Desember akhir, kulihat hujan mengguyur setiap ruas tanah yang terbentang di halaman rumahku. Rintikannya menimbulkan irama-irama indah tetang kesedihan. Memberi kesan tangisan seolah langit menangis di depan mataku. Aku duduk di sebuah kursi kayu berukir sendirian di temani segelas the hangat yang belum lama tadi kuseduh. Aku masih terdiam, menatap langit gelap dengan tangisannya. Suara petir tak terdengar. Hujan kali ini tanpa petir. Melamun disaat seperti ini mungkin bagi kebanyakan orang adalah waktu yang tepat karena suasana hati ikut terpengaruh oleh alam. Kuambil Handphone-ku yang tergeletak di meja samping kananku yang tertutup taplak berwarna biru gelap. Tak ada pesan sama sekali, padahal aku berharap ada pesan dari seseorang yang kutunggu, temanku. Kuletakkan lagi handphone tadi lalu kuminum teh hangat sedikit. Aku kembali melamun berfikir keras dan penuh harap akan esok hari. Hari yang sudah sekian tahun aku nantikan. Esok itulah aku akan kembali ke kampong halamanku. Tempat yang paling kurindukan. Tak lama handphone berdering, “Ya, halo?”
”Halo, De. Ini aku Rizal. Kabar baik, aku udah dapat tiket buat pulang kamu besok. Usaha mati-matian ini.” suara Rizal kawanku yang tempo hari kuminta tolong untuk mencarikan tiket kereta untuk pulang.
”Beneran, Zal? Wah thank’s banget lah. Aku tertolong kalau begitu. Padahal tadi aku was-was kamu gak ada sms atau telepon.”
“Ya . . sorry tadi tuh musti rebut dulu sama temenku yang kerja di stasiun. Abisnya udah beberapa hari kemarin pesennya masa gak ada-ada. Ya akhirnya tak datengin aja, baru dia mau. Hihi.”
“Ya udah makasih ya, tak tunggu di rumah sekarang. Kalau gak takut sama air sih, lagi ujan deras soalnya.”
“Ujan badai kutempuh kawan. Demi kawan sekontrakan yang berjuang bersama selama 5 tahun ini. Apapun oke pokoknya. Masa depan kawan! Masa depan! Ya sudah aku mau meluncur. Tunggu di kontrakan. Yoo . . .” suaranya terputus. Sekarang aku bisa tenang. Rencanaku besok tak akan gagal. Kuminum lagi the hangatku di meja dengan senyum di wajahku. Pikiranku mulai membahana berimajinasi apa yang akan terjadi di kampung ku esok. Bertemu kembali dengan orang tua yang selama lima tahun hanya berhubungan melalui ponsel. Belum lagi saudara-saudara lain seperti kakak dan adikku. Lalu teman-teman sekampung halamanku. Dan satu orang yang terpenting dalam hidupku, bertemu Rani.
Esoknya, dengan wajah yang semangat dan hati yang cerah. Aku melangkah membawa tas dan beberapa barang oleh-oleh untuk keluarga. Rizal sudah menungguku di teras kontrakan. Sementara motor Vespa-nya sudah siap jalan mengantarku ke stasiun.
”Siap, kawan?”
”Siap sesiap-siapnya . . . ”
”Haha . . . kulihat cerah sekali wajahmu. Tak pulang selama lima tahun dan sekarang pulang untuk masa depanmu.”
”Doakan aku, Zal. Sudah lama aku menanti hari ini. Aku sudah berjanji pada seseorang. Kau tahu siapa kan?”
”Hahaha . . . si wanita tercantik dalam hidupmu.”
”Hahaha . . . tepat sekali.”
”Ayolah, sekarang berangkat. Kau taukan, jalanan ibukota itu macet. Jadi musti berangkat lebih awal. Apa lagi dengan Vespa milikku ini.”
Kami pun berangkat, perjalanan kami tempuh agak lama. Sepertinya hari ini hari keberuntunganku. Jalanan tak macet seperti biasanya. Kami landai melaju di jalanan tanpa hambatan hingga stasiun. Keretaku sudah menanti. Aku segera naik dan melambai ke kawanku Rizal. Aku duduk di tempat yang sudah tertera seperti dalam karcis. Tepat dekat jendela. Kuletakkan barang bawaanku yang tak begitu banyak, lalu kusandarkan tubuhku dikursi kereta. Sekitar beberapa menit kereta jalan. Hatiku tak karuan membayangkan hal-hal indah di kampungku. Berapa banyak yang berubah disana, apa semua masih nampak seperti dulu? Aku tak tahu. Perjalananku ini membutuhkan waktu semalaman baru sampai ke kota asalku di Bojonegoro, Jawa Timur.
Laju kereta begitu cepat, pemandangan seperti pohon di jarak pandang yang bisa terlihat hanya seperti sekelebat bayangan saja. Aku menatap jauh di luar jendela saja. Ingatan masa laluku terbuka, aku mengingat tentang memoriku saat bersama Rani di desaku. Masih teringat jelas kenangan-kenangan masa SMP hingga SMA yang kulalui bersamanya. Masa penuh kebahagiaan.
Saat tengah asyik mengulang kembali kenanganku tanpa sadar aku tertidur pulas. Entah berapa lama aku tertidur. Saat aku bangun perjalananku hampir usai. Aku terduduk menanti saja. Saat tiba di stasiun aku segera turun lalu keluar dengan barang-barang yang kubawa. Seseorang terlihat menantiku. Adik bungsu ku menanti di depan dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia lantas menubruk dan memelukku.
”Mas Ade, lima tahun gak ketemu. Banyak banget yang berubah.” ia memandangiku dari atas sampai bawah. ”Udah mas, bapak sama ibu nungguin. Ayo cepet ke rumah. Mbak Ani juga di rumah. Semuanya kangen sama mas.” ia mengajakku di parkiran mengambil motor lalu menyalakan dan memboncengkan aku. Selama perjalanan kami bercakap-cakap sedikit. Tak lama hanya sekitar setengah jam kami sampai di rumah. Bapak Ibuku sudah menanti di pintu rumah. Aku menghampiri mereka lalu memeluk. Wajahku diciumi ibuku. ”Oalah nak . . . Ibu senang banget bisa ketemu kamu. Ibu khawatir e, kangen banget lima tahun kamu gak pulang sama sekali.”
”Maafin Ade, Bu. Ade kan nyari uang buat sekolah Radit sama kebutuhan Ibu Bapak.”
”Wes to Bu. Kapan giliran e Bapak meluk anak bapak? Ibu terus terusan aja dari tadi.”
Ibu melepaskan pelukannya lalu aku disambut pelukan Bapakku. Pelukan beliau begitu erat. ”Nak nak . . . kok sampe lima tahun gak pulang . . . berhubungan juga lewat HP.”
”Maaf ya, Pak.”
”Wes le . . gak papa, yang penting kamu lho udah pulang.” beliau mengajakku masuk ke dalam. Di dalam beberapa keluargaku berkumpul langsung berjabat tangan dan memelukku. Terakhir kakakku dan suaminya.
”Lihat, si Nala sampai gak ngenalin kamu. Gak tahu juga kalau kamu itu om-nya.”
”Hehe . . . trus yang ini udah berapa bulan, mbak?” aku bertanya sambil mengelus perut kakak perempuanku.
”Tinggal sebentar lagi. Mungkin hitungan hari aja. Lha wong sudah ada sembilan bulan lebih.”
Perbincangan dilanjutkan, keluarga besarku berkumpul. Sanak keluarga dari jauh berdatangan. Mungkin terlalu lama aku tak pulang membuat mereka rindu dan ingin bertemu denganku. Hari itu hingga malam rumahku yang tak terlalu besar penuh sesak dengan keluarga yang hadir. Oleh-oleh yang kubawa hanya sedikit. Aku tak menyangka saudara-saudaraku akan banyak yang datang seperti itu. Akhirnya hanya beberapa yang terbagi oleh-oleh dariku.
Keesokan harinya, aku mulai berjalan-jalan mengunjungi tetangga dan rumah kawan-kawan kecilku. Beberapa dari mereka masih menetap di rumah sementara yang lain sudah meninggalkan tempat tinggal mereka. Banyak hal berubah. Tiba-tiba seseorang menegurku.
”De, Ya Allah . . . Ade . . . ” Wajahnya seperti kukenal. Aku sedikit pangling. Kuamati terus dari kejauhan hingga ia mendekat di depanku. ”Kamu lupa sama aku? Begitu tuh kalau udah lama gak pernah pulang.”
”Masyallah! Nur! Nur Khamim?! Pangling aku Nur.” aku memeluknya.
”Kapan kamu sampe sini?”
”Baru kemarin. Naik kereta trus di jemput adikku Radit.”
”Wah berarti yang rame-rame kemarin itu? Kalau gak salah banyak banget motor yang sliweran di jalan ini.”
”Iya, itu saudaraku. Mereka tau aku dateng, trus pada dateng satu per satu. Rumah sampe penuh sesak tuh.”
”Ya ya ya . . . ayolah, tak enak kalau berdiri begini. Kita duduk disana saja.”
”Baiklah.” kami mengobrol sambil berjalan dan kemudian duduk di bawah pohon asem di pinggir jalan. Tempat yang dulu kami gunakan untuk nongkrong dengan pemuda-pemuda desa lain. Lama kami berbincang. Ia bercerita perubahan yang terjadi di desa kami. Menceritakan semua teman-teman kami yang kini telah berumah tangga, dan beberapa masih membujang tapi bekerja di luar kota.
”Kau tahu si Irul yang anaknya kecil dulu? Kurus, kerempeng, jadi bahan ejekan kita?”
”Wah si Irul itu? Aku ingat aku ingat.”
”Tau gak. Istrinya cantik banget sekarang, malah anaknya udah umur tiga tahun sekarang. Istrinya aja kalau kau lihat, lebih tinggian istrinya daripada si Irul. Kalau kulihat lucu sekali. Hehe”
”Hehehe wah wah . . . beruntung lah si Irul. Memperbaiki keturunan . . . Hahahaha . . .
”Hahahahaha . . . . Benar . . . biar keturunannya gak pendek kayak dia. Tapi sekarang dia di desa seberang. Soalnya istrinya dari sana.”
”Wah, berarti tinggal kamu yang disini. Kenapa gak ke luar desa sekalian?”
Ia tersenyum. ”Itulah akibatnya kawan, kalau kau tak pernah pulang seperti ini. Sahabat sudah menikah pun tak tahu sama sekali.”
Aku kaget, ”Hah! Beneran?! Sama siapa?”
”Kau tahu kan si Lasmi anaknya pak Artono guru kita SMP dulu? Dia istriku sekarang.”
”Wah . . . ketinggalan berita aku ini. Maaf Nur, sahabat sendiri menikah saja tak tahu. Lalu, sudah punya momongan?”
”Nah itu dia . . . ” wajahnya berubah drastis dari ekspresi tadi, kali ini ia nampak sedih. ”Mungkin Allah belum berkenan memberiku momongan. Sebenarnya satu tahun lalu istriku sudah mengandung. Tapi saat usia dua bulan ia jatuh, keguguran. Aku yang salah tak terlalu memperhatikannya. Sampai sekarang kami belum diberi tanda-tanda memiliki momongan lagi.”
”Sabar, Nur. Mungkin memang Allah punya rencana lain untuk kalian. Banyak berdoa saja.”
”Sejak kapan kau mulai berubah begini?”
”Eh? Apanya yang berubah?”
”Cara bicaramu lah, tumben bisa memberi nasihat kawan.”
Ah sialan. Aku diam saja,
”Hehe jangan begitu kawan, aku hanya bercanda tadi. Bagus lah kau sudah berubah.“
Kami diam beberapa saat. Aku teringat tentang Rani.
"Oh ya, Nur. Kau tahu kabar tentang Rani adik kelas Kita di SMA dulu?”
Nur terlihat sedikit menyembunyikan ekspresinya, "Aku . . . tak pernah tahu kabarnya. Seingatku dia dekat denganmu dulu. Bahkan diam-diam kalian pacaran. Seharusnya kau yang tahu.”
"Kami sudah tiga tahun ini tak pernah berkomunikasi. Dua tahun sebelumnya masih sih. Tapi setelah itu tak ada kabar lagi tentang dia. Bahkan teman-temannya dulu juga tak ada yang tahu saat kutanya. Kupikir kau tahu.”
”Yah . . . memang dia itu gadis yang misterius selama kita sekolah dulu. Banyak hal yang tak aku ketahui. Tapi malah kamu yang dekat.”
