Teeetttt....teetttt...teeeett...
Bunyi bel sekolahku sudah berbunyi tanda kami beristirahat. Tak tunggu lama aku
langsung melesat ke kantin tak jauh dari kelasku. Bersama sahabat-sahabatku SMA
inilah, aku lebih sering menghabiskan waktu istirahat, jam kosong waktu di
kelas, waktu bermain dan entah kegiatan apa saja. Keempat sahabatku yang
mengisi hari-hari disekolahku, Erliana, Ida, Endita, Intan. Kami berjalan
sambil bercanda melewati kelas-kelas lain. Banyak kakak kelas atau teman sebaya
yang beda kelas sering menggoda, meskipun sebenarnya hanya menggoda kedua
sahabatku saja sih, Erliana dan Ida. Mereka memang cantik dan menarik dibanding
aku dan Intan. Hal yang biasa bagiku. Sampainya di depan kelas X-G aku sengaja
melirik ke dalam kelas berharap melihat orang yg aku sukai ada dibangkunya. Aku
memperlambat langkahku, perlahan kulambatkan kaki ini melangkah. Kulirik dan
kucari-cari kemana dia. 'Kok Kevin gak ada ya?' aku penasaran lalu kutengokkan
kepalaku, kudekati pintu kelasnya..... "Baaa!!!!!!" aku kaget
melangkah mundur sambil memegang dadaku. tak sengaja kuinjak kaki seseorang.
"Eh, maaf ya aku gak sengaja. Maaf banget..." kupalingkan wajah lalu
kulihat wajah yang kukenal. Seketika aku marah, "Doni, apa-apaan sih kamu!
Ngagetin orang aja! Kalo sampe aku pingsan gimana?!"
"Ya biarin, tar juga di
gotong ke UKS kan? Lagian salah siapa tengok-tengok kelasku?" ia berhenti
lalu melanjutkan, "Ohhhh... Aku tau," Doni membalikkan badannya lalu
memanggil seseorang, "Vin, Kevin! Nih di cari sama Adele. Kangen katanya.
Hehehe"
Langsung saja wajahku memerah
menunduk malu lalu tanpa pikir panjang kuinjak kaki Doni hingga ia kesakitan.
"wadoow!!!"
"Jangan ngmong seenaknya
ya!" aku lantas bergegas meninggalkan kelas X-G. Kudengar Doni mengumpat
dan terus mengatakan hal yang tidak-tidak. Meskipun memang sudah banyak yang
tahu aku suka dengan Kevin, tapi aku tetap masih merasa malu karena sampai
sekarang aku tak tahu bagaimana perasaan kevin padaku. Kupikir ia tak mungkin
suka denganku. Sikapnya yang dingin dan acuh itulah yang menutupi bagaimana
perasaannya.
Malam hari aku suntuk dan
bosan dikamarku. Kamar yang baru beberapa bulan kutempati. Maklum aku tinggal
di rumah bibiku. Berhubung jarak rumah orang tuaku dan sekolah jauh, jadi aku
ditempatkan di rumah bibiku. Disini aku merasa kurang nyaman. Yah... Tak
seperti di rumah orang tua sendiri, kadang apapun yang kulakukan salah dimata
bibi dan pamanku. Aku sering mengeluh pada orang yang bekerja untuk pamanku.
Dia mas Aldo, pekerja di distro milik pamanku. Sudah lama ia disana bahkan
sering aku curhat padanya saat malam. Jarak distro dan rumah tak jauh karena
hanya bersebelahan, jadi tinggal melangkah saja sudah sampai. Pada mas Aldo
inilah aku sering mengutarakan keluh kesahku, ia menasihati, memberi
petuah-petuah, memberi solusi bahkan kadang menghiburku. Malam itu aku
menemuinya lagi untuk curhat tentang Kevin. Kulihat ia sedang tidak sibuk. Aku
mengagetkannya dari belakang.
"Mas!" ia sama
sekali tak kaget dan menjawab dengan santainya, "apa....???" nadanya
begitu tak bersemangat.
"yeee... Gak semangat
banget sih. Sering senyum ngapa kayak aku nih... Hehe"
"Ya... Senyum dibalik
kesedihan bukan dari hatinya."
Jleb... Pas banget omongannya.
"Ada apa nemuin aku?
Biasanya di kamar sms'n terus sama Kevin."
"Hehehe... Gak mas, aku
udah gak pernah sms dia lagi. Sikapnya dingin banget, cueeeekk sekali kayak
kamu. Weekk."
mas Aldo hanya tersenyum sinis
saja. Aku lanjut bicara, "beberapa hari kemarin ada masalah mas. Aku di
giniin lah digituin lah kayak di buat mainan aja. Padahal lewat sms. Dia
didepanku aja gak pernah ada respon. Aku bingung mas, sampe sekarang dia itu
sebenarnya suka sama aku apa gak...
Aku masih gak tahu. Kalo
menurutmu dia itu suka sama aku gak ya mas?"
mas Aldo diam sejenak,
"ya mana aku tau kan. Lagipula aku gak pernah ketemu dia. Tahu aja
orangnya cuma foto doang."
"Hiiihhh... Maksudku dari
sikapnya yang kuceritain...." Mas Aldo diam terus, pikirannya seperti
menerawang ke alam jauh yang lepas. Ia berpikir atau menyimpulkan mungkin.
Karena yang kutahu seperti inilah mas Aldo, Orang yang aneh. "Gimana
mas?"
"Gak tau ah.... Aku tau
juga diam aja.... "
"Iiiihhh... Tu kan
pelit.... Huh! Sebel!"
wajahku kumanyunkan agar mas
Aldo mau berkata yang sebenarnya.
"Manyun aja terus, entar
mulutnya kujepit pake jepitan baju ini. Hhehehe."
aku tetap diam saja. Kali ini
kuputar badanku memunggunginya.
"Hadehh... Repot kalo
sama anak kecil. Udah jangan manyun, gak ada permen ini. Tukang balonnya juga
bilang kalo balonnya udah meletus semua, gak balon ijo doang yang
meletus." aku menahan tawaku. Tapi tetep kupunggungi dia. Aku menunggu mas
Aldo bicara. Sunyi sekali rasanya, ia tak bersuara sama sekali. Akhirnya aku
menengok kebelakang. ternyata mas Aldo malah menyibukkan diri dengan menggambar
desain kaos.
"Hiiiiiiiihhh....!!!!
Dasa mas Aldo, udah tau adiknya ngambek malah ditinggal buat desain kaos!
Dasar!"
"Abisnya mau gimana lagi?
Orang ngambek itu kalo didiemin malah bingung sendiri toh? Jadi ya biarin aja,
entar juga biasa lagi."
"Panteslah mbak Neni gak
mau sama mas, orang mas aja gak peduli gitu."
"Yah berarti dia gak mau
menerima aku apa adanya. Aku disuruh berubah? Kayak power ranger gitu?"
"Ya gak segitunya lah
mas. Ah udah ah capek ngmong sama mas. Mending tidur aja." aku menyerah,
melangkah ke kamarku dengan hati mendongkol. Sesampainya di pintu samping
distro ia memanggilku, "Del, bentar lagi kamu juga tau dia suka atau gak
sama dia. Lihat aja beberapa hari ke depan."
aku membalikkan badan ingin
bertanya karena penasaran dengan ucapan mas Aldo barusan, tapi yang ada mas
Aldo malah sudah sibuk dengan gambar-gambar desain kaosnya. Aku urungkan
niatku. Di dalam kamar aku terus terpikirkan dengan ucapan mas Aldo. Apa yang
akan teradi? Aku akan tahu tentang perasaan Kevin ke aku? Kira-kira apa ya? Ah
entahlah aku tidur saja. Besok masuk sekolah juga.
Entah memang salah atau
bagaimana, seolah aku disalahkan terus pagi itu. Yang inilah yang itulah, aku
dikata-katain yang tidak-tidak oleh bibiku sendiri. Malas, bodoh, gak tahu
apa-apa, kurang ini kurang itu. Aku seperti orang yang tertindas. Aku hanya
diam meskipun dalam hati ingin memberontak. Aku tertekan, ingin menangis tapi
untuk apa? Aku tahan air mata ini, aku terus menata buku sekolahku dan segera
bergegas berangkat sekolah sendiri. Hari ini tak mau aku berangkat bersama
bibiku. Aku merasa sakit hati karena perkataannya. Di sekolah teman-temanku
menyambutku, dihadapan mereka aku memperlihatkan seolah-olah tak ada apapun.
Aku berusaha kuat. Sedikit terlupakan hal tadi selama aku disekolah. Berkat
temanku inilah aku sedikit bisa melepaskan beban hati.
Entah kenapa selama pelajaran
pikiranku melayang kemana-mana tak jelas arahnya. Aku tak bisa berkonsentrasi
dengan apa yang diutarakan guru pengajar. Aku malah melamun sendiri memikirkan
masalahku dan perkataan mas Aldo beberapa hari yang lalu. Jantungku jga
berdegup terus sangat cepat, apa yang akan terjadi? Kenapa aku deg degan gini
ya?
Jam pulang sekolah sebentar
lagi, kurang dari sepuluh menit mungkin pelajaran usai. Jantungku makin
berdegup kencang. Ada apa ini? Aku berpikir hal yang tidak-tidak. Hingga bel
berbunyi detup jantungku makin cepat. Aku pulang bersama teman-temanku seperti
biasa. Kami berjalan melewati halaman sekolah, saat itulah tiba-tiba ada
seseorang yang menghadang jalan kami. Kevin?! Aku kaget.
"Del, bisa bicara
sebentar?"
teman-temanku saling pandang.
Aku sendiri pun bingung. Kuikuti saja dia mengajakku kemana. Akhirnya kami
berhenti di belakang kelas tepat dibawah pohon mangga.
"Maaf kalo kamu bingung
kuajak kemari. Aku mau menjelaskan sesuatu."
"Jelasin apa?" apa
tak bisa berkata banyak, jantungku terus saja berdetak kencang hingga nafasku
agak sesak.
"Sebelumnya aku minta
maaf dan mohon kamu ngerti. Aku...aku tuh gak ada perasaan apa-apa sama kamu.
Dan aku juga nganggep kamu tuh biasa kayak temen sms'nku yang lain. Jadi aku
harap kamu gak usah terlalu mengharapkan aku seperti yang anak-anak bilang.
Lagipula...." aku diam saja menahan diri untuk tetap tegar dihadapannya,
"lagipula aku udah jadian sama kakak kelas kita dan udah pacaran beberapa
bulan. Maaf ya Del." aku seperti orang tak sadar saja. Kakiku melangkah
sendiri meninggalkan Kevin yang masih berdiri di bawah pohon mangga. Aku terus
berjalan dengan raut muka tenang. Teman-temanku menantiku di gerbang. Kuhampiri
mereka lalu kami pulang. Aku sama sekali tak melihat ke arah Kevin. Hatiku
hancur, sakit, perih. Napasku benar-benar sesak ingin menangis. Dalam kamar
sesampainya dirumahlah aku bisa menangis dengan puas. Aku menangis meskipun
tanpa terdengar suara. Aku menangis melepaskan kesedihanku. Mungkin ini yang
dimaksud mas Aldo, tapi bagaimana ia bisa tahu? Bagaimana mungkin? Aku menangis
hampir semalaman tak keluar kamar. Hingga esok harinya aku bermaksud menemui
mas Aldo untuk bertanya dan menceritakan semua hal. Tapi yang kudapati ia tak
ada di distro pamanku. Tempat ia biasa duduk kini kosong. Aku mencarinya ke
setiap sudut berharap ia ada di sekitar situ. Tapi yang kutemui malah Pamanku.
"Mas Aldo kemana, Om?"
"Loh, kemarin malam kan
Aldo pamit ke luar kota. Dia mau kerja disana cari pengalaman baru. Tadi malam
mau pamit ke kamu tapi kamu gak keluar kamar. Ya sudah...."
"ohhh..." aku
berjalan gontai, saat aku butuh teman seperti ini satu-satunya teman curhat,
kakak dan sekaligus sahabatku malah pergi meninggalkan aku. Aku memandangi
langit kamarku dengan pandangan kosong. Menerawang entah kemana.... Pikiranku
tak tau arah..... Aku terus melamun dan melamun....
Lamunanku dibuyarkan suara
nada sms di hp ku. Dari mas Aldo!?
'Maaf gak pamit ya, dek.
Doakan aku sukses. Oh ya.... Udah tau maksud perkataanku beberapa hari lalu
kan? Itulah jawabannya. Kamu tau? Terkadang hidup memang tak seperti apa yang
kita harap. Ada jatuh ada bangun, ada senang ada sedih. Semua itu ada dalam
diri kita. Dari semua masalah, dari semua kesedihan dari semua hal itulah yang
membangun kita pada pendewasaan. Jangan terlalu bersedih dengan apa yang
terjadi. Jadikan pelajaran menuju dewasa. Sedikit berubah demi dirimu sendiri.
Aku pamit ya. Sampai jumpa
lagi ^_^'
aku terus memandangi tulisan
di layar hp-ku. Aku berusaha memahami setiap yang mas Aldo tulis. Air mataku
kembali mengalir di pipiku, ia jatuh dari mata mungilku yang agak sipit.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar