Suasana
yang terasa dingin. Kulit tipisku merasakan setiap butir kedinginan di tengah
hujan deras dan berpetir. Aku menangis seorang diri dalam kamar kecilku. Aku
menangis keras, ketakutan. Ibu...ibu...aku takut ibu.... Seorang melangkah
dengan cepat begitu sigap langsung memberiku kehangatan. Menimangku penuh kasih
sayang serta membacakanku shalawat agar aku tenang. Hujan masih terus mengguyur
tapi aku kini tak lagi merasa kedinginan. Aku kembali terlelap tidur dengan
manis. Masih terasa olehku kecupan manis di dahiku. Nyanyian shalawat terus
dinyanyikan. Saat aku tertidur pulas, ia membaringkanku di tempat tidur. Ia
bersamaku, tidur menemaniku, masih terus bershalawat meski suaranya hampir
kalah dengan hujan.
Redup
suara beralih menjadi ketenangan. Hawa dingin masih menyelimuti setiap sudut
kamar. Tok..tok...tok... Seseorang mengetuk pintu dengan keras. Ibu terbangun
beranjak meninggalkanku perlahan. Ia menuju ke depan membukakan pintu.
"Sebentar..."
dibukanya
pintu rumah, ia melihat sosok suaminya dengan wajah penuh amarah.
"Lelet
sekali membuka pintunya! Tak tau aku kedinginan begini karena kehujanan di
jalan?!"
"Maaf,
mas. Tadi sedang dikamar nemani anak kita."
"Alesan
saja! Minggir!" Ibu terdorong kesamping pintu. Begitu kasar sikap bapakku
terhadap ibu. Ia hanya bisa mengelus dadanya dan beristighfar.
"Apa
ini?! Kamu itu bisa masak apa gak?! Sayur dari kemarin kangkung lagi kangkung
lagi!"
"Adanya
juga itu yang bisa dibeli mas. Mas sendiri aja tidak bekerja."
"Ooohh...
Udah pinter ya cari alesan!"
kali
ini ia tak mampu menahan amarahnya, "Mas tu harusnya bersyukur kita bisa
makan! Kerja saja tidak, minta makan enak juga! Aku tu berusaha mas buat terus
bisa menuhi makan kita! Mas malah pergi tiap hari, pulang malam-malam cuma buat
kelayapan entah kemana! Istighfar mas... Mas itu udah punya anak istri!"
plak!
Suara tamparan keras terdengar. Prang! Piring di meja serta masakan yang
disiapkan kini terjatuuh ditanah tak dapat dimakan lagi. Aku terbangun menangis
keras.
"jangan
seenaknya ngomong ya! Dia itu bukan anakku! Aku nikahin kamu karena
terpaksa!"
"Tapi
itu kenyataannya kan, mas yg dulu menghamiliku! Membujuk merayu sampai aku
terbuai!"
"Kapan?!!!
Aku tak pernah! Itu akal-akalanmu saja agar bisa menikah denganku!"
"Terserah
apa katamu, mas." ibu menghampiriku yang menangis. Ia menggendongku
berusaha menenangkanku.
"Suruh
anak itu diam! Atau kubanting dia biar mati sekalian!"
"Astaghfirullah...mas...
Sadar!"
Bapak
menghampiri kami berdua. Ia merebutku secara paksa dari gendongan ibu. Aku
masih menangis dengan keras.
"Sini,
dasar anak bandel! Bisa diam tidak!?"
"Mas
jangan mas, dia masih kecil, tak tau apa-apa. Dia menangis karena takut."
"Bagus...
Kalau memang dia taku harusnya dia mau diam kalau kusuruh diam!"
Bapak
terus membentakku digendongannya. Aku takut...ibu aku takut pada
bapak....Selamatkan aku ibu.... Aku hanya bisa menangis dengan keras. Bapak
semakin kalap. Ia menaiki kursi dan menjulurkan aku. "mas... Aku mohon
jangan... Itu anak kita... Dia gak tau apa-apa, dia hanya bisa menangis makin
keras kalau mas bentak terus..."
air
mata ibu berlinang. Ia menangis memohon pada bapakku untuk memberikanku
padanya. Ayahku diam... Memandangku masih dengan tatapan emosi. Ia diam
memandangku tak berbicara lagi. Aku menggelinjang menangis di tangannya. Lalu
ia turun memberikanku pada ibu kemudian pergi mengambil jaketnya lalu
meninggalkan rumah.
"Sssttt....
Anak manis... Diam nak... Jangan nangis lagi, ibu disini sayang....
Ssssttt...." sekali lagi ia menyanyikan shalawat dengan pelan di telinga
kananku. "Shalatullah salammullah...Ala toha rosulillah..
Shalatullah...salamullah... Ala yaasin habibillah...." ibu terus
bershalawat hingga aku akhirnya diam di dekapannya kembali tertidur dengan
wajah damaiku.
Ia
membisikkan padaku, "cepatlah besar. Jadilah laki-laki yang baik, sholeh,
pintar dan bertanggung jawab kelak. Jangan kau seperti bapakmu nak."
***
seminggu
berlalu setelah malam itu. Bapak belum juga pulang. Ibu terus menunggu hingga
terkadang setiap kali seseorang membuka pintu ia bergegas membukakan berharap
itu bapak. Kasihan ibu... Ia begitu sedih dan terpukul karena kejadian itu. Ia
tak pernah menangis didekatku. Ia berusaha tegar, tapi aku bisa merasakan
hatinya menangis.
Siang
setelah dhuhur seseorang mengetuk pintu. Ibu waktu itu tengah berdzikir tak
jauh dariku. Ia kemudian bergegas membukakan pintu. Ia melihat seorang yang
amat ia kenal. "Assalamu'alaikum nduk."
"Waalaikum
salam paman. Mari masuk paman."
orang
itu masuk lalu duduk dikursi tamu.
"Bagaimana
kabarmu? Sehat kan?"
"Alhamdulillah,
sehat."
"trus
si Alif? Sehat juga kan? Mana dia sekarang?"
"sebentar
paman, tadi tidur soalnya. Tak lihatnya dulu."
ibu
mengambilku yang tak tertidur. Menggendong, lalu membawaku ke depan menemui
kakek.
"Eeee...
Alif.... Sini biar paman gendong. Kakek kangen alif.... Nang ning ning nang
ning nong Hmm..."
kakek
terus bercanda denganku.
"Aku
dengar, suamimu belum pulang seminggu ini?"
"Darimana
paman tau?"
"Paman
itu selalu tau, ada yang memberitahu paman. Kalian bertengkar lagi?"
wajah
ibu yang berusaha tegar kini menangis. Ia meluapkan segala kesidihannya.
"Entahlah
paman, apa dosaku sampai harus menanggung hidup seperti ini. Mungkin ini karma
yang kudapat dari hubunganku dengan mas Yanto. Aku..." ia tak sanggup
berkata lagi. Ibu kembali menangis, menunduk menutupi mukanya.
"Sudahlah....
Jangan kau menangis. Sabar... Ini cobaan, jangan salahkan kehidupanmu seperti
ini. Dia ini putramu, lahir dari rahimmu. Kau diwajibkan mendidik,
membesarkannya. Ingat itu."
ibu...
Sudah jangan keluarkan air matamu lagi. Aku juga bersedih ibu...
"Kau
sudah mengunjungi orang tuamu?"
"Belum
paman, aku tak berani. Aku takut mereka tak menerimaku dan Alif."
"dicoba
dulu... Insyallah mereka mau menerima."
"Tapi
kenapa selama ini mereka tak pernah mengunjungiku, paman?"
wajah
kakek hanya tersenyum, "apa yang tua harus selalu lebih dulu menemui yang
muda? Kamulah yang harusnya kesana."
"tapi
aku takut..."
"Rasa
takutmu itulah yang menghampat dan memutus tali silaturohmi antara anak dan orang
tua. Hari ini kita kesana. Kita bawa Alif. Paman akan menemanimu.... Ayo Alif.
Kita ke rumah kakek nenekmu..."
ibu
masih berdiam diri. "Sudah... Apa lagi yang kau pikirkan, cepat bersiap.
Aku dan alif menunggumu disini."
ibu
bersiap, ia menata diri serta mempersiapkan semua kebutuhanku apabila aku
ngompol. Akhirnya kami berangkat bersama. Dengan dibonceng kakek ibu
menggendongku. Kami mengendarai motor lama kakek, motor honda 70 nya yang masih
terawat.
Sesampainya
di rumah orang tua ibu, ibu masih tetap berdiri terpaku menggendongku. Ia masih
ragu dengan semuanya.
"Ayo,
nak. Sudah jangan takut. Ayo sini bareng sama paman."
ibu
mulai melangkah, rumah yg dulu ia tempati selama ibu kecil hingga dewasa. Rumah
yang terbuat dari kayu bercat hijau didepannya bergaya joglo. Dengan dua pohon
mangga di halaman rumah yang sampai kini masih berdiri kokoh. Perlahan langkah
kaki memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum"
rumah terlihat sunyi.
"assalamu'alaikum..."
terdengar jawaban jauh dari dalam rumah. Seorang wanita tak terlalu tua keluar
menghampiri dan menjawab salam kami. Ia mendekat.
"Waalaikumsalam....
Ehhh dek Amin. Masuk masuk." kemudian ia memandang disebelah kakek Amin.
Ia seolah tak percaya dan tak berkata banyak langsung memeluk ibu dan aku yang
berada digendongannya.
"Ya
Allah..."wanita itu menangis, ia menangis berbarengan dengan ibu.
"Astaghfirullah... Anakku.... Ya Allah.... Alhamdulillah kau pertemukan
kami...."
"Ibu...
maafin Aisyah ibu... Maafin Aisyah...."
"Gak
ada yang harus dimaafkan nak, ibu justru menunggu kamu pulang setelah kamu
dibawa suamimu. Ibu selalu berpikir tentangmu setiap hari. Ibu selalu
mendoakan. Kenapa tak pernah menengok ibu nak... Ibu sudah tua...."
"Aisyah
takut... Aisyah takut ibu tidak menerima Aisyah pulang kesini."
"Ya
Allah nak... pintu rumah ini terbuka lebar setiap hari, setiap menit, setiap
jam atau bahkan detik... Pintu ini terbuka lebar untukmu nak...."
"Maaf
ibu....." kemudian wanita itu memandang ke arah sosokku yang mungil
terbungkus selendang batik ibu...
"Ini
Alif bu... Cucu ibu...."
"Cucu
ibu? Alif??? Sini sayang... Cucuku sayang...." digendongnya aku... Inilah
pertama kali kurasakan gendongan nenekku sendiri. Nenek dari ibuku. Ia
menggendong dan terus menimang, menyanyikan tembang jawa dan beberapa kali
shalawat. Sesekali mengecup kening atau pipi mungilku. Ia juga membawaku masuk
ke dalam rumah.
"Bapak
dimana, Bu?"
"Tadi
bilang keluar sebentar. Tunggu saja paling bentar lagi bapakmu pulang."
"bu...
Aku takut bapak masih marah denganku seperti dulu."
"Tidak
usah takut dengan bapakmu, Pamanmu ini tau sifat bapakmu. Dia pasti sudah
memaafkan."
tak
lama berselang seorang laki-laki setengah baya masuk ke rumah memberi salam.
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam...."
pria
itu memandang ke arah ibu diam tak bicara. Ia terus berjalan bersikap dingin
memasuki kamar tanpa suara. Ia tak memperdulikan kami berada disitu.
"Bu.."
"Sudah,
biar ibu bicara dengan bapakmu."
"Paman...
aku takut...."
"Percaya
saja. Berdoa dalam hatimu."
Nenek
menyusul pria itu yang tak lain kakekku, ayah dari ibuku. Sambil menggendongku
ia memasuki kamar kakek. Ia melihat kakek bersujud.... Lalu berdoa dengan air
mata mengalir di pipinya.
"Ya
Allah... Terima kasih engkau membukakan hati putri hamba untuk menengok orang
tuanya ini ya Allah.... Hamba berucap syukur padamu...."
nenek
tersenyum lalu mendekati kakek.
"Pak,
ini cucumu... Alif... Namanya sama sepertimu." kakek langsung mengambilku
dari gendongan nenek. Ia menangis membawaku keluar menemui ibu dan kakek Amin.
Ia memeluk ibu....
Suasana
haru berlanjut hingga sore hari. Kami menginap untuk beberapa hari. Ibu melepas
semua kerinduannya pada orang tuanya. Sedikit mengobati kesedihan ibu karena
sikap bapak.
Bulan
demi bulan berganti, aku tumbuh besar. Kini aku tak lagi hanya berbaring atau
tengkurap. Aku sudah bisa terduduk... Namun keadaan ibu dan bapak masih tetap
sama, malah mereka sering bertengkar. Membawa-bawa aku. Bapak menyebut aku
bukan putranya atau kadang anak haram yang tak ia inginkan. Ibu selalu berusaha
menutupi telingaku saat bapak mengataiku. Tapi tetap saja aku masih bisa
mendengar disela tangisku yang keras.
Bulan
September pertengahan, sudah dua minggu bapak tak pulang ke rumah. Kondisiku
lemah tak berdaya. Badanku demam tinggi. Aku hanya bisa menangis karena itulah
yang bisa dilakukan seorang bayi sepertiku. Ibu bingung, ia terus berusaha agar
demamku reda. Hingga dua hari demamku tak reda, kakek Amin datang ke rumah
melihat kondisiku lalu membawaku ke puskesmas. Kondisiku semakin lemah. Aku
terkulai lemah di dekapan ibuku. Puskesmas menyuruh ibu untuk segera
melarikanku ke rumah sakit. Disana aku di opname. Jarum infus menembus kulit
lembutku. Di tangan mungilku inilah jarum itu menembus. Oksigen membantuku
bernafas. Ibuku terus menemaniku siang hingga malam. Aku tak tahu apa ia sudah
makan atau belum.
"Cepat
sembuh nak, bermain dengan ibu kalau sudah sehat ya." kata-kata dan doa ia
ucapkan setiap kali.
Tetangga,
saudara, kerabat menjenguk bergantian. Kakek dan nenek juga ikut menemaniku
dikamar. Mereka mendoakanku agar cepat sembuh. Berdoa dan terus berdoa,
terutama ibuku....
Malam
tiba di rumah sakit tempatku terbaring lemah. Sesekali saja aku menangis
mengisyaratkan sakitnya yang terasa. Tapi aku tau, sakit ini tak sesakit batin
ibuku.
"Assalamu'alaikum"
dua orang datang mengucap salam, ibu mengenal mereka.
"Waalaikum
salam,... Bapak.... Ibu..."
"Maaf
ya nak Aisyah, sebagai mertua kami selama ini tak terlalu peduli. Kami minta
maaf...."
"tidak
apa pak, bu."
"maaf
juga lho bapak dan ibunya Aisyah. Kami sadar kami salah. Anak kamilah yang
bersalah. Kami baru mendengar kalau cucu kami sakit."
"Tidak
apa-apa pak. Semua orang pernah melakukan salah."
kedua
kakek nenekku dari pihak bapakku mendekati mengecup dan menangis di dekatku yang
tertidur pulas. Tak lama mereka disini. Mereka mengobrol tentang anak mereka
dan kelakuannya. Ternyata selama ini bapakku di rumah orang tuanya.
Menggantungkan hidup disana meninggalkan kami. Kakek nenek berusaha menyadarkan
tapi tetap saja percuma.
Keesokan
harinya sore menjelang maghrib tubuhku kembali panas... Saat itu kakek dan
nenek sedang keluar membeli makanan. Sementara kakek Amin pulang. Ibuku tengah
membacakan ayat-ayat Al-Qur'an tak jauh dari tempatku terbaring. Kulihat dua
cahaya muncul dihadapanku saat tubuhku semakin panas. Denyut nadiku semakin
cepat. Ibuku berhenti lalu memanggil perawat serta dokter, ia menangis terus
menanyakan keadaanku. Ibu diminta keluar. Ia terus memandang khawatir ke arahku
dari jendela. Terlihat kakek nenekku datang berbarengan dengan Kakek Amin serta
istrinya. Mereka berdoa untukku, itulah yang dibiaikkan kedua cahaya di
sampingku. Kulihat satu lagi cahaya yang begitu silau dan terang. Ia membawa
sesuatu yang menakutkan. satu lagi cahaya muncul menenangkanku. Menutupiku dari
ketakutan. Rasa sakitku menghilang. Rohku terbawa keluar dari raga mungilku.
Kulihat ibu masuk bergegas memeluk sambil bercucuran air mata. Ia menangis,
berteriak memanggil namaku. Kakek nenek ku semua memutariku. Aku bisa melihat
mereka dari atas. Ayahku datang di saat terakhir beserta keluarganya. Ia
langsung menggendong tubuh dinginku. Ia menangis memelukku erat.
"Maafkan
bapak Alif....maafkan bapak.... Bapak selama ini menyia-nyiakanmu nak. Kau
putra bapak.... Kau Alif anakku... Maafkan bapakmu ini...."
ia
menangisi tubuh dinginku....
Tak
apa bapak, Alif sudah memaafkanmu. Alif mendoakan semoga bapak bisa merubah
diri menjadi orang yang baik....
Ibu....
Maafkan Alif yang tak sempat memenuhi janjimu. Alif belum bisa menjadi anak
yang pintar, sholeh dan bertanggung jawab seperti doamu. Alif pergi dulu
ibu.... Alif pergi dulu bapak.... Alif pergi kakek...nenek... Semuanya....
Sebuah
tangan penuh cahaya menjulur padaku.... Aku pergi meninggalkan mereka....
Kuucapkan perpisahan terakhirku.... Sampai jumpa di Surga Bapak......Ibu.......
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar