Maaf
Ayah, Maaf Ibu
Prang!!! Suara piring di meja dapur terdengar pecah berantakan,
berserakan di lantai tempat ibuku berdiri. Di depannya Ayahku terus memecahkan
satu persatu perabotan dapur. Menjatuhkan, mmbanting seolah barang itu sudah
tak berguna bagi keluarga kami. Ibuku terus menangis dan hanya bisa menangis.
Prang!! Sekali lagi ayahku mengamuk. Kali ini sebuah mangkuk sup yang biasa
digunakan ibu untuk menyuapiku saat aku masih berumur 3 tahun. Mangkuk
kesayanganku. Ibuku terduduk mengambili pecahan mangkuk tersebut dengan air
mata mengalir deras di pipinya.
“Sudah, Yah! Jangan teruskan!” Ibuku memohon, ia masih terus mengambili
pecahan mangkuk sup kesayanganku.