Terdiam memandang mata seseorang dihadapanku. Begitu lekat dan penuh dengan kehangatan. Sebuah mata yang anggun dan indah. Seperti purnama di malam yang penuh keindahan. Tak lekas aku memalingkan pandanganku. Begitu terpukau pada mata yang indah ini. ’Andai mata ini selalu dapat kupandang, begitu penuh dengan kehangatan yang menyejukkan hati’, didalam benak aku berandai.
”Mmm . . . kenapa mandangin aku kayak gitu?” suaranya menyadarkan aku dalam lamunanku dan dari keadaanku yang seperti terhipnotis saat memandang mata yang ia miliki.
”Eh, . . mmm . . . . gak apa-apa kok, mas.” dalam keadaan bingung aku asal menjawab saja. Aku benar-benar malu. Dia hanya memberikan senyuman sedikit saja sebagai respon.
”Gak ada apa-apa kok jawab sampe bingung gitu sih. Hayoo. . . .” Godanya padaku.
”Iiiiihhh . . . gak ya. Beneran gak ada apa-apa.”
”Ya udah, tuh makanannya dimakan dong. Masa didiemin dari tadi.”
”Iya-iya nih juga mau dimakan.”
”Hehehe . . . kamu tuh ternyata lucu juga ya. Musti diperintah dulu baru nglakuin apa yang harusnya dilakuin.”
Kamipun menyantap makanan yang sejak dari tadi berada di meja. Aku benar-benar lupa karena terpana pada pandangan hangatnya tadi. Huhh . . . andai terulang lagi dan agak lama. Mungkin aku akan terkagum-kagum. Meskipun makan aku masih sempat mencuri pandang, padahal dia ada di hadapanku.
”Abis makan kita kemana, dek?” tanyanya yang sedikit mengejutkanku. Maklum makan sambil ngliatin dia sih. Hihihi . . . .
”Eh . . mmm . . . kemana aja deh, mas. Aku ngikut aja.”
”Bener nih? Kalo tak ajak nyebur ke laut berarti ikut juga?”
”Ya gak lah, mas. Mana mau aku diajak nyebur laut. Maksud aku tuh terserahnya ya bukan kayak gitu.”
”Ya udah abis ini kita nonton aja gimana?”
”Nonton apa?”, pura-pura bingung padahal dalam hati seneng banget.
”Nonton kakek-kakek maen kelereng. Hm . . . ya nonton bioskop lah.”
”Eh ya ya . . . hehehehe. Emang film apa yang mau ditonton?”
”Nah nanyanya gitu kek dari tadi. Baru pertanyaan yang jelas. Hihihi.”
”Tuh kan aku di bercandain terus. Iihhh.”
”Ya ya maaf . . . mmm . . . ”, dia memotong pembicaraannya sendiri dan diam sebentar. Mungkin berfikir sesuatu. ”. . . . gimana kalo nonton Harpot yang baru aja? Lagi rame-ramenya tuh. Release beberapa hari kemaren.”
Dalam hati sih aku seneng tapi aku udah pernah nonton itu waktu hari pertama tayang dengan temanku. Tapi tak apalah, kali ini berbeda menurutku. Akupun hanya memberi anggukan saja. Kami menghabiskan makanan dan segera ke bioskop. Dia membeli dua tiket tepat di tengah-tengah dan hampir pojok. Dengan ditemani popcorn kami melihat berdua. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, aku merasa dia kadang-kadang memperhatikanku.
Film selesai dan aku minta untuk pulang. Karena sudah larut malam. Aku takut ibu kost ku ngomel. Maklum punya ibu kost yang bawelnya kayak Mak Lampir. Tapi mau bagaimana lagi. Cuma itu satu-satunya tempat kost yang dekat dengan Kuliahku.
Empat hari berselang, aku merasa setelah malam itu kami semakin dekat. Terkadang dia menelponku bahkan terkadang aku yang menelpon. Kami sering sekali saling menghubungi. Terkadang hanya sms, terkadang lewat chatting FB. Hal itu berlanjut hingga beberapa hari ke depan dan terkadang kami keluar untuk makan atau pergi ke tempat wisata.
Jum’at minggu ke dua di bulan September, kami janjian untuk makan siang berdua. Sebenarnya dia yang ngajak aku duluan. Tumben pikirku, karena biasanya kalau hari Jum’at dia tak mau. Sekitar habis Shalat Jum’at dia menjemputku di kostku. Tak lama kami langsung melesat pergi. Aku tak tau kemana dia mengajakku untuk makan siang. Aku hanya diam saja dengan bayangan bermacam-macam yang segera kutepis dari benak. Setelah perjalanan yang agak jauh, karena memang tempatnya di pinggiran kota, kami berhenti dan makan siang disana. Ternyata tempat yang dia pilih begitu romantis. Dekat dengan areal pemandangan bukit yang indah. Suasananya juga sejuk dan enak dipandang. Dia mengajakku masuk dan memesan makanan serta minuman.
”Mas . . .” aku memulai pembicaraan karena dari tadi berangkat hingga saat di tempat makan kami hanya diam saja.
”Hmm . . ??” Jawaban yang menandakan dia merespon, meskipun agak tak bersemangat untuk meresponku. Tapi tak apalah aku terus melanjutkan untuk berbicara.
”Tumben-tumben Jum’at gini ngajak aku keluar? Memangnya ada apa?” Tanyaku penuh selidik.
”Gak apa-apa, pengen ngajak aja kesini. Kenapa memang? Pemandangannya jelek ya?” Balasnya bertanya padaku.
”Bagus kok, Windy seneng diajak ditempat ini. Pemandangannya nyejukin banget. Tapi yang buat aku bingung, tumben aja mas ngajak aku pas hari Jum’at. Biasanya mas kan ada acara sama temen-temen.“
"Hmm . . . hari ini alhamdulillah pas lagi free. Temen-temen pada pulang ke rumahnya dan gak ada acara sama sekali. Tapi besok mas ada Bakti Sosial, hari Minggu baru balik.”
”Ohh . . . Jadi ceritanya majuin acara sama aku dulu toh?”
”Gak juga. Ngapain sama kamu di ajuin segala. Gak penting juga kok. Hehehe”
”Iiihhh . . . jahat. Awas ya . . . ” Tangannya menjadi sasaranku. Kucubit hingga merah. Dia hanya menjerit kecil dan langsung menarik tanganku dari tangannya.
Selang beberapa saat makanan yang kami pesan datang. Kami melanjutkan ngobrol sambil makan. Entah pembicaraan apa saja yang kami bicarakan. Terkadang kami juga bercanda agar tak terlalu serius. Tapi ada yang aneh yang kurasakan. Tak seperti biasa, dia seperti menutupi sesuatu dariku. Matanya yang biasanya terlihat hangat bagiku kali ini seperti tertutup mendung yang gelap dan penuh dengan duka atau mungkin ketakutan. ’Mungkin menunggu waktu yang tepat saja nanti aku tanyakan’ pikirku.
Makanan habis disantap, kami tetap di tempat duduk masing-masing. Dia memalingkan pandangan ke arah yang aku tak tahu. Terlihat ia seperti memandang di paparan bukit namun entah benar atau tidak.
”... mm . . .” belum sempat aku berbicara ia sudah bertanya padaku.
”Menurutmu mas itu orangnya kayak gimana?” Deg, Aduh. Aku kaget dengan pertanyaannya. Bingung apa yang harus aku katakan. Lama aku berfikir dengan mengeluarkan suara-suara bingung.
”Yaaa . . .. mas tuh . . . baek, pengertian orangnya, kadang nyebelin kadang juga bikin sensi orang . . . . mmm . . . emang kenapa mas kok tanya gitu ke aku?”
”Gak apa-apa . .. ” Dia kembali memandang jauh lagi. Aku bingung kenapa dengan dia hari ini. Aneh dan tak seperti biasa pikirku.
”Mas ada masalah ya? Kenapa hari ini aneh banget?”
”Aku gak apa-apa. Gak ada masalah sama sekali . . . . ”, dia menengok jam lalu ” . . . ayo pulang, udah jam 3 lebih 5 menit nih. Takut kesorean.”
Kami berdua segera pulang. Tapi aku masih dipenuhi dengan sejuta pertanyaan. Kenapa dengan dia. Masalah apa yang sedang dia hadapi aku tak tahu. Dia begitu tertutup. Memang kami belum resmi pacaran. Tapi aku sudah mengenal dia dengan pasti. Hari ini dia benar-benar sangat aneh.
Sesampainya di tempat kost ku tak sepatah katapun terucap dariku karena bingung dengan dia. Dia hanya mengucap terima kasih udah nemenin dan langsung pergi. Aku hanya daim terpaku melihat dia semakin menghilang dari pandanganku. Perlahan aku memasuki kostku. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Kututup mataku dan mencoba memikirkan apa yang dia sembunyikan. Tapi tetap saja semakin bingung aku memikirkan semua itu. Aku bangun dan langsung mandi. Mungkin dengan begitu pikiranku lebih fresh dan dapat berfikir. Setelah mandi aku mengambil air wudhu karena aku lupa belum shalat Ashar.
Waktu senja berganti petang perasaanku makin gundah memikirkan dia. Pikiranku dipenuhi dengan tanda tanya tentang dia hari ini. Masih berlanjut hingga aku termenung di tempat tidurku. Tiba-tiba terdengan suara pintu diketuk perlahan. Kubuka pintu kamarku dan kulihat teman kostku berdiri di depan pintu.
"Sorry, Win. Boleh ngomong bentar?”
"Boleh . . . .” jawabku sedikit bingung dengan permintaannya. Kupersilahkan dia masuk ke kamarku dan kami pun lanjut berbincang. ”Ada apa, Stef? Ada yang penting ya?”
”Kamu jangan sedih ya . . .” ’Sedih?’ pikiranku jadi tak karuan. Kenapa temanku bilang seperti itu?
"Memangnya sedih gara-gara apa?”
Stefany hanya diam. Namun tak lama ia berbicara. Dari yang kutangkap dia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan pa yang akan dia katakan padaku. Karena sebelum berkata dia menghela nafas.
”Tadi kamu keluar sama mas Tony kan?”
”Iya . . .”
”Gini . . . mas Tony sering sms aku untuk minta pendapat. Maaf aku gak pernah cerita. Tapi mungkin ini saat yang tepat. Tapi sebelumnya aku mau tanya. Apa kamu udah jadian sama dia?”
Pertanyaan yang membuatku berpikir negatif, jangan-jangan dia malah udah jadian sama mas Tony tanpa aku tahu atau mungkin hal lain. Tapi semua pikiran itu kutepis. Aku ingin mendengar kelanjutan pembicaraan ini.
”Belum . . . aku sebenarnya merasa digantung sih. Aku berharap banget dia nembak aku.”
Setelah aku berkata demikian, mendadak wajah temanku menjadi sayu.
”Win . . . .”
Deg.deg.deg.
”Tadi itu sebenarnya dia mau nembak kamu. Semua udah diatur sama dia. Tapi aku bingung napa dia gak jadi nembak kamu hari ini. Dia udah minta pertimbangan sama aku kemarin malam lewat sms.”
Sontak aku kaget, bingung sedikit senang tapi kembali bimbang. Aku ternganga mendengar perkataan temanku.
”Jadi? Tadi dia mau nembak aku? Tapi . . . .”
"Aku Cuma ngasih tau aja Win, itu yang sebenarnya. Aku sendiri juga kaget kalau ternyata kamu belum ditembak tadi waktu keluar. Apa mungkin karena ini akan terjadi . . .” perkataannya terputus dan wajahnya semakin sedih dari yang tadi.
"Karena apa Stef? Jawab donk” tanyaku penasaran dan memaksa. Tapi temanku semakin sedih dan kulihat butiran air mata mengalir di pipinya.
"Yang sabar ya Win, , , mas Tony baru aja kecelakaan setelah pergi sama kamu . . . keadaannya parah. Sahabatnya tadi memberitahuku. Kamu yang sabar Yah. . .”
Tak terbendung lagi tapi aku menahan tangis.
"Lalu . . . sekarang gimana keadaannya? Keadaannya gimana Stef?”
Dari balik pintu muncul seseorang. Dia sahabat mas Tony. Dia si Josh sahabat karibnya.
”Tony kritis dan koma tak sadarkan diri selama beberapa waktu.”
Josh terdiam . . . air matanya juga mengalir.
”Dia . . . dia . . . . dia meninggal . . . ”
Seketika aku menangis sekencang-kencangnya. Tak kuasa aku menahan lagi. Begitu sesak dada ini mendengar kabar yang tak terduga. Seseorang yang kucintai meninggal disaat dia akan mengungkapkan perasaannya. Tetapi semua itu tak jadi ia lakukan. Dan sekarang aku mendengar kabar seperti ini. Aku menangis, badanku lemas, sedih yang tak terukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar