Tak ada pagi
tak seindah tanpa secangkir kopi. Itulah yang selalu ada di hari-harinya. Untuknya,
kopi adalah sahabat yang memberi semangat sebelum ia mencari uang demi
keluarga. Sedikit demi sedikit diminumnya sambil berangan di pagi cerah. ‘Hari ini,
semoga saja dagangaku habis di pasar’. Itulah yang ia angankan, sebuah
angan-angan sekaligus doa untuk hari ini. Ia menatap gerobaknya, jam masih
menunjukkan pukul setengah enam pagi tapi semua dagangannya sudah siap untuk
dijual di pasar. Di kehidupan yang keras seperti ini ia hanya bisa berjualan
saja, dengan kemampuan membuat bubur ia mengadu nasib untuk memenuhi
keluarganya. Mencari pekerjaan yang lain? Ia tak bisa, inilah kemampuan yang ia
miliki. Sekolah hanya mengecam sampai SMP saja. Dengan ijazah SMP yang ia punya
tak mungkin mendapat pekerjaan yang sesuai. Toh juga sama saja. Kemampuan membuat
bubur warisan ibunya inilah yang ia tekuni demi ketiga anaknya dan istrinya. Apalagi
ketiga anaknya sudah masuk bangku sekolah. Kebutuhan untuk keperluan sekolah
pun tak sedikit. Ia berjuang agar anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang
lebih tinggi darinya. Sebatas SMA pun taka pa pikirnya, syukur-syukur bisa
kuliah itu sebuah mukjizat dari Yang Kuasa.