Sabtu, 20 Oktober 2012

Maaf Ayah, Maaf Ibu


Maaf Ayah, Maaf Ibu

Prang!!! Suara piring di meja dapur terdengar pecah berantakan, berserakan di lantai tempat ibuku berdiri. Di depannya Ayahku terus memecahkan satu persatu perabotan dapur. Menjatuhkan, mmbanting seolah barang itu sudah tak berguna bagi keluarga kami. Ibuku terus menangis dan hanya bisa menangis. Prang!! Sekali lagi ayahku mengamuk. Kali ini sebuah mangkuk sup yang biasa digunakan ibu untuk menyuapiku saat aku masih berumur 3 tahun. Mangkuk kesayanganku. Ibuku terduduk mengambili pecahan mangkuk tersebut dengan air mata mengalir deras di pipinya.
“Sudah, Yah! Jangan teruskan!” Ibuku memohon, ia masih terus mengambili pecahan mangkuk sup kesayanganku.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Cokelat Strobery

April tiba, kemarau pun datang menantang dengan panas teriknya matahari. Kulit serasa terbakar siang itu. Pukul 2 selepas pulang sekolah, rasa capek bercampur dengan bete pelajaran yang sudah kulalui di kelas hari ini benar-benar memancing emosiku. Di kelas ketahuan tidur pula pas pelajaran Pak Dimas si Singa botak. Benar-benar emosi yang siap untuk diledakkan pada mereka yang mencari masalah. 
"Oi, bro. Muka nakutin banget. Kenapa lu?" 
Andri temen seperjuangan dalam hal kenakalan remaja tiba-tiba menghampiriku. 
"Shit, gue lagi bete banget! Sumpah...! Udah kelas panas, si Singa Botak ngehukum gue juga! Bener-bener hari apes! Pengen ngehajar orang kayaknya gue!" 
"eits... Tenang bro. Santai aja lagi. Biar lu adem, gimana kalo kita nyari es aja deh... Mau kan lu?" tawaran yang menarik pikirku, "bisa aja lu, Ndri... Tapi... Bayarin lu ya, duit gue udah abis beli rokok tadi pas istirahat plus buat makan siang." 

Sabtu, 29 September 2012

Surat Terakhir



Suasana malam dingin dengan tiupan angin dari arah laut meskipun berada di tengah pinggiran kota. Seorang pemuda menyusuri jalan mencari warung untuk membeli minuman atau makanan. Perutnya sudah protes sejak dari tadi di dalam bus. Perjalanan naik kereta api dilanjutkan naik bus membuat ia harus menambah energi agar kuat berjalan lagi. Tak jauh terlihat warung yang terllihat sepi. Hanya dengan cahaya lampu petromaks saja sebagai penerang. Kursi panjang melintang menyambut kakinya. Ia lalu duduk di sambut seorang wanita separuh baya yang berada di warung itu.
"Mau pesan apa mas?" suara wanita itu agak serak.
"Saya pesan nasi sama sayur terus telor dadar ya bu." jawab pemuda tadi menanggapi. Wanita tadi langsung mengambilkan pesanannya satu per satu di atas sebuah piring putih bermotif bunga mawar.
"Minumnya apa mas?" tanya wanita tadi masih dengan suara seraknya.
"Air putih saja, bu." disodorkan segelas air kepadanya lalu ia melanjutkan makan dengan lahap. Wanita separuh baya tadi kembali menyibukkan diri dengan piring kotor yang belum sempat ia cuci. Hari memang sudah agak larut waktu itu. Makanan yang ada juga tersisa sedikit.