Pagi berembun dan masih sedikit gelap, sebuah kayuhan sepeda terdengar lirih. Seorang bocah dengan penampilan biasa saja, baju tak terlalu bagus dan memakai sandal jepit. Topi yang warna coklat kehitaman menutupi kepalanya. Celana pendek dengan memakai tas kecil di pinggang. Wajahnya begitu bersemangat. Sangat muda dan penuh dengan kemauan yang keras untuk mencapai apa yang ia inginkan. Harapan besar terlihat dalam matanya. Sebuah senyum mengiringi perjalanan dengan sepeda berwarna biru yang ia kendarai. “Koran . . .. . Koran . . . . !!“ suaranya lantang. Kayuhannya berhenti di sebuah rumah lalu dilemparkannya Koran ke depan gerbangnya. Setelah melempar Koran ia bergegas pergi menuju rumah langganan Koran lainnya.
Di dekat rumah besar berpagar kayu ia berhenti sambil menengok-nengok ke dalam. Diparkirnya sepeda di tepi jalan, lalu berjalan dengan membawa satu koran. Perlahan mendekati pagar kayu yang lumayan tinggi. Dilihatnya seekor anjing berwarna hitam masih tertidur. Lalu diletakkannya koran di pagar tadi kemudian ia pergi. Ia takut kalau anjing itu kembali melolong dan melompati pagar lalu mengejarnya seperti beberapa hari yan lalu. Oleh karena itu sekarang ia lebih berhati-hati. anjing ini benar-benar tak bersahabat dengan orang asing.
Satu persatu koran sudah diantarkan, tiba-tiba seseorang menyapanya.
”Hei! Di. Wah kok tumben pagi-pagi banget? Biasanya aku sudah pulang kamu baru nongol lewat depan rumahku.” tegur seorang pemuda yang tengah berjogging.
”Eh, Bang Aril. Iya nih Bang. Nanti musti ke sekolah pagi-pagi. Sepedanya juga mau dipake Emak buat ke pasar. Aku ada les jadi nganterin korannya lebih awal.” kata Budi menjelaskan.
”Wah . . . . pinter ngatur waktu ya sekarang. Jadi kalah aku sama kamu. Padahal masih kecil gini. Udah bantu orang tua nyari duit . . . . Oh ya besok kalau nganter koran ke rumahku jangan langsung lempar ya. Sekalian soalnya, mau ngasih sepatu punya adek ku ke kamu. Mau kan?”
"Wah beneran, Bang? Mau lah . . . . "
"Nah . . . besok jangan lupa tak tunggu. Ya udah aku belok dulu ya, mau nengok someone nih . . . . hehehehe . . . ”
”Hahahaha . . . . Mbak Ayu kan?? Hayoo . . . . ”
”Hush! Anak kecil jangan ikut-ikut. Ini urusan orang dewasa. Hehee . . . . udah yah dah!”
”Ok, Bang!”
Bang Aril pergi ke arah yang berbeda meninggalkan Budi mengayuh sepedanya sendirian. Setelah agak lama tadi berhenti ia melihat jam di jam tangan milik Bapaknya yang ia bawa di saku karena tak muat kalau ia pakai. Setelah melihat waktu menunjukkan hampir jam 6 ia segera bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
"Bud, kamu udah beli buku untuk latihan ujian belum??” teman sekelasnya menegur saat ia sedang membaca-baca buku di dalam kelas saat istirahat. Ia menoleh perlahan.
"Hm . . . . belum, tapi mungkin aku tak membeli buku itu. Terlalu mahal sebenarnya.” Jawabnya menanggapi meskipun matanya kembali memandang buku catatan yang ia miliki.
"Eh, kok gitu? Kan Bu Nisa bilang kita harus banyak latihan. Ujian kita gak kayak ujian-ujian yang dulu ditentukan sekolah. Sekarang kan secara Nasional.”
”Iya sih, No . . . aku tahu itu. Tapi mau gimana lagi. Mungkin aku pinjam punyamu aja kalau sudah beli. Biar nanti kutulis dengan tangan.”
"Ya udahlah kalo gitu. Pasti kupinjami kalau butuh. Kita kan teman.”
”Yaaa . . . teman . . . . tapi . . . .. suka nyontek aku terus kalau PR. Hahahaha . . . ”
”Ahhh kau ini Bud, buka rahasiaku saja. Tapi . . . . memang bener kok. Hahahaha . . . .”
Bel tanda kelas akan kembali berlangsung berbunyi. Anak-anak yang bermain di luar kelas segera masuk dan duduk di tempat masing-masing. Begitu juga Eno, ia kembali duduk di bangkunya. Selang 5 menit Bu Nisa masuk.
”Yah anak-anak, sekarang kita buka buku latihan yang ibu suruh beli 2 hari kemarin dan buka halaman 4. Kita bahas soal yang ada di halaman tersebut.”
Budi merasa bingung harus bagaimana. Ia tak punya buku yang Bu Nisa maksudkan. Sementara teman-temannya semua sudah mengeluarkan buku dan dipergunakan sendiri. Dia hanya bisa diam saja melihat teman-temannya melihat dan membahas soal bersama gurunya.
Sesampainya di rumah, Budi mendekati emaknya yang sedang sibuk mencuci baju milik orang lain karena memang emaknya seorang tukang cuci. Karena itulah pendapatannya tak terlalu besar. Sementara bapaknya hanya bekerja serabutan dan itupun kalau ada.
”Mak . . . ”
”Hm . . . . ada apa Bud?”
”Itu Mak. Bu Nisa kan dua hari kemarin nyuruh Budi sama temen-temen beli Buku Larihan Ujian. Nak tadi pas di sekolah Cuma Budi aja yang belum punya. . . .”
”Jadi . .?”
”Yaaa . . . Mak bisa beliin gak bukunya? Kalau ada uang sih, Mak. Kalau gak ada ya gak apa-apa. Biar nanti Budi nyalin dan tulis tangan aja.”
Emaknya berhenti mencuci lalu membelikkan badannya ke Budi.
”Kamu tahu sendiri kan, Nak. Bapakmu juga belum ada kerjaan beberapa hari ini. Lagi sepi . . . dan nanti hasil cucian emak ini buat bayar sekolah Irul dan buat beli susu Linda. Uang koranmu juga buat bayar sekolah bulan ini kan?”
Budi diam saja dan menunduk. Ibunya melihat anaknya seperti itu langsung merasa sedih. Dalam hatinya ia merasa sedih karena tak bisa memenuhi kebutuhan anak sulungnya ini. Pendapatan yang minim ditambah kebutuhan hidup yang semakin meninggi. Belum lagi hutang-hutang di tetangganya meskipun mereka bilang tak apa-apa, kalau ada uang baru dikembalikan. Namun tetap saja menjadi beban bagi keluarga miskin seperti keluarga Budi ini.
Keesokan harinya, Budi menepati janjinya akan mampir ke rumah Bang Aril yang kemarin memintanya untuk ke rumah. Sesampainya disana, Bang Aril langsung mengambilkan sepatu bekas yang dijanjikan kemarin. Ukuran sepatunya pas dengan kaki Budi. Budi bersyukur sekali karena kondisi sepatu itu masih sangat bagus.
”Gimana? Enak kan dipakainya?? Itu baru aja 2 minggu kemarin beli. Tapi adekku malah minta beli yang baru. Katanya udah bosen sama sepatu ini. Daripada sayang ya tak kasihin ke kamu aja.”
Masih terlihat senyum di wajah Budi menerima sepatu itu.
”Wah . . . Makasih banget Bang. Budi seneng banget nih. Hehe . . . ”
”Ya ya . . . di rawat yah tuh sepatunya.”
”Oh ya Bang, aku langsung aja soalnya masih ada 2 koran yang belum tak anterin.” lalu ia melangkah menuju pintu keluar, saat di luar rumah ia melihat ada tumpukan kardus bekas yang berserakan. ”Bang, kardusnya itu masih terpakai gak?”
”Oh . . . yang itu?? Rencananya sih mau kubuang di depan sana. Kenapa memangnya?”
”Boleh tak minta gak?? Biar kujual. Kardus kan lumayan kalau dijual.”
”Wah ya silahkan ambil lah. Lagian juga daripada berserak disitu. Ambil aja.”
Budi lalu membawa kardus bekas tadi dan pamit pergi. Di jalan ia terpikir untuk mencari kardus atau kertas-kertas bekas untuk dijual. Mungkin dengan begitu ia bisa membeli buku Latihan Ujian seperti teman-temannya. Dan benar, setelah pulang sekolah dan makan ia segera pamit pada Bapak Ibunya. Saat ditanya ia hanya diam dan tersenyum saja. Ia mengambil karung di belakang rumah dan segera pergi. Budi terus menyusuri jalanan serta gang rumah bahkan tempat sampah. Diambilnya barang yang memang laku untuk dijual saja. Ia tak merasakan panas yang memang saat itu terik. Yang ada diwajahnya hanya semangat untuk mencari sampah yang bisa dijual. Tak apalah jadi pemulung sebentar demi membeli buku, begitulah yang ia pikirkan. Semangatnya tak padam meski kadang bertemu teman sekelasnya yang mencibir bahkan menjaili Budi saat mencari sampah. Setelah terkumpul banyak Budi lantas menjualnya ke penadah sampah. Lumayan hasilnya hari ini. Keesokan harinya dan beberapa hari seterusnya ia terus seperti itu hingga uangnya terkumpul dan cukup untuk membeli buku.
Hari minggu, saat-saat libur inilah setelah mengantar koran ke langganannya ia mampir dulu ke toko buku. Disana Budi mencari buku yang dimaksud oleh Bu Nisa. Setelah ketemu ia lantas membeli dengan uang hasil menjual sampah plastik dan kertas atau kardus bekas. Dia merasa senang dan bangga pada dirinya sendiri. Sesampainya di rumah, ia memarkirkan sepeda di halaman rumahnya. Bapak dan Ibunya melihat Budi membawa sesuatu saat pulang.
”Nak, yang kamu bawa itu apa di tas kresek?” tanya bapaknya saat hampir memasuki pintu karena orangtuanya sedang duduk-duduk di depan rumah. Dengan wajah yang masih terlihat gembira Budi menjawab, ”Ini, Pak. Buku Latihan Ujian.”
”Punya temen kamu??”
”Bukan . . . .”
”Terus?? Milik siapa???”
”Ini milik Budi sendiri, Pak. Baru tadi beli di toko.”
Bapaknya nampak bingung, "Uang darimana kamu belinya? Apa dari uang ngantar koran kemarin kamu pakai buat beli buku?? Terus bayar sekolah kamu gimana??”
"Bukan kok, Pak. Ini Budi beli pake uang hasil lainnya.”
Emaknya yang daritadi diam akhirnya bertanya pada Budi, ”Uang hasil apa to, Nak?? Kasih tau Bapak sama Emak biar kami itu gak bingung.”
Budi masih tersenyum-senyum dan memegang buku yang barusan ia beli.
”Tapi janji jangan marah sama Budi ya??”
Orangtuanya semakin bingung dan saling memandang. ”Iya . . . .”
”Begini ceritanya, Budi kan beberapa hari ini setelah pulang selalu alasan main ke rumah Eno kan? Nah sebenarnya Budi gak ke rumah Eno, tapi mulung sampah. Dan hasilnya ini nih . . . . ” Budi diam dan memandang mata kedua orang tuanya. ”. . . . Maaf ya, Mak, Pak, Budi udah bohong . . . .”
Orang tua Budi hanya diam saja. Ibunya terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan anaknya. Ayahnya hanya diam membisu. Didalam pikirannya ia merasa bersalah. Kenapa anaknya harus menjalani kehidupan yang berat ini hanya demi mendapat sebuah buku untuk latihan soal.
”Nak . . . . ” ayahnya mulai berbicara saat sudah begitu sepi tak ada yang berucap apapun. ” . . . Maafin Bapak sama Emak ya. Harusnya kami yang membelikan buku itu untukmu. Bapak merasa bersalah sekali membuatmu harus bekerja seperti itu. Kalau saja . . . . .”
” . . . . sudah pak, sudah . . . . Budi ikhlas menerima kehidupan kita yang seperti ini. Lagipula Budi merasa bahagia dengan keluarga kita yang seperti ini . . . .” Matanya mulai mengeluarkan air mata saat berucap demikian. Budi memegang tangan kedua orang tuanya.
”Tapi . . . . memang harusnya kami yang . . . . ”
”Sudah pak, gak perlu nyalahin diri sendiri seperti itu. Ibu juga . . . udah Mak jangan nangis. Emak malah bikin Budi ikut nangis . . . . ”
Dengan air mata yang masih terus mengalir di pipinya, Emak Budi menanggapi perkataan anaknya, ”Maaf ya, Nak . . . . kami bukan orang tua yang baik . . . .”
”Emak gak usah bilang gitu . . . . justru Emak sama Bapak adalah orang yang sangat baik untuk Budi. Budi bisa belajar banyak dari kalian. Budi bangga . . . .”
Kedua orang tua Budi hanya diam saja dan langsung memeluknya. Mereka bertiga saling diam dalam pelukan itu. Kehidupan oh kehidupan . . . beginilah nasib dari mereka yang hidup apa adanya. Kebutuhan begitu berat untuk di penuhi. Mereka hanya meratapi nasib yang sangat tak adil mungkin. Tapi dengan keikhlasan itulah Budi menanggapi kehidupannya sebagai guru yang baik dalam hidup yang ia jalani. Ia menjadi anak yang mandiri dan mau bekerja keras. Suatu kebanggaan tersendiri untuk orang tuanya meskipun mereka merasa bersalah.
”Oh iya, Mak . . . ini . . .. ”Budi merogoh sakunya dan mengambil beberapa uang dan ia berikan kepada Emaknya.” . . . . uang kembalian beli buku. Lumayan kalau buat tambahan beli susunya Linda. Ehehehehe . . . .” ibunya menerima dengan air mata yang kini semakin deras keluar dari matanya. Ia bangga dan sedikit sedih anaknya masih begitu peduli dengan adiknya.
~ Sekian ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar