Rabu, 27 Juni 2012

Adele



Teeetttt....teetttt...teeeett... Bunyi bel sekolahku sudah berbunyi tanda kami beristirahat. Tak tunggu lama aku langsung melesat ke kantin tak jauh dari kelasku. Bersama sahabat-sahabatku SMA inilah, aku lebih sering menghabiskan waktu istirahat, jam kosong waktu di kelas, waktu bermain dan entah kegiatan apa saja. Keempat sahabatku yang mengisi hari-hari disekolahku, Erliana, Ida, Endita, Intan. Kami berjalan sambil bercanda melewati kelas-kelas lain. Banyak kakak kelas atau teman sebaya yang beda kelas sering menggoda, meskipun sebenarnya hanya menggoda kedua sahabatku saja sih, Erliana dan Ida. Mereka memang cantik dan menarik dibanding aku dan Intan. Hal yang biasa bagiku. Sampainya di depan kelas X-G aku sengaja melirik ke dalam kelas berharap melihat orang yg aku sukai ada dibangkunya. Aku memperlambat langkahku, perlahan kulambatkan kaki ini melangkah. Kulirik dan kucari-cari kemana dia. 'Kok Kevin gak ada ya?' aku penasaran lalu kutengokkan kepalaku, kudekati pintu kelasnya..... "Baaa!!!!!!" aku kaget melangkah mundur sambil memegang dadaku. tak sengaja kuinjak kaki seseorang. "Eh, maaf ya aku gak sengaja. Maaf banget..." kupalingkan wajah lalu kulihat wajah yang kukenal. Seketika aku marah, "Doni, apa-apaan sih kamu! Ngagetin orang aja! Kalo sampe aku pingsan gimana?!"
"Ya biarin, tar juga di gotong ke UKS kan? Lagian salah siapa tengok-tengok kelasku?" ia berhenti lalu melanjutkan, "Ohhhh... Aku tau," Doni membalikkan badannya lalu memanggil seseorang, "Vin, Kevin! Nih di cari sama Adele. Kangen katanya. Hehehe"
Langsung saja wajahku memerah menunduk malu lalu tanpa pikir panjang kuinjak kaki Doni hingga ia kesakitan. "wadoow!!!"
"Jangan ngmong seenaknya ya!" aku lantas bergegas meninggalkan kelas X-G. Kudengar Doni mengumpat dan terus mengatakan hal yang tidak-tidak. Meskipun memang sudah banyak yang tahu aku suka dengan Kevin, tapi aku tetap masih merasa malu karena sampai sekarang aku tak tahu bagaimana perasaan kevin padaku. Kupikir ia tak mungkin suka denganku. Sikapnya yang dingin dan acuh itulah yang menutupi bagaimana perasaannya.
Malam hari aku suntuk dan bosan dikamarku. Kamar yang baru beberapa bulan kutempati. Maklum aku tinggal di rumah bibiku. Berhubung jarak rumah orang tuaku dan sekolah jauh, jadi aku ditempatkan di rumah bibiku. Disini aku merasa kurang nyaman. Yah... Tak seperti di rumah orang tua sendiri, kadang apapun yang kulakukan salah dimata bibi dan pamanku. Aku sering mengeluh pada orang yang bekerja untuk pamanku. Dia mas Aldo, pekerja di distro milik pamanku. Sudah lama ia disana bahkan sering aku curhat padanya saat malam. Jarak distro dan rumah tak jauh karena hanya bersebelahan, jadi tinggal melangkah saja sudah sampai. Pada mas Aldo inilah aku sering mengutarakan keluh kesahku, ia menasihati, memberi petuah-petuah, memberi solusi bahkan kadang menghiburku. Malam itu aku menemuinya lagi untuk curhat tentang Kevin. Kulihat ia sedang tidak sibuk. Aku mengagetkannya dari belakang.
"Mas!" ia sama sekali tak kaget dan menjawab dengan santainya, "apa....???" nadanya begitu tak bersemangat.
"yeee... Gak semangat banget sih. Sering senyum ngapa kayak aku nih... Hehe"
"Ya... Senyum dibalik kesedihan bukan dari hatinya."
Jleb... Pas banget omongannya.
"Ada apa nemuin aku? Biasanya di kamar sms'n terus sama Kevin."
"Hehehe... Gak mas, aku udah gak pernah sms dia lagi. Sikapnya dingin banget, cueeeekk sekali kayak kamu. Weekk."
mas Aldo hanya tersenyum sinis saja. Aku lanjut bicara, "beberapa hari kemarin ada masalah mas. Aku di giniin lah digituin lah kayak di buat mainan aja. Padahal lewat sms. Dia didepanku aja gak pernah ada respon. Aku bingung mas, sampe sekarang dia itu sebenarnya suka sama aku apa gak...
Aku masih gak tahu. Kalo menurutmu dia itu suka sama aku gak ya mas?"
mas Aldo diam sejenak, "ya mana aku tau kan. Lagipula aku gak pernah ketemu dia. Tahu aja orangnya cuma foto doang."
"Hiiihhh... Maksudku dari sikapnya yang kuceritain...." Mas Aldo diam terus, pikirannya seperti menerawang ke alam jauh yang lepas. Ia berpikir atau menyimpulkan mungkin. Karena yang kutahu seperti inilah mas Aldo, Orang yang aneh. "Gimana mas?"
"Gak tau ah.... Aku tau juga diam aja.... "
"Iiiihhh... Tu kan pelit.... Huh! Sebel!"
wajahku kumanyunkan agar mas Aldo mau berkata yang sebenarnya.
"Manyun aja terus, entar mulutnya kujepit pake jepitan baju ini. Hhehehe."
aku tetap diam saja. Kali ini kuputar badanku memunggunginya.
"Hadehh... Repot kalo sama anak kecil. Udah jangan manyun, gak ada permen ini. Tukang balonnya juga bilang kalo balonnya udah meletus semua, gak balon ijo doang yang meletus." aku menahan tawaku. Tapi tetep kupunggungi dia. Aku menunggu mas Aldo bicara. Sunyi sekali rasanya, ia tak bersuara sama sekali. Akhirnya aku menengok kebelakang. ternyata mas Aldo malah menyibukkan diri dengan menggambar desain kaos.
"Hiiiiiiiihhh....!!!! Dasa mas Aldo, udah tau adiknya ngambek malah ditinggal buat desain kaos! Dasar!"
"Abisnya mau gimana lagi? Orang ngambek itu kalo didiemin malah bingung sendiri toh? Jadi ya biarin aja, entar juga biasa lagi."
"Panteslah mbak Neni gak mau sama mas, orang mas aja gak peduli gitu."
"Yah berarti dia gak mau menerima aku apa adanya. Aku disuruh berubah? Kayak power ranger gitu?"
"Ya gak segitunya lah mas. Ah udah ah capek ngmong sama mas. Mending tidur aja." aku menyerah, melangkah ke kamarku dengan hati mendongkol. Sesampainya di pintu samping distro ia memanggilku, "Del, bentar lagi kamu juga tau dia suka atau gak sama dia. Lihat aja beberapa hari ke depan."
aku membalikkan badan ingin bertanya karena penasaran dengan ucapan mas Aldo barusan, tapi yang ada mas Aldo malah sudah sibuk dengan gambar-gambar desain kaosnya. Aku urungkan niatku. Di dalam kamar aku terus terpikirkan dengan ucapan mas Aldo. Apa yang akan teradi? Aku akan tahu tentang perasaan Kevin ke aku? Kira-kira apa ya? Ah entahlah aku tidur saja. Besok masuk sekolah juga.
Entah memang salah atau bagaimana, seolah aku disalahkan terus pagi itu. Yang inilah yang itulah, aku dikata-katain yang tidak-tidak oleh bibiku sendiri. Malas, bodoh, gak tahu apa-apa, kurang ini kurang itu. Aku seperti orang yang tertindas. Aku hanya diam meskipun dalam hati ingin memberontak. Aku tertekan, ingin menangis tapi untuk apa? Aku tahan air mata ini, aku terus menata buku sekolahku dan segera bergegas berangkat sekolah sendiri. Hari ini tak mau aku berangkat bersama bibiku. Aku merasa sakit hati karena perkataannya. Di sekolah teman-temanku menyambutku, dihadapan mereka aku memperlihatkan seolah-olah tak ada apapun. Aku berusaha kuat. Sedikit terlupakan hal tadi selama aku disekolah. Berkat temanku inilah aku sedikit bisa melepaskan beban hati.
Entah kenapa selama pelajaran pikiranku melayang kemana-mana tak jelas arahnya. Aku tak bisa berkonsentrasi dengan apa yang diutarakan guru pengajar. Aku malah melamun sendiri memikirkan masalahku dan perkataan mas Aldo beberapa hari yang lalu. Jantungku jga berdegup terus sangat cepat, apa yang akan terjadi? Kenapa aku deg degan gini ya?
Jam pulang sekolah sebentar lagi, kurang dari sepuluh menit mungkin pelajaran usai. Jantungku makin berdegup kencang. Ada apa ini? Aku berpikir hal yang tidak-tidak. Hingga bel berbunyi detup jantungku makin cepat. Aku pulang bersama teman-temanku seperti biasa. Kami berjalan melewati halaman sekolah, saat itulah tiba-tiba ada seseorang yang menghadang jalan kami. Kevin?! Aku kaget.
"Del, bisa bicara sebentar?"
teman-temanku saling pandang. Aku sendiri pun bingung. Kuikuti saja dia mengajakku kemana. Akhirnya kami berhenti di belakang kelas tepat dibawah pohon mangga.
"Maaf kalo kamu bingung kuajak kemari. Aku mau menjelaskan sesuatu."
"Jelasin apa?" apa tak bisa berkata banyak, jantungku terus saja berdetak kencang hingga nafasku agak sesak.
"Sebelumnya aku minta maaf dan mohon kamu ngerti. Aku...aku tuh gak ada perasaan apa-apa sama kamu. Dan aku juga nganggep kamu tuh biasa kayak temen sms'nku yang lain. Jadi aku harap kamu gak usah terlalu mengharapkan aku seperti yang anak-anak bilang. Lagipula...." aku diam saja menahan diri untuk tetap tegar dihadapannya, "lagipula aku udah jadian sama kakak kelas kita dan udah pacaran beberapa bulan. Maaf ya Del." aku seperti orang tak sadar saja. Kakiku melangkah sendiri meninggalkan Kevin yang masih berdiri di bawah pohon mangga. Aku terus berjalan dengan raut muka tenang. Teman-temanku menantiku di gerbang. Kuhampiri mereka lalu kami pulang. Aku sama sekali tak melihat ke arah Kevin. Hatiku hancur, sakit, perih. Napasku benar-benar sesak ingin menangis. Dalam kamar sesampainya dirumahlah aku bisa menangis dengan puas. Aku menangis meskipun tanpa terdengar suara. Aku menangis melepaskan kesedihanku. Mungkin ini yang dimaksud mas Aldo, tapi bagaimana ia bisa tahu? Bagaimana mungkin? Aku menangis hampir semalaman tak keluar kamar. Hingga esok harinya aku bermaksud menemui mas Aldo untuk bertanya dan menceritakan semua hal. Tapi yang kudapati ia tak ada di distro pamanku. Tempat ia biasa duduk kini kosong. Aku mencarinya ke setiap sudut berharap ia ada di sekitar situ. Tapi yang kutemui malah Pamanku. "Mas Aldo kemana, Om?"
"Loh, kemarin malam kan Aldo pamit ke luar kota. Dia mau kerja disana cari pengalaman baru. Tadi malam mau pamit ke kamu tapi kamu gak keluar kamar. Ya sudah...."
"ohhh..." aku berjalan gontai, saat aku butuh teman seperti ini satu-satunya teman curhat, kakak dan sekaligus sahabatku malah pergi meninggalkan aku. Aku memandangi langit kamarku dengan pandangan kosong. Menerawang entah kemana.... Pikiranku tak tau arah..... Aku terus melamun dan melamun....
Lamunanku dibuyarkan suara nada sms di hp ku. Dari mas Aldo!?

'Maaf gak pamit ya, dek. Doakan aku sukses. Oh ya.... Udah tau maksud perkataanku beberapa hari lalu kan? Itulah jawabannya. Kamu tau? Terkadang hidup memang tak seperti apa yang kita harap. Ada jatuh ada bangun, ada senang ada sedih. Semua itu ada dalam diri kita. Dari semua masalah, dari semua kesedihan dari semua hal itulah yang membangun kita pada pendewasaan. Jangan terlalu bersedih dengan apa yang terjadi. Jadikan pelajaran menuju dewasa. Sedikit berubah demi dirimu sendiri.
Aku pamit ya. Sampai jumpa lagi ^_^'

aku terus memandangi tulisan di layar hp-ku. Aku berusaha memahami setiap yang mas Aldo tulis. Air mataku kembali mengalir di pipiku, ia jatuh dari mata mungilku yang agak sipit.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar