"Dinda, Din!" salah satu
teman sekampusku mengejar memanggil namaku. "Ya ampun, Din. Kamu kalo
jalan cepet banget, baru aja kutinggal liat majalah bentar udah ketinggalan
jauh." Indri sahabatku di kampus, anaknya agak lebih feminim daripada aku
yang kata semua orang tomboy. Kami sahabat yang berbeda sifat seratus delapan
puluh derajat. But, it's ok kan. Gak jadi masalah untuk semua itu.
"Ya maaf deh. Kamu kalo udah liat majalah fashion atau apa lah pasti berhentinya lamaaa banget... Ya udah kutinggal aja."
"Tapi juga gak segitunya kali. Paling kan sebentar doang."
"Sebentar? Hah? Gak salah bu'?" dengan muka mengejek aku berpaling dan lanjut berjalan.
"Ishhh... Dinda... Tungguin dong."
"Ngeluh lagi? Makanya jangan pake highheels deh, untung aku gak mau pake gituan."
"Eh, iya deh kamu kan kalo dilihat dah kayak cowok"
"Yeee jangan salah. Biar gini hatiku tetep lembut tau" sambil menudingkan jari ke arahku sendiri. Indra hanya tersenyum, mungkin ia agak tak percaya.
Kami terus berjalan menyusuri jalan pulang ke kost kami. Maklum hidup di kota lain jauh dari orang tua sudah menjadi resiko anak kuliahan seperti kami. Berat memang, tapi harus dijalani dengan ikhlas. Bagiku ini sebuah pembelajaran untuk lebih mandiri. Aku selalu berpikir suatu saat aku akan ditinggalkan oleh keluargaku. Entah kapan itu pasti. Mungkin hidupku berkecukupan, it's ok sih. Segala hal bisa didapat, tapi gak selamanya fasilitas itu aku nikmati terus menerus. Hidup terus berputar. Hari juga semakin maju, mana mungkin hari bisa mundur. Kalo mundur mah enak buat kita. Memperbaiki semua hal dengan memutar lagi waktu ke kejadian yang udah berlalu itu. Hahaha kayak Doraemon aja. Now, kita harus berpikir ke depan. Bukan mentok disatu pemikiran saja. Membuka pikiran baik kok asal tak lepas untuk tetap jadi diri sendiri. Hehehe
"Buuuhhh... Sampai juga di kost. Panas banget rasanya." akhirnya kami sampai di kost. Indri langsung saja mengeluh karena panas teriknya saat diperjalanan.
"Panas ngeluh, ujan ngeluh. Sebenarnya mau yang mana non?"
"Mau yang seger-seger aja. Hehehehe....."
"Masuk kulkas aja deh, ndri. Pasti seger."
"hahaha.... Masa aku suruh masuk kulkas? Yang bener aja."
"Lha daritadi ngeluh mulu."
"eh...eh.... Din. Gak kerasa bentar lagi kita bakal selesai kuliah. Kamu rencana mau kerja dimana?"
aku langsung memutar otak berfikir, benar yang dibilang Indri. Tak lama lagi kuliah selesai. Kami sudah di semester akhir. Persiapan bahan skripsi dan lain sebagainya musti disiapin.
"Kerja? Yah.... Apa aja yg penting itu halal dan pas ama pendidikan kita lah."
"Apa gak nyoba tanya mas Ridwan aja? Dia kan udah kerja juga. Sapa tau ada lowongan disana."
Ridwan.... Memoriku seperti mengulas kembali pada masa laluku. Cowok yang dulu selalu menjadi idolaku. Sudah lama kabarnya tak pernah kudengar semenjak kejadian itu. Ah sudahlah.... Kenapa harus kupikirkan lagi kenangan laluku. Membuat hati terasa sakit dan ingin menangis.
"Woi.... Malah bengong."
"Sorry, apaan?"
"nih kalao diajak ngobrol malah ngelamun ya kayak gini." indri memukul kepalaku.
"Iiihhh.... Apan sih. Lagian juga kenapa kamu ngomongin si Ridwan lagi sih?"
indri tak berbicara. Ia tau apa yang terjadi waktu itu. Benar-benar tau dengan pasti bagaimana aku sengaja melepas dia karena tak tahan dengan keadaan kami yang saling berjauhan.
"Dinda... Maaf ya... Kamu jadi keingetan waktu itu."
"Gak papa kok. Insyallah aku kuat. Lagipula itu keputusanku."
*****
"Ya maaf deh. Kamu kalo udah liat majalah fashion atau apa lah pasti berhentinya lamaaa banget... Ya udah kutinggal aja."
"Tapi juga gak segitunya kali. Paling kan sebentar doang."
"Sebentar? Hah? Gak salah bu'?" dengan muka mengejek aku berpaling dan lanjut berjalan.
"Ishhh... Dinda... Tungguin dong."
"Ngeluh lagi? Makanya jangan pake highheels deh, untung aku gak mau pake gituan."
"Eh, iya deh kamu kan kalo dilihat dah kayak cowok"
"Yeee jangan salah. Biar gini hatiku tetep lembut tau" sambil menudingkan jari ke arahku sendiri. Indra hanya tersenyum, mungkin ia agak tak percaya.
Kami terus berjalan menyusuri jalan pulang ke kost kami. Maklum hidup di kota lain jauh dari orang tua sudah menjadi resiko anak kuliahan seperti kami. Berat memang, tapi harus dijalani dengan ikhlas. Bagiku ini sebuah pembelajaran untuk lebih mandiri. Aku selalu berpikir suatu saat aku akan ditinggalkan oleh keluargaku. Entah kapan itu pasti. Mungkin hidupku berkecukupan, it's ok sih. Segala hal bisa didapat, tapi gak selamanya fasilitas itu aku nikmati terus menerus. Hidup terus berputar. Hari juga semakin maju, mana mungkin hari bisa mundur. Kalo mundur mah enak buat kita. Memperbaiki semua hal dengan memutar lagi waktu ke kejadian yang udah berlalu itu. Hahaha kayak Doraemon aja. Now, kita harus berpikir ke depan. Bukan mentok disatu pemikiran saja. Membuka pikiran baik kok asal tak lepas untuk tetap jadi diri sendiri. Hehehe
"Buuuhhh... Sampai juga di kost. Panas banget rasanya." akhirnya kami sampai di kost. Indri langsung saja mengeluh karena panas teriknya saat diperjalanan.
"Panas ngeluh, ujan ngeluh. Sebenarnya mau yang mana non?"
"Mau yang seger-seger aja. Hehehehe....."
"Masuk kulkas aja deh, ndri. Pasti seger."
"hahaha.... Masa aku suruh masuk kulkas? Yang bener aja."
"Lha daritadi ngeluh mulu."
"eh...eh.... Din. Gak kerasa bentar lagi kita bakal selesai kuliah. Kamu rencana mau kerja dimana?"
aku langsung memutar otak berfikir, benar yang dibilang Indri. Tak lama lagi kuliah selesai. Kami sudah di semester akhir. Persiapan bahan skripsi dan lain sebagainya musti disiapin.
"Kerja? Yah.... Apa aja yg penting itu halal dan pas ama pendidikan kita lah."
"Apa gak nyoba tanya mas Ridwan aja? Dia kan udah kerja juga. Sapa tau ada lowongan disana."
Ridwan.... Memoriku seperti mengulas kembali pada masa laluku. Cowok yang dulu selalu menjadi idolaku. Sudah lama kabarnya tak pernah kudengar semenjak kejadian itu. Ah sudahlah.... Kenapa harus kupikirkan lagi kenangan laluku. Membuat hati terasa sakit dan ingin menangis.
"Woi.... Malah bengong."
"Sorry, apaan?"
"nih kalao diajak ngobrol malah ngelamun ya kayak gini." indri memukul kepalaku.
"Iiihhh.... Apan sih. Lagian juga kenapa kamu ngomongin si Ridwan lagi sih?"
indri tak berbicara. Ia tau apa yang terjadi waktu itu. Benar-benar tau dengan pasti bagaimana aku sengaja melepas dia karena tak tahan dengan keadaan kami yang saling berjauhan.
"Dinda... Maaf ya... Kamu jadi keingetan waktu itu."
"Gak papa kok. Insyallah aku kuat. Lagipula itu keputusanku."
*****