Desember akhir, kulihat hujan mengguyur setiap ruas tanah yang terbentang di halaman rumahku. Rintikannya menimbulkan irama-irama indah tetang kesedihan. Memberi kesan tangisan seolah langit menangis di depan mataku. Aku duduk di sebuah kursi kayu berukir sendirian di temani segelas the hangat yang belum lama tadi kuseduh. Aku masih terdiam, menatap langit gelap dengan tangisannya. Suara petir tak terdengar. Hujan kali ini tanpa petir. Melamun disaat seperti ini mungkin bagi kebanyakan orang adalah waktu yang tepat karena suasana hati ikut terpengaruh oleh alam. Kuambil Handphone-ku yang tergeletak di meja samping kananku yang tertutup taplak berwarna biru gelap. Tak ada pesan sama sekali, padahal aku berharap ada pesan dari seseorang yang kutunggu, temanku. Kuletakkan lagi handphone tadi lalu kuminum teh hangat sedikit. Aku kembali melamun berfikir keras dan penuh harap akan esok hari. Hari yang sudah sekian tahun aku nantikan. Esok itulah aku akan kembali ke kampong halamanku. Tempat yang paling kurindukan. Tak lama handphone berdering, “Ya, halo?”
Selasa, 28 Februari 2012
Selasa, 21 Februari 2012
Lagu Untuk "Erina"
Hanya diri sendiri . . . ♪ ♫ ♫
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti . . . ♪ ♪♪♫♫♪ ♪
Disini kutemani kau dalam tangismu . . .♪ ♪ ♫ ♫♫♪
Bila air mata dapat cairkan hati . . . ♪ ♪ ♫
Kan kucabut duri pedih dalam hatimu . . . ♫ ♫ ♫♪
Agar kulihat senyum ditidurmu malam nanti . . .♪ ♪ ♪
Anggaplah semua ini . . . ♪ ♪ ♫
Satu langkah dewasakan diri, dan tak terpungkiri juga bagimu . . . ♫ ♪♫
Terdengar suaraku yang sedang menyanyikan lagu Last Child Pedih di depan rumah orang lain. Bukan sedang bernyanyi karena berkumpul dengan teman dan menikmati waktu berkumpul, tapi aku menyayi untuk mengumpulkan sedikit receh yang nantinya akan kugunakan. Menjadi musisi jalanan? Bagiku bukanlah hal yang memalukan. Justru bagiku ini adalah tantangan dalam kerasnya hidup sebagai orang yang tak punya. Keahlian ini yang kumiliki, dengan gitar usang hadiah dari kakakku yang kumiliki, kususuri setiap gang dan jalan. Di tengah panasnya hari yang amat menyengat, semua tak terasa. Setiap rumah kuhampiri dan mulai menyanyikan lagu demi lagu meskipun tak banyak lagu yang kuhafal. Yah cukuplah untuk sekedar menghibur orang.
Rabu, 15 Februari 2012
Aku dan Mereka
Sudah bertahun-tahun kami bersama, suka duka rasanya sudah sering kami lalui bersama. Aku, Reza, Ilham dan Seno. Kami berempat adalah kawan semasa kecil hingga saat ini. Dulu pertemuan kamipun sangat unik. Saat pertama kali aku bertemu dengan Reza ketika itu umurku baru sekitar 3 tahun. Saat itu yang kuingat aku masih begitu pendiam dan tak banyak aktifitas. Saat aku sedang bermain di sebuah taman dengan ibuku, tiba-tiba seseorang mendorongku hingga jatuh dari ayunan yang sedang kunaiki. Aku menangis dan ibuku menghampiri. Ibu anak itu juga menghampiri anaknya. Setelah itu kami disuruh bermaafan dan setelah kejadian itu kami malah menjadi teman bermain yang akrab.
Namaku Hendi
Malam yang sudah terlalu larut, beberapa remaja masih terlihat bersorak-sorak. Mereka meneriakkan nama seseorang. “Hendi! Hendi!! Hendi!!!” . . . . Ya itulah aku yang kini sedang mempersiapkan diri dengan balapan yang akan aku lakukan malam ini. Dingin?? Itu bukan masalah. Bagiku dinginnya malam meskipun itu dikutup sekalipun aku tak akan kedinginan. Karena semua rasa dingin itu sudah kalah dengan dingin yang kualami jauh di dalam raga ini. Motorku tak special seperti rivalku mungkin. Dia menggunakan motor yang sudah dimodifikasi, mungkin sangat cepat. Lagipula aku melakukan ini bukan karena hobi atau memang hal yang membuat tertarik. Sekedar untuk membuat fresh kepalaku yang dipenuhi dengan bayangan dan kenangan menyakitkan. Gas kumainkan hingga terdengar bunyi keras hingga hampir menutupi sorakan orang-orang disekitar. Seorang wanita berjalan dari tepi menuju ke tengah membawa saputangan berwarna hijau. Ia mungkin terlihat meranik
Joni
Hembus angin di pagi hari terasa merasuk hingga ke dalam bilik kamar sempit yang penuh sesak dengan baju-baju kotor dan juga bekas makanan dan kulit kacang. Tergeletak botol minuman dan beberapa gelas sisa pesta kecil semalam. Kamar acak-acakan, baju kotor dan sampah makanan menyatu memberi bau campuran yang benar-benar memuakkan dan mengganggu hidung. Tapi itu tidak untuk Joni, pria usia 24 tahun berpiawai gagah dengan rambut panjang agak keriting. Wajahnya sangar dan badannya yang kekar. Namun tidak saat dia tidur. Lebih menyerupai pemuda yang bodoh. Dia tertidur di sudut kamar dengan keadaan mabuk setelah pesta dengan teman-temannya. Minuman keras, rokok, kacang dan beberapa makanan kecil menjadi santapan yang menemani mereka bercanda dan bermain kartu.
Terdengar suara ketukan keras di pintu kamar Joni. Si Bunda berusaha membangunkan dengan menggedor pintu sekeras mungkin. Bagi tetangga mereka itu hal yang biasa. Tak ada yang tak kenal sosok Joni di kampung mereka. Ketua preman di kampung Tawasrejo yang ditakuti oleh orang-orang.
”Joni! Jon, Tangi . . . ayo wes awan, le!” teriak ibunya. Tapi Joni tetap saja ta bangun. Berkali-kali ibunya berteriak tetap saja Joni tertidur pulas. Tak sabar ibunya pergi ke belakang mengambil segayuh air dan membuka kamar Joni. Byurrr.. air membasahi muka dan baju Joni meski sedikit. Joni gelagapan sedikit emosi. Tapi semua itu teredam setelah melihat siapa yang ada dihadapannya.
”Alah mbok . . . mbok! Aku kok de siram air lagi to?! Jadi basah ini.” gerutu Joni.
”Lha mau gimana lagi? Tak gedor-gedor kamarmu gak bangun-bangun. Sampe jam berapa tadi malem maennya? Mbok ya sadar to, Jon. Kowe kie wes tuwek le. . . le. Si Mbok mu ini risi denger omongan tetangga gara-gara sikap kamu sehari-hari. Wes ndang mandi kek kono. Udah jam 8, sarapan dulu terus bantu si Mbok nimba air di sumur.”
”Wegah mbok, aku mau ke pasar e. Tadi malem sudah janjian. Iki dino opo to mbokk?”
"Bocak kok di kongkon angel e setengah mati! Iki dino Minggu. Emang janji arep ngopo to?“
"Biasa to, mbok. Ning pasar mumpung minggu-minggu ngene kie. Wes ah mbok tak adus terus budal. Ojo nesu wae to, mengko ketok tuwek ayu ne ilang lho” mau tak mau si Mbok Joni tersenyum dengan omongan anaknya itu.
"Wes ah ra sah ngrayu si Mbok mu ini, sekali-sekali ngrayu cah wedok kono. Biar cepet kawin gak bujang terus. Temen-temenmu banyak yang sudah nikah. Kamu sendiri masih bujangan terus, kerjaan e kluyuran, berantem, bikin pikiran si Mbok aja. Bapakmu juga wes pegel ngomongi terus.”
”Hehe . . . mulo kuwi to mbok, bapak gek dikandani ra sah mikir aku. Aku kie wes gedhe ra perlu di ceramahi wae saben bengi. Panas kupingku mbok. Bapak wes budal kerjo to?”
”Wes, baru aja berangkat. Sekali-sekali ganti kamu gitu lho, bapakmu itu wes sepuh. Mbok ndang kerjo opo ndang . . . .” belum selesai bicara Joni sudah memotong pembicaraan Mboknya.
”Iya . . . iya . . .. Iya. Wes ah aku tak adus. Mengko mundak kawanen.” Joni langsung meninggalkan ibunya yang terus berbicara padanya. Dia segera mandi dan bersiap. Dalam pikirannya sudah melayang-layang bakal dapat berapa uang setoran di pasar nanti. Mumpung hari Minggu biasanya pasar rame.
”Mas Jon, mas. Heh rene, aku ning kene. Terdengar suara seseorang memanggil Joni dari kejauhan. ’Ah lha itu dia.’
”Woo semprul! Tak cari muter-muter pasar ternyata disini. Ngopi lagi. Ra ajak-ajak dulu!”
”Sory lah, mas. Lha saya dari tadi nungguin mas Joni lama banget e. Ya tak tinggal ngopi. Hehehe.”
”Ngopi opo trae arep nyedak i bakul e? Ngomong wae lah. Mana anak-anak? Kok Cuma kamu tok?”
"Lha ya wes muter dari tadi to ya. Biasa nyari setoran buat tar malem.”
”Bagus kalo gitu. Si Basori dateng juga tadi?”
”Ada tadi sama Clangap muter ke sono tuh.” sembari menunjuk ke arah selatan pasar.
”Udah semua di tagih?”
”Ya gak semua to, lha wong orang e ae kurang. Daerah kulon kono durung dimintai semua. Makanya saya nunggu sampean disini. Berhubung lama ya tak tinggal ngopi.”
”Halah ngopa-ngopi wae! Tak damprat untu mu ucul kabeh mengko!”
"Ojo mas. Untu ku wes ilang siji e. Nek ilang neh lak dadi Bejo Ompong aku.”
"Ya wes ayo jaluk ning kulon.”
"Wealah sek to mas, sek. Kopi ne rung ntek. Tak minum e dulu.“ Bejo segera menghabiskan kopi yang dia pesan tadi. Setelah itu dia mengikuti Joni yang terlihat raut mukanya sedikit emosi karena kelakuan dia. Bejo lebih memilih menurut daripada kehilangan giginya lagi. Salah satu giginya sudah rontok gara-gara masalah dengan joni saat mabuk di pos ronda dulu.
Pasar di kampung Tawasrejo memang dapat dibilang pasar gedhe atau pasar besar yang lumayan luas. Biasanya pas hari pasaran banyak sekali pedagang dan pembeli yang datang. Kalau hari biasa terkadang pasar sepi tapi bila hari minggu seperti ini terkadang rame.
Satu persatu pedagang memberi uang kepada Joni dan Bejo. Mereka hanya bilang ’ongkos keamanan’ para pedagang langsung memberi mereka. Terkadang baru melihat mereka saja para penjual yang ada langsung menyodorkan uang. Mereka takut bermasalah dengan Joni. Dulu memang ada beberapa pedagang yang melawan tapi ujung-ujungnya mereka harus pulang dengan kondisi tubuh penuh lebam dimuka alias bonyok. Belum ada yang berani sampai sekarang. Mereka lebih memilih slamet daripada bermasalah dengan Joni.
Setelah berjalan agak lama, Joni melewati tukang srabi di samping kanannya. Dia teringat kalau saat berangkat dia terlalu buru-buru dan tak sempat sarapan. Dia berhenti dan melengos langsung ke Bejo.
”Jo, kowe wes sarapan?”
”Woo ya sudah mas Jon. Saya sarapan 3 kali hari ini.”
”Sarapan kok 3 kali. Ngawur ae nek ngomong kowe kie. Aku urung sarapan e, Jo. Berhenti dulu beli srabi yo.” Joni segera mendekati tukang srabi dan menggeser orang yang ada di depannya.
”Mbah, srabi ne yo. Tak pangan ning kene cepet. Wes luwe wetengku.”
”Iya sek, sabar. Ini banyak yang beli antri dulu. Tumben beli opo ra sarapan maneh awakmu?”
”Si Mbah iki lho ngerti ae. Iya aku belum sarapan. Ra sempet kie mau. Cepet ya Mbah.”
”Iya, sebentar.” satu persatu srabi di buat hingga tinggal sedikit orang yang antri. Joni merasa perutnya tak tahan dan berbunyi kruyuk . . .. kruk . . . . Dilihatnya ada srabi yang sudah jadi dan tidak dibungkus dia langsung mengambilnya. Tapi sebelum sempat dia memakan dan memasukkan srabi tadi ke dalam mulutnya. Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya dan mengambil srabi dihadapannya.
”Heh, mas! Sampean itu kalo ngantri ya antri. Jangan jatah orang asal di makan aja. Ini tu srabi pesenan saya tadi! Enak aja mau sampean makan!” Joni emosi dan segera membalikkan badannya.
”Enak aja kalo ngomong ya! Ini tu srabi pesenan saya! Kamu gak tau saya itu siapa?! Berani-beraninya ganggu . . .” omongannya terhenti karena melihat sosok yang dihadapannya saat ini. Begitu cantik, putih dan manis sekali. Wajahnya agak lonjong dengan mata yang bening, hidungnya mancung dan bibirnya tipis serasa menggairahkan. Rambutnya dikuncir seperti ekor kuda. Lehernya begitu jenjang. Joni terpesona dan hanya mlongo. Benar-benar cantik sekali. Amarahnya hilang seketika. ”. . . . weleh . . . . ” tak sengaja Joni mengucapkan kata kekagumannya.
”Apa? Liat-liat sampe mlongo gitu?!” Joni tak dihiraukan dan wanita itu segera membayar srabi miliknya kepada si Mbah penjual srabi. ”Ini mbah uangnya. Kembaliannya buat si Mbah, sama srabinya gak jadi saya makan. Biar dimakan setan gondrong ini aja. Yang dibungkus aja yang saya bawa.” setelah membayar wanita tadi langsung pergi menghilang dari pandangan Joni. Sementara itu Joni masih mlongo memandangi wanita yang tadi mengambil srabi yang hampir dia makan. Bejo mendekati Joni yang mlongo tadi.
”Mas, mas?” Tak ada respon. ”Mas Jon?!” tepat di dekat telinga Joni Bejo berteriak. Otomatis membuat Joni Kaget dan melunjak hampir jatuh dari kursi yang ia duduki.
”Woo, Semprul kamu ini! Bikin orang jantungan aja! Kalo jantungku copot gimana?!”
”Hehehehe . . . maaf-maaf. Lha sampean liatin cewek tadi gak berkedip sama sekali e. Mlongo kayak kebo di sawah aja.”
Emosi Joni hanya sesaat, dia langsung mendekati penjual srabi tadi.
”Mbah, cewek tadi itu siapa ya? Si Mbah kenal opo ra?”
“Ealah mas-mas. Saya pikir sampean itu udah lama jadi preman disini. Tapi sama prawan ayu kayak gitu aja gak tau sama sekali.” Ejek si Mbah penjual Srabi.
”Preman sih preman mbah, tapi aku kan gak tau peduli sama cewek sebelum e. Memang e sopo to iku?” Tanya Joni penuh selidik.
”Itu tu anaknya Pak Kasim dari kampung sebelah. Biasanya sering kesini bantuin temennya jualan es cendol di sana itu lho sebelahnya toko beras. Kalo minggu kan libur sekolah to. Ya mumpung libur gitu dibuat bantuin temennya jualan.”
”Oooo . . . gitu to mbok. Baru tau aku. Habis gak pernah muter kesana aku. Paling Cuma duduk di warung kopinya mbak Ani atau kesini aja kalo ambil setoran.”
”Lah mas aja sama cewek dari dulu kan gak terlalu peduli juga to. Sampean itu dari mulai lulus SMA sampe sekarang mana pernah pacaran? Hehehehe . . . . ”
”Meneng kowe Jo! Pengen slamet ra?!”
”Ya maaf mas, mung guyon.” Bejo langsung diam karena takut.
”Terus nama e sapa Mbah?”
”Eeee kalo nama ya cari tau sendiri. Cah lanang kok ra wani takok dewe. Ya ndang diparani bocah e sana.”
"Ahh . . . si Mbah ini pelit banget to. Mengko tak borong wes srabi ne.”
"Halah omongane, duitmu lho berapa mau borong srabi. Duit mung nyekel sak mono wae kok.”
"Eh si Mbah iki ngece ya. Ya wes lah mbah aku ra iso emosi yen karo sampean.”
"Ora iso emosi soale enek sesuatu sing diarep ke.” Sindir bejo.
"Cangkem mu kie iso meneng ra, Jo?!” Bentak Joni dan mengepal tangan.
”Wes, sido dipangan ra iki srabi ne? Wes mateng kie lho. Gek ndang dipangan mundak adem rasane rodo ilang mengko.“
Joni mengambil srabinya, sambil melamun dia mencuil srabi dan memakannya. Tapi. . . .
"Huah . . .hah . . .nanas . . . . nanas . . . .“
Bejo dan penjual srabi tertawa keras melihat Joni yang kepanasan memakan srabinya.
"Makane to ya. Kalo makan itu jangan sama melamun. Lha wong srabi masih baru di entas langsung di caplok. Ya kepanasen.” Penjual srabi tadi kembali tertawa. Joni hanya bisa diam karena agak malu. Kembali dalam pikirannya. Siapa nama wanita tadi. Dia masih terus melamun hingga sampai pulang dari pasar dan masuk ke kamarnya. Si mboknya merasa heran dengan tingkah laku anaknya.
”Cah kok soyo gendheng ae guya-guyu ning kamar.”
Joni kemudian tidur.
Entah kenapa Joni tak seperti biasanya. Dia tampak sedang bercermin, begitu tampak agak rapi dari biasanya. Baju yang biasanya dipakai berhari-hari tanpa dicuci kini tidak. Baju itu ia cuci sendiri. Celananya tidak lagi memakai celana sobek-sobek yang biasa ia kenakan. Badannya disemprot minyak wangi meskipun sedikit. Joni pamitan dengan si Mbok dan langsung pergi. Berbeda dengan hari-hari biasa. Dia kini tak langsung menemui kawannya di tempat biasa. Pagi sekali dia berangkat dan langsung menuju ke arah tukang beras. Di jalan dia bertemu Basori yang memanggilnya, tapi seolah tak dianggap Joni tetap saja berjalan. Basori menghampirinya.
”Heh, arep ngopo to rono? Kok gak kumpul dulu kie gimana?” tegur Basori yang bingung mau kemana Bos mereka ini. Lalu dia memandangi Joni dengan heran, "Tumben nih rapi. Kayak mau ketemu Pejabat negara saja.”
"Wes ra sah ng’nyek. Hari ini aku gak ikut nagih setoran. Libur dulu soal e mau ada acara. Kamu sama anak-anak aja yang ambil setoran.” Selesai berbicara, Joni lanjut berjalan tak menghiraukan temannya. Basori tak ambil pusing dan pergi membiarkan Joni sendirian meskipun dalam hatinya bertanya kenapa sikap Joni aneh belakangan ini.
Joni tiba di dekat Toko beras yang seperti dibilang si Mbah minggu kemarin. Dia mencari-cari penjual es cendol clingak clinguk. Dia terus berjalan dan mencari. Berharap bertemu dengan wanita kemarin. ‘ngendi to cewek kui? Clingukan kok ra ketemu-ketemu aku.’
Tiba-tiba terdengar suara yang sama seperti minggu kemarin hanya saja beda, minggu lalu suara ini begitu dipenuhi emosi tapi sekarang berbeda. Suaranya begitu lembut. Joni mendekati wanita itu. Perlahan dia mengumpulkan keberanian menegurnya. Tapi sebelum sempat dia menegur wanita itu, ada suara lain yang menyapa dari sebelah wanita yang dia cari itu.
"Eh, mas Joni!” Ya . . . suara teman dari wanita itu. Putri dari penjual cendol. Wanita tadi melihat Joni juga dan secara spontan berbicara, ”Kamu lagi! Ngapain kesini?! Kalo mau beli es gak papa, tapi kalo Cuma mau ganggu tak bandem sendal sampean nanti!”
”E..e...e.ee bentar dulu! Jangan asal bandem sendal aja. Saya kesini bukan mau ganggu kok.”
”Lha terus ngapain kesini?!”
”Ssttt, jangan bentak gitu to. Kamu gak tahu apa. Dia itu Joni preman disini.” bisik temannya.
”Oooo. . . . jadi kamu to preman disini. Mau kamu preman mau kamu setan atau anaknya presiden aku gak takut! Kalo kamu salah ya berani aku!”
Joni kebingungan, ’Waduh mau ngomong apa lah aku. Belum apa-apa sudah mau dibandem sendal sama dimarahin gini. Ilanglah status premanku ditindas gini. Tapi gak papa. Kadung tresno kie’, ”Sek-sek mbak, beneran saya gak ada maksud ganggu. Saya kesini itu . . . . saya . . . . mau minta maaf sama mbak masalah minggu kemaren. Saya gak sengaja soalnya.”
Wanita tadi diam, putri penjual cendol, dan penjual cendol juga ikut diam. Para pedagang dan orang-orang yang berbelanja di sekitar mereka melihat berempat. Mereka bingung, si Joni preman yang galak dan kejam itu kok bisa kalah sama wanita. Padahal kalau sama orang lain saja teganya minta ampun. Pemandangan ini membuat mereka bingung dan tak habis pikir.
”Mmm . . . dimaafin to, mbak???” Tanya Joni memecah keheningan mereka berempat.
”Ya wes tak maaf ke. Ya udah sana kalau udah selesai minta maafnya.”
”Eh sebentar mbak, saya mau tanya dulu sebentar.”
”Meh takok opo seh?” Tanya wanita itu geram.
”Mmm . . . anu . . . anu . . . namanya siapa ya kalo boleh tau?”
”Ealah mas Joni, mas Joni, ngomong kek mau kenalan dari tadi.” Selonong anak penjual es cendol.
“Mau apa Tanya namaku segala?”
“Ya biar tau aja. Gak boleh opo?”
“Boleh aja tapi nanti sepulang dari pasar aja. Rame ini, aku gak Cuma ngurusin kamu. Tapi para pembeli ini udah antri dari tadi.”
"Oh iya maaf.”
Wajah keheranan dimata orang-orang disekitar mereka. Bingung dan aneh saja dengan sikap Joni si Preman Kampung Tawasrejo. Mereka mulai berbisik-bisik tapi joni tak menghiraukan mereka. Dia menunggu wanita itu sampai pulang diwarung dekat toko beras. Hingga siang ia tetap menanti demi sebuah nama.
Dagangan mulai habis penjual cendol dan anaknya serta wanita yang disukai Joni mulai memberesi dagangan mereka. Joni berdiri mendekati mereka. Tapi saat Joni mendekat kedua wanita itu berjalan meninggalkan Joni. Joni tak patah semangat, ia tetap mengejarnya. Mereka berjalan santai tapi Joni sudah kalah langkah sejak awal. Dia hanya mengikuti setengah berlari saja di tengah pasar yang memang ramai saat itu. Beberapa kali dia menabrak orang saat mengejar mereka. Beberapa kali juga menabrak barang dagangan. Bahkan hampir menabrak penjual kue yang berpapasan dengannya. Sampailah kedua wanita itu di luar pasar. Disana mereka berhenti. Entah kenapa mereka berhenti. Joni seperti mendapatkan harapan. Dia bergegas, dia berlari hingga sampailah dia pada mereka. Suara napasnya memburu.
”Huft . . . .hah . . . hah . . . Hei. Hadew. Harus seperti inikah demi mengetahui namamu?” Joni menghampiri dengan terangah-engah. Kedua wanita itu hanya tersenyum.
”Mas Joni, kayaknya bener-bener penasaran ya? Kasian juga lho. . . . jadi kasih tau gak?” Ledek anak Penjual es Cendol.
”Mmmm . . . . Kalo kenalan aja boleh, sekedar nama buat apa dirahasiakan. Toh banyak juga yang tau namaku to. Tapi . . . apa orang yang tak kasih tau namaku ini cukup pantas yo, Sih?” Hati Joni was-was. Dia khawatir apa dia akan mengetahui namanya atau tidak. Joni hanya pasrah saja. Dia tak dapat bicara karena nafasnya masih terengah-engah. Maklum seperti itu, paru-parunya terlalu banyak terkena racun nikotin dan tubuhnya tak lagi fit karena banyak nya alkohol yang ia konsumsi. Joni terdiam menunggu.
”Ah . . . . kalo gak dikasih tau tar dibilang pelit, kalau dikasih tau nanti . . . . ah mbuh ya aku gak tau bakal gimana.”
”Gak tau, Sih. Aku juga bingung. Enaknya kasih tau aja kali. Biar gak ngejar-ngejar kita.”
”Ya itu terserah kamu, kalo kasih tau ya monggo. Tapi beneran kasian lo, tuh liat sampe menggos-menggos gitu. Udahlah kasih tau aja. Daripada ngejar kamu sampe rumah nanti . . . . hihihihi”
Wanita itu diam, temannya Asih anak penjual cendol melihati Joni dari tadi. Mata Joni tak berpaling dari temannya. Asih tertawa kecil.
”Mas Joni ya namamu?? Preman di pasar sini, terkadang suka berantem, jadi omongan tetangga juga. Hidup kok kayak gitu to mas, apa gak kasian Ibu Bapak e yang kena nama jelek?” Mata wanita itu memandang lekat. Begitu teduh dihati Joni.
”Ehmm . . . . ya mau gimana lagi. Mau dibalik juga gak mungkin, lha wong wes kadhung. Mmm. . . . apa karena itu kamu dari tadi ngindari aku?”
”Sapa i yang menghindar? Orang kita berdua memang sengaja biar kamu kesini kok. Biar lari-lari juga sebenere. Hihihi ”
’Hmm kayak e tanda-tanda bakal kasih tau nama e nih. Tapi iyo ora. Aku bingung dengan sikap e.’ Joni ragu dan terus menduga-duga tapi dia hanya diam. Mulutnya terkatup rapat.
”Namaku Mala. Nirmala Kusumadewi. . . .”
Setelah lama menunggu akhirnya Joni tau namanya. Tangan Mala menjulur mengajak bersalaman. Joni langsung menyalaminya.
”Aku Joni, Joni Prawiryo . . . . .”
”Dan Preman Pasar dan Preman Kampung Tawasrejo? Salam kenal yah.” Sela Mala. ” . . . Dan lagi maaf mas, umurku juga masih lebih muda dari mas. Aku lho masih SMA kelas 3. jadi jangan panggil mbak.” sebuah senyum dari bibir Mala. Joni semakin bahagia.
”Jadi . . . boleh kita berteman?”
”Boleh sih kalo sekedar temenan. Yang penting gak bikin repot aja nantinya. Aku gak malu punya temen preman. Tapi sebelum e mas, mbok tangan saya dilepasin to. hihihi”
Sebuah jawaban yang menggembirakan untuk Joni. Akhir dari sebuah perjuangannya meskipun sekedar mencari tahu nama orang yang ia sukai.
Arti Cinta Sejati
Aku terduduk setelah membersihkan rumput dan daun-daun kering yang menutupi gundukan tanah tempat dimana beliau tertidur. Perlahan kukeluarkan sebuah buku dari sakuku. Aku mulai membacakan Al-Fatihah dan melanjutkan doa-doa yang lain hingga membacakan buku yang kukeluarkan tadi, Surah Yasin. Kubacakan perlahan dengan harapan semoga doa yang kubacakan sampai kepada orang yang aku tuju. Selembar demi selembar buku Yasin itu selesai kubacakan.Lalu aku berdoa kepada Allah,
Anoman Obong (part II)
Kembali ke cerita sebelumnya bahwa anoman berhasil ke Taman Argasoka bertemu dengan dewi Shinta yang akhirnya tertangkap oleh Indrajit. Kini dia dalam masalah besar. Api sudah mengepungnya dia menjerit karena kepanasan. Dia berusaha melepas tali ikatannya. Tapi apa daya dia hanya bisa merenungi nasib, seorang titisan bathara guru yang sakti mandraguna harus mati dibakar dan dilihat oleh orang-orang. Makanya to, man. Tadi kan udah disuruh cepet-cepet sama si Dewi sama Trijata. Kamu nya aja liat cewek cantik jadi kecantol gak bisa gerak. Akhirnya gini kan jadinya.
Anoman Obong (part I)
Pagi cerah menyelimuti pegunungan di Gua Kiskenda tempat para kera sedang menyibukkan diri mereka untuk mempersiapkan dawuh Prabu Ramawijaya menyerang kerajaan milik Rahwana, Alengkadireja, karena istri beliau Shinta telah ia culik. Para kera sibuk sekali, ada yang berlatih perang, ada juga yang bersiap-siap mengumpulkan batu-batu untuk dibuat jembatan menuju negeri musuh, ada juga yang tertidur karena kelelahan. Bukan hanya para kera saja yang ikut bekerja. Tapi beberapa silmuan takhlukan Prabu Rama dan Leksmana ikut serta dalam pekerjaan ini.
Selasa, 14 Februari 2012
Demi Sebuah Buku
Pagi berembun dan masih sedikit gelap, sebuah kayuhan sepeda terdengar lirih. Seorang bocah dengan penampilan biasa saja, baju tak terlalu bagus dan memakai sandal jepit. Topi yang warna coklat kehitaman menutupi kepalanya. Celana pendek dengan memakai tas kecil di pinggang. Wajahnya begitu bersemangat. Sangat muda dan penuh dengan kemauan yang keras untuk mencapai apa yang ia inginkan. Harapan besar terlihat dalam matanya. Sebuah senyum mengiringi perjalanan dengan sepeda berwarna biru yang ia kendarai. “Koran . . .. . Koran . . . . !!“ suaranya lantang. Kayuhannya berhenti di sebuah rumah lalu dilemparkannya Koran ke depan gerbangnya. Setelah melempar Koran ia bergegas pergi menuju rumah langganan Koran lainnya.
Di dekat rumah besar berpagar kayu ia berhenti sambil menengok-nengok ke dalam. Diparkirnya sepeda di tepi jalan, lalu berjalan dengan membawa satu koran. Perlahan mendekati pagar kayu yang lumayan tinggi. Dilihatnya seekor anjing berwarna hitam masih tertidur. Lalu diletakkannya koran di pagar tadi kemudian ia pergi. Ia takut kalau anjing itu kembali melolong dan melompati pagar lalu mengejarnya seperti beberapa hari yan lalu. Oleh karena itu sekarang ia lebih berhati-hati. anjing ini benar-benar tak bersahabat dengan orang asing.
Minggu, 12 Februari 2012
For my Love
“Pak . . . Bapak . . . bangun, udah adzan subuh. Jamaah dulu di masjid.” Suara lembut terdengat dari seorang yang begitu cantik meski wajahnya sudah sedikit terlihat keriput dimatanya. Tapi kilauan cahaya kecantikannya tak pernah padam, meskipun usianya kini tak semuda dulu. “Pak . . . . bangun dulu . . .” lanjutnya membangunkan suami yang ia cintai.
Sesal tak Berarti
Sunyi senyap, hanya aku sendiri memandang kosong tembok di ruangan tempatku berada. Kesepian, itulah keinginanku. Sengaja aku menginginkan kesepian yang bersamaku selama ini hanya karena suatu hal. Dan dari itulah aku bisa lebih merenungi semua kesalahanku.
Dibalik jeruji besi ini aku menghabiskan waktuku selama 15 tahun karena kesalahan yang kuperbuat di masa laluku. Kesalahan yang selalu membuatku menyesal hingga saat ini sekalipun. Karena kesalahanku inilah, semua orang yang kukenal perlahan menjauhiku dan menelantarkan keadaanku yang seperti ini. Mungkin hanya beberapa dari mereka yang masih peduli dan mau menjenguk meski sebentar. Bahkan keluargaku sendiri, ayah, ibu, kakak dan beberapa saudara serta sahabatku tak ada yang pernah menjenguk. Hanya adik perempuanku saja yang menjenguk meski hanya 1 kali saja. Itupun untuk memberitahuku bahwa dia akan menikah. Dia ingin meminta restu dariku, meski orangtuaku tak mengijinkannya untuk memberitahuku.
Langganan:
Postingan (Atom)

