Tak ada pagi
tak seindah tanpa secangkir kopi. Itulah yang selalu ada di hari-harinya. Untuknya,
kopi adalah sahabat yang memberi semangat sebelum ia mencari uang demi
keluarga. Sedikit demi sedikit diminumnya sambil berangan di pagi cerah. ‘Hari ini,
semoga saja dagangaku habis di pasar’. Itulah yang ia angankan, sebuah
angan-angan sekaligus doa untuk hari ini. Ia menatap gerobaknya, jam masih
menunjukkan pukul setengah enam pagi tapi semua dagangannya sudah siap untuk
dijual di pasar. Di kehidupan yang keras seperti ini ia hanya bisa berjualan
saja, dengan kemampuan membuat bubur ia mengadu nasib untuk memenuhi
keluarganya. Mencari pekerjaan yang lain? Ia tak bisa, inilah kemampuan yang ia
miliki. Sekolah hanya mengecam sampai SMP saja. Dengan ijazah SMP yang ia punya
tak mungkin mendapat pekerjaan yang sesuai. Toh juga sama saja. Kemampuan membuat
bubur warisan ibunya inilah yang ia tekuni demi ketiga anaknya dan istrinya. Apalagi
ketiga anaknya sudah masuk bangku sekolah. Kebutuhan untuk keperluan sekolah
pun tak sedikit. Ia berjuang agar anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang
lebih tinggi darinya. Sebatas SMA pun taka pa pikirnya, syukur-syukur bisa
kuliah itu sebuah mukjizat dari Yang Kuasa.
“Bapak
sarapan dulu, biar ibu saja yang nyiapin piring sama sendok untuk dagang.”
“Iya, Bu. Bentar
lagi.
“Bentar lagi
terus dari dulu kalo suruh sarapan. Udah kopinya ditinggal dulu, nanti diminum
lagi kalo udah sarapan.”
Mukanya tersenyum
menuruti kata istrinya, ia pergi ke dapur melihat nasi sudah disiapkan. Dibukanya
tempat lauk, hm…..telur dadar yang diberi irisan cabai dan bawang. Selera makannya
langsung meletup, dilahapnya nasi dan lauk sederhana itu.
Kembali ia ke
depan, semua sudah siap sekarang. Sisa kopi ia habiskan seketika lalu berangkat.
Ia pamit pada istrinya lalu pada anak-anaknya di dalam. Di dorongnya gerobak
dengan penuh harapan. Semangatnya terus bergejolak. Perlahan ia mendorong
gerobak buburnya sampai di pasar yang sudah terlihat ramai. Jarak pasar dengan
rumahnya tak begitu jauh, hanya butuh lima belas menit saja ia sudah tiba.
“Hei, pak
Man. Tumben sekali terlambat datangmu?” sapa salah satu pedagang yang ia lewati.
“Biasa,
persiapan dulu. Buat tenaga itu penting.”
Ia terus
mendorong lalu berhenti di dekat pedagang sembako. “Wah, baru datang pak Man? Sudah
ditunggu Bu Masrup dari tadi tu. Dua kali kesini Cuma nyari bubur aja.” Sambil menunjuk
ke arah seorang wanita yang terlihat sibuk menawar wortel dan beberapa sayuran.
“Nanti juga
kemari, Bu. Kelihatannya masih sibuk.”
Ia mulai memarkir
gerobak lalu menata kursi untuk pembeli dan membesihkan tempat ia berdagang. Saat
masih bersiap dating seseorang menghampirinya, “Pak, buburnya satu. Lengkap tapi
gak usah pake sambel.”
Ia menengok, “Iya
mas, ditunggu saja.” Ia lalu sibuk menyiapkan pesanan orang tadi. Belum selesai
menyiapkan pesanan orang tadi, dari jauh seorang pedagang ikan memanggilnya.
“Pak Man! Satu
ya, aku tunggu disini!”
“Beres , Pak
Nur!” ia kembali sibuk menyiapkan bubur kembali. Lalu Bu Masrup menghampirinya
sambil membawa sayuran yang baru saja ia beli. “Pak Man, dua kali saya lewat
belum datang. Biasanya jam setengah enam sudah. Saya kira gak jualan.”
“Maaf, Bu…”
sambil sibuk menyiapkan bubur “…..tadi di rumah masih sibuk nikmatin kopi. Jadi
lupa waktu. Hehe….”
“Wah-wah,
gara-gara kopi saja sampai telat, tapi tak apalah. Ya sudah aku bungkus saja
lima.”
“Wah, tumben
sampai lima Bu. Biasanya Cuma dua sama bapak. Anaknya datang? “
“Iya, anak bungsuku
datang bersama anak istrinya.”
Ia mengangguk-ngangguk
lalu kembali sibuk pada pekerjaannya. Satu persatu pembeli datang. Lumayan pembeli
hari ini. Rejeki yang patut disyukuri.
Matahari sudah
diatas kepala, pak Man kembali pulang disambut istrinya yang sedang menyapu
rumah. Ia member salam lalu masuk ke dalam rumah mengobrol dengan istrinya
sambil menghitung uang dagangan yang ia dapatkan. Tak lama anak kedua dan
ketiganya datang dari sekolah. Mereka menyalami kedua tangan orang tuanya lalu
menuju kamar mereka dan berganti baju. Setelah mengganti baju sekolah mereka
pamit bermain. Pak Man beristirahat sejenak setelah itu. Ia tiduran di kamar,
sementara istrinyaterlihat menyibukkan diri di ruang depan. Tak ada tv, hanya
radio butut yang mereka miliki. Radio itulah satu-satunya hiburan keluarga ini.
Bila ingin melihat tv, mereka terpaksa melihat ditetangga sebelah.
Pukul setengah
dua lewat, anak sulungnya pulang sekolah. Wajahnya sedikit muram. Ibunya segera
bertanya, tapi ia hanya diam saja lalu masuk ke dalam kamar. Sampai sore hari
ia tak Nampak keluar. Akhirnya Pak Man bangun tidur lalu ditarik tangannya oleh
istrinya.
“Pak, si Dian
tadi pulang sekolah wajahnya muram. Pas ibu Tanya malah diam aja.”
Pak Man diam
seperti berpikir sesuatu sejenak, “Dimana dia sekarang, Bu?”
“Dari pulang
sekolah tadi masih di kamar, ibu gak berani manggil.”
“Ya sudah
panggilkan saja suruh kemari, kita ajak ngobrol saja. Siapa tahu ada masalah
yang dia sembunyikan.” Istrinya lalu bergegas memanggil Dian anaknya. Tak lama
keduanya muncul lalu duduk dikursi kayu sederhana menghadap ke arahnya.
“Kamu kenapa,
nak? Kata ibumu pulang sekolah kamu wajahnya muram trus ditanya diam saja. Ada apa?”
Dian masih tetap diam melihat kebawah tak berani menatap bapaknya.
“Iya, Nak. Kalau
ada masalah mbok ya cerita sama bapak sama ibu gitu.” Dian masih diam lalu melihat
kearah ibunya.
“Maaf, Pak….
Bu…. Sebenarnya Dian takut mau ngomong.”
“Lha buat apa
takut? Sama orang tuanya sendiri aja takut. Takut itu kalau salah, kalau benar
ya ngomong saja. Ada apa to sebenarnya?”
“Mmm…. Begini
pak. Besok dua minggu lagi ada try out di sekolah. Dan tiap siswanya harus
membayar sampai bulan Maret yang berarti membayar tiga bulan.”
Pak Man
langsung terdiam, ia hanya tersenyum saja sambil mengangguk. Ia tahu kenapa
anaknya bilang tiga bulan karena dua bulan lalu ia masih nunggak. Ia melamun hingga
anaknya bertanya padanya?
“Gimana pak? Bisa?
Soalnya wajib.”
Ia melihat istrinya
yang juga diam namun wajahnya penuh dengan pikiran yang mungkin sama dengannya.
Lalu menengok kearah anaknya sambil mengangguk. Dian sedikit tersenyum lalu
istrinya sedikit mencairkan suasana dengan mencari pembicaraan lain sejenak.
Masih terpikirkan
apa yang disampaikan oleh anaknya, ia merenung sambil menghisap rokok dan kopi
ada disampingnya. Pikirannya melayang bagaimana caranya memenuhi permintaan
anaknya. Demi pendidikan serta masa depan anaknya. Lamunannya buyar saat kedua putranya
pulang dari bermain. Mereka menghampirinya, “Pak….Pak….Andi minta dibeliin mobil-mobilan
kayak Riko ya… ya Pak? Biar bisa main kayak anak-anak.”
“Iya Pak.
Dodon mohon ya pak.”
Kedua putranya
memohon padanya. Ia diam sebentar, anaknya masih merengek terus dan terus…. Kini
pikirannya bercampur aduk. Entah apa yang harus ia bilang pada kedua putranya
ini. Ia tak tega, dilihatnya putranya begitu mengharapkan. Selama ini mereka
tak pernah meminta macam-macam. Hanya saja kali ini mereka benar-benar
menginginkannya. Akhirnya ia mengangguk saja, entah kapan ia membelikannya itu
urusan belakang. Kedua anaknya melonjak kegirangan, itulah yang membuat ia
tersenyum. Melihat keluarganya tersenyum, satu hal yang selalu ingin ia
lakukan.
Sehari
berselang, ia tetap beraktivitas seperti biasanya. Berjualan dan tetap seperti
biasa terlihat tegar dengan keadaan. Istrinya tetap bisa merasakan beban suami
yang ia cintai. Entah usaha apa yang harus dilakukannya, ia memberi saran pada
suaminya saat malam untuk menjual kalung satu-satunya yang melekat di leher. Tapi
suaminya menolak, alasannya itu pemberian dari almarhumah ibunya untuk dia.
Tak seperti
biasa, Pak Man hari itu pulang sore.
“Tumben bapak
pulangnya sampai sore. Sepi ya?” hanya senyuman saja jawaban dari suaminya.
Keesokan harinya
kembali lagi Pak Man pulang sore. Saat ditanya lagi-lagi hanya tersenyum saja
dan mengubah pembicaraan. Istrinya dibuat bingung. Keesokan harinya kembali ia
pulang sore. Akhirnya setelah empat hari ia pulang sore terus, hari ini ia
pulang seperti hari-hari biasanya dulu. Istrinya dibuat heran. Pak Man pulang
dengan wajah penuh senyum, beristirahat di kursi mengambil minuman yang
disediakan istrinya.
“Anak-anak
kalau sudah pulang tolong panggilkan ya, Bu. Bapak istirahat dulu.”
Hampir
saja istrinya bertanya dengan sikap suaminya yang aneh, tapi selalu saja
didahului dengan sikap lain yang membuatnya semakin bingung. Apa ini gara-gara
keinginan anaknya beberapa hari lalu?
Sore hari
sekitar jam empat sore, Pak Man dibangunkan istrinya. Ia segera mengambil wudhu
shalat ashar lalu duduk di ruang tamu. Istrinya keluar membawa secangkir kopi.
“Anak-anak
sudah pulang kan, Bu? Tolong panggilkan.”
Istrinya menurut
meskipun dikepalanya masih tersimpan tanda Tanya besar tentang keanehan
suaminya. Ia menuju kamar anak-anaknya. Satu persatu keluar mengikutinya di
ruang tamu kemudian duduk. Mereka diam termasuk istrinya yang berusaha tetap
diam meski ingin bertanya banyak.
“Begini…. Bapak
minta maaf kalau sikap bapak beberapa hari ini agak aneh. Mungkin ibu merasa
begitu, anak-anak juga.” Ia berhenti sejenak meminum kopi sedikit lalu lanjut
berbicara. “Sebentar ya, bapak mau ke kamar dulu, kalian disini sebentar.”
Pak Man masuk
ke kamar, tak lama ia kembali membawa tas kresek hitam kecil. “Dian….”
Putri
sulungnya mendekat, “Iya Pak…?”
“Ini ada uang
untuk bayar sekolahmu tiga bulan, sisanya untuk beli buku latihan ujian.” Dilihatnya
anaknya tersenyum senang lalu menerima uang yang dibungkus tas kresek kecil. Istrinya
tersenyum, lega melihat hal itu.
“Dan untuk
Andi dan Dodon….. sebentar….” Ia berdiri menuju ke gerobak mengambil sesuatu di
dalam. Pak Man masuk ke dalam rumah membawa kotak yang terbungkus kresek lalu
menyerahkan ke kedua putranya. Tak berpikir lama karena ingin tahu isi kotak
itu mereka membuka dan mendapatkan sebuah mobil mainan yang mereka inginkan. Keduanya
kegirangan dan lari ke depan segera memperlihatkan pada kawan-kawannya. Sebuah senyuman
yang benar-benar bahagia keluar dari wajah Pak Man. Sementara itu, istrinya
bingung dan mendekatinya.
“Bapak…..”
“Iya, Bu? Ada
apa?”
“Bapak dapat
uang dari mana kok bisa memenuhi semua keinginan Dian, Dodon sama Andi?”
Pak Man
tersenyum lagi sambil tertawa kecil, “Hehe…. Ibu tenang saja, uang itu halal. Dan….
Untuk semua kebingungan ibu akan bapak jawab sekarang.” Pak Man memotong
pembicaraannya karena meneguk kopi. “Bapak beberapa hari kemarin kan pulang
sore terus. Sepulang jualan, bapak ke rumah teman di pasar. Nah di rumahnya itu
lagi benerin rumah. Bapak ikut aja nguli, lumayan hasilnya buat bayar uang
sekolah Dian. Sebelumnya niat bapak mau hutang, eh… Alhamdulillah ada pekerjaan
tambahan.”
“Lha untuk beli
mainan Andi dan Dodon? Itu uang dari apa, Pak?”
“Nah…. Yang itu
bonus dari Allah….”
“Eh?”
“Bingung ya? Hehehe…..”
“Bapak ini,
diajak serius malah bercanda.”
“Bu…. Seberat
apapun masalah hidup kalau kita berusaha dan berdoa, semuanya akan berjalan
sesuai keinginan meskipun tidak sepenuhnya pas dengan keinginan. Manusia hanya
berencana tapi Allah lah yang menentukan. Uang yang bapak berikan ke Dian itu
hadiah dari seorang pelanggan bapak. Waktu jualan tadi pagi, langganan bapak
itu beli bubur yang tinggal satu porsi saja. Sambil cerita-cerita gitu. Nah beliau
merasa ada yang beda dengan bapak beberapa hari. Terus bapak cerita, eee………. Alhamdulillah
uangnya dilebihkan dan gak sedikit…. Nah begitu ceritanya, pulang tadi langsung
mampir ke pedagang mainan di pasar, eh dapat diskon juga. Sisa uang buat beli
mainan masih ini. Sekarang tak kasihin ibu sama ini uang buat bayar sekolah Andi
dan Dodon sekalian. Kalau ada sisa, terserah ibu.”
Pak Man
memberikan uang sisa yang ia ceritakan kepada istrinya. Dengan penuh senyum Pak
Man menepuk bahu istrinya lalu mengecup dahinya. Terjawab sudah keanehan pada
suaminya sore itu. Semua pikiran-pikiran negative yang menyelimuti pikirannya
beberapa hari akhirnya hilang. Suaminya berjuang demi mereka. Ia bersyukur
mendapat suami yang begitu pengertian. Lantas ia menyimpan uang tadi sambil
tersenyum, dengan hati lega, dan pikiran yang tenang.
jadi penulis ta mas ?
BalasHapussukses yoo ..
oiyo urukono aku ngeblog