Aku terduduk setelah membersihkan rumput dan daun-daun kering yang menutupi gundukan tanah tempat dimana beliau tertidur. Perlahan kukeluarkan sebuah buku dari sakuku. Aku mulai membacakan Al-Fatihah dan melanjutkan doa-doa yang lain hingga membacakan buku yang kukeluarkan tadi, Surah Yasin. Kubacakan perlahan dengan harapan semoga doa yang kubacakan sampai kepada orang yang aku tuju. Selembar demi selembar buku Yasin itu selesai kubacakan.Lalu aku berdoa kepada Allah,
berdoa untuk beliau yang kusayangi dan selalu menyayangiku. Lama aku terduduk dengan doaku. Tak sadar sebutir air mata mengalir dan membuat bekas basah di pipi ini.
berdoa untuk beliau yang kusayangi dan selalu menyayangiku. Lama aku terduduk dengan doaku. Tak sadar sebutir air mata mengalir dan membuat bekas basah di pipi ini.
Masih terduduk aku di samping makamnya. Berat rasanya meninggalkan meskipun esok satu minggu lagi akan kembali lagi. Kembali merawat dan membacakan do'a untuk berziarah. Aku duduk merenung teringat saat-saat dimana hal yang kuanggap sebagai kesalahan dan yang membuatku merasa sangat bersalah. Yaah ... saat itu, tepat saat itulah semua ini kuanggap sebagai suatu hal yang salah dan membayangi hidupku sampai saat ini. Kejadian yang membuat emosiku meledak setiap kali mengingatnya.
Aku ingat, sangat ingat. Waktu itu Aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Saat itulah ibuku sakit keras. Beliau menderita Liver dan sudah lama tidak pernah beliau rasakan. Setiap kali hanya dianggap sakit maag biasa. Memang gejala awal tak terlalu terlihat, namun perlahan-lahan ada yang janggal saat itu hingga Ibu masuk rumah sakit dan hasil pemeriksaan menyebutkan Ibu terkena penyakit Liver. Kami sekeluarga berusaha sekuat tenaga demi kesembuhan ibu kami. Dari mulai obat-obatan dokter, obat herbal bahkan berobat dengan pengobatan alternatif. Saat itu, salah satu teman kakak perempuanku menawari pijat untuk pengobatan. Kami menerimanya, apa salahnya mencoba. Dengan pengobatan itu Beliau berangsur-angsur sembuh.
Disinilah kejadian itu mulai dimulai, kesalahan fatalku. Siang itu, sepulang dari Shalat Jumat, aku mulai bersiap akan pergi bersama teman-temanku ke rumah pacar dari salah satu temanku. Sebelumnya kami memang sudah membuat janji. Jam 1 siang kami ke rumah pacar Bangkit sahabatku. Aku bersiap dan merapikan rambut serta berganti baju. Tiba-tiba Ibu bertanya padaku, ”Kamu mau kemana?”
”Mau kerumah teman, Mak. Sama Bangkit dan Wahyu.” Jawabku. Kami anak-anaknya memang memanggilnya ’Mak’ karena terbiasa dengan panggilan itu sejak kecil.
”Nanti hati-hati, kalau pulang jangan sore-sore.” Lanjut Beliau.
”Iya, Mak. Biasanya juga sebentar kok. Kecuali kalau malam, pasti lama tuh anak-anak. Ehehehe.”
"Hmmm ...” Senyum Beliau mengembang setelah aku mengatakan itu. Kemudian aku melanjutkan merapikan diri. Setelah selesai merapikan diri aku masih di kamar bersama Ibu. Duduk di samping tempat tidurnya dan bercakap.
"Nak, jangan pacaran dulu ya. Sekolah dulu sampai lulus. Mak pengen liat kamu sukses. Pokoknya jangan pacaran dulu yah.”
"Iya, Mak. Aku gak pacaran dulu kok. Mmm . . . Mak tenang aja, pasti Mak sembuh. Sebentar lagi udah bisa liat Mas Solikin lulus juga. Dan menimang cucu dari Mbak Siti” Dalam hati aku berkata minta maaf karena saat itu aku memang sudah pacaran. Aku berbohong pada beliau saat itu.
”Cium pipinya Mak sini. Mak sayang sama kamu.” Hal yang tidak biasa di minta Beliau, tapi aku melakukannya. Aku mencium pipinya kemudian keningnya. Lalu terdengar suara sahabat-sahabatku, Taufik, Bangkit dan Wahyu. Aku berpamitan pada Ibuku dan langsung berangkat.
Dengan sepeda hitam milik kakakku aku pergi. Mengayuhnya dengan senyuman dan saling bergurau bersama sahabatku. Bangkit dan Taufik bergoncengan sedangkan aku serta bangkit mengayuh sepeda kami sendiri. Kami sampai di rumah Nindy, pacar Bangkit dalam waktu seperempat jam. Dan seperti biasa Wahyu lah yang selalu pertama kali masuk dan mengucap permisi karena Bangkit memang anak yang pemalu. Pacar Bangkit keluar dan kami di persilahkan masuk. Kami bercakap di dalam rumah, terkadang pindah ke teras untuk bermain catur atau bermain gitar.
Kami bersenda gurau bersama, saling mengobrol tentang hal-hal apapun. Dari mulai sekolah, tentang pacar Wahyu dan taufik hingga masalah ku dan mereka semua. Satu hal yang aku ingat. Setiap kali berkunjung kerumah Nindy pasti di suguhi makanan oleh ibunya. Tapi setiap kali diberi makanan seperti itu selau tak bersisa. Itulah sifat kami bersama. Tak kenal rasa malu kalau makanan.
Aku sering bingung dengan temanku Bangkit. Setiap kali kerumah pacarnya ia tak pernah mengajak ngobrol atau sekedar berbincang meskipun sebentar. Ia malu, padahal kami terkadang sudah menjauh dan memberi mereka kesempatan. Tapi tetap saja mereka tak berbicara sedikitpun. Terkadang Nindy lah yang memulai perbincangan, itupun sebentar. Sangat lucu sekali pikirku.
Pukul tiga sore aku mengajak mereka untuk pulang, namun Wahyu meminta sebentar lagi saja. Aku tak enak dan kuturuti saja. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin pulang. Akhirnya kami terus berbincang-bincang sampai jam setengah lima sore. Itupun aku sudah jarang ikut pembicaraan teman-temanku. Tiba-tiba seperti ada hal yang aneh aku rasakan, entah apa aku tak tahu pasti. Auk melihat bayangan pacarku hampir tertabrak mobil. Aku berdiri seketika dan keluar pintu dan berhenti di depan. Tapi tiba-tiba aku teringat Ibuku dan seperti merasakan ingin segera pulang saat itu juga. Seolah ada yang berbisik padaku. ’Kenapa tiba-tiba pandangan ibu terlintas di pikiranku? Ada apa ya’ pikirku dalam hati. Teman-temanku bingung dan mendatangiku.
”Oi, Mad. Kenapa kok tiba-tiba lari?” Wahyu bertanya padaku dan di ikuti oleh Bangkit, Nindy dan Taufik di belakangnya dan bertanya juga hal yang sama.
”Gak ada apa-apa, tiba-tiba aja aku melihat pacarku hampir tertabrak mobil. Seolah-lah nyata aja.” jawabku menjelaskan pada mereka semua.
”Udah lah paling cuma perasaanmu aja.” Wahyu mencoba membuatku tenang.
”Mungkin aja. Tapi gak tau lah moga aja gak ada apa-apa. Tapi ada satu hal lagi sebenernya yang bikin perasaanku gak enak.” Lanjutku.
”Apa itu?” Tanya wahyu lagi
”Entahlah, tapi . . . ah gak apa-apa mungkin cuma perasaanku saja.”
Aku kembali masuk ke dalam rumah. Kami melanjutkan kembali apa yang tadi sempat tertunda karena aku. Wahyu dan Taufik kembali bermain catur. Sedang Bangkit bercakap-cakap dengan pacarnya, Nindy. Aku hanya diam memikirkan apa yang terjadi tadi. Seolah-olah ada yang tak beres sedang terjadi.
Sekitar jam lima kurang lima belas menit kami berempat pamit pulang. Dalam perjalanan sampai di Gang 5 Balun Sawahan kami mulai berpisah. Bangkit sedikit menjauh agar tidak ketahuan orang tuanya kalau pergi dengan kami. Sedangkan Aku dan Wahyu serta taufik yang berboncengan belok ke arah Gang 3. Tapi aku ditinggal oleh mereka. Mereka mengayuh dengan cepat. Aku tertinggal jauh. Di belokan jalan menuju gang 2 aku sudah tak melihat mereka lagi. ’Cepat sekali anak ini mengayuhnya’ pikirku.
Dipersimpangan jalan menuju rumahku aku bertemu Jepri dia memanggilku. Dia lebih muda dariku beberapa tahun. Dia menghampiriku dengan berlari sementara aku masih mengayuh sepedaku tapi kuperlambat. Jepri memberitahuku sesuatu dengan berlari-lari kecil. ”Mas, tadi dicari sama orang-orang.” sambil mengatur napasnya dan berusaha berbicara lagi. Tapi sebelum dia berbicara aku memotongnya dan bertanya.
”Ada apa kok aku di cari?” Tanyaku bingung.
”Ibumu... Ibumu meninggal, Mas. Kalau gak percaya ayo. Kamu dicariin tadi.” Seketika tubuhku merinding dan sedih bercampur bimbang. Apa benar yang dikatakan anak ini. Aku segera mengayuh sepedaku dengan cepat agar sampai di rumah. Jepri tetap mengikutiku meski tertinggal karena dia berlari. Dari kejauhan nampak banyak sekali orang yang ada di depan rumahku. Seketika aku turun dari sepeda. Tanpa banyak berfikir sepeda kubanting dengan keras dan segera berlari memasuki rumah. Aku di sambut pelukan kakak perempuanku dan menuju ke kamar Ibu. Kulihat di sana ibu sudah menutup matanya dan tak lagi bergerak. Dia seperti tertidur. Nafasnya sudah berhenti, detak jantungnya tak lagi terdengar di telingaku. Aku hanya bisa menangis dan menyesali. Aku menjerit berlari ke belakang rumah. Aku memanggil nama ’Mak’ berkali-kali dengan keras dan terduduk menangisi Ibuku yang tiada. Aku merasa sedih dan bersalah, kenapa saat itu aku tak ada di rumah. Mungkin inilah kenapa waktu aku akan berangkat tadi Beliau menyuruhku untuk tidak pulang terlalu sore. Aku merasa bodoh dan menyesal. Aku hanya bisa menyesali semua ini.
Bapakku menghampiriku dan memelukku untuk kembali ke dalam kamar. Aku disana langsung memeluk tubuh dingin ibuku, menciuminya dengan air mata menetes di pipi. Aku tak bisa berhenti menangis. Kakak laki-lakiku memarahiku, dia berkata kenapa aku tak dirumah, kemana saja aku. Aku hanya bisa menangis. Aku tak menjawab semua yang ia celotehkan. Kakak Perempuanku lah yang melerai aku dan Kakak laki-lakiku. Kami sekeluarga menangis, kami semua berkabung. Kami menangisi Ibu kami tercinta yang selama ini memberikan kasih sayang yang begitu besar, yang tetap sabar meskipun kami selalu tak baik. Kami selalu nakal dan membuat masalah. Namun Beliau tetap memberi kehangatan setiap waktu. Cinta beliau begitu tulus tanpa pamrih sedikitpun.
Lamunanku buyar mendengar suara kendaraan bermotor yang lewat diseberang jalan karena memang makam ibuku dekat dengan jalan raya. Aku sadar dan membersihkan bekas air mata yang mengalir deras mengingat semua hal itu.
Di balik semua itu aku sadar. Tanpa kehilangan itu mungkin aku akan tetap menjadi anak yang manja. Dulu aku tidur harus di temani ibuku hingga SMP kelas 1. kalau tidak mungkin aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Makan selalu diambilkan dan terkadang harus disuapi. Aku tak pernah mandiri. Aku selalu menggantungkan diri pada Ibuku. Setelah ibuku meninggal aku merubah semuanya. Aku bukan lagi anak manja seperti dulu. Aku bisa belajar lebih mandiri. Meski terkadang aku memang sangat membutuhkan Ibuku untuk tempat bersandar saat masalah hidupku begitu terasa berat. Meskipun beliau kini tertidur dalam kegelapan yang lama. Tapi aku selalu merasa Ibuku di sampingku setiap waktu, setiap sat dan di manapun itu. Ibu selalu di hatiku, selalu muncul dalam keadaan bimbangku untuk memberi penerangan dan rasa cinta yang lama tak kurasakan. Setiap mata terpejam dan menyebut namanya, hatiku merasa damai meski dalam keadaan yang membuatku merasa terpojok, membuatku merasa takut atau keadaan yang begitu memilukan hati. Cinta beliau itu sangat tulus. Lebih tulus dari semua cinta yang ada. Benar kata peribahasa bahwa ’Kasih Ibu sepanjang Beta’ karena aku benar-benar merasakannya. Seorang sahabat juga orang yang kuanggap sebagai kakak ku sendiri juga pernah mengatakan sesuatu tentang Cinta kasih seorang ibu padaku.
Cinta sejati kita itu sebenarnya sudah ada dan tak perlu kita cari. Hanya saja kita tak pernah menyadarinya. Dia selalu ada, dia selalu hadir, selalu memperhatikan dan selalu memberi kita kehangatan dalam keadaan apapun. Cinta yang lebih besar dari cintamu atau cinta seorang pacar. Cinta yang lebih tulus dari cinta mereka yang mencintaimu saat ini. Kau tau siapa itu? Hanya cinta ibulah yang merupakan cinta sejati kita di dalam dunia ini. Bukan cintamu, bukan cinta yang diberikan oleh kekasihmu atau cinta istrimu kelak.
Kata-kata itulah yang selalu menyadarkan aku bahwa cinta sejati di dunia ini bukanlah cinta kita sendiri atau cinta seseorang kepada diri kita. Tapi sebuah cinta dari Ibu yang telah melahirkan dan memberikan kasih sayang kepada kita sepanjang waktu tanpa mengeluh dan selalu memberi dan terus memberi tanpa berhenti meskipun dia telah tiada.
Perlahan aku bangun dan meninggalkan Makam ibuku. Kuambil sepedaku dan pulang menuju ke rumah. Hari sudah hampir gelap. Aku mengayuh sepeda dengan bekas-bekas air mata di mukaku. Aku merasa ibuku ada saat aku menangis di makamnya tadi. Aku merasakan kehadirannya di dekatku. Tahukah kalian, sampai sekarang aku masih merasakan cinta dan kasih sayang ibuku. Karena memang cinta dan kasih sayang beliaulah yang tulus. Cinta beliaulah yang memang Cinta Sejati. Arti dari Cinta Sejati di dunia sesungguhnya, Cinta Ibu kepada Anaknya.
*) Ibuku meninggal tepat di Bulan Nopember tanggal 26 hari Jum’at dan dimakamkan tanggal 27 keesokan harinya. Sepeninggal Ibuku itulah aku berubah dan berusaha menjadi lebih dewasa. Aku menuruti semua nasihat yang beliau sampaikan. Aku tak sadar bahwa kata-kata yang beliau sampaikan sebelum aku pergi dengan sahabat-sahabatku adalah amanah dan kata-kata beliau. Karna setelah ibuku meninggal aku putus dengan pacarku dan aku yang memutuskannya. Dan selanjutnya hubungan ku pun selalu ada hal yang menjadi masalah. Entah itu tersakiti atau malah menyakiti. Bahkan kehilangan. Sayangi ibu kalian bagi kalian yang masih mempunyai ibu. Jangan pernah membantah atau membangkang dengan apapun yang beliau katakan. Karena setiap hal yang di ucapkan atau tindakan beliau adalah sebuah do'a. Do'a utama yang selalu di dengar oleh Allah. Sayangilah mereka karna merekalah Cinta Sejati kalian. Bukan kekasihmu, pacar, sahabat yang kau sayangi atau siapapun. Mungkin kita memang harus mengerti tentang cinta dan kasih sayang karena kita memang sedang belajar dalam dunia ini. Belajar tentang kehidupan. Lebihkan dan utamakan cinta kepada Ibumu daripada yang lain. Utamakan beliau dalam hati, pikiran, tindakan dan semua hal yang akan kalian lakukan.
Untuk kalian yang sudah tak memiliki Ibu seperti aku, mari kita do'a kan saja dengan berdoa kepada Allah agar semua amal ibadahnya di terima dan di tempatkan pada Surga-Nya.
Itulah ceritaku. Sekedar berbagi dan memberikan pengalaman hidup yang aku alami. Pengalaman yang merubah diriku untuk termotivasi menjadi baik.
Kuarap kalian tak pernah mengalami hal di cerita ini. Karena hanya penyesalan pada kesalahan dimana akan membayangi kita sampai kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar