Senin, 14 Mei 2012

Diam untuk Sebuah Hasil


Tak ada pagi tak seindah tanpa secangkir kopi. Itulah yang selalu ada di hari-harinya. Untuknya, kopi adalah sahabat yang memberi semangat sebelum ia mencari uang demi keluarga. Sedikit demi sedikit diminumnya sambil berangan di pagi cerah. ‘Hari ini, semoga saja dagangaku habis di pasar’. Itulah yang ia angankan, sebuah angan-angan sekaligus doa untuk hari ini. Ia menatap gerobaknya, jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi tapi semua dagangannya sudah siap untuk dijual di pasar. Di kehidupan yang keras seperti ini ia hanya bisa berjualan saja, dengan kemampuan membuat bubur ia mengadu nasib untuk memenuhi keluarganya. Mencari pekerjaan yang lain? Ia tak bisa, inilah kemampuan yang ia miliki. Sekolah hanya mengecam sampai SMP saja. Dengan ijazah SMP yang ia punya tak mungkin mendapat pekerjaan yang sesuai. Toh juga sama saja. Kemampuan membuat bubur warisan ibunya inilah yang ia tekuni demi ketiga anaknya dan istrinya. Apalagi ketiga anaknya sudah masuk bangku sekolah. Kebutuhan untuk keperluan sekolah pun tak sedikit. Ia berjuang agar anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang lebih tinggi darinya. Sebatas SMA pun taka pa pikirnya, syukur-syukur bisa kuliah itu sebuah mukjizat dari Yang Kuasa.