Sabtu, 29 September 2012

Surat Terakhir



Suasana malam dingin dengan tiupan angin dari arah laut meskipun berada di tengah pinggiran kota. Seorang pemuda menyusuri jalan mencari warung untuk membeli minuman atau makanan. Perutnya sudah protes sejak dari tadi di dalam bus. Perjalanan naik kereta api dilanjutkan naik bus membuat ia harus menambah energi agar kuat berjalan lagi. Tak jauh terlihat warung yang terllihat sepi. Hanya dengan cahaya lampu petromaks saja sebagai penerang. Kursi panjang melintang menyambut kakinya. Ia lalu duduk di sambut seorang wanita separuh baya yang berada di warung itu.
"Mau pesan apa mas?" suara wanita itu agak serak.
"Saya pesan nasi sama sayur terus telor dadar ya bu." jawab pemuda tadi menanggapi. Wanita tadi langsung mengambilkan pesanannya satu per satu di atas sebuah piring putih bermotif bunga mawar.
"Minumnya apa mas?" tanya wanita tadi masih dengan suara seraknya.
"Air putih saja, bu." disodorkan segelas air kepadanya lalu ia melanjutkan makan dengan lahap. Wanita separuh baya tadi kembali menyibukkan diri dengan piring kotor yang belum sempat ia cuci. Hari memang sudah agak larut waktu itu. Makanan yang ada juga tersisa sedikit.
"Sebentar ya mas, saya mau ke depan gang mau manggil anak saya. Maklum dagangan hampir habis, mau saya tutup saja sekalian nunggu sampean makan."
"oh iya, tidak apa-apa. Silahkan bu."
wanita itu perlahan menghilang di kejauhan meski masih terlihat dari pandangan pemuda tadi. Dilihatnya ibu tadi menuju ke arah kanan. Ia melanjutkan menikmati makanannya sembari sibuk memainkan HP yg ia pegang membalas SMS dari bapak dan temannya.
"Assalamu'alaikum Wr. Wb." tiba-tiba salam dari seorang pemuda berbaju hijau muda, berpeci putih dan berjelana hitam kain mengejutkannya.
"Waalaikum salam." Ia menengok ke arah pemuda itu. Dilihatnya pemuda tadi tersenyum padanya, kemudian ia membalas dengan senyum. "maaf mas, yang jualan sedang ke depan sebentar manggil anaknya."
"Oh tidak apa-apa. Sekalian saya tunggu saja. Permisi boleh saya duduk?"
"Oh silahkan, mas." pemuda tadi duduk Tepat di samping kanannya. Ia mencium bau yang amat harum dari pemuda itu. Seperti aroma minyak zaitun.
"Sampean dari mana mas?" tanya pemuda berbaju muslim tadi.
"Saya dari Surabaya. Kebetulan liburan mau main ke rumah paman saya di Tuban sini."
"hm..." pemuda itu manggut-manggut.
makanan di piringnya sudah habis termakan. Ia segera minum. "Mas, asli dari sini?"
"Tidak, saya dari desa Tlogorejo. Perkenalkan nama saya Nuril Nur Syariff."
"Saya Aris Prasetya Irawan." mereka berjabat tangan, saat berjabat tangan, aris merasa terkejut karena tangan Nuril begitu dingin.
"Kenapa mas Aris?"
"Ah tidak kaget saja karena tangan sampean dingin."
Nuril hanya memberikan senyum dengan reaksi Aris yang terlihat kaget.
"Pamannya sampean di daerah mana?"
"Dekat sini kok, tinggal jalan kaki beberapa menit juga sudah sampai. Gang Muria situ."
mereka berbicara agak lama, tapi ibu pemilik warung tadi belum juga datang. Aris bercerita banyak tentang Surabaya, sementara Nuril menceritakan kehidupannya di desa yang tenang, ia juga bercerita selalu mengikuti pengajian di daerah sekitar tuban. Ia juga bercerita tentang kehidupannya di rumah, terkadang seperti berdakwah.
Aris meneguk airnya sedikit demi sedikit selama pembicaraan mereka terhenti sejenak.
"Oh iya mas, sampean mau kan main ke rumah saya kalo ada waktu?"
"Tentu, tentu. Insyallah kalo ada waktu besok saya mampir ke Tlogorejo. Lantas bagaimana saya tahu rumah mas?"
"Tanya saja sama orang kalau sudah sampai di Tlogorejo. Nanti kamu bilang saja mau ke rumah Mbok Munarti. Itu ibu saya."
"Ya ya..."
wajah Nuril tersenyum cerah lalu ia merogoh sesuatu di saku baju kokonya, sebuah bingkisan dengan kain putih menutupi benda di dalamnya. "Sekalian ya saya minta tolong ke sampean bawa ini ke rumah saya."
Aris bingung, "Lho? Kan sampean juga mau pulang, kok nitip ini ke saya?"
"Saya ada kepentingan selama beberapa hari ke depan jadi tidak bisa pulang langsung. Semoga saja pas sampean ke rumah saya sudah pulang. Istilahnya saya mengundang sampean sekalian ini sebagai janji sampean buat mampir." baru kali ini Aris menemui orang yang begitu percaya padanya. Padahal mereka baru saja kenal dan bertemu di warung ini. Ia hanya bisa melongo dan memandangi bingkisan itu. Kemudian ia meneguk sisa air di gelas minumnya tadi. Saat ia menengok pemuda tadi sudah tidak ada. Aris celinguk'an bingung dan heran, 'kemana mas Nuril tadi?'
tak lama ia di kagetkan suara ibu pemilik warung tadi, "Mas nyari apa?"
"Ah, ibu bikin kaget saja. Ibu lihat pemuda berbaju koko yang tadi di sebelah saya?"
"Kurang tau mas, saya baru saja datang pas mas sedang clinguk'an."
"Ohh... Ya sudah, berapa bu semuanya?"
"Empat ribu saja mas."
**
Seperti yang ia janjikan pada Nuril, Aris pergi ke Desa Tlogorejo dengan membawa bingkisan kain berwarna putih yang Nuril berikan pada saat malam mereka bertemu. Dengan mengendarai motor milik pamannya ia menyusuri jalan hingga sampai di Desa Tlogorejo. Ia berhenti di sebuah warung yang sedang ramai terlihat beberapa orang sedang ngopi. "Nuwun sewu, pak. Dalemipun Mbok Munarti sebelah pundi nggeh?"
"Lurus mawon mas, mangke yen ono pertigaan sampean belok kiri wae. Omahe tembok warna kuning." bapak-bapak tadi berhenti bicara lalu berubah ekspresi seperti orang ingin tahu. "Wonten keperluan nopo kok badhe dolan ning omahe Mbok Narti?"
"Oh, niki enten titipan. Matur suwun pak, kulo langsung kemawon."
"Njeh njeh...."
dipacunya motor supra hitam yang dikendarai dengan pelan. Ia mengikuti arah yang ditunjukkan bapak tadi. Tepat di rumah bercat kuning ia berhenti karena tak ada lagi rumah yang memiliki cat berwarna kuning. Motor ia parkir lalu ia masuk. "Assalamu'alaikum...." tak ada jawaban dari dalam.
"Assalamu'alaikum.... Kulo Nuwun...." masih tidak ada jawaban.
"Assalamu'alaikum... Permisi."
"Waalaikum salam...." terdengar jawaban dari dalam meskipun pelan. Dari dalam rumah keluar seorang wanita paruh baya yang rambutnya sudah memutih, kulitnya masih terlihat bersih, namun dari sorot matanya terlihat bingung. "Maaf, panjenengan sinten?"
"Mbok Munarti? Saya Aris ada keperluan sebentar."
"keperluan apa ya? Monggo-monggo masuk dulu mas." Aris dipersilahkan masuk, sementara Mbok Munarti menuju ke dalam lalu keluar membawa teh dan beberapa makanan."
"Monggo mas, adanya cuma itu."
"Ah ngrepoti, bu. Jadi gak enak saya."
"Ada keperluan apa ya mas? Oh ini..." Aris melihat ke dalam ruangan rumah. Di dalam terlihat sepi, 'apa mungkin mas Nuril belum pulang ya?'
"Maaf mas nglihatin apa kok nengok ke dalam rumah saya?"
"Maaf bu, saya gak sopan. Begini.... Saya kemari mampir seperti janji saya sama anak ibu, Mas Nuril... Nuril Nur Syarif...." ibu munarti seperti kaget mendengar nama anaknya disebut. Tadpi Airs tetap melanjutkan bicara untuk menjelaskan maksudnya. "saya baru saja bertemu dengan dia beberapa hari lalu di warung pinggir jalan, ngobrol terus disuruh mampir. dia juga menitipkan ini ke saya agar saya datang kemari."
antara percaya tak percaya Ibu Munarti mengejap-ngejapkan mata beberapa kali, lalu raut mukanya berubah drastis menjadi sayu dan sedih. Beliau menutup muka dan terdengar sesengrukan sambil mengucap tasbih berulang kali, "Subhanallah....Subhanallah..."
"Ibu kenapa??" Aris yang bingung langsung mendekat ke Ibu Munarti. Kemudian Bu Munarti mengangkat kepala dan menjelaskan pada Aris. "Saya kaget mas. Kaget sekali... Mas belum tahu dari orang yang mas temui di jalan mungkin?"
"Maaf saya tidak tahu" pandangan mata Ibu Munarti kembali normal meski bekas air matanya masih membekas di kedua pipinya yang mulai keriput dimakan usia.
"Subhanallah, mas beruntung sekali. Entah ada perihal apa dari Allah SWT mas dipertemukan roh Nuril anak saya."
"Maksud ibu?" Aris masih belum bisa menangkap apa maksud ucapan ibu Munarti.
"Anak saya Nuril sudah meninggal, tadi malam baru saja 40 hari meninggalnya dia." sontak Aris kaget.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun.... Astaghfirullah.... Jadi.... yang saya temui itu??" Ibu Munarti mengangguk. Ia teringat kembali saat mereka bertemu malam itu, 'pantas ada beberapa hal aneh yang saya dapatkan dari pertemuan kami malam itu, Subhanallah... Ya Allah Engkau memang Maha Berkehendak atas apa yang Engkau kehendaki.'
"Oh iya saya lupa, ia juga menitipkan ini pada saya. Saya kurang tahu isinya apa. Karena saya memegang amanah almarhumah waktu itu." diberikannya bingkisan kain berwarna putih tadi. Saat di buka bu Munarti terlihat sebuah kalung emas dengan surat pegadaian di dalamnya." Ya Allah nak... Subhanallah Engkau memang Maha berhekendak ya Allah...." kembali bu Munarti menangis, kali ini agak keras sehingga mengundang salah satu tetangganya datang ke rumah. Saat sudah tenang Ibu munarti menceritakan pada Aris bahwa kalung itu adalah kalung yang dulu digadaikannya untuk membiayai sekolah Nuril. Tapi saat ditebus Nuril, kalung itu hilang di jalan dan tak ketemu sampai Nuril meninggal. Keanehan ini seperti mukjizat yang nyata atas Kekuasaan-Nya. Iman Airs semakin kuat, hatinya tergoyah seolah-olah sebuah teguran untuknya. Ia mengingat kembali selama perjalanan pulang kejadian yang ia alami. Ia tak menceritakan pada siapapun. Ia terus merenunginya dan berusaha merubah diri agar lebih bertaqwa. Ia tahu dari cerita tetangga Nuril kalau ia anak yang soleh dan rajin mengikuti pengajian, tadarus bahkan amat sangat baik dengan siapapun.
***
"Assalamu'alaikum... Aris...." suara seorang wanita yang begitu lembut terdengar diluar rumah memanggil namanya. "Waalaikum salam..." suara ibunya menjawab salam suara tadi, "Eeehhh nak Rina...."
"Aris ada Bu?" tanya Rina pada Ibu Aris
"Oh ada, sebentar saya panggilkan, duduk dulu nak Rina."
"Oh iya bu." Rina duduk di kursi bambu dan berhadapan dengan televisi 14 in merk Polytron. Di sebelah tv itu ada beberapa foto Aris dan adiknya, Dani, sedang berpose di sebuah taman di Surabaya.
"Hai Rin. Tumben main kesini?"
"Gak boleh kalo aku main? Aku pulang deh..."
"Eh enggak-enggak.... Habis tumben aja kamu kesini."
"Aku kesini mau nagih..." alis Aris terangkat.
"Nagih apa? Aku punya hutang sama kamu? Perasaan gak ada,"
"Bukan uang Arisss.... Tapi nagih cerita kamu pas liburan ke pamanmu. Katanya bakal cerita disana ngapain aja. Saiki kon tak tagih. Ayo cerito po'o..."
Aris bergeleng-geleng, "tak kira lho ada apa to Rin. Ternyata itu...." Rina mengangguk berkali-kali. Gadis berambur hitam panjang lurus yang di kuncir ke belakang terus menatapnya dengan matanya yang indah tak terlalu besar atau sipit, bola matanya cerah, bibirnya begitu manis saat tersenyum, wajahnya oval. Begitu cantik. Satu hal yang membuatnya semakin cantik.... Lesung di kedua pipinya saat tersenyum inilah yang selalu membuat Aris terkesima.
"Heh, kok malah bengong? Ayo mulai ceritanya...."
kali ini ia bingung, ia bercerita apa pada Rina? Hal yang paling berkesan hanya cerita itu saja. Pertemuannya dengan roh mas Nuril. Ia ragu harus bercerita atau tidak, ia sudah berjanji akan merahasiakan cerita ini untuk dia sendiri karena belum tentu orang lain bisa menerima cerita itu dengan baik.
"Ayolah Ris. Wes arep 15 menit kon meneng Terus. Sikapmu juga beberapa hari ini di sekolah berubah banget lebih pendiem semenjak pulang dari pamanmu, ada apa to?"
Aris akhirnya membuka mulut, "Tapi tolong jaga rahasia ini, aku mempertimbangkan dulu kamu bakal nerima cerita ini dengan yakin atau tidak. Aku takut dianggap bohong."
Rina memandang penuh selidik, "Cerita opo'o se??"
"Jangan disini, di belakang rumah saja." Aris mengajak Rina ke belakang rumahnya, mereka duduk di bangku dari bambu yang Aris buat saat masih SMP dulu. Disinilah mereka berdua sering bertukar cerita. Aris menceritakan kejadian saat ia bertemu dengan mas Nurik hingga di rumahnya. Rina yang mendengarkannya terkadang terkejut kaget bahkan sedikit aneh. Ia seperti merasa agak kurang yakin dengan cerita Aris.
"Are you sure? Tapi... Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa nemuin kita? Bukannya mereka bisanya lewat mimpi saja setahuku?"
"Entahlah, Rin. Aku sendiri merasa aneh pertama kali, tapi hatiku semakin mantap, mungkin ini teguran untukku. Allah menunjukkan kekuasaannya secara langsung padaku. Bahkan ibunya menyuruhku membawa kain putih pembungkus kalung itu. Ini dia" aris mengeluarkan kain putih persis dengan yang ia ceritakan.
"Kamu bikin aku merinding saja, Ris."
setelah bercerita merekapun kembali ke rumah. Tak lama Rina berpamitan lalu melangkah pulang.
***
Sudah lama Rina tak pernah bisa bertemu atau bertatap muka dengan Aris kalau tidak di sekolah. Ia terlalu sibuk dengan Reno pacarnya, sedang Aris entah sibuk apa Rina tak pernah tau. Aris semakin berubah ia lebih terlihat tenang, dewasa dan pengertian. Banyak temannya yang merasakan perubahan Aris di sekolah.
"Rin, mama tadi barusan ketemu Aris lho."
"Eh, ketemu dimana, ma?"
"Di deket Masjid darul Iman sana. Sudah beberapa hari sih mama lihat Aris ikut baca Al-Qur'an sama tahlil tiap hari.... Ia ikut pengajian terus..."
"Masa sih, ma? Dulu dia gak terlalu sering ikut kok. Malahan ia sibuk banget dengan kegiatan ekstra karate dan pramuka." Rina berhenti sejenak mengingat sesuatu..."....tapi sudah dua hari ini sih kata anak-anak ia gak lagi ikut karate."
"Ya sudahlah, kan bagus juga dia jadi berubah gitu. Semakin sopan dan baik anaknya. Mama malah semakin suka."
"Mama suka? Wah..."
"loh kenapa? Kan suka itu wajar.... Jangan yang aneh-aneh deh. Tapi...." mamanya memotong pembicaraannya sendiri sambil berekspresi mengingat-ingat sambil memukul dahinya dengan telunjuk"....kenapa kamu dulu gak jadian sama Aris aja? Dia kan baik anaknya, ganteng juga, terus sopan, pinter...."
"Udah deh ma... Aris itu sahabat aku... Forever friend..."
"Eits jangan salah, banyak loh dari sahabat jadi suka beneran"
"Iiiihhh mama dari tadi godain terus...."
hari berganti hubungan Rina dengan Reno sedikit ada masalah, Aris mengetahuinya tapi ia memilih diam. Itu lebih baik, 'urusan ini urusan pribadinya, aku gk mau ikut campur'.
Keesokan harinya, Rina tidak masuk sekolah. "Santi, Rina sakit apa?"
"Loh, kamu kan tetangganya, harusnya kamu yang tahu kan Ris?"
Aris terdiam saja, lalu salah satu temannya mendatangi, "Rina baru aja putus sama Reno. Seperti yang tak bilang beberapa bulan ke kamu, Reno itu brengsek. Dia itu selingkuh."
"Ohh... Itu urusan pribadi mereka, aku cuma sahabatnya aja kok."
"Justru sahabat harusnya memperingatkan, bukannya diam gini, Ris." anak itu meninggalkan Aris.
Sore harinya Aris tak berangkat ke masjid untuk mengaji dengan bapak-bapak dan remaja masjid seperti biasa. Ia menengok sahabatnya, "Assalamu'alaikum...."
"Waalaikum salam.... Eh nak Aris... Masuk-masuk. Tumben gak ke masjid?"
"Ada niatan ke sini tante, jadi saya gak ikut sehari ini. Oh ya Rina sakit apa?"
mama Rina hanya diam saja lalu mendekatkan diri ke Aris, "Sakit hati...."
"Sakit hati?" Iya... Baru putus sama Reno. Udah dari kemarin gak keluar kamar, nangis terus gak mau makan. Tante kesana dia diem aja nyembunyiin mukanya kalo nangis. Tante sedih banget kalo liat anak tante kayak gitu, om aja berusaha bujuk terus tadi buat makan. Tetep aja gak mau." nampak wajah sedih dan putus asa di awaj mama Rina. Aris hanya bisa terdiam sambil terus berpikir.
"Boleh saya bertemu Rina tante, biar saya ajak ngobrol."
"oh boleh kok, justru tante mau minta tolong hubur dia, bujuk biar mau makan. Tante gak tega liat dia gitu terus."
"Insyallah tante..."
Aris menuju ke kamar Rina di lantai 2. Ia mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok...
"Udahlah ma... Aku gak mau diganggu, biarkan Rina sendirian dulu. Aris melangkah masuk lalu menghampiri Rina tepat di depannya.
"Hey...." Seulas senyum dari Aris membuat Rina kaget.
"Aris? Ngapain.... Kamu... Masuk kesini?" sambil menyeka air matanya ia bertanya.
"Menemui, menengok, mau menghibur sahabatku yang sedang sedih. Kenapa Rin? What's wrong?" Aris duduk disamping kanan Rina. Tiba-tiba rina memeluk Aris kuat-kuat. "Reno, Ris.... Reno... Dia malah selingkuh sama Endita temen les ku. Mereka udah jalan 2 bulan lalu.... Aku benci dia, Ris... Benci... Aku kecewa... Apa salahku sampai ia giniin aku? Aku gak pernah nyakitin dia, aku perhatian sama dia, tapi dia nyakitin aku...." semua uneg-uneg dihatinya dikeluarkan di depan Aris. Tangan Rina masih memeluk erat Aris, tapi Aris sama sekali diam tak membalas memeluk. Ia diam mematung mendengarkan Rina. Baru setelah selesai Rina berbicara ia mulai menggerakkan tangannya, membelai rambut rina, "Sabar, Rin.... Kamu harus bisa menerima ini. Berarti kalian memang bukan ditakdirkan bersama. Sudahlah jangan begini terus. Jangan menjadi seperti ini. Jangan menjadi Rina yang berbeda dari Rina yang kukenal dulu. Ceria, semangat, tegar, dan satu lagi penuh senyum... Kamu harus mengerti, jangan menyiksa diri kaya gini, kasian papa mamamu yang ngelihat kamu kaya gini. Kamu harus inget mereka. Kamu musti sabar. Bukan cuma buat mereka tapi buat kamu sendiri. Ini proses kamu menjadi lebih dewasa...." dilepaskannya pelukan Rina, Aris memegang pundaknya dan menatap Rina. Dihapuskannya air mata yang ada di pipinya. "Remember, memang sakit yang terasa saat ini. Tapi kamu harus berjuang, lawan dirimu sendiri agar tak lagi terpuruk. Aku percaya kamu bisa, dan satu hal lagi.... Disini masih banyak yang sayang padamu, kasih sayang yang benar-benar tulus. Orang tua kamu, sahabat kamu..." Rina terdiam.... Pandangannya kosong....
"Please smile my friend, if you smile... You look like a fairy.... Hehe..."
"Gombalanmu gak mempan...." Rina tersenyum....
"Nah... Gitu kan cantik.... Aku jadi tambah suka kan... Eh maksudku jadi tambah suka ngelihatnya..."
"Ihh... Kok ada yang ditambahin???"
"salah ngomong tadi, diluar skenario"
"Reseee ya...." Dipukulnya Aris dengan boneka teddy di sampingnya sedari tadi. Rina kembali tersenyum. Mamanya yang semenjak tadi melihatnya merasa lega dan bahagia. Ia kembali tenang seperti biasa melihat anak perempuannya tersenyum.
***
Senja berganti malam, Aris masih terdengar membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Suaranya begitu merdu dengan penuh penghayatan, ayah ibunya yang mendengar merasa tergetar hatinya saat anak mereka membaca ayat-ayat Allah. "Assalamu'alaikum" terdengar salam dari arah pintu, seorang gadis berjilbab biru muda berbros bunga berdiri di depan pintu.
"Waalaikum salam..... Astaghfirullah.... Nak Rina??? Ibu sampe pangling."
"Iya bu, maaf bikin kaget ibu aja."
"Lha tak kira to anak siapa pake jilbab, ayu tenan bertamu di rumah e ibu. Ayo masuk."
"Aris mana bu?"
"Lha itu suaranya masih terdengar gtu kok, dia masih ngaji."
terdengar suara Aris begitu menggetarkan hati Rina. 'subhanallah Aris, bahkan dalam membaca AL-Qur'an pun kau bisa menggetarkan hatiku. Mungkin tak hanya aku. Mereka yang mendengarkan, siapapun itu.'
"Sebentar saya panggilkan,"
"ndak usah bu, biar saja."
"Udah gak papa, kemarin juga gitu kok, pas ngaji Eko datang mau pinjam buku, ya mau gak mau saya panggilkan."
"Tapi saya kan cuma main."
"Gak apa-apa... Sebentar ya"
setelah menunggu sebentar Aris keluar dan terus memandangi Rina tanpa berkedip, kemudian ia menundukkan muka sambil tersenyum sedikit.
"ada apa malem-malem kamu main kesini? Aku pangling tak kira siapa tadi."
"Pengen mampir aja, sambil mau minta tolong..."
"Tolong apa?"
"Tolong ajarin aku lebih dalam tentang agama ya...." Aris tersenyum
"Tapi aku juga masih belajar, lebih baik kita belajar bersama. Di sini aku ngajarin kamu, tapi kita ke masjid juga untuk menambah wawasan tentang agama melalui pengajian rutin dan harian."
Rina setuju, ia sangat senang dengan hal itu... Hari-hari selanjutnya mereka terlihat sering bersama mengikuti pengajian.
***
sepulang sekolah, Aris sedang mengobrol dengan temannya. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang yaitu Rina. "Aku mau ngomong, Ris. Penting."
mereka berjalan bersama menuju rumah, jalan setapak terus mereka lalui tapi keduanya tetap diam.
"Ris, kamu udah dengar gosip di kelas kan?"
Aris menghela nafas lalu menjawab, "Ya aku dengar semuanya, mereka mengira kita pacaran dan sering melihat kita jalan berdua entah itu pengajian atau di sekolah."
kembali mereka terdiam....
"Lalu... Tanggapan kamu?"
"Ya... Mau gimana lagi, kita diam saja. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Kamu tahu aku juga tahu yang sebenarnya."
Rina menunduk, Aris kembali menatap ke depan.
"Kalau.... Aku.... Aku beneran suka sama kamu gimana?"
seketika langkah Aris terhenti, ia memejamkan mata dan menghela nafas. Ia diam menunduk. Rina terus memandangi Aris menunggu jawabannya.
"Maaf Rin.... Bukankah lebih baik kalau kita tetap sahabat? Aku ingin kita seperti itu.... Menjalani hari seperti sahabat agar kelak kita tetap bersama." Rina diam terpaku....
"Apa kamu gak sayang sama aku?"
"Aku sayang sama kamu? Tapi.... Ah udahlah, hari ini kita ada pengajian lagi sudah hampir Ashar... Ayo'!" Rina mengikuti langkah Aris meskipun hatinya terasa sedih dengan kenyataan yang ada.
Entah kenapa sikap Aris semakin berbeda dipandangan semua orang tak terkecuali Rina, memang mereka masih sering bertemu dan berbicara tapi ada suatu tembok yang menghalangi keterbukaan mereka. Aris semakin tertutup. Ia lebih banyak diam, Ekstra pramuka yang ia geluti kini ditinggalkannya. UAS telah selesai, mereka kini naik ke kelas 3. Libur telah tiba di depan mata, Rina memilih berlibur ke pak dhe nya di Jombang untuk memperdalam tentang agama, Pak Dhe nya adalah salah satu pengurus di sebuah pesantren di Jombang. Ia berpamitan dengan Aris. Aris memilih berlibur di rumah saja. Mereka tetap berhubungan lewat SMS atau kadang telepon. Satu minggu sudah Rina di Pesantren Pak Dhe nya. Entah kenapa ia merasa gundah sekali. Hatinya was-was. Ia sering bermimpi hal-hal aneh. Ia menceritakannya pada Pak Dhe nya, tapi selalu ditanggapi datar, "Itu cuma bunga tidur. Gak usah terlalu dipikirkan."
Hari ke sepuluh ia di pesantren hatinya semakin cemas, ia bahkan tak bisa berkonsentrasi, 'ada apa sebenarnya ini? Kenapa perasaanku tidak enak?' tanda tanya besar selalu melingkupi kegiatannya. Hingga saat malam ia masih terus gelisah. Ia ingin segera kembali ke Surabaya saat itu juga. Ia tak kuat menahan sampai akhirnya ia meminta Pak Dhenya untuk mengantarkannya malam itu juga ke surabaya.
"Pak Dhe, Rina minta tolong antarkan Rina pulang sekarang, perasaan Rina gak enak terus beberapa hari ini."
"Ya sudah kamu bersiap dulu, pak Dhe siapkan mobil."
Rina mengemasi barangnya, ia terlalu fokus dengan perasaan hatinya. pukul Setengah 3 malam mereka berangkat. Rina berusaha menghubungi keluarganya tapi baterai HP nya lupa tak ia cas dulu. HP Pak dhenya juga sudah mati sejak perjalanan tadi. Akhirnya ia hanya bisa menunggu mereka tiba di Surabaya. Ia terus menatap ke luar jendela mobil. Begitu gelap, kadang hanya cahaya lampu-lampu rumah saja yang terlihat. kendaraan juga masih sepi. Ia tiba-tiba teringat Aris. 'Aris? Kenapa tiba-tiba aku ingat kamu?' Pukul 4 mereka menunaikan shalat Subuh berjamaah. Mereka beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Surabaya jalanan macet karena baru saja terjadi kecelakaan antara Truk dan mobil. Mereka telat tiba di rumah. Sampai di jalan menuju rumahnya ia melihat banyak orang yang berjalan menuju ke arah gang rumah Aris. Ia meminta Pamannya berhenti di dekat sana. Saat ia turun dari mobil, dilihatnya rumah Aris penuh dengan orang-orang yang berkerudung, tak hanya ibu-ibu. Bapak-bapak juga berdatangan. Beberapa memakai pakaian muslim beberapa hanya pakaian biasa dan memakai celana panjang. 'Siapa yang meninggal? Apa mungkin bapak atau ibu Aris? Lalu bagaimana keadaan Aris?' pikirnya dalam hati. Ia berjalan mendekat, dilihatnya papanya berdiri mempersilahkan beberapa orang masuk ke dalam. "Papa...!" Papanya menoleh ke arah ia berdiri. Rina lantas mendekat. Wajah Papanya begitu sayu. "Siapa yang meninggal pa?"
pandangan matanya tak mampu menahan air mata, "Papa kenapa malah nangis?" Mamanya mendekatinya, "Ikut Mama, Nak." Rina dituntun masuk ke dalam diikuti Papanya dan Pak dhenya yang sudah berbisik di belakang. Semua tetangganya memandang ke arah Rina. Saat ia memasuki rumah Aris. Dilihatnya ibu-ibu membacakan Yaasin mengelilingi jenazah seseorang. Ia memandang berkeliling berharap menemukan Aris. Ia hanya melihat Ibu Aris dengan wajah penuh kesedihan dan air mata yang tertahan. 'Bukan ibu aris, lalu?' Ia terus memandang berkeliling meskipun dia dituntun mamanya. Ibu Aris memandang Rina, kemudian ia Menangis, air matanya kembali tercucur deras. Sementara Dani duduk dipangkuannya. tiba-tiba ayah Aris keluar dari dalam kamar. Seketika Rina kaget, Ia memandang lekat Jenazah di depannya. "Gak mungkin.... Gak mungkin ini...." belum selesai ia bicara, Rina jatuh pingsan....
Perlahan-lahan ia melihat sayup-sayup bayangan orang di depannya. Ia melihat wajah ibunya, lalu ibu Aris dan adiknya, Dani. Kemudian Ayah Aris, papa dan Pakdhenya. Ia bangun memandang berkeliling ia masih sulit menerima kenyataan Aris tak ada didekatnya. Ia kembali jatuh pingsan. Hingga lima kali ia terjatuh pingsan terus. Jenazah Aris sudah dikebumikan saat itu. Hingga akhirnya Rina bisa menangis dengan lepas mengeluarkan luapan emosi kesedihannya. Mamanya hanya bisa menenangkannya.....
"Aris..... Hiks...hiks... kenapa...???"
Ibu Aris mendekat, "Kami juga tak mengira nak..." kata-katanya terhenti dengan isakan "...beberapa hari lalu ia sedikit berbeda, ia meminta Bapaknya untuk selalu berjamaah di rumah bersama-sama dengan dia, Ibu dan Dani...."lagi, ibu Aris terhenti menyeka air matanya. ".... Tadi malam juga begitu, kami masih shalat berjamaah... Maghrib... Isya'.... Lalu ia bertadarus hingga malam kemudian tidur sejenak. Ibu hanya mendengar ia mengambil air wudhu malam-malam.... Suara gemricik air terdengar, tapi ibu tidak bangun... Ibu tetap di tempat tidur... Ibu anggap hal biasa karena Aris...."Kembali ia tertahan "....Aris biasa Tahajud....." ia menghentikan ceritanya, mengambil nafas dalam-dalam lalu melanjutkan, "Saat subuh ibu bangun ingin membangunkan Aris yang mungkin tertidur lagi setelah Tahajud. Pas dikamar ibu melihat ia sedang sujud. Lalu ibu pergi mengambil air wudhu dan membangunkan bapak dan dani....
Setelah shalat subuh ibu ke dapur mau membuat kopi. Gak sengaja ibu melihat Aris masih bersujud terus.... Ibu merasa aneh. Tiba- Tiba..... Tiba-tiba saat ibu mendekat ia masih tak beranjak duduk, ibu....ibu goyangkan tubuhnya.... Dan...dan Aris langsung terjatuh...."Tangisnya pecah....
"di meja kami menemukan ini nak," Ayah Aris mendekati Rina yang masih menangis sembari menyodorkan sebuah kertas berlipat. Rina perlahan membukanya....

Dear Rina
my Fairy Friend

Assalamu'alaikum Wr Wb
Hai cewek berlesung pipit.... Aku harap kau baik-baik saja saat menerima surat ini. Aku sangat menginginkan senyummu tetap menghiasi wajah cantik dan wajah yang tak kan bisa kulupakan. Tersenyum donk... ^_^

Rina tersenyum sedikit....

Aku minta maaf harus memberimu surat ini sebagai wakilku karena mungkin aku sudah tak lagi kau temui. Kenapa ya??? Kau tahu sendiri kan.... Aku harap kau tak bersedih karena kepergianku.... Kenapa aku tau aku akan pergi?? Aku bukan mengira-ngira atau bukan menghitung sendiri... Tapi Allah sudah memberiku pertanda di hari itu.... Kau ingat kan saat aku bercerita tentang pertemuanku dengan Mas Nuril.... Yups, that's it.... Itulah tanda awal yang Allah berikan padaku. Kain putih yang ibu Munarti berikan saat itu juga pertanda agar aku mensucikan diriku... Putih berarti suci, bersih.... Itu artinya kembali ke Rahmatullah....
Aku tahu kau pasti sekarang menangis.... Senyum sekali lagi donk, tak lihat lho aku tahu lho.... ^_^ so, give me your best smile this time....

Kali ini Rina tersenyum dibarengi dengan tangisan air matanya. Itu membuatnya nampak aneh. Tapi tetap saja ia terlihat cantik.

You know? Waktu kamu putus dengan Reno, aku sudah tahu dari teman kita masalah Reno selingkuh dengan Endita, aku sudah tahu juga hanya saja aku pengen kamu tahu sendiri. Maaf ya aku nakal, sekarang kucubit sendiri pipiku mewakili kebiasaanmu dulu mencubit pipiku ini ~_~
dan pertama kalinya aku merasa benar-benar dekat dan lekat yaitu saat kau memelukku dikamarmu. Ya Allah itu sebuah dosa tapi juga nikmat yang tak pernah kurasa dari orang yang kusayangi.... Ups... Sampe keceplosan...

Rina tersenyum

dan satu hal lagi, ingat saat kita berjalan berdua pulang sekolah tentang gosip?
Aku tahu kau pasti mengingatnya dan menangis sampai rumah.... (aku tanya mamamu kamu nangis soalnya) hehe
jawaban itu kupungkiri bukan? Aku akan jujur lewat wakilku ini...
Aku juga sayang denganmu, aku juga kepengen jadi pacarmu tapi ingat waktu pengajian Pak Udztad Hariri bilang kalau pacaran itu sebenarnya zina kan? Itulah yang menghambatku juga..... Aku sudah semakin merasa Sang Khalik sudah siap menjemputku... Aku tak mau kau sedih bahkan lebih sedih dari ini....

"Bodoh, justru ini yang amat sangat membuatku sedih Aris...."

aku takut kau terpukul karena hubungan yang terjalin, aku tak mau itu terjadi. Aku memilih diam dan diamku beralasan.. Aku minta maaf.... Dan sekali lagi aku katakan padamu aku benar benar sayang kamu.... I really love you my fairy....
Semoga kita bersatu di alam kekal, Surga Allah... Aku berdoa dan selalu berdoa...
Ah... Nampaknya tanganku tak kuat lagi menopang untuk menulis, panggilan itu semakin dekat mungkin... Aku tak mau dijemput dalam keadaan tak suci... Aku akan mengsmbil air wudhu setelah ini dan Tahajud.....
Sampaikan salamku untuk papa mamamu serta pakdhemu, juga salamkan untuk ayah ibuku serta adikku dani, maaf sebagai anak aku belum bisa membalas kalian yang merawatku dari kecil hingga dewasa kini... Maafkan aku ayah...ibu... Dani gantikan kakak untuk membuat bangga ayah dan ibu.. Janji....
Dan terakhir ...
Ah itu sudah terakhir.... Terima kasih semua.... Terima kasih Ya Allah kau kelilingi kehidupanku di dunia dengan orang yang amat sangat menyayangiku....
Hamba berdoa pada-Mu, pertemukanlah dan satukan kami kelak di Surga-Mu.... Amin...
Selamat tinggal semuanya
wassalamu'alaikum Wr Wb

tertanda sayang, cinta kasih dariku
Aris

ia menutup kertas berhias bekas air mata Aris itu lalu menangis melepas kesedihan dipelukan Ibu Aris dan mamanya.....


"Kematian selalu memiliki tandanya bagi mereka yang akan menerimanya. Kesadaran mereka tergantung dengan keimanan, keteguhan hati dan kesiapan serta kesadaran. Tak ada yang tahu kapan kita kembali ke hadapan Sang Pemberi hidup. Tapi Ia selalu memberi pertanda bagi hamba-hambanya."

sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar