Terdiam memandang mata seseorang dihadapanku. Begitu lekat dan penuh dengan kehangatan. Sebuah mata yang anggun dan indah. Seperti purnama di malam yang penuh keindahan. Tak lekas aku memalingkan pandanganku. Begitu terpukau pada mata yang indah ini. ’Andai mata ini selalu dapat kupandang, begitu penuh dengan kehangatan yang menyejukkan hati’, didalam benak aku berandai.
”Mmm . . . kenapa mandangin aku kayak gitu?” suaranya menyadarkan aku dalam lamunanku dan dari keadaanku yang seperti terhipnotis saat memandang mata yang ia miliki.
”Eh, . . mmm . . . . gak apa-apa kok, mas.” dalam keadaan bingung aku asal menjawab saja. Aku benar-benar malu. Dia hanya memberikan senyuman sedikit saja sebagai respon.
”Gak ada apa-apa kok jawab sampe bingung gitu sih. Hayoo. . . .” Godanya padaku.
”Iiiiihhh . . . gak ya. Beneran gak ada apa-apa.”
”Ya udah, tuh makanannya dimakan dong. Masa didiemin dari tadi.”
”Iya-iya nih juga mau dimakan.”
”Hehehe . . . kamu tuh ternyata lucu juga ya. Musti diperintah dulu baru nglakuin apa yang harusnya dilakuin.”