Rabu, 15 Februari 2012

Aku dan Mereka


Sudah bertahun-tahun kami bersama, suka duka rasanya sudah sering kami lalui bersama. Aku, Reza, Ilham dan Seno. Kami berempat adalah kawan semasa kecil hingga saat ini. Dulu pertemuan kamipun sangat unik. Saat pertama kali aku bertemu dengan Reza ketika itu umurku baru sekitar 3 tahun. Saat itu yang kuingat aku masih begitu pendiam dan tak banyak aktifitas. Saat aku sedang bermain di sebuah taman dengan ibuku, tiba-tiba seseorang mendorongku hingga jatuh dari ayunan yang sedang kunaiki. Aku menangis dan ibuku menghampiri. Ibu anak itu juga menghampiri anaknya. Setelah itu kami disuruh bermaafan dan setelah kejadian itu kami malah menjadi teman bermain yang akrab.
TK kami pun sama hingga SD. Nah . . . saat SD inilah aku bertemu dengan Seno, dia anak yang periang dan aktif. Pandai sekali dalam melukis dan bernyanyi. Dia anak yang suka seni sejak SD. Maklum kehidupannya di rumah penuh dengan berbagai seni. Dimulai dari ayahnya dan kakak-kakaknya yang seniman, meskipun berbeda bidang. Sedangkan satu temanku ini lain dari yang lainnya. Dia lebih dikenal pendiam, tak banyak bicara dan sering dibilang anak yang tak normal dari yang lainnya. Teman sekelasku banyak sekali yang menjahilinya. Tapi yang kutahu dia selalu diam saja tak menganggap itu sebagai masalah. Justru karena dia diam itulah ia selalu dijadikan bahan olok-olokan anak-anak sekelas. Dulu kami bertiga yang membelanya saat dia menjadi korban kekerasan atau ejekan dari teman-teman kami. Oh ya aku lupa, aku Bayu. Aku dikenal dengan sikapku yang sedikit care dari kawanku. Itu sih kata mereka. Padahal sebenarnya aku anaknya yang pemalu. Itulah yang Ilham katakan padaku saat mengomentari sikapku.
Cukup sekilas tentang masa kecil kami. Kemudian cerita berlanjut, kami tumbuh dewasa dan sudah berumur 16 tahunan. Disinilah kami berpisah sekolah. Ilham dan Reza sekolah di SMA yang sama, sedangkan aku dan Seno berbeda sekolah juga. Aku di SMK dan Seno di SMA lain. Meskipun demikian persahabatan kami tetap berlangsung. Banyak hal yang lebih berarti kami lalui pada masa ini. Dari sebuah percintaan, emosional kami yang mulai tumbuh, pendewasaan sikap masing-masing, hingga terkadang masalah yang membuat kami sendiri frustasi.
Berjalan beberapa bulan di sekolah baru kami dengan keadaan terpisah, kami mendapat banyak teman baru yang menambah sosial kami. Namun tetap aku lebih merasa kawan lamakulah yang selalu ada dihatiku. Di masa SMA inilah kami berempat mulai agak hilang komunikasi satu sama lain karena hal-hal yang mengganggu persahabatan. Sebenarnya bukan mengganggu hanya memang sudah takdir kami menjalani jalan yang kami pilih. Reza yang terkenal Playboy sibuk sendiri dengan acara yang ia buat dengan pacar-pacarnya. Sedangkan Seno sibuk dengan Bandnya yang baru di SMA-nya. Ilham sendiri sibuk dengan hal-hal yang kurang kuketahui, hanya saja dia aktif dalam sekolahnya. Waktunya tersita untuk kegiatan sekolah dan kegiatan lain. Tapi lebih cenderung dia banyak waktu untuk temannya yang kadang kala membutuhkannya. Dia sangat jarang aktif. Lalu aku sendiri terlalu sibuk juga dengan kegiatan sekolah dan satu lagi . . . . Pacarku yang baru ini setelah sebelumnya merasa sakit hati dengan pacarku saat SMP yang memutuskanku secara sepihak. Tapi bukan untuk dibahas saat ini. Hehe . . . .
Suatu ketika Reza memperkenalkan kami dengan tema satu sekolahnya dengan kami. Tak lama kami sangat akrab, namanya Herdi. Anehnya temanku Ilham seperti tak terlalu peduli dengan kedatangan teman baru kami ini. Dia mungkin merasa tak suka, aku hafal dengan sikap Ilham kalau tak suka dengan seseorang. Tapi benar-benar tak terlihat oleh yang lain. Herdi yang sudah sering jalan dengan kami begitu baik. Kami sering ditraktir saat keluar. Hari-hari kami jalani bersama, hingga suatu masalah terjadi. Entah siapa yang salah aku tak tahu pasti saat itu. Aku berada di tengah kubu sepertinya. Karena jujur aku bingung dengan masalah yang sedang kami hadapi. Hari itu aku mendekati Ilham yang sedang berada dirumah, aku bermaksud mencari penjelasan tentang masalah sesungguhnya. Kulihat ia duduk didepan rumahnya sendiri seperti melamun,
”Hei, Ham. Ganggu gak aku?”
”Eh, kamu Yu. Gak kok, aku lagi santai-santai aja. Ada apa?”
”Gak aku Cuma maen aja. Skalian ada yang mau aku tanyain.”
”Tanya apa yah? Masalahku sama Reza dan Herdi?”
Belum aku tanya maksudnya dia udah tahu, aku kaget tapi aku terus melanjutkan maksudku kesini tadi.
”Yaa . . . . itulah pokoknya. Mm . . . sebenarnya masalahnya itu apa sih?”
Ilham diam saja, dia seperti menatap kosong di udara. Lalu menjawab dengan muka tertunduk. ”Yah kalau aku salah aku minta maaf sama kalian semua. Besok aku akan minta maaf kok.” Eh, tapi bukan itu jawaban yang mau aku tahu. Yang aku ingin tahu masalah sebenarnya. Tapi dia menjawab hal lain. Aku hanya diam saja mendengarkan Ilham berbicara, ”Yu, semua tergantung kamu. Ikuti kata hati kamu. Kalau kamu nganggep aku salah aku minta maaf dan nyesel banget. Seno udah aku kasih tau masalahnya apa. Kalau kamu tanya masalahnya, lebih jelasnya tanya sama Herdi atau Reza. Mereka yang lebih tahu.”
Jawaban yang aneh pikirku, ”Tapi kan masalahnya sama kamu, yang aku dengar dari Seno katanya kamu yang disalahkan sama Herdi dan Reza.”
”Udahlah, tanya sama Reza aja kalau Reza pasti gak mengada-ada”
Dalam hatiku bingung dengan perkataannya barusan, kenapa reza pasti gak mengada-ada? Kami lalu bercakap-cakap biasa. Tak menyangkut masalah sedikitpun. Ilham sebenarnya yang memulai.
Esoknya aku bertanya pada Reza, aku tau masalahnya. Ilham dituduh Herdi membongkar rahasia ke pacarnya. Begitu juga Reza disangkut pautkan akhirnya. Aku hanya mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulur Reza. Dia sangat marah dan kecewa. Padahal mereka sahabat sendiri. "Aku gak nyangka aja, ternyata diam-diam dengan wajah pendiam itu si Ilham itu munafik banget! Gak bisa jaga rahasia sama sekali! Aku nyesel berkawan sama dia!” Itulah kata yang keluar dari perkataan Reza saat itu. Masalah ini tak kunjung selesai, hingga beberapa hari kudengar masalah ini semakin panas dan tak tampak jalan keluarnya. Aku bingung dan menyerah rasanya. Bukan hanya aku, tapi Seno yang terkenal bisa meredam suasana dengan gelagat lucunya saja menyerah.
”Sumpah, Yu. Aku udah kehabisan cara biar mereka akur kembali. Aku udah angkat tangan pokoknya. Biar mereka yang nyelesaiin sendiri.”
”Aku juga, No. Udah gak ikut campur. Gak ada yang tak bela atau tak bantu sekarang. Mereka sama-sama keras kepala.
Kami diam memikirkan nasib persahabatan kami selama ini, akan jadi apa selanjutnya kami hanya bisa pasrah. Kami berdoa moga diberikan yang terbaik saja.
”Kenapa gak minta bantuan pacarnya Ilham aja? Kan mereka deket, satu sekolahan pula.”
”Iya juga sih, tapi kemaren pas aku sms si Dila gak bales. Pas tak temuin aja dia sendiri pusing sama sikap Ilham yang malah tenang aja gak ada usaha buat masalah biar selesai. Mana Herdi desak terus lagi.”
”Heh aku malah curiga sama si Herdi sih. Inget kan, Yu. Diantara kita yang paling dekat kan Cuma si Reza.”
”Iya sih, deket karena sama-sama doyan cewek mungkin. Hehehe”
Kami terdiam.
”Gimana kalau kita ke rumah Ilham aja, sekalian maen. Ngobrol-ngobrol juga. Gimana ?”
”Ide briliant tuh dari seorang musisi. . . . hahaha . . .”
Kami berdua langsung menuju ke rumah Ilham. Disana seperti biasa ia dirumah saja. Berdiam diri menyibukkan dengan sesuatu yang saat kami datang ia segera menyembunyikan dari kami.
”Hei, ada pa ya? Tumben kesini kalian berdua gak bilang dulu?”
"Mau nyelesaiin masalah kamu!“ kata Seno langsung pada pokok permasalahan.
"Masalahku?? Emang aku ada masalah yah?“ tanya Ilham pada kami datar seperti seseorang yang memang tak punya masalah dengan itu.
"Ada dan udah genting stadium 100 tau gak kamu?!”
”Udahlah, Ham. Kami tuh tau dari Dila kalau masalah kamu ma Reza makin rumit aja. Kami tuh kawatir tau gak !”
”Ohh . . .  dari tuh anak ya?”
Kami sedikit bengong saat dia bilang pacarnya dengan sebutan yang gak wajar. Pikiranku macam-macam. Jangan-jangan dia juga ada masalah dengan pacarnya saat ini.
”Tenang aja. Pokoknya dengerin aku yah kawanku, Sohibku yang rela berkorban demi aku yang lemah ini. Anything will be ok. Sebentar lagi semua selesai. Percaya padaku ya.” Dia begitu optimis meski sebenarnya masalahnya sudah benar-benar genting. Wajah senyumnya itulah yang membuat kami percaya. Dan benar . . . . setelah dua hari berselang kami mendengar kalau mereka sudah baikan dan Reza minta maaf pada Ilham. Herdi saja yang tak minta maaf, dia malah seperti mendendam dengan kawanku ini. Hubungan kami kembali seperti biasa. Hanya saja Herdi teman kami mulai menjauhi dengan sendirinya. Mungkin merasa malu atau apa. Dan pada akhirnya aku tahu kalau masalah waktu itu Herdilah yang memfitnah Ilham. Dan untung saja hanya Reza yang terkena kebohongannya. Alasannya hanya sepele, mereka sebenarnya suka dengan cewek yang sama di sekolahan yaitu adik kelas mereka sendiri. Hanya saja Ilham sudah mengalah dan memilih sahabat dari orang yang ia sukai itu. Tapi seolah-olah Herdi tak terima. Karena sampai saat itu dia belum juga bisa membuat “cewek” itu menjadi miliknya. Hah . . . pantas saja Ilham tenang saja. Gelombang masalah persahabatan yang kami alami seakan tak menggoyangkan sedikitpun laju kehidupan kami.

Suatu ketika dibulan Juni saat kami kelas 3. Itu adalah saat-saat terakhir kali kami bersama untuk berkumpul. Karena setelah itu kami akan berpisah satu sama lain. Disinilah suatu hal terjadi. Sesudah kelulusan dan pengumuman kenyataan pahit diterima oleh kami. Kelulusan yang kami bayangkan bisa berjalan lancar dengan keadaan bahagia di wajah kami, semua berbeda dengan apa yang diharapkan.
Pengumuman usai dan hanya aku saja yang dinyatakan lulus. Sementara kawan-kawanku kurang beruntung. Mereka harus mengikuti ujian ulang yang pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah. Aku sendiri tak menyangka hal ini terjadi. Tapi mungkin sudah takdir. Disinilah kawanku ini membuatku sekali lagi kagum. Ditengah-tengah masalah keluarga dan masalah batin karena ia tak berhasil ia tetap semangat. Kalian pasti tahu yang kumaksud. Ilhamlah orang itu. Dia juga yang memberi semangat pada kedua temanku Reza dan Seno. Tak ada rasa kesedihan dan gundah, senyumnya mengembang. Hingga akhirnya mereka dinyatakan lulus meskpun dengan Ujian Ulang.
”Alhamdulilah kita udah lulus. Meskipun kegagalan di awal. Tapi tetap optimis kawan. Didepan justru kita akan selalu berhasil. Satu dua kegagalan itu tak berarti asal kita selalu berusaha.”
”Makasih Sob, udah ngasih kita motivasi yang berarti. Mungkin diantara kami kamulah yang berfikir sangat dewasa. Seperti kakak kami sendiri.”
”Udahlah, momen ini adalah terakhir kali kita bisa bersama. Mungkin besok kita akan berpisah. Seno udah jelas bakal ke Jogja nerusin kuliah seni-nya, sedang Reza pergi ke Jakarta buat kerja. Dan Kamu bakal ke Surabaya Kuliah disana. Aku mungkin masih di kota ini sementara. Aku belum bisa ninggalin koa Kudus ini. Ada banyak hal yang belum sempat aku lakukan.”
Keadaan hening, cukup lama kami diam. Disini kami mengulas masa-masa kami di SMA. Mulai dari percintaan dan masalah yang pernah dihadapi. Di rumah Reza inilah semua terukir menjadi satu. Tempat kami bersama menjalin cerita persahabatan. Perpisahan terjadi di basecamp yang kami buat sendiri disebuah gardu dekat area persawahan di dekat rumahku. Semua masih teringat jelas.
Saat ini semua berbeda. Aku sudah tak lagi muda seperti dulu. Aku akhirnya menikah dengan orang yang dulu membuatku sakit hati dan putri kami sudah berumur 4 tahun. Aku kembali ke Kudus dengan maksud semoga kawan-kawanku dulu juga pulang. Mumpung waktunya lebaran. Pengharapanku menuahkan hasil, di jalan aku melihat Seno yang menggandeng entah siapa dalam keadaan hamil. Aku berhenti dan menyapanya. Kuajak sekalian dia bersama-sama. Perlahan aku mampir dari kawan-kawan SMK hingga kawan lamaku yang kukenal.
"No, kabar Reza dan Ilham bagaimana? Apa mereka juga pulang?”
"Reza pulang, kami nanti malah janjian di restoran yang kami pesan. Rencananya aku mau kerumahmu tadi, eh malah ketemu di jalan pas kamu baru dateng. Pake diajak muter-muter juga. Kebetulan sekali lah. Hahaha”
"Hahahaha . . . .  mujur kalau begitu. Istrimu sudah berapa bulan? Sudah besar sekali.”
”Yah sebentar lagi, tinggal menghitung hari saja. Sudah aku USG dan jenis kelaminnya laki-laki. Aku sudah nyiapin nama buat dia.”
"Sepertinya istri kita akrab, hahaha . . .  padahal baru ketemu tadi kan?”
"Yah . . .  syukurlah . . . .”
Lalu Seno diam, melihat istrinya dan istriku yang sedang berbincang-bincang. ”Yu, kamu tadi tanya tentang Ilham kan?”
Suatu pertanyaan yang tak kuduga. Aku menyimak dengan seksama. Kursiku kugeret kedepan agar lebih jelas mendengar perkataannya. ”Ya tentu. Aku ingin tahu kabarnya, selama ini dia yang membantuku bersatu dengan dia . . .. ”sembari menengok ke arah istriku. ” . . . . aku ingin berterima kasih padanya. Karena saat pernikahanku dia tak datang.”
”Begitu juga dipernikahanku. Hanya Reza yang beruntung bisa ditemani Ilham.”
”Hm . . . . sebenarnya kenapa kamu sedih seperti ini? Apa yang terjadi dengan Ilham?” aku menunggu jawaban dari kawanku cukup lama. Dia hanya diam. Pikiranku melayang-layang penuh dengan pikiran negatif. Tapi tiba-tiba . . . .
”Hahahahahahahaha . . . . !!!! kau pasti takut terjadi apa-apa yah?? Hahahahaha”
Seno malah tertawa keras hingga beberapa tamu yang ada di rumahku ikut melihat. Istriku mendekat begitu juga istrinya.
”Ada apa sih ketawa sampai gitu?”
”Hah! Biasa kelakar temanku satu ini dari dulu kan begini. Suka bercanda.”
”Kalian ngomongin apa sih?” tanya Istri Seno padanya.
”Bahas tentang temenku Ilham yang pernah aku ceritain dulu, mam.”
Aku menyela pembicaraan mereka berdua. Begitu juga istriku yang dari tadi ingin tahu. ”Jadi . . .  sekarang gimana Ilham?”
Nanti malam pukul 19.30 datang saja ditempat yang aku kasih tau kemarin. Disana semua pertanyaan kalian akan terjawab. Dan jangan lupa bawa si kecil Narsya yang cantik ini ikut.” Seno lalu tersenyum. Setelah itu ia pamit pulang untuk bersilaturahmi ke saudara-saudaranya yang lain.
Tempat malam sebelum waktu janjian kami. Aku pamit dengan ayah dan ibuku yang kini sudah terlihat akur dan tak lagi bermasalah seperti waktu aku SMA maupun saat kuliah dulu. Kulihat kakak perempuanku dan anaknya serta adik-adikku sedang bersama. Kami lalu berangkat menggunakan mobil. Narsya, buah hatiku yang sangat kusayang begitu cantik mirip dengan ibunya dengan baju yang sama dengan baju milik ibunya. "Cantik”. Itulah kata yang terlontar dari mulutku saat mereka keluar dari kamar bersama. Diperjalanan kami berdua hanya membicarakan apa yang dikatakan seno sore tadi tentang Ilham.
Sesampainya disana kulihat Seno dan Reza sudah duduk di meja yang sudah dipesan. Tak kulihat Ilham disana. Lama tak jumpa banyak hal yang berubah dari Reza. Dia nampak lebih tua. Mungkin karena anak kembarnya yang begitu nakal menurut ceritanya saat aku baru tiba.
”Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Narsya sudah besar sekarang.”
"Hei, ingat anakmu juga sudah besar ketimbang anakku yang baru 4 tahun.”
"Kau benar, Ham. Anak Reza yang kembar ini sekarang kan sudah berumur 6 tahun. Jelas sangat membuat pikirannya semakin pusing dengan kenakalan mereka. Hahaha.”
”Awas kau, No. Kalau anakmu lahir. Kau pasti juga merasakan hal yang sama. Lihat saja itu.”
”Ahahahaha . . .  semoga saja. Aku sudah menantinya bertahun-tahun. Baru sekarang Tuhan mendengar doaku.”
Saat kami masih bercanda, tiba-tiba Reza menoleh ke arah belakangku. Begitu juga seno dan Istrinya. Istriku dan Istri Reza mengikuti. Mereka tersenyum melihat sesuatu dan berucap ”Alhamdulilah”. Terutama istriku. Aku penasaran. Lalu kuputar badanku kearah yangj dilihat mereka. Aku sedikit kaget, kulihat seseorang yang begitu kukenal dulu. Dia menggendong seorang anak laki-laki. Wajahnya masih seperti waktu kami terakhir bertemu. Dia seperti awet muda dan tak bertambah tua. Seperti umurnya tetap seperti dulu. Dan disebelahnya . . . . aku tak tahu . . . . sampai dia di depanku. Kami berpelukan, air mata haru keluar dari mata kami.
”Maaf yah, aku gak bisa datang waktu pernikahan kalian.” dia memandangku dan istriku. Lalu ia membungkuk dan menyalami putriku dan putra-putra Reza. ”Wajah Bapak dan Ibu, hehe . . . satu saja yang sebentar lagi.” kami duduk dan ngobrol melepas kangen hingga istriku mendesak ingin tahu tentang istri sahabatku ini. ”Hmm . . . ngomong-ngomong aku kok gak kamu kenalin sama istrimu ya, Ham??” Ilham hanya memandang dengan senyum.
”Sudah kenal kok dulu, Mas.” Istri Ilham menjawab membuat aku jadi penasaran. Istriku sendiri juga bingung. ”Ah . .  lupa deh. Aku Fina, masa pangling denganku?”
Astaghfirullah . . . . aku benar-benar pangling dengan Fina. Dulu yang penampilannya tak seperti sekarang ini. Dia begitu cantik mengenakan kerudung di kepalanya. Aku sangat pangling dengan perubahan pada dia. ”Ya Allah . . .  aku pangling sekali, Fin. Jadi . . . . kalian . . . .”
”Perjuangan besar kawan. Perjuangan besar . . . . dan selama aku menghilang dari kalian dulu untuk ini. Sebenarnya bukan untuk ini saja. Tapi untuk mempersiapkan diriku dan mengobatiku dulu.” dia memandang Fina istrinya dan berpegang tangan. Istriku nampak bahagia begitu pula kawan-kawanku dan Istri mereka. Kami senang melihat sahabat kami yang dulu pernah kandas cintanya, akhirnya mendapatkan kembali cinta seseorang yang amat sangat tulus. Malam itu kami melepas rindu dan bercerita kehidupan kami selama berpisah. Malam itu adalah malam yang kembali menyatukan kami semua. Sebuah persahabatan dari kecil hingga kami berumah tangga.
Begitulah kawan. Sahabat sejati akan terus berlangsung sampai waktu yang tak terkira lamanya. Bukan karena umur atau bukan karena hal yang menguntungkan bersam atau salah satu pihak. Persahabatan itu sebongkah kasih sayang yang tulus dari hati manusia pada sesamanya dan lahir bukan dari persamaan dan perbedaan tapi dari keduanya. Menyatukan kehidupan yang berbeda mejadi satu. Menghidupkan sesuatu yang baru hingga menjadi anggun hingga waktu yang lama.


~Sekian dan Salam~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar