Rabu, 15 Februari 2012

Namaku Hendi

Malam yang sudah terlalu larut, beberapa remaja masih terlihat bersorak-sorak. Mereka meneriakkan nama seseorang. “Hendi! Hendi!! Hendi!!!” . . . .  Ya itulah aku yang kini sedang mempersiapkan diri dengan balapan yang akan aku lakukan malam ini. Dingin?? Itu bukan masalah. Bagiku dinginnya malam meskipun itu dikutup sekalipun aku tak akan kedinginan. Karena semua rasa dingin itu sudah kalah dengan dingin yang kualami jauh di dalam raga ini. Motorku tak special seperti rivalku mungkin. Dia menggunakan motor yang sudah dimodifikasi, mungkin sangat cepat. Lagipula aku melakukan ini bukan karena hobi atau memang hal yang membuat tertarik. Sekedar untuk membuat fresh kepalaku yang dipenuhi dengan bayangan dan kenangan menyakitkan. Gas kumainkan hingga terdengar bunyi keras hingga hampir menutupi sorakan orang-orang disekitar. Seorang wanita berjalan dari tepi menuju ke tengah membawa saputangan berwarna hijau. Ia mungkin terlihat meranik 
dengan bajunya yang wow . . .  seksi . . . . tapi bukan itu yang ingin kuperhatikan, tapi saputangan yang ia angkat. Saat saputangan dilepaskan itulah aku harus segera melaju sekuat-kuatnya mengalahkan orang ini.
Tak lama, tanda mulai sudah terlihat . . .  kupacu motorku ini dengan kencang menerobos dinginnya malam dan dalam kegelapan jalanan. Meskipun ada beberapa penerangan lampu sedikit. Tapi tetap saja . . .  gelap . . . .
Lomba tak resmi ini berlanjut di jalanan yang mulai sepi karena waktu yang begitu larut. Aku memacu motor memimpin, sementara rivalku dibelakang membayangi terus. Kupacu . . . terus . . . tak mau kalah dari dia. Entah memang aku melakukan kesalahan atau karena memang skill-nya yang hebat aku terkejar. Kini dia memimpin . . . . aku tak patah semangat, emosiku memuncak. Motor kupacu lebih kencang, kami berkejaran di dalam malam. Kuperhatikan ada celah selama aku membayanginya. ’Kesempatan’ pikirku. Mungkin terinspirasi dari game Playstation yang sering aku mainkan atau memang suatu kebetulan saja karena kesempatan ini begitu terbuka. Aku mengejarnya dan memimpin. Aku terus mempertahankan posisi ini hingga garis finish . . . .  aku menang. . . . teman-teman menyambutku. Mereka begitu senang. Beberapa kulihat murung, dan ada yang lainnya memintai uang kepada mereka yang ikut melihat pertandinganku.
”Lo gila, Hen. Ternyata diem-diem hebat juga bawa motor. Sadis . . . . si Bejon lo ringkus ditikungan. Mantap!!” Ujar temanku Rizal yang menghampiriku. Aku hanya tersenyum. Entah kenapa aku masih merasa tidak puas dengan semua itu. Sementara Andi datang dengan tangan penuh uang ratusan ribu.
”Yoi . . . yoi . . .. menang banyak Lo, Hen. Pesta kita!! Hahahaha . . . .” sambil menunjukkan uang taruhan yang ia menangkan. Di belakang seseorang menegurku,
”Lo Hebat . . . . pertandingan yang fair dan membuat adrenalin gue merasa benar-benar terpacu. Thanks and congrats . . . .”
“Yah . . . . Lo juga Jon.” Perlahan ia meninggalkanku. Meski dia kalah ia mampu menerima dengan sportif. Patut aku acungi jempol. Meskipun kebenarannya ia baru kali ini dikalahkan, dan itu olehku yang masih anak SMA. Sementara dia adalah raja jalanan di daerah ini.
Aku bergegas pergi meniggalkan kerumunan yang sudah tak menarik ini. Perasaanku gundah, sementara kawan-kawanku masih saja bercanda dibelakang dan membicarakan kemana kami akan pergi menghabiskan malam ini.
Di sebuah Discotik tengah kota, aku dan mereka memutuskan untuk menghabiskan malam ini. Rasa stres dan depresi masih terus menghantui. Suara musik dari DJ membuatku bergoyang mengikuti di arena latar. Lagu Pitbull yang  dimainkan oleh DJ memang membuat kami semua yang berada disana terhipnotis untuk masuk ke tempat menari.
Dipojok Bar, kulihat Andi sedang berduaan dengan wanita. Aku tak kenal siapa dia. Mereka bercanda dan mengobrol dengan santai. Tiba-tiba Rizal terlihat lewat didepanku. "Zal! . . .  Lo tau siapa yang lagi berduaan sama Andi!!???”
"gak tau gue  . .!!! mungkin aja dia lagi beraksi!! Maklum Buaya darat!! Bentar lagi juga check in di hotel, apalagi abis dapat duit taruhan yang banyak!!”
”Gila . . . !!! doyan banget tuh anak sama begituan!!!”
”Biarin aja, Bro!! Yang penting malam ini kita Fun!!! Yuuuuuhuuu!!!”
Dia menari-nari didepanku, lalu kulihat dia menggenggam sesuatu di tangan kirinya.
”Apa tuh, Zal???!!!!”
”Oh . . .  ini barang bagus!!!”
”Minta gue . . . .!!! punya beginian mau lo ambil sendiri??!!!” kuambil langsung sebelum dia memberikan barang tersebut padaku. Kumakan satu dan yang lain masih kusimpan dalam saku celanaku. Benar-benar sedap rasanya . . . . pikiranku serasa plong dari segala masalah yang kualami. Fly . . . . tenang . . . . imajinasi berkembang dengan hebat . . . . adrenalin terpacu dengan cepat . . . . . kami berdua menikmati pil-pil ini dengan nikmat. Sementara teman kami, Andi sudah keluar dan check out dari Bar. Mereka menuju hotel berdua untuk check in.

”Heh! Hendi!!! Bangun!! Mau sampe kapan kamu tidur??!! Bangun!!” terdengar suara yang sudah tak asing lagi ditelingaku. ”bangun!! Mau aku guyur pake air biar kamu bangun!!! Malam kelayapan sampe pagi!! Jam segini tidur terus!!!”
Perlahan aku bangun meskipun mataku masih terlihat agak-agak merem. Tiba-tiba dibelakang seseorang berkata dan menegur suara yang tadi, suara ibuku, ”Sudahlah pak!! Jangan dibentak-bentak seperti itu! Mungkin dia capek kan . . . .”
”Capek . . . .  Capek . . .  Capek . . .!! capek kelayapan ???!! ibu gak usah belain dia terus!! Lama-lama anak ini nglunjak!! Dia itu udah banyak bikin masalah!!”
”Iya Pak tapi kan bukan begini caranya!! Lihat kondisi anaknya dulu lah!!”
”Ah ibu ini selalu saja!! Ibu masih ingatkan apa yang dia perbuat tempo hari!! Bikin malu orang tua saja. Siapa lagi yang kamu lukai atau apa lagi yang kamu lakuin??!! Terus bikin orang tuamu ini jadi orang yang bodoh di masyarakat!!!”
”Sudah .. . . Sudah . . . .”
Tak ku gubris apa yang ia katakan. Aku berjalan ke kamar mandi dan membersihkan badanku. Hah . . . . . segar . . . .
 Di luar setelah mandi masih kudengar ayahku terus marah-marah. Kini entah masalah apalagi yang ia bicarakan. Beginilah keadaan di rumah, ayah ibuku selalu saja bertengkar. Karena ini lah itulah. Semua bisa jadi masalah . . . . . apa kalian mau menjadi aku untuk sebentar saja? Aku rasa tidak dengan kondisi yang membuat pikiran kalian depresi dan hati mati.
Pukul 12 siang, HP ku kulihat. Beberapa miscall terlihat di layar. Semua dari 1 orang . . . . ”Dira” ’Untuk apa lagi ni cewek hubungin aku?’ sudah lama kami berdua bertengkar. Pacarku ini begitu manja dan tak mau mengalah sedikitpun. Waktuku seutuhnya hanya untuk dia, itu yang selalu dia inginkan. Kalau sudah bersamanya aku selalu lebih mirip seperti anjing piaraannya yang ia ajak kemanapun ia ingin pergi. Tak pernah mau mengerti keadaan pacarnya sendiri. Hanya teman-temanku saja yang bisa membuatku tenang.
Kubuka pesan satu dari Dira, ’Beb, aku pengen ngomong soal kemarin kamis. Perutku masih sakit banget gara-gara kamu suruh gugurin janin kita. Kamu gak boleh ninggalin aku gitu aja. Pokoknya kalau aku kenapa-kenapa harus tanggung jawab!!’ masalah baru, pikirku. Yah beginilah hidupku, rusak dan sangat parah. Meskipun dia amat tak memperhatikan aku dengan tulus ada satu hal yang sudah aku lakukan dengan dia. Buah hasil perbuatan kami harus ditutupi. Kalau tidak masa depan kami berdua akan hancur di usia sekolah seperti ini. Lalu sms lain kubuka, dari Rizal,
Sob, barang bagus. Gue mau pesta nanti malem di rumah Ibnu. Lo harus dateng. Barang langka, Sob. Aku jamin nikmat!!
Barang langka?? Hm . . . . perlu kucoba. Aku menanti malam itu untuk menikmati dengan sobatku. Aku langsung bergegas menuruni tangga dan menuju pintu rumah. Tapi . . . .
”Mau kemana kamu!!???!!” suara ayahku lagi . . . . ”Mau  keluyuran lagi??!! Sampe’ kapan kamu gini terus?! Ha!?? Jawab Ayah!!!”
Aku berjalan meninggalkan ayahku yang terus berteriak memaki makiku, ”Dasar anak tau diri!! Anak Sialan!! Awas kalau kamu pulang bawa masalah!!! Pergi saja dari sini dan gak usah balik!!!”
Kupacu motorku hingga suara ayahku mulai menghilang.
Di rumah Ibnu sahabat Rizal, kulihat ada motor Andi juga di dalam dan beberapa motor yang tak kukenal. Aku masuk dan langsung disambut oleh Rizal.
”Heiii!!! My Brother . . . . come in  . . . .come in . . . . kita pada nunggu lo dari tadi” dia berhenti dan memandangi wajahku yang terlihat muram, “ . . . What’s up bro?? Bokap lagi?? Udah malam ini kita fun bareng ok.”
“Udah bro, sekarang lo duduk santai aja disini. Kita nikmati malam ini dan lupakan semua masa pahit dan masalah kita. Gue juga bawa beberapa cewek nih.”
Satu persatu mereka berkenalan denganku. Tak lama pesta kami mulai. Ibnu mulai menujukkan barang yang dimaksud Rizal. ’Sebuah heroin?’ aku kaget dan hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat ini. Kami semua meringis kesenangan.
”Darimana lo dapet ini, Nu?? Ini bener-bener bagus . . . .” kataku sambil terus memegang-megang serbuk heroin di depanku.
”Lo tau kan, Abang gue baru aja pulang dari Malaysia. Dia nyelundupin lewat kapal ikan. Hahahahaha . . . . . yang penting jaga rahasia. Ini hadiah dari dia buat kita-kita. Ya gak??” lalu kami tertawa bersama . . . .
Suasana rumah Ibnu begitu sepi karena memang dia hidup sendiri. Apalagi tetangganya begitu jauh dari tempat ini. Kami bisa dengan leluasa menikmatinya. Sedikit demi sedikit kami menghirup dan menikmatinya. Terasa fly . . .  nikmat . . .  . nyaman . . .  itulah yang terasa. Gairah kami serasa bangkit. Beberapa teman cewek Andi mulai bergairah dan nakal. Rizal menyikat Rida cewek yang memang terlihat cantik walaupun semua cantik untukku. Dia membawa ke atas. Sementara Ibnu masih menikmati heroin-nya bersamaku. Sementara Andi sudah dari tadi menghilang hanya sedikit terlihat ia sedang di sofa bersama Ayu. Ira dan Dewi masih bersama kami menikmati setiap kenikmatan heroin. Semakin kami nikmati . . .  semakin melayang angan-angan kami penuh dengan kenikmatan . . . .
Lama kelamaan tinggal aku sendiri yang bertahan, terus kuisap dan kunikmati surga ini. Menghilangkan stres dan depresi di rumah, dengan pacar atau dengan hal lain. Dari inilah aku bisa berfikir santai, duniaku tak lagi berkutat dengan hal yang penuh dengan amarah, rasa sakit . . . . semuanya kosong . . .  dewi terus memandangiku, mungkin dia merasa tak enak kuacuhkan. Akhirnya ia menyusul Ayu yang ada tak jauh dari kami sedang berpesta lain. Sementara aku terus berasyik-asyik dengan heroin yang tersisa . . . .
Cukup lama aku dalam keadaan ini, hingga tiba-tiba . . . . tubuhku terasa kejang. Aku tak bisa menahan diri, mulutku keluar busa. Tak banyak memang tapi begitu sakit sekali. Tubuhku gemetar dan kejang terus menerus. Aku tak bisa berteriak. Dewi melihatku dari jauh dan langsung menghampiriku meski dalam keadaan yang tak lengkap (maaf tidak disebutkan). Aku terasa hampir mati. Dewi berteriak keras meminta tolong. Teman-temanku segera menghampiri dan membawaku ke rumah sakit. Aku tak sadar. Karna saat itu aku seperti berada dalam dunia yang gelap, sepi . . . sendirian . . . aku terus memanggil-manggil nama temanku. Lalu aku memanggil nama orang tuaku. Aku menangis di tengah kegelapan. Begitu lama pikirku. Hingga aku melihat diriku sendiri terbaring lemah dalam sebuah kamar. Selang oksigen menempel. Disamping kulihat  ayah ibuku menangis, kawan-kawanku terdiam kaku dengan wajah sedih dan merasa bersalah. Kupanggil mereka semua tapi tak mendengar sedikitpun. Dira datang dan langsung memeluk tubuhku. Aku mencoba membelainya, tapi semua sia-sia . . .  aku menjerit dalam keadaan itu. Apa aku mati??  Apa aku sudah mati?? Kata–kata itu terus yang selalu ada di benakku. Dokter memeriksa tubuhku dan mencopoti semua hal yang menempel di tubuh kaku milikku. Kemudian dia menutup wajahku. Wajah yang akhirnya kulihat terakhir kalinya. Wajahku sendiri. Iring tangis membuatku menyesal. Meski sudah terlambat . . . .

~End~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar