari ruang itu. Tapi kenapa dia kembali lagi. . .  'Oh. . . tidak kenapa aku ke tempat ini lagi. . . YA Allah tolong aku......' pikirnya dalam hati. . . 

Tiba2 suara melodi piano itu berhenti. . .  namun keadaan Steffi tetap ketakutan dan terus menangis. Dengan cepat dia menutup mulutnya berusaha menghentikan suara tangisnya. Ia berjalan mundur menjauhi ruangan itu dengan menutup mulutnya. Lalu. . .  Duk. . .!!! Dia menabrak sesuatu di belakangnya. Dia seperti menabrak tubuh manusia pikirnya. Lalu dia menoleh perlahan dan melihat dengan gerakan yang lambat sekali kaerna ketakutannya.
"HAH??????????!!!!!!"
 Steffi terkejut dengan apa yang dilihatnya. .  dia mengenal siapa orang yang di lihatnya itu, Seseorang yang sudah membuatnya suka saat mereka bertemu secara tak sengaja saat kecelakaan kecil itu. . .
"KAMU.............????? KENAPA . . . .???????? "

Tujuh jiwa yang penuh dosa akan cinta termakan oleh gelapnya gemerlap cinta dan kasih yang penuh nafsu. . . . 
TUjuh jiwa itu menjadi sangat sobong dan lupa akan segala hal. . . .
hanya kesenangan yang ia tau. . . 
hanya kegerlapan cinta kasih yang dia tahu dan tanpa sadar dia masuk kedalam lubang gelap. . . . 
kegelapan berusaha menolak, , , 
namun kegelapan pula yang membuat mereka, , , 
tiada yang tahu. .. . 
kau. .. 
aku. . 
bahkan semua orang tak tahu. . . 
CINTA itu GELAP, , , 
CINTA itu juga TERANG, , , 
CINTA yang ini menjadi GELAP dan TERANG. . .
Dari Tujuh jiwa itu tersisa satu. . . 
Sumber dari segala CINTA yang GELAP dan TERANG. . . .
Satu itu yang membuat semua ini sempurna. . . 

"Mm . . .mmaak...su..d...mu..???? ............."
dengan berjalan mundur dan terus mundur. . .  gemetar tubuh gadis yang sudah putus harapan itu. . . 
pupus semua apa yang dia impikan. . . . tiada harapan yang membawa ke titik terang di dalam hatinya. . . yang tersisa hanya pasrah. . . 

"TIDAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!. . . .. 
jerit suara itu berhenti seolah lenyap di kesunyian ruang kesenian. . .  dan . . .  tak ada lagi ketakutan. . . hanya rasa gelap yang terasa dalam hati mereka. . . 

****
PAgi hari. . . 
mereka terkejut dengan pemandangan yang mereka dapat lihat dengan jelas. . .  dengan sesosok mayat yang terpajang di atas tembok . . . 
"Death Melody" akan selalu kalian dengar. . . di dalam hati . . . . . hingga kalian termakan dalam kegelapannya. . . 

Sekedar Menghibur


 ^_^

Cerita Awal
Suatu Hari ... 






kembali pada si monyet yg cemburu



Acara lempar Pisang










bagaimana menurut anda???
memang ada kekurangan dalam jalan ceritanya
mohon kritik saran nya yack ^_^