”Jujur, sebelum aku berangkat ke Jakarta dulu aku pernah membuat janji dengannya. Tapi hari perjanjian itu masih besok. Selama itupun kamu masih pacaran. Hubungan kami selama dua tahun baik-baik saja sebelum kabarnya menghilang begitu saja. Tiga tahun aku hampa tak terdengar kabar dari dia.”
”Lalu status kalian waktu itu? Masih berhubungan?“
"Ya . . . sampai sekarang tak ada kata putus. Tapi hubungan kami tak tahu kemana arahnya. Aku sudah berfikir, sebuah kejutan untuk esok hari. Semoga saja dia datang.“
"Aku berdoa untukmu, De. Memang apa yang ingin kau lakukan?“
"Aku ingin melamarnya, hubungan ini biar jelas. Aku ingin menyusul kalian, terutama kau, Nur. Usiaku sudah mumpuni untuk menikah.”
Nur hanya tersenyum saja, ia tak mengucapkan kata apapun lantas ia membawaku ke pembicaraan lain. Kami berbincang agak lama. Tak hanya di tempat itu, aku diajaknya ke sawah miliknya lalu ke rumah teman-teman kami saat kecil, juga ke tempat-tempat lama. Aku merasa bernostalgia dengan semua keadaan disana. Semua itu memberi perasaan aku kembali ke masa kecilku dulu.
Tepat hari yang aku janjikan dengan Rani dulu. Pagi hari aku sudah berangkat dengan motor milik adikku Radit. Dandananku rapi, tubuhku sudah wangi memakai wewangian parfum. Kulajukan motor ke tempat pertemuan di sebuah tempat. Ku taruh motor di bawah pohon yang menyendiri di pinggir sawah dan padang rumput. Kulihat pohon itu sejenak lalu kulihat batang pohon tersebut. Dua nama tertoreh di batang pohon itu, masih terlihat jelas meskipun dimakan waktu. Ade dan Rani dengan gambar love melingkari nama kami. Aku tersenyum. Aku memandang jau ke arah hamparan padang rumput. Sedikit perubahan nampak terlihat. Aku duduk di akar pohon yang besar itu. Suasana begitu sepi aku terus menanti. Memoriku kembali mengulas, ingatan dulu disinilah aku mengutarakan perasaanku padanya. Disini pula semua kisahku terukir, semua canda, tawa, kesedihan yang ia alami. Masih teringat wajah ayunya di benakku. Aku menghela nafas dan tersenyum-senyum sendiri. Kurogoh saku celanaku, sebuah kotak berwarna biru kuletakkan di tangan. Kubuka kotak kecil itu. ”Ran, aku akan melamarmu hari ini, disini, di tempat kita bersama menjalani cerita indah kita.” aku menatap ke langit luas. Biru, burung walet dan beberapa burung lain beterbangan.
Sudah lama aku menunggu. Hampir setengah jam lebih ia tak juga datang, aku sedikit gundah. Apa dia tak bisa datang? Atau ada halangan saat kemari? Semua pikiran itu kutepis dan berfikir positif. Aku tetap menantinya disini. Meskipun panas terik menyengat. Aku hanya terlindungi oleh pohon yang memberiku keteduhan. Kudengar dari jauh suara mobil, aku menengok. Mobil itu berjalan perlahan lalu berhenti tepat di jalanan menutupi jalan kecil yang masuk ke arah tempatku berada. Agak lama mobil itu disitu. Pemiliknya tak kunjung keluar. Aku hanya melihat saja. Mungkin orang yang ingin beristirahat. Kemudian seseorang turun dari mobil itu. Ia seorang wanita, rambutnya hitam panjang dan lurus. Tak terlalu jelas wajahnya karena jarak antara mobil itu dengan posisiku jauh. Ia berjalan mendekat, wanita itu memakai baju biru cerah dengan motif bunga. Ia berjalan perlahan aku mengamatinya terus hingga pada jarak pandang yang jelas aku tahu dan kenal wanita itu . . . Rani! Aku terhentak kaget lalu berdiri menunggu ia mendatangiku. Kami bertatapan, lalu kuajak ia duduk setelah bersalaman.
”Bagaimana kabarmu, Ran?” ia makin terlihat cantik saja setelah lima tahun tak bertemu. Beberapa hal berubah dari dirinya.
”Baik, mas. Mas sendiri bagaimana?”
”Alhamdulillah . . . lama kita tak bertemu banyak darimu yang berubah.”
Ia hanya tersenyum, kami terdiam.
”Aku menepati janjiku padamu, mas. Aku datang memenuhi apa yang kita janjikan di tempat ini.” Ia mulai berbicara. Aku mendengarkan saja.
"Yah, janji kita terpenuhi sekarang. Aku ingin melepas rindu kita disini. Mengulang semua.”
"Tapi itu semua masa lalu.” aku sedikit heran dengan apa yang barusan ia katakan.
”Yah . . . masa lalu, tapi kini kita bersama lagi. Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
”Apa? Tapi maaf, mas, aku gak bisa lama-lama disini.”
”Kenapa?”
”Sudahlah . . . katakan saja apa yang mas ingin katakan.” aku heran dengan sikapnya.”
”Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi seperti ini?”
Ia diam, lalu air matanya terurai. ”Maaf . . .”
”Untuk apa?” aku bingung. Ia masih terus menangis. Ingin aku membelainya tapi sesuatu menahanku untuk tak melakukannya. Aku semakin bingung.
”Maaf . . . aku tak bisa . . . aku tak bisa seperti dulu dengan mas. Aku . . .” ia berbicara terbata-bata, ”Aku . . . sudah tak seperti dulu.”
"Tak seperti dulu? Maksudnya?”
"Mas terlambat . . . keadaannya sudah berbeda . . . ”
”Terlambat apa? Tapi aku sekarang ingin melamarmu. Aku bingung dengan ucapanmu.”
”Itu dia mas. Itu dia . . . Mas Nur sudah bercerita padaku kemarin malam. Ia berkata mas akan melamarku hari ini . . .” Nur? Kenapa dia tak berbicara kemarin? Dia tahu semuanya, tapi kenapa? . . . ia melanjutkan pembicaraannya, ” . . . tapi semua sudah terlambat.”
Seseorang keluar dari dalam mobil, seorang lelaki menggendong anak kecil yang berusia sekitar satu setengah tahun mungkin. Ia berdiri memandang kami. Hatiku mencelos . . .
”Mereka keluargaku, Dia anakku mas. Dan itu . . . . Suamiku . . .”
Aku terdiam, hatiku hancur. Persiapan yang kubangun dan waktu yang kusia-siakan kini benar-benar terasa sia-sia. Aku ingin menangis, tapi tertahan.”Maaf mas. Tapi inilah takdir kita berdua. Mungkin bukan aku jodohmu.”
”Tapi . . . kenapa kau tak memberitahuku? Kenapa kau tetap memberi harapan kosong padaku selama ini?
Ia hanya terdiam, aku pun meratapi nasibku.
”Dua tahun setelah mas ke Jakarta, bapak mendesakku untuk segera menikah. Ia melarangku bekerja lagi. Ia menjodohkanku dengan mas Imam. Ia anak dari kenalan bapak di Gresik. Aku bimbang dan menutup diriku dari mas. Aku tak mau saja mas terluka mengetahui hal itu. Merusak semua mimpi-mimpi yang mas bangun.” ia terdiam. ”Aku sudah bahagia dengan Suamiku dan Anakku sekarang mas. Ia sangat baik dan pengertian sepertimu dulu. Ia bukan hanyaseorang suami, tapi juga sahabat untukku. Ia menenangkanku setiap aku sedih atau gundah. Dan si kecil . . . aku menamai sama seperti namamu. Ade Prawirandanu. Itu untuk mengingatkanku dan suamiku padamu.”
Aku hanya bisa terdiam, Rani berdiri. ”Maafkan aku sekali lagi mas. Aku gak bisa menjaga rasa cintamu. Menataplah ke depan, mungkin aku bukan jodohmu. Semoga mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku kelak.” ia meninggalkanku, melangkah menuju keluarganya. Menggendong si kecil Ade lalu pergi bersama mengendarai mobil meninggalkan aku yang duduk terpaku. Cincin yang kupersiapkan hanya kupandangi. Hatiku hancur, tak ada lagi semangat seperti sebelumnya di mataku. Semua kosong dan hampa.
Sekian
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, jalan cerita, dan kejadian bukan karena unsur kesengajaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar