Rabu, 27 Juni 2012

Akulah Anugrahmu



Suasana yang terasa dingin. Kulit tipisku merasakan setiap butir kedinginan di tengah hujan deras dan berpetir. Aku menangis seorang diri dalam kamar kecilku. Aku menangis keras, ketakutan. Ibu...ibu...aku takut ibu.... Seorang melangkah dengan cepat begitu sigap langsung memberiku kehangatan. Menimangku penuh kasih sayang serta membacakanku shalawat agar aku tenang. Hujan masih terus mengguyur tapi aku kini tak lagi merasa kedinginan. Aku kembali terlelap tidur dengan manis. Masih terasa olehku kecupan manis di dahiku. Nyanyian shalawat terus dinyanyikan. Saat aku tertidur pulas, ia membaringkanku di tempat tidur. Ia bersamaku, tidur menemaniku, masih terus bershalawat meski suaranya hampir kalah dengan hujan.
Redup suara beralih menjadi ketenangan. Hawa dingin masih menyelimuti setiap sudut kamar. Tok..tok...tok... Seseorang mengetuk pintu dengan keras. Ibu terbangun beranjak meninggalkanku perlahan. Ia menuju ke depan membukakan pintu.
"Sebentar..."
dibukanya pintu rumah, ia melihat sosok suaminya dengan wajah penuh amarah.
"Lelet sekali membuka pintunya! Tak tau aku kedinginan begini karena kehujanan di jalan?!"
"Maaf, mas. Tadi sedang dikamar nemani anak kita."
"Alesan saja! Minggir!" Ibu terdorong kesamping pintu. Begitu kasar sikap bapakku terhadap ibu. Ia hanya bisa mengelus dadanya dan beristighfar.
"Apa ini?! Kamu itu bisa masak apa gak?! Sayur dari kemarin kangkung lagi kangkung lagi!"
"Adanya juga itu yang bisa dibeli mas. Mas sendiri aja tidak bekerja."
"Ooohh... Udah pinter ya cari alesan!"
kali ini ia tak mampu menahan amarahnya, "Mas tu harusnya bersyukur kita bisa makan! Kerja saja tidak, minta makan enak juga! Aku tu berusaha mas buat terus bisa menuhi makan kita! Mas malah pergi tiap hari, pulang malam-malam cuma buat kelayapan entah kemana! Istighfar mas... Mas itu udah punya anak istri!"
plak! Suara tamparan keras terdengar. Prang! Piring di meja serta masakan yang disiapkan kini terjatuuh ditanah tak dapat dimakan lagi. Aku terbangun menangis keras.
"jangan seenaknya ngomong ya! Dia itu bukan anakku! Aku nikahin kamu karena terpaksa!"
"Tapi itu kenyataannya kan, mas yg dulu menghamiliku! Membujuk merayu sampai aku terbuai!"
"Kapan?!!! Aku tak pernah! Itu akal-akalanmu saja agar bisa menikah denganku!"
"Terserah apa katamu, mas." ibu menghampiriku yang menangis. Ia menggendongku berusaha menenangkanku.
"Suruh anak itu diam! Atau kubanting dia biar mati sekalian!"
"Astaghfirullah...mas... Sadar!"
Bapak menghampiri kami berdua. Ia merebutku secara paksa dari gendongan ibu. Aku masih menangis dengan keras.
"Sini, dasar anak bandel! Bisa diam tidak!?"
"Mas jangan mas, dia masih kecil, tak tau apa-apa. Dia menangis karena takut."
"Bagus... Kalau memang dia taku harusnya dia mau diam kalau kusuruh diam!"
"Jangan mas, istighfar...."
Bapak terus membentakku digendongannya. Aku takut...ibu aku takut pada bapak....Selamatkan aku ibu.... Aku hanya bisa menangis dengan keras. Bapak semakin kalap. Ia menaiki kursi dan menjulurkan aku. "mas... Aku mohon jangan... Itu anak kita... Dia gak tau apa-apa, dia hanya bisa menangis makin keras kalau mas bentak terus..."
air mata ibu berlinang. Ia menangis memohon pada bapakku untuk memberikanku padanya. Ayahku diam... Memandangku masih dengan tatapan emosi. Ia diam memandangku tak berbicara lagi. Aku menggelinjang menangis di tangannya. Lalu ia turun memberikanku pada ibu kemudian pergi mengambil jaketnya lalu meninggalkan rumah.
"Sssttt.... Anak manis... Diam nak... Jangan nangis lagi, ibu disini sayang.... Ssssttt...." sekali lagi ia menyanyikan shalawat dengan pelan di telinga kananku. "Shalatullah salammullah...Ala toha rosulillah.. Shalatullah...salamullah... Ala yaasin habibillah...." ibu terus bershalawat hingga aku akhirnya diam di dekapannya kembali tertidur dengan wajah damaiku.
Ia membisikkan padaku, "cepatlah besar. Jadilah laki-laki yang baik, sholeh, pintar dan bertanggung jawab kelak. Jangan kau seperti bapakmu nak."
***
seminggu berlalu setelah malam itu. Bapak belum juga pulang. Ibu terus menunggu hingga terkadang setiap kali seseorang membuka pintu ia bergegas membukakan berharap itu bapak. Kasihan ibu... Ia begitu sedih dan terpukul karena kejadian itu. Ia tak pernah menangis didekatku. Ia berusaha tegar, tapi aku bisa merasakan hatinya menangis.
Siang setelah dhuhur seseorang mengetuk pintu. Ibu waktu itu tengah berdzikir tak jauh dariku. Ia kemudian bergegas membukakan pintu. Ia melihat seorang yang amat ia kenal. "Assalamu'alaikum nduk."
"Waalaikum salam paman. Mari masuk paman."
orang itu masuk lalu duduk dikursi tamu.
"Bagaimana kabarmu? Sehat kan?"
"Alhamdulillah, sehat."
"trus si Alif? Sehat juga kan? Mana dia sekarang?"
"sebentar paman, tadi tidur soalnya. Tak lihatnya dulu."
ibu mengambilku yang tak tertidur. Menggendong, lalu membawaku ke depan menemui kakek.
"Eeee... Alif.... Sini biar paman gendong. Kakek kangen alif.... Nang ning ning nang ning nong Hmm..."
kakek terus bercanda denganku.
"Aku dengar, suamimu belum pulang seminggu ini?"
"Darimana paman tau?"
"Paman itu selalu tau, ada yang memberitahu paman. Kalian bertengkar lagi?"
wajah ibu yang berusaha tegar kini menangis. Ia meluapkan segala kesidihannya.
"Entahlah paman, apa dosaku sampai harus menanggung hidup seperti ini. Mungkin ini karma yang kudapat dari hubunganku dengan mas Yanto. Aku..." ia tak sanggup berkata lagi. Ibu kembali menangis, menunduk menutupi mukanya.
"Sudahlah.... Jangan kau menangis. Sabar... Ini cobaan, jangan salahkan kehidupanmu seperti ini. Dia ini putramu, lahir dari rahimmu. Kau diwajibkan mendidik, membesarkannya. Ingat itu."
ibu... Sudah jangan keluarkan air matamu lagi. Aku juga bersedih ibu...
"Kau sudah mengunjungi orang tuamu?"
"Belum paman, aku tak berani. Aku takut mereka tak menerimaku dan Alif."
"dicoba dulu... Insyallah mereka mau menerima."
"Tapi kenapa selama ini mereka tak pernah mengunjungiku, paman?"
wajah kakek hanya tersenyum, "apa yang tua harus selalu lebih dulu menemui yang muda? Kamulah yang harusnya kesana."
"tapi aku takut..."
"Rasa takutmu itulah yang menghampat dan memutus tali silaturohmi antara anak dan orang tua. Hari ini kita kesana. Kita bawa Alif. Paman akan menemanimu.... Ayo Alif. Kita ke rumah kakek nenekmu..."
ibu masih berdiam diri. "Sudah... Apa lagi yang kau pikirkan, cepat bersiap. Aku dan alif menunggumu disini."
ibu bersiap, ia menata diri serta mempersiapkan semua kebutuhanku apabila aku ngompol. Akhirnya kami berangkat bersama. Dengan dibonceng kakek ibu menggendongku. Kami mengendarai motor lama kakek, motor honda 70 nya yang masih terawat.
Sesampainya di rumah orang tua ibu, ibu masih tetap berdiri terpaku menggendongku. Ia masih ragu dengan semuanya.
"Ayo, nak. Sudah jangan takut. Ayo sini bareng sama paman."
ibu mulai melangkah, rumah yg dulu ia tempati selama ibu kecil hingga dewasa. Rumah yang terbuat dari kayu bercat hijau didepannya bergaya joglo. Dengan dua pohon mangga di halaman rumah yang sampai kini masih berdiri kokoh. Perlahan langkah kaki memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum" rumah terlihat sunyi.
"assalamu'alaikum..." terdengar jawaban jauh dari dalam rumah. Seorang wanita tak terlalu tua keluar menghampiri dan menjawab salam kami. Ia mendekat.
"Waalaikumsalam.... Ehhh dek Amin. Masuk masuk." kemudian ia memandang disebelah kakek Amin. Ia seolah tak percaya dan tak berkata banyak langsung memeluk ibu dan aku yang berada digendongannya.
"Ya Allah..."wanita itu menangis, ia menangis berbarengan dengan ibu. "Astaghfirullah... Anakku.... Ya Allah.... Alhamdulillah kau pertemukan kami...."
"Ibu... maafin Aisyah ibu... Maafin Aisyah...."
"Gak ada yang harus dimaafkan nak, ibu justru menunggu kamu pulang setelah kamu dibawa suamimu. Ibu selalu berpikir tentangmu setiap hari. Ibu selalu mendoakan. Kenapa tak pernah menengok ibu nak... Ibu sudah tua...."
"Aisyah takut... Aisyah takut ibu tidak menerima Aisyah pulang kesini."
"Ya Allah nak... pintu rumah ini terbuka lebar setiap hari, setiap menit, setiap jam atau bahkan detik... Pintu ini terbuka lebar untukmu nak...."
"Maaf ibu....." kemudian wanita itu memandang ke arah sosokku yang mungil terbungkus selendang batik ibu...
"Ini Alif bu... Cucu ibu...."
"Cucu ibu? Alif??? Sini sayang... Cucuku sayang...." digendongnya aku... Inilah pertama kali kurasakan gendongan nenekku sendiri. Nenek dari ibuku. Ia menggendong dan terus menimang, menyanyikan tembang jawa dan beberapa kali shalawat. Sesekali mengecup kening atau pipi mungilku. Ia juga membawaku masuk ke dalam rumah.
"Bapak dimana, Bu?"
"Tadi bilang keluar sebentar. Tunggu saja paling bentar lagi bapakmu pulang."
"bu... Aku takut bapak masih marah denganku seperti dulu."
"Tidak usah takut dengan bapakmu, Pamanmu ini tau sifat bapakmu. Dia pasti sudah memaafkan."
tak lama berselang seorang laki-laki setengah baya masuk ke rumah memberi salam.
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam...."
pria itu memandang ke arah ibu diam tak bicara. Ia terus berjalan bersikap dingin memasuki kamar tanpa suara. Ia tak memperdulikan kami berada disitu.
"Bu.."
"Sudah, biar ibu bicara dengan bapakmu."
"Paman... aku takut...."
"Percaya saja. Berdoa dalam hatimu."
Nenek menyusul pria itu yang tak lain kakekku, ayah dari ibuku. Sambil menggendongku ia memasuki kamar kakek. Ia melihat kakek bersujud.... Lalu berdoa dengan air mata mengalir di pipinya.
"Ya Allah... Terima kasih engkau membukakan hati putri hamba untuk menengok orang tuanya ini ya Allah.... Hamba berucap syukur padamu...."
nenek tersenyum lalu mendekati kakek.
"Pak, ini cucumu... Alif... Namanya sama sepertimu." kakek langsung mengambilku dari gendongan nenek. Ia menangis membawaku keluar menemui ibu dan kakek Amin. Ia memeluk ibu....
Suasana haru berlanjut hingga sore hari. Kami menginap untuk beberapa hari. Ibu melepas semua kerinduannya pada orang tuanya. Sedikit mengobati kesedihan ibu karena sikap bapak.
Bulan demi bulan berganti, aku tumbuh besar. Kini aku tak lagi hanya berbaring atau tengkurap. Aku sudah bisa terduduk... Namun keadaan ibu dan bapak masih tetap sama, malah mereka sering bertengkar. Membawa-bawa aku. Bapak menyebut aku bukan putranya atau kadang anak haram yang tak ia inginkan. Ibu selalu berusaha menutupi telingaku saat bapak mengataiku. Tapi tetap saja aku masih bisa mendengar disela tangisku yang keras.
Bulan September pertengahan, sudah dua minggu bapak tak pulang ke rumah. Kondisiku lemah tak berdaya. Badanku demam tinggi. Aku hanya bisa menangis karena itulah yang bisa dilakukan seorang bayi sepertiku. Ibu bingung, ia terus berusaha agar demamku reda. Hingga dua hari demamku tak reda, kakek Amin datang ke rumah melihat kondisiku lalu membawaku ke puskesmas. Kondisiku semakin lemah. Aku terkulai lemah di dekapan ibuku. Puskesmas menyuruh ibu untuk segera melarikanku ke rumah sakit. Disana aku di opname. Jarum infus menembus kulit lembutku. Di tangan mungilku inilah jarum itu menembus. Oksigen membantuku bernafas. Ibuku terus menemaniku siang hingga malam. Aku tak tahu apa ia sudah makan atau belum.
"Cepat sembuh nak, bermain dengan ibu kalau sudah sehat ya." kata-kata dan doa ia ucapkan setiap kali.
Tetangga, saudara, kerabat menjenguk bergantian. Kakek dan nenek juga ikut menemaniku dikamar. Mereka mendoakanku agar cepat sembuh. Berdoa dan terus berdoa, terutama ibuku....
Malam tiba di rumah sakit tempatku terbaring lemah. Sesekali saja aku menangis mengisyaratkan sakitnya yang terasa. Tapi aku tau, sakit ini tak sesakit batin ibuku.
"Assalamu'alaikum" dua orang datang mengucap salam, ibu mengenal mereka.
"Waalaikum salam,... Bapak.... Ibu..."
"Maaf ya nak Aisyah, sebagai mertua kami selama ini tak terlalu peduli. Kami minta maaf...."
"tidak apa pak, bu."
"maaf juga lho bapak dan ibunya Aisyah. Kami sadar kami salah. Anak kamilah yang bersalah. Kami baru mendengar kalau cucu kami sakit."
"Tidak apa-apa pak. Semua orang pernah melakukan salah."
kedua kakek nenekku dari pihak bapakku mendekati mengecup dan menangis di dekatku yang tertidur pulas. Tak lama mereka disini. Mereka mengobrol tentang anak mereka dan kelakuannya. Ternyata selama ini bapakku di rumah orang tuanya. Menggantungkan hidup disana meninggalkan kami. Kakek nenek berusaha menyadarkan tapi tetap saja percuma.
Keesokan harinya sore menjelang maghrib tubuhku kembali panas... Saat itu kakek dan nenek sedang keluar membeli makanan. Sementara kakek Amin pulang. Ibuku tengah membacakan ayat-ayat Al-Qur'an tak jauh dari tempatku terbaring. Kulihat dua cahaya muncul dihadapanku saat tubuhku semakin panas. Denyut nadiku semakin cepat. Ibuku berhenti lalu memanggil perawat serta dokter, ia menangis terus menanyakan keadaanku. Ibu diminta keluar. Ia terus memandang khawatir ke arahku dari jendela. Terlihat kakek nenekku datang berbarengan dengan Kakek Amin serta istrinya. Mereka berdoa untukku, itulah yang dibiaikkan kedua cahaya di sampingku. Kulihat satu lagi cahaya yang begitu silau dan terang. Ia membawa sesuatu yang menakutkan. satu lagi cahaya muncul menenangkanku. Menutupiku dari ketakutan. Rasa sakitku menghilang. Rohku terbawa keluar dari raga mungilku. Kulihat ibu masuk bergegas memeluk sambil bercucuran air mata. Ia menangis, berteriak memanggil namaku. Kakek nenek ku semua memutariku. Aku bisa melihat mereka dari atas. Ayahku datang di saat terakhir beserta keluarganya. Ia langsung menggendong tubuh dinginku. Ia menangis memelukku erat.
"Maafkan bapak Alif....maafkan bapak.... Bapak selama ini menyia-nyiakanmu nak. Kau putra bapak.... Kau Alif anakku... Maafkan bapakmu ini...."
ia menangisi tubuh dinginku....
Tak apa bapak, Alif sudah memaafkanmu. Alif mendoakan semoga bapak bisa merubah diri menjadi orang yang baik....
Ibu.... Maafkan Alif yang tak sempat memenuhi janjimu. Alif belum bisa menjadi anak yang pintar, sholeh dan bertanggung jawab seperti doamu. Alif pergi dulu ibu.... Alif pergi dulu bapak.... Alif pergi kakek...nenek... Semuanya....
Sebuah tangan penuh cahaya menjulur padaku.... Aku pergi meninggalkan mereka.... Kuucapkan perpisahan terakhirku.... Sampai jumpa di Surga Bapak......Ibu.......

Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar