Rabu, 27 Juni 2012

Destiny of Love



"Dinda, Din!" salah satu teman sekampusku mengejar memanggil namaku. "Ya ampun, Din. Kamu kalo jalan cepet banget, baru aja kutinggal liat majalah bentar udah ketinggalan jauh." Indri sahabatku di kampus, anaknya agak lebih feminim daripada aku yang kata semua orang tomboy. Kami sahabat yang berbeda sifat seratus delapan puluh derajat. But, it's ok kan. Gak jadi masalah untuk semua itu.
"Ya maaf deh. Kamu kalo udah liat majalah fashion atau apa lah pasti berhentinya lamaaa banget... Ya udah kutinggal aja."
"Tapi juga gak segitunya kali. Paling kan sebentar doang."
"Sebentar? Hah? Gak salah bu'?" dengan muka mengejek aku berpaling dan lanjut berjalan.
"Ishhh... Dinda... Tungguin dong."
"Ngeluh lagi? Makanya jangan pake highheels deh, untung aku gak mau pake gituan."
"Eh, iya deh kamu kan kalo dilihat dah kayak cowok"
"Yeee jangan salah. Biar gini hatiku tetep lembut tau" sambil menudingkan jari ke arahku sendiri. Indra hanya tersenyum, mungkin ia agak tak percaya.
Kami terus berjalan menyusuri jalan pulang ke kost kami. Maklum hidup di kota lain jauh dari orang tua sudah menjadi resiko anak kuliahan seperti kami. Berat memang, tapi harus dijalani dengan ikhlas. Bagiku ini sebuah pembelajaran untuk lebih mandiri. Aku selalu berpikir suatu saat aku akan ditinggalkan oleh keluargaku. Entah kapan itu pasti. Mungkin hidupku berkecukupan, it's ok sih. Segala hal bisa didapat, tapi gak selamanya fasilitas itu aku nikmati terus menerus. Hidup terus berputar. Hari juga semakin maju, mana mungkin hari bisa mundur. Kalo mundur mah enak buat kita. Memperbaiki semua hal dengan memutar lagi waktu ke kejadian yang udah berlalu itu. Hahaha kayak Doraemon aja. Now, kita harus berpikir ke depan. Bukan mentok disatu pemikiran saja. Membuka pikiran baik kok asal tak lepas untuk tetap jadi diri sendiri. Hehehe
"Buuuhhh... Sampai juga di kost. Panas banget rasanya." akhirnya kami sampai di kost. Indri langsung saja mengeluh karena panas teriknya saat diperjalanan.
"Panas ngeluh, ujan ngeluh. Sebenarnya mau yang mana non?"
"Mau yang seger-seger aja. Hehehehe....."
"Masuk kulkas aja deh, ndri. Pasti seger."
"hahaha.... Masa aku suruh masuk kulkas? Yang bener aja."
"Lha daritadi ngeluh mulu."
"eh...eh.... Din. Gak kerasa bentar lagi kita bakal selesai kuliah. Kamu rencana mau kerja dimana?"
aku langsung memutar otak berfikir, benar yang dibilang Indri. Tak lama lagi kuliah selesai. Kami sudah di semester akhir. Persiapan bahan skripsi dan lain sebagainya musti disiapin.
"Kerja? Yah.... Apa aja yg penting itu halal dan pas ama pendidikan kita lah."
"Apa gak nyoba tanya mas Ridwan aja? Dia kan udah kerja juga. Sapa tau ada lowongan disana."
Ridwan.... Memoriku seperti mengulas kembali pada masa laluku. Cowok yang dulu selalu menjadi idolaku. Sudah lama kabarnya tak pernah kudengar semenjak kejadian itu. Ah sudahlah.... Kenapa harus kupikirkan lagi kenangan laluku. Membuat hati terasa sakit dan ingin menangis.
"Woi.... Malah bengong."
"Sorry, apaan?"
"nih kalao diajak ngobrol malah ngelamun ya kayak gini." indri memukul kepalaku.
"Iiihhh.... Apan sih. Lagian juga kenapa kamu ngomongin si Ridwan lagi sih?"
indri tak berbicara. Ia tau apa yang terjadi waktu itu. Benar-benar tau dengan pasti bagaimana aku sengaja melepas dia karena tak tahan dengan keadaan kami yang saling berjauhan.
"Dinda... Maaf ya... Kamu jadi keingetan waktu itu."
"Gak papa kok. Insyallah aku kuat. Lagipula itu keputusanku."
*****

Waktu berlalu cepat. Kami akhirnya menyelesaikan pendidikan sarjana. Suasana wisuda begitu khidmat. Semua anggota keluarga dari para mahasiswa berkumpul. Selepas acara keluargaku berfoto bersama, tak lupa keluarga Indri juga turut serta. Dengan pakaian kebanggan aku berpose dengan keluargaku. Kami bergantian, kadang aku berfoto dengan teman-temanku untuk mengenang perjuangan kami semasa kuliah.
Beberapa bulan berlalu, kehidupan yang sebenarnya baru kumulai sekarang. Kerasnya hidup diminimnya pekerjaan yang ada harus dijalani. Informasi demi informasi terus terkumpul. Kegagalan mendapat pekerjaan menjadi bumbu kehidupan hingga akhirnya setelah satu bulan berjuang aku mendapatkan pekerjaan yang alhamdulillah cocok dengan pendidikanku. Aku akhirnya bekerja di staff accounting di sebuah perusahaan. Hari-hari bekerja kujalani, teman baru mulai kudapat seiring waktu. Penampilanku pun sekarang kurubah. Dulu aku berpenampilan tomboy, karena tuntutan pekerjaan kini semua kurubah.
Disinilah segala sesuatu dimulai. Kesendirianku sebagai wanita semakin terasa. Dalam hatiku merasa butuh seseorang untuk mengisi hari-hariku saat selepas kerja. Mungkin memang teman bisa mengisi, tapi bukan itu. Kasih sayang dari seorang pria yang kubutuhkan. Di kantor beberapa teman priaku juga sering PDKT denganku. Mereka sering mengajak jalan, makan, nonton dan sebagainya. Aku mulai membuka hati untuk orang lain. Hingga akhirnya kahu berpacaran dengan teman satu perusahaan meskipun berbeda departemen. Hubungan kami berjalan baik hingga beberapa bulan. Namanya Nico, dia lelaki yang pengertian. Tapi setiap manusia pasti ada kekurangannya. Entah kenapa aku merasa kurang yakin dengan Nico. Hatiku seolah memberontak. Hingga akhirnya tepat 6 bulan kami pacaran akhirnya aku memutuskan untuk berpisah. Setelah dengan Nico aku dekat dengan orang lain. Seorang kenalan saat makan di restoran, Adi. Cukup baik, begitu membuatku nyaman tapi tetap saja sama, hubungan kami tak berjalan lama.
Setelah dengan Adi aku tak berpikir untuk berhubungan sementara. Aku merasa diriku belum siap. Masih ada pemberontakan dalam hatiku. Hingga suatu ketika, teman sekantorku mengajakku untuk dinner bersama sahabat-sahabatnya. Disinilah aku bertemu dengan seseorang. Kami berkenalan, namanya Alex. Dia taampan, sopan, itulah kesan pertama yang kudapat darinya. Setelah dinner malam itu kami semakin dekat. Alex sering mengajakku jalan. Beberapa minggu kedekatan kami berlanjut kehubungan lain. Kami berpacaran. Beberapa bulan kami bersama, aku semakin tahu kelakuan dan sikapnya. Meskipun begitu aku masih bisa menerima. Aku berharap dia bisa berubah sedikit demi sedikit.
Suatu malam ia mengajakku untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Ia menjemputku dengan mobilnya tepat jam delapan malam lalu kami meluncur ke sebuah restoran china di sekitar kawasan kota.
"Malam ini aku akan memperkenalkanmu pada sahabatku. Aku senang kamu mau meluangkan waktumu sayang."
aku hanya tersenyum. Kami berdua berjalan menyelusuri meja restoran hingga Alex menemukan sahabatnya duduk di meja belakang dekat jendela. Ia menggandengku menemui mereka. Ia memperkenalkanku pada mereka. Ternyata acara ini diadakan untuk saling memperkenalkan pasangan masing-masing.
"Jangan kaget ya. Teman-temanku memang seperti ini. Selalu seru-seruan meskipun di tempat formal seperti ini."
"Iya din, beginilah kami." mereka terus bercanda.
"Ngomong-ngomong kenapa si Iwan belum kelihatan. Dimana dia?"
"Kau tahu sendiri kan Lex. Dia tak punya pasangan sendiri dari kita berempat."
"Tapi aku tetap menyuruhnya ikut, kurang seru kalo dia tak ada."
"Ya sudah kita tunggu saja, tapi aku bingung. Kenapa dia terus mengingat mantannya dulu? Seharusnya dia bisa move on kan."
"Entahlah, den. Itulah si Iwan. Ia memiliki pemikiran dan perasaan yang tak bisa kita tebak."
Iwan? Seperti apa sebenarnya bagaimana orang yang mereka maksudkan dalam pembicaraan. Dari cerita mereka aku merasa tak asing. Alex dan temannya terus membahas tentang Iwan, begitu juga pacar temannya terkadang juga menambahi sikap si Iwan. Aku hanya diam mendengarkan.
Hingga tak lama salah satu dari mereka melambai sambil berdiri memanggil nama Iwan.
"Iwan! Kemari!"
seseorang datang menghampiri sendirian tak bersama pasangan sama sekali.
"Sorry, aku telat. Ada urusan yang harus kukerjakan dulu tadi."
"ya sudah, tak apa. Duduklah cepat. Ohh iya perkenalkan itu pacar si Haikal, namanya Indah seindah orangnya. Lalu ini... Sebentar.... Sayang perkenalkan ini temanku, Iwan."
aku memandang orang yang bernama iwan itu. Seketika itu pula aku kaget, begitupun juga dia. "Dinda?!....
"Mas Ridwan?!..."
hatiku beedegup kencang. Entah kenapa Allah mempertemukan aku kembali dengan Mas Ridwan.
"wew... Kalian sudah saling kenal rupanya. Baguslah."
acara kami lanjutkan. Aku dan Mas Ridwan lebih banyak diam. Kami selesai pukul sebelas malam. Sebelumnya Mas Ridwan meminta nomor teleponku. Meskipun sebelumnya ia ijin pada Alex.
****
Hari itu berlalu lama, Semakin hari kelakuan Alex membuatku tak tahan. Entah harus pada siapa aku mengungkap semua kesedihan dan kekesalanku. Suatu malam mas Ridwan menelponku. Entah ia tahu atau sebuah kebetulan, tepat saat aku sedang membutuhkan seseorang untuk curhat ia hadir. Kuluapkan dan kuceritakan semua tentang hubunganku. Ia memberi solusi yang terbaik. Memberi masukan agar aku bersabar dengan sikap alex.
Hubunganku dengan Alex berjalan sepuluh bulan. Selama itu pula sering aku cekcok dengannya. Banyak hal yang aku tahu. Semua hal yang ia sembunyikan akhirnya kuketahui saat itu. Saat aku sedang istirahat makan siang, aku memergokinya sedang berduaan dengan wanita lain. Dengan amarah yang memuncak ia kuhampiri lalu kutampar dan kusiram minuman di atas meja. Ia berusaha mengejarku tapi tak kuhiraukan. Hatiku terlanjur sakit. Amat teramat sakit. Aku berusaha menuruti semua hal yang ia inginkan, berusaha menjadi baik. Tapi ia membalas dengan penghianatan. Aku menangis, tak ada yang menemaniku saat itu. Di kantor aku ijin pulang lebih cepat. Pilu rasanya hati ini mengingat kejadian yang baru saja terjadi tadi. Hubunganku dengan alex berakhir dengan pengkhianatan. Selama beberapa hari aku berdiam diri. Kuhubungi sahabatku Indri, kuceritakan semuanya hingga aku lega.
Kuusahakan sikapku tetap normal, pekerjaan kuutamakan demi sebuah karir. Masalah percintaanku yang kandas kukesampingkan. Aku tak lagi berpikir ke arah itu. Aku terfokus pada pekerjaanku meskipun kadang kala hatiku sakit saat kenangan itu teringat. Saat hal itu terjadi hanya air mata saja yang mengungkapkan kesedihan.
Suatu ketika saat aku sedang pulang kerja, aku sengaja tak langsung pulang. Aku ingin menyendiri di sebuah kafe tak jauh dari kantorku. Suasananya yang tenang membuatku ingin kesana. Tak disangka aku bertemu mas Ridwan. Ia juga sedang bersantai membawa laptop sambil browsing. Ia memanggil dan mengajakku bergabung dengannya. Banyak hal yang kami bicarakan, hingga aku memberanikan bertanya masalah pribadinya selama ini.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh"
"Kata temen mas dulu pas dinner waktu itu sampai sekarang mas gak punya pacar?"
Ia seperti kaget dan enggan menjawab, ia menunduk saja memandangi laptopnya mencari-cari sesuatu. Setelah mencari-cari akhirnya ia menemukannya. Ia membalikkan laptopnya kearahku. Aku terperanjat, aku melihat semua foto-fotoku. Kulihat semuanya, ia menyimpan begitu banyak fotoku, dari aku semasa SMA sampai Kuliah hingga saat kerja. Aku melihat kearahnya.
"Itu benar dan alasanku memang karena kamu. Meskipun selama ini aku seolah menghilang tapi melalui akun facebookmu aku tetap mengawasi dan melihat. Aku menyimpan semua fotomu. Aku mengambilnya dari facebookmu."
aku tak bisa bicara, aku menunduk semakin merasa bersalah.
"Jangan merasa bersalah, Din. Aku yang memilih seperti ini. Dari dulu aku memang begini tak banyak berucap karena aku tak pandai berbicara di depan wanita."
"Tapi kenapa mas gak berusaha move on?? masih banyak wanita yang lebih baik dari aku kan?"
"Aku udah berusaha dulu, tapi tetap saja.... "
kami diam terbawa suasana. Alunan musik di kafe saat itu sangat pas sekali. Aransemen milik yiruma Destiny of Love mengiringi kebisuan kami berdua. Seperti semuanya sudah diskenario oleh sutradara film FTV saja. "Maaf.... Aku malah menambah kesedihanmu. Harusnya aku hibur kamu setelah apa yang kamu alamin sama Alex."
salah mas, harusnya akulah yang meminta masf. Karena aku mas ridwan seperti ini. Aku hanya bisa berbicara dalam hatiku sendiri.
"Maaf ya, aku permisi. Malam ini aku ada janji jam delapan dengan rekan bisnisku. Permisi."
ia meninggalkanku tanpa menengok ke belakang. Ia seolah bergegas lari dariku menutupi sesuatu. Mungkin rasa sedihnya atau...
Masih terdengar alunan musik Destiny of Love. Aku serasa hanyut dengan kesedihanku.
***
hari terus berganti, hubunganku masih seperti biasa dengan mas Ridwan. Kami mulai dekat kembali, entah kenapa perasaanku selalu nyaman saat ia bersamaku meski kami jarang bertemu. Kami berdua orang yang sibuk. Seolah tak ada apapun di masa lalu, kami berhubungan seperti biasa. Akhirnya aku meminta pendapat pada sahabatku Indri, ia menyarankan aku jadian lagi dengan mas Ridwan. Ia terus mendukungku hingga akhirnya akulah yang mengutarakan perasaanku pertama kali pada mas Ridwan. Ia menerima dengan tangan terbuka.
Hubungan kami berjalan baik tak seperti dulu saat aku kuliah, mungkin karena jarak kami kini tak lagi jauh aku menjadi mantap dan nyaman dengan hubungan ini. Saat kami pulang kampung, mas Ridwan juga menunjukkan kepeduliannya terhadap keluargaku. Bapak ibu setuju dengan hubungan kami sampai bapak bercanda, "Nah kapan ini Dinda mau dilamar nak Ridwan?"
"Iihh bapak apaan sih"
namun kulihat mas Ridwan tersenyum saja.
Hari berganti. Hampir tujuh bulan kami berhubungan, sebuah masalah tetap ada dalam suatu hubungan. Kupikir itu wajar. Karena dari masalah itulah penyatuan itu semakin erat.
Saat pertama aku jadian, teman mas Ridwan, Dedi, Haikal sedikit kaget tapi yang paling menentang hubungan kami adalah Alex. Hubungan mereka sempat jauh tak berkomunikasi hingga akhirnya Alex mau menerima keadaan yang ada.
Suatu hari Alex menghubungiku dan mengajak makan siang bersama. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Entah apa tapi aku memberi kesempatan. Waktu makan siang tiba, aku menemui di tempat yang sudah kami sepakati.
"Din, sorry kalau aku agak memaksa."
"It's ok. Gak masalah. Memang apa yang mau kamu omongin."
"aku mau minta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku udah mempermainkan kamu."
aku hanya tersenyum lalu berjata tak apa padanya.
"Aku juga ingin mengucap selamat, akhirnya kaian bertemu kembali. Aku gak nyangka kalau kamu cewek yang bikin Iwan tak pernah lagi berpacaran dulu. Kau tahu? Sebenarnya Iwan menutupi semuanya. Ia juga mengancamku waktu itu, kalau sampai aku mainin kamu dia bakal gak segan-segan hajar aku."
"Jadi... Dia tau selama ini kalau kamu itu...."
"Brengsek... Ya dia tahu, sebagai sahabat ia menutupi, juga ia gak pengen kamu sedih mungkin sampai akhirnya kamu tau sendiri. Moga hanya karena ini kalian gak bertengkar. Please...."
"Thanks ya, Lex kamu udah jujur. Aku harap kamu bisa berubah. Ini demi hidupmu sendiri."
setelah pertemuan itu aku merasa semakin yakin dengan mas Ridwan. Entah kenapa aku tak marah karena ia menutupi kelakuan Alex saat aku masih bersama dia dulu. Ia tak banyak berubah.
***
16 Mei tepat saat ulang tahunku, aku merasa ada hal yang berbeda. Dimulai dari teman sekantorku yang beberapa hari menjauh. Ditambah orang tua yang sering bertanya tentang hubunganku dan kapan Ridwan melamarku. Banyak hal yang aneh sebelum hari ini. Pagi aku berangkat ke kantor, entah kenapa ban sepeda motorku tiba-tiba kempes saat mau kupakai. Akhirnya aku datang telat dan dimarahi atasanku. Teman sekantor menjauhiku. Mas Ridwan sudah seminggu tak pernah menghubungi, saat di telpon ia berkata sibuk terus.
Sepulang kantor Alex berada di depan kantor menungguku.
"Selamat sore Princess... Silahkan masuk mobil sekarang juga. Please..."
"Gak usah, aku naik taxi saja."
"ayolah... Please, jangan sia siakan kebaikan seseorang."
"Oke baiklah."
diperjalanan aku merasa diajak berkeliling entah kemana oleh Alex. Aku rewel minta diturunkan tapi ia malah melaju kencang. Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah kafe. "Inikan...."
aku memandang alex yang tersenyum lebar. Di luar Haikal membukakan pintu. "Selamat datang Princess..."
ia mengantarku masuk ke dalam kafe. Aku duduk dibangku yang disediakan. Kulihat kafe ini sepi kecuali aku dan beberapa pelayan yang di depan pintu. Tiba-tiba salah satu pelayan menghampiriku. "Pesan apa, Princess??"
"Dedi??"
"Pesan apa? Silahkan tunjuk saja."
aku menunjuk cappucino chocolate. Lalu Dedi bergegas meninggalkanku. Kali ini Haikal berada di depan memainkan piano, ia membawakan lagu Destiny of Love. Aku semakin heran. Dedi masuk membawa pesananku, lalu haikal berdiri selesai memainkan lagu tadi.
"Baiklah, mari sambut penampilan dari seseorang berikut ini yang khusus ditampilkan untuk Princess..." Alex masuk membawa sebuah Gitar kemudian Haikal masuk kembali mengambil posisi di piano, disusul Dedi yang berganti pakaian membawa sebuah gitar. Mereka mulai memainkan sebuah lagu. Lagu yang mereka bawakan serasa asing di telingaku karena tak pernah aku mendengarnya. Entah dari mana asal suaranya tiba-tiba seseorang menyanyi. Suaranya terdengar dari sound yang ada...

pejamkan matamu sejenak
tuk dengarkan aku
coba kau tnyakan hatimu
apa yg kau rasa....

janganlah ragukan aku...
janjiku kenanglah slalu...

tak ada yg lain selain engkau kau dihati...
kuberharap kau kan jadi milikku sepenuh hati...
kan kuhabiskan wktuku tuk bahagiakan dirimu...
smpai nafasku terhenti....

hanya kau milikku slamanya
tak akan trganti
hadirmu berarti bagiku
tuk temani aku....

jangan kau tinggalkan aku
dekaplah diriku slalu. . .

ini linknya ya satu, hanya kamu

Aku memandang sekeliling hingga kutemukan mas Ridwanlah yang menyanyikan lagu. Lagu selesai, ia mengucapkan selamat ulang tahun lalu menjatuhkan diri dihadapanku. Ia berlutut.
"lagu tadi untukmu, maaf suaraku tak se merdu penyanyi berkelas. Tapi aku memberanikan diri."
ia mengambil sesuatu dari saku kemejanya, ia menjulurkannya lalu, "Dinda...."
"Ya?"
"Do you marry me?"
aku terperanjat kaget. sekali lagi lagu tadi dimainkan oleh Haikal, Alex dan Dedi. Ia terus berlutut menunggu jawabanku. Aku tak bisa berkata apapun. Aku hanya mengangguk menerima pinangannya saat itu.
Tak pernah terbayangkan aku akan dilamar dihari ulang tahunku olehnya. Dan semua yang terjadi selama seminggu ini sudah ia rencanakan dengan matang. Aku tahu karena setelah aku menerima pinangannya semua teman sekantorku muncul. Moment yang tak kan tergantikan seumur hidup.

Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar