“Pokoknya aku gak mau dinikahkan sama mas Bagiyo, Mbok. Aku belum mau nikah dulu. Aku gak mau dipaksa. Lha wong aku gak seneng sama dia.” Terdengar suaraku yang sedang protes kepada Ibuku sendiri tentang rencana perjodohanku dengan seseorang yang tak pernah aku sukai. Hatiku memberontak dengan keputusan Ibuku. Meskipun dia satu-satunya orang tuaku yang masih hidup.
“Halah, suka gak suka ya sama aja to nduk, kalo udah nikah kelak juga bisa tumbuh rasa suka. Kayak si Mbokmu ini pas ketemu sama Bapakmu.” Ibuku berusaha membujuk dengan memberi contoh tentang kehidupannya.
“Itu kan hidupnya si Mbok. Aku gak mau ya gak mau. Titik. Kalo masih di paksa aku bakal nekat.”
"Bocah kok susah dibilangin. Kalo sama Bagiyo kamu tuh bakal hidup bahagia. Kamu lihat to sawahnya sama rumahnya itu. Gak bakal hidup mlarat kamu kalo sama dia.”
"Iya, gak mlarat. Tapi hatiku yang bakal mlarat. Mbok mau anaknya menderita batin?” Ibuku langsung diam tak menjawab pertanyaanku itu.
”Wes, sama orang tua jangan ngeyel gitu. Pokoknya kamu harus mau sama Bagiyo. Mbok ya nyenengke orang tua gitu to. Punya anak kok gak mau diatur.”
Ibu langsung meninggalkan kamarku. Tak lama adikku datang menghampiriku yang sudah menahan tangis. Ia duduk disampingku, ”Sabar mbak Yu, Ibu memang orangnya kolot gitu.” tak kuasa aku menahan tangis lagi, akhirnya ku keluarkan semua kesedihanku di pelukan adikku, meskipun dia bukan saudara seayah denganku. Tapi dia bisa mengerti perasaanku. Setiap kali Ibu memarahiku, dia lah yang bisa menghiburku. Air mataku terus mengalir tak berhenti mengingat perjodohan itu. Kenapa kita tak bisa menentukan pilihan kita sendiri, hanya itu yang selalu ada dipikiranku. Semua tak adil, aku juga ingin menentukan pilihanku sendiri.
Desiran angin malam di desa menyanyikan lagu sendu, hatiku semakin mengingat kembali rencana perjodohanku dengan Bagiyo. Hatiku memberontak. Ingin aku pergi. Pergi? Mungkin kalau aku pergi dari rumah aku bisa menghindari perjodohan ini. Tapi kemana?
Tiba-tiba adikku masuk ke kamarku, ”Mbak Yu . . . Mbak Dar datang dari Cepu. Baru tadi sore tadi. Sekarang dia di rumah, ayo kita ke sana.”
Pas, aku berpikir bagaimana kalau aku pergi minggat ke Cepu saja dengan Mbak Dar. Dengan begitu Ibu bisa mengerti keinginanku dan mau luluh tak terlalu menekan. Tak banyak cakap aku pergi bersama adikku ke rumah Mbak Dar. Disana aku berbincang-bincang dan mengungkapkan keinginanku. Awalnya Mbak Dar hampir tak mau dengan ideku ini, tapi akhirnya ia mau juga membantuku. Lagipula dia juga tau Bagiyo seperti apa karena dulu teman saat bersekolah. Kelakarnya pun dia tahu dengan jelas. Ia memintaku bersiap, dua hari lagi kami akan berangkat ke rumahnya di Cepu. Adikku Pasini kuminta diam dan tak memberitahukan kepada Ibu atau Bapak angkatku.
Dua hari selanjutnya, aku berangkat tanpa pamit pada orang tuaku sama sekali. Adikku Pasini mengantarkanku, Mbak Dar juga sudah bersiap. Aku akhirnya pergi meninggalkan Desaku tepat pagi hari saat orang tuaku sudah berangkat ke sawah. Aku merasa lega, bebas dan tenang. Aku tak lagi terhimpit pikiran dan perasaan yang timbul dari rencana perjodohan. Aku seperti baru bisa bernapas setelah terhimpit oleh dua tembok yang begitu erat menghimpit tubuhku ini. Aku lega.
Sebulan setelah kepergianku dari rumah, entah berapa kali Ibuku datang memintaku pulang di rumah Mbak Dar. Tapi aku tetap saja tak mau. Alasannya masih sama, ingin aku pulang dan menikah dengan Bagiyo. Aku mendongkol dan memarahi ibuku. Entah kenapa, mungkin karena rasa emosiku selalu dipaksa. Tapi setelah itu ibuku tak lagi datang membujukku untuk pulang. Suatu pagi saat aku sedang membersihkan rumah, seseorang datang ke rumah Mbak Dar. Suaranya nampak kukenali, dia tak lain Bapak angkatku bersama adikku, Pasini. Kami bercakap-cakap sejenak. Mbak Dar juga turut bercakap-cakap. Akhirnya bapakku mengungkapkan alasan ia mengunjungiku hari itu.
”Bapak kesini untuk ngajak kamu pulang. Tapi terserah kamu mau apa gak pulang. Si Mbokmu juga sudah gak maksa kamu nikah sama Bagiyo. Mbok ya pulang sebentar lihat-lihat si Mbokmu itu. Kasihan kepikiran kamu terus.”
Aku diam saja mendengar ajakan bapak pulang. Aku menatap mata Bapak angkatku dan adikku. "Sampaikan sama si Mbok saja, aku masih pengen di sini. Nanti aku pulang kalau sudah puas disini. Gak usah terlalu mikirin aku.” Aku berhenti berbicara lalu memandang adikku, ”Kamu jaga si Mbok ya, nduk. Temenin dan kasih tau sama si mbok. Mbak nanti pulang, tapi gak tau kapan tepatnya.”
Setelah obrolan kami bersama, bapakku dan adikku pamit pulang ke desa. Berat sebenarnya melakukan ini, tapi aku benar-benar masih ingin di tempat Mbak Dar untuk beberapa waktu. Hingga suatu hari, mungkin inilah kejadian tak terduga yang memberiku kehidupan baru.
Di kampung Mbak Dar, Megalrejo memang ramai dengan orang-orang karena dekat dengan pasar. Meskipun malam terkadang banyak pedagang yang lewat. Suatu waktu ada seorang penjual Bakso yang lewat, ia kenalan Mbak Dar. Hanya saja sudah beberapa hari bahkan hampir satu bulan tak berjualan ke lorong ini. Ia lewat dan mampir. Mbak Dar yang ada di depan rumah memanggilnya, mereka sudah akrab. Aku hanya bisa melihat penjual Bakso itu dari dalam saja. Aku malu, penjual itu masih muda, tampan meskipun tubuhnya tak terlalu tinggi. Ia begitu telaten dengan pekerjaannya. Tiba-tiba aku dipanggil keluar.
”Yem. Keluar sini, kamu mau bakso apa tidak?” panggil Mbak Dar. Aku langsung keluar. ”Sudah pesan sana kalau mau.“ aku berjalan menuju pernjual bakso di depan. Entah kenapa aku merasa malu dan dadaku berdegup kencang.
”Mas, baksonya satu mangkok ya.” suaraku pelan sekali.
”Ha? Apa mbak?”
”Baksonya satu mangkok” suaraku agak kuperkeras lagi. Pernjual bakso itu tersenyum lalu menengok ke arahku. Pandangan mata kami bertemu sesaat, agak lama mungkin. Kami masih saling menatap sampai Mbak Dar berdehem di belakang kami. ”Ehmm . . .Ehmm . . .” ia kembali menyibukkan diri dengan dagangannya.
”Kamu siapanya Mbak Dar? Kok baru kali ini saya lihat.”
”Aku saudaranya dari desa, ya saudara jauh sih mas.”
”Oh . . . baru hari ini datangnya?”
”Mmm . . gak kok, sudah hampir satu setengah bulan. Lha mas sendiri kenal sama Mbak Dar berapa lama?”
”Wah . . . kalau itu sudah lama, Mbak Dar itu langgananku. Tiap kali ke lorong ini pasti dibeli.” Ohhh . . . jadi seperti itu, pantas pembicaraan mereka terlihat akrab saat aku di dalam tadi.
”Oh iya, nama kamu siapa? Aku Subandi.” ia mengulurkan tangannya sambil wajahnya tersenyum manis. Aku pun menanggapi dengan senyum dan mengulurkan tangan juga.
”Aku Lasiyem. Kamu orang mana? Logatmu bukan dari Cepu sini sepertinya.”
”Yaa aku memang bukan asli dari Cepu. Aku orang Blora, hanya saja mencari uang disini.”
”Kenapa malah kesini? Bukannya setahuku Blora itu kabupaten to?”
”Ah . . . iya sih, tapi kan sekali-sekali ke tempat lain gak papa. Nambah pengalaman juga perlu. Sebelumnya aku juga sudah pernah ke Jakarta. Tapi tak lama, gak betah sama kehidupan disana.” Bakso yang ia buatkan sudah jadi, padahal seharusnya bakso yang ia buat sudah jadi dari tadi. Berhubung kuajak mengobrol, penyajiannya pun agak lambat. ”Ini baksonya, spesial tak kasih Bakso yang banyak. Hehe . . . ”
Sambil makan, kami masih berbincang-bincang mengenal satu sama lain. Baksonya sangat enak di mulutku. Sementara Mbak Dar dari tadi memandangi kami yang ngobrol berdua. Ia hanya tersenyum-senyum melihat kami berdua. Singkat memang pertemuanku dengan Bandi, tapi sangat berkesan. Ia melanjutkan jualannya ke lorong-lorong di kampung.
Hari-hari berikutnya, kami semakin dekat. Kami akrab dengan cepat. Lama-lama aku merasa suka dengan dia. Tapi aku bimbang apa dia juga suka denganku. Entahlah, aku pasrah saja dengan takdir Yang Kuasa. Jodoh ditangannya itulah yang aku tahu. Semakin hari aku selalu terpikir oleh wajahnya, sikapnya dan sifatnya yang berbeda dari laki-laki yang kukenal selama ini. Ia juga lebih religius. Itu yang membuat aku suka, aku berandai kalau saja ia jadi suamiku kelak, ia akan menjadi seorang imam yang baik untukku dan mengajariku tentang agama. Pengetahuanku agama masih begitu sedikit, karena lingkungan desaku yang masih memegang adat istiadat yang amat kental. Juga masih adanya kepercayaan animisme. Hanya sedikit yang begitu tahu tentang agama di desaku. Karena itulah aku berharap lebih pada dia.
Hari pun berganti bulan, selama itu hubungan kami semakin jauh dan dekat layaknya seorang kekasih. Kami sudah mengungkapkan isi hati satu sama lain. Ia sudah begitu serius padaku, ia berjanji akan melamarku. Aku pulang ke desa disambut dengan orang tua dan saudara-saudaraku. Aku menceritakan kepada mereka yang sebenarnya. Lagipula Mbak Dar juga banyak membantu untuk menjelaskan. Akhirnya Ibuku setuju dan menunggu orang yang aku maksud.
Tiba hari yang ia janjikan untuk datang ke desa melamarku, ia didampingi oleh suami Mbak Dar, karena beliaulah yang menunjukkan jalan ke desaku. Subandi datang bersama keluarganya melamarku, tanggal pernikahan ditentukan oleh kedua belah pihak. Berselang satu bulan hari bahagia itu terjadi dalam hidupku. Kami menikah meskipun tak terlalu dibesarkan, tapi bagi kami itu sudah cukup. Kami kini bersama membangun rumah tangga. Aku banyak belajar darinya, tentang agama, kehidupan dan segalanya. Ia sosok suami yang baik, soleh dan bertanggung jawab. Kami masih tinggal bersama orang tuaku. Ia beradaptasi dengan keadaan desaku yang masih begitu memegang adat istiadat lama, yaitu kejawen yang amat kental. Ia merasa berbeda dengan lingkungan yang selama ini ia jalani di tempat asalnya dimana setiap orang begitu disiplin terhadap agama. Menjunjung agama sebagai hukum setiap hari. Tapi ia tetap bisa beradaptasi dengan baik. Banyak dari keluarga, sanak saudara dan tetanggaku yang suka dengan sikap suamiku. Aku merasa bahagia.
Tak lama beberapa bulan setelah itu aku di bawa ke Cepu kembali, mengontrak rumah untuk hidup bersama. Ia kembali ke dunia dagangnya sebagai penjual bakso. Sebuah hubungan rumah tangga baru tak mungkin seharmonis terus dan penuh dengan ketentraman. Kami juga terkadang bertengkar karena salah perbedaan pendapat. Hingga pernah aku pulang ke rumah orang tuaku tanpa pamit padanya. Ia tetap dengan sabar padaku. Tapi cek cok seperti itu berakhir dengan kata maaf dari kedua belah pihak.
Setelah tiga tahun kami menikah, aku baru mendapatkan seorang putri yang begitu cantik. Aku melahirkan di rumah orang tuaku. Aku dibawa ke desa saat hamil tua atas permintaan ibuku sendiri. Proses kelahirannya lancar meskipun tak menggunakan bidan. Karena memang didesaku belum ada bidan yang praktek. Hanya ada dukun bayi saja dan itupun orangnya sudah agak tua. Tapi kelahiran ini berjalan normal dan lancar.
”Anak kita cantik, Bu.” ia menggendong anak kami sambil terus memandanginya tersenyum. ”Cantik seperti ibunya” ia lalu memandangku. Anak pertama kami seorang perempuan. Ia cantik, mungil, sehat dan lincah.
”Kita beri nama siapa anak kita?” tanyaku padanya. Ia masih menggeleng.
”Aku belum punya nama untuknya. Biar bapakku saja yang memberinya nama. Beliau berpesan begitu padaku, jadi biarkan beliau saja.” Aku hanya menuruti perkataannya. Akhirnya anak perempuanku diberi nama oleh mertuaku "Siti Fatimah” berharap kelak ia akan seperti putri Rosul Muhammad yang solehah. Kami merawatnya dengan baik. Ia tumbuh dengan kasih sayang kami. Sikapnya manja dan pemalu tapi begitu cerdas. Berselang empat tahun aku kembali melahirkan anak kedua kami sama di desaku dan juga dengan bantuan orang yang sama. Ada sedikit kesalahan pada proses kelahiran anak kedua kami saat ia di selimuti oleh kain agar hanyat. Tangannya tertekan hingga saat ia dewasa tangannya tak bisa seperti layaknya anak yang normal, tapi dari tangan itulah ia begitu trampil dalam membuat segala sesuatu. Anak kedua kami bernama ”Nur Hadi Solikin”. Kali ini pihak keluargaku turut membantu memberi nama. Kedua anakku tumbuh dengan baik penuh kasih sayang. Si sulung selalu membantuku merawat adiknya. Suamiku tak lagi berjualan keliling. Ia kini ikut bekerja dengan orang di warung bakso ”Barokah”. Pemiliknya sangat baik pada keluarga kami bahkan sudah seperti saudara sendiri.
Tiga setengah tahun berselang anak ketiga kami lahir di Cepu. Saat itu suamiku baru saja pulang dari kerja jam 8 malam. perutku mengalami kontraksi. Dengan sepeda merah pemberian bosnya aku di boncengkan menuju bidan dekat rumahku meskipun sebenarnya rumah kami tak jauh dari rumah sakit, tapi tetap kami memilih melahirkan di bidan dekat rumah saja. Tepat pukul satu malam putra kami lahir dengan selamat, wajahnya mirip dengan anak pertama kami. Kali ini kami dibantu oleh mertuaku memberikan nama padanya. Kami berharap ia menjadi seorang anak yang soleh dan mampu menjadi kebanggan untuk orang tuanya. Mampu menghadapi dengan ketabahan kerasnya dunia. Kami memberinya nama ”Ahmad Sholeh” sesuai harapan kami. Sebuah nama sebuah doa, itulah alasannya.
Hari berganti hari hingga anak-anak kami tumbuh besar. Dengan kasih sayang yang tulus aku dan suamiku menafkahi serta membimbing agar kelak mereka menjadi anak yang berbakti dan berguna untuk orang lain serta dirinya sendiri. Tak ada seorang anak yang selalu terlihat baik. Sikap mereka selalu saja berubah tergantung kita mendidiknya, anak kami memang berbeda sifat satu sama lain. Bahkan kenakalan seorang anak kami anggap hal yang lumrah. Dari ketiga anakku, hanya anak bungsuku saja yang begitu manja terutama padaku. Ia begitu penakut kalau sendirian dan mudah rewel sampai ia besar pun masih begitu penakut juga manja. Tidur selalu ingin ditemani olehku. Makan minta disuapi meskipun umurnya sudah delapan tahun. Ia memang manja dan juga nakal. Begitu juga anak keduaku. Berbeda dengan anak sulungku karena perempuan, ia hanya bersikap biasa seperti anak perempuan lainnya.
Ekonomi keluarga memang pas-pasan, tapi bagi kami itu cukup. Suamiku kini berjualan sendiri dengan membuka warung tak jauh dari rumah. Penghasilannya cukup untuk keperluan hidup dan sekolah anak-anak. Hingga suatu ketika cobaan berat terjadi. Anak kedua kami yang baru saja memasuki bangku SMP harus dirujuk ke rumah sakit karena sakit paru-paru yang ia derita. Keluarga kami merasa berat dengan biaya yang harus di keluarkan, tapi alhamdulillah Allah memberikan bantuan. Selama satu bulan lebih anak kedua kami di rawat di RS Kariadi Semarang untuk kesembuhannya. Suamiku harus bolak-balik Semarang – Cepu karena anak sulung dan bungsuku harus di rumah. Aku merawat putraku dengan penuh kasih sayang hingga akhirnya ia sembuh meskipun di dadanya sampai saat ini masih tersisa bekas operasi.
Beberapa tahun kemudian, putriku telah menjadi seorang wanita dewasa. Kini ia menemukan jodohnya, aku tak ingin menentukan siapa yang mendampingi hidupnya karena dulu aku juga memberontak. Ia kuberi kebebasan memilih seperti aku dulu. Ia berjodoh dengan seorang pria saat bekerja di Pameran. Akhirnya mereka menikah. Selang beberapa bulan setelah putriku menikah itulah tubuhku tak lagi bisa menahan penyakit yang selama ini hinggap di tubuhku. Aku jatuh tak bisa seperti dulu. Berbagai macam usaha suamiku dan anak-anakku dilakukan untuk kesembuhanku. Penyakit liver ini semakin memburuk. Perutku membuncit, badanku semakin kurus. Aku hanya bisa tertidur lemah di tempat tidur. Aku merasakan ajalku sudah semakin dekat, tapi aku masih berpikir bagaimana aku bisa meninggalkan anak-anakku dalam keadaan seperti ini. Mereka belum banyak kudidik, terutama anak bungsuku yang begitu manja padaku, begitu dekat denganku dibanding kakak-kakaknya. Aku tak ingin ia bersedih karena kepergianku.
Usaha suami dan anak-anakku selama beberapa bulan sedikit membuahkan hasil, aku sudah mulai membaik, kondisiku membuat mereka senang. Tapi aku merasa inilah mungkin waktunya Yang Kuasa akan segera mengambilku. Aku memanggil putriku yang saat itu tengah hamil lima bulan. ”Nak, . . ” suaraku lemah namun putriku mendengar dan mendekat.
”Ada apa, Mak?” panggilan khas dari anak-anakku yang terbiasa memanggilku dengan sebutan ’Mak’.
”Mak minta di cium sini.” sikapnya merasa aneh dan sedikit berontak.
”Mak’e ini lho ada-ada saja, minta cium segala kenapa?”
”Gak papa, cium aja ya.” Ia tak banyak bicara lagi lalu menciumku dengan kasih sayang. Mungkin hanya ini salam perpisahan yang bisa kuucapkan untuk putriku dan calon cucuku. Sayang aku tak bisa melihatnya tumbuh.
"Perutmu sudah besar, sebentar lagi anakmu lahir. Rawat dengan baik dan penuh kasih sayang ya, Nduk.”
”Iya Mak . . . aku mau ke dapur dulu masak. Tak tinggal dulu ya.” aku hanya mengangguk pelan.
Hari berikutnya, makanku begitu lahap dan banyak membuat anak dan suamiku senang. Tetanggaku silih berganti menjengukku melihat kondisiku yang sudah berubah sedikit membaik. Saat sore putra keduaku mendekat di kamar. Aku memanggilnya. Sama seperti kakaknya ia kuminta mencium pipi dan keningku. ”Jaga adikmu baik-baik. Jaga juga nama baik keluarga ya. Ndang mari.” itulah pesanku padanya. Mungkin ia tak merasa itu pesan terakhirku.
Siang hari esoknya, waktunya orang yang memijatku datang. Suami dan anakku kaget serta jengkel karena aku menolak untuk di pijat saat itu juga. Aku meminta agar orang itu kembali sore nanti saja. Akhirnya, mau tak mau mereka menurut. Setelah shalat Jum’at, anak bungsuku pulang duluan. Ia terlihat berdandan di depan cermin bersiap untuk keluar. Aku sedikit senang melihat keadaan anak bungsuku ini banyak berubah. Dulu ia begitu menggantungkan orang lain, kini ia sedikit mandiri dan lebih berbeda pemikirannya semenjak aku jatuh sakit. Ia lebih mandiri dan berusaha membuktikan bahwa ia bisa mandiri di depanku. Ia kupanggil, ”Nak . . . ” ia menengok dengan cepat ke arahku lalu mendekat. Sisir yang ia gunakan masih ia pegang. ”Kamu mau kemana?”
”Mau keluar sama Bangkit dan Wahyu ke rumah teman.“ Ia kembali ke depan kaca menyisir rambutnya.
”Jangan Pacaran dulu ya, nak. Sekolah yang pinter dulu.” Ia kaget mendengar aku berbicara seperti itu. Tapi iya menjawab ”Iya”. Aku melanjutkan perkataanku. ”Shalatnya ditegakkan dengan rajin. Buat bangga Mak sama Bapak. Ingat pesen Mak.”
”Iya.” ia tak merasa sama sekali aku mengucapkan salam perpisahan. Aku memanggilnya mendekat dan meminta menciumku. Ia mencium kedua pipiku dan keningku lalu memelukku. ”Pokoknya, Mak cepet sembuh.” lantas aku mencium pipinya dan keningnya. Setelah itu ia mencium tanganku berpamitan karena temannya sudah memanggil. Aku hanya bisa diam saja. Sekarang aku sudah ikhlas meninggalkan anak-anakku terutama anak bungsuku karena kulihat ia sudah mandiri dan pemikirannya agak dewasa.
Sore hari, orang yang memijatku datang. Saat di pijat itulah kurasakan malaikat Izrail datang menjemputku dan menarik pelan ruhku terlepas dari ragaku. Tak ada yang sadar. Mereka masih bersantai sejenak setelah memijatku. Napasku sudah ada diujung ubun-ubun. Lepas sudah ruhku dari ragaku. Putriku masuk ke dalam kamar bermaksud menanyaiku seperti biasa. Ia merasa aneh dengan keadaanku. Ia memeriksa denyut nadi dan nafasku. Ia menjerit memanggil suamiku yang akhirnya menangis bersama. Hanya putra bungsuku yang tak tahu aku meninggal. Tapi seorang malaikat sudah ditugaskan memberinya tanda-tanda. Aku tertidur meninggalkan mereka dengan rasa ikhlas. Wajahku diselimuti senyum kebahagiaan dan keikhlasan. Mungkin aku tak ada lagi disamping mereka kelak, tapi kasih sayangku masih ada di hati mereka sampai mereka kembali bersatu bersamaku kelak. Rasa kasih sayang cinta inilah yang akan melindungi mereka selama hidup di dunia. Selamat tinggal suamiku, selamat tinggal calon cucuku, selamat tinggal saudara-saudaraku, selamat tinggal anak-anakku.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar