Minggu, 12 Februari 2012

Sesal tak Berarti

Sunyi senyap, hanya aku sendiri memandang kosong tembok di ruangan tempatku berada. Kesepian, itulah keinginanku. Sengaja aku menginginkan kesepian yang bersamaku selama ini hanya karena suatu hal. Dan dari itulah aku bisa lebih merenungi semua kesalahanku.
Dibalik jeruji besi ini aku menghabiskan waktuku selama 15 tahun karena kesalahan yang kuperbuat di masa laluku. Kesalahan yang selalu membuatku menyesal hingga saat ini sekalipun. Karena kesalahanku inilah, semua orang yang kukenal perlahan menjauhiku dan menelantarkan keadaanku yang seperti ini. Mungkin hanya beberapa dari mereka yang masih peduli dan mau menjenguk meski sebentar. Bahkan keluargaku sendiri, ayah, ibu, kakak dan beberapa saudara serta sahabatku tak ada yang pernah menjenguk. Hanya adik perempuanku saja yang menjenguk meski hanya 1 kali saja. Itupun untuk memberitahuku bahwa dia akan menikah. Dia ingin meminta restu dariku, meski orangtuaku tak mengijinkannya untuk memberitahuku.


Hanya dia saja yang menjengukku. Tapi, sebenarnya bukan hanya adik perempuanku saja yang menjengukku. Baru-baru ini ada seorang bapak-bapak yang mungkin berumur sekitar 60-an menjengukku. Aku tak pernah tau  dan tak pernah mengenalnya. Tiba-tiba saja beliau tau semua tentangku. Suatu hal yang misterius. Beliau seperti memberi air padaku yang kehausan akan pengertian dan membukakan mataku tuk tersadar bahwa hidupku tak berakhir disini. Saat aku bebas itulah jalan hidupku yang  baru dan yang harus aku pilih. Kami berbincang tentang aku, masa laluku, hingga dia menyadarkanku tentang apa yang membuatku salah selama ini. Beliau juga yang membuatku mengingat kembali waktu itu, kejadian yang tak pernah bisa aku lupakan.

Malam itu, aku sedang berkumpul dengan teman-temanku. Sekedar nongkrong di warung. Hingga salah satu temanku datang dan memberi kabar tentang pacarku. Ya, pacarku bernama Rini Atikawati, seorang Mahasiswi di perguruan di kotaku berada. Dia cantik, baik, dan pengertian. Malam itu kawanku Indar melihatnya berdua bersama orang lain. Sebuah pukulan berat untukku. Meskipun begitu aku tetap berusaha tenang dan menahan emosi. Aku berfikir mungkin itu saudara atau temannya, karena dia bercerita padaku teman laki-laki sekampusnya memang banyak dan kadang mengajaknya keluar. Aku menaruh kepercayaan padanya. Perkataan temanku serasa seperti angin saja setelah hal itu.
Beberapa kali dari temanku yang berbeda juga memberitahukan hal yang sama. Aku selalu menepis segala pembicaraan temanku tentang dia. Entah kenapa aku terlalu percaya padanya. ’Aku akan percaya bila melihat dengan mata kepalaku sendiri’, itulah kata yang kuucapkan kepada teman-temanku. Hingga suatu malam aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Orang yang kupercaya ternyata selama ini bermain api di belakangku. Kepercayaanku selama ini percuma dan sia-sia. Di tengah restoran itulah aku bertengkar dengannya. Keadaan begitu panas, orang-orang melihat kami dan laki-laki yang bersamanya berusaha untuk bicara. Tapi semua itu sia-sia, sebuah tinju kuhadiahkan padanya beberapa kali hingga dia tak bisa berdiri. Kutinggalkan dia babak belur dan kubawa pacarku denganku meski  sedikit memaksa.
Keadaanku kalap tak ada lagi akal sehat dipikiranku, yang ada hanya rasa emosi yang meletup-letup. Aku mengendarai motorku dengan kencang di jalanan kota seperti tak takut untuk mati dan tak berfikir siapa yang kubonceng di belakang. Berkali-kali dia memukulku untuk pelan tapi tak kuhiraukan. Di rumah kontrakanku lah aku berhenti. Di sana kami melanjutkan bertengkar. Pintu kukunci, tetangga tak ada yang tau. Kuinterogasi apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Dia menjawabnya dengan jujur memang laki-laki tadi selingkuhannya. Dia seperti itu karena kami jarang bertemu dan selalu tak dianggap kalau aku sedang dengan kawanku atau bekerja. Dia terus berbicara dan berbicara hingga tak sengaja tas hitam yang biasa dia bawa terjatuh. Barang-barang berjatuhan, HP, dompet, beberapa buku dan alat rias, juga barang yang samar-samar dan aku tak yakin dengan yang kulihat. ’Pil KB?’ pikirku. Hening sesaat tanpa kata hingga aku mulai berbicara,
”Apa itu tadi? Pil KB kan? Untuk apa kamu bawa barang itu? Jawab!” Dengan nada penuh amarah meskipun agak kupelankan agar tetangga tak tahu. Meskipun kutanya dia tetap saja diam tak menjawab dan wajahnya semakin pucat.
”Jawab, Rin! Aku tanya kenapa kamu bawa Pil KB segala?! Atau jangan-jangan . . . .” aku menghentikan pembicaraanku dan memikirkan dugaanku hingga melanjutkan kembali perkataan yang tadi terpotong. ”. . . . kamu berusaha menutupi semuanya agar kamu tak hamil?! Kamu sudah melakukan dengan siapa?! Temenmu tadi?!” bentakku.
Wajahnya berlingan air mata dan bersujud dihadapanku, ”Maaf, Ko. Aku . . . . aku . . . aku memang udah melakukannya tapi karena aku dijebak temenku itu. Dia bakal ngasih tau ke kamu kalau kami pernah berhubungan badan. Aku minta maaf banget.”
Astaga. Apa tak salah apa yang kudengar ini? Amarahku semakin memuncak tak sengaja kubangunkan dia dan kutampar sekuat tenaga. Plaakk. Kulihat dia terkapar di lantaiku. Cukup lama kubiarkan dia seperti itu. Tak sadarkan diri atau kenapa? Sedikit rasa takut dan bimbang, lalu perlahan ku dekati tubuhnya. Kuperiksa denyut nadi dan nafasnya. ’Ya Allah, tak ada denyut nadi. Nafasnya juga berhenti.’ Aku sadar dia  meninggal setelah kutampar tadi. Kuingat-ingat bagaimana bisa tamparanku membunuhnya, aku takut harus bagaimana pun aku bingung. Baru aku tersadar, saat kutampar tadi amarahku tinggi dan mungkin tenaga dalamku ikut keluar hingga mengenai kepalanya. Untuk orang sepertiku yang pernah ikut suatu perguruan pencak silat dengan tenaga dalam itu mungkin sekali. Aku bingung, menangis sendiri di rumah kontrakanku. Apa yang harus aku lakukan, pikiranku kacau dan berjalan mondar-mandir. Bagaimana bila teman satu kontrakanku pulang dan tau aku membunuh orang, bagaimana kalau orang-orang tau. Tiba-tiba seperti ada setan membisikiku, aku segera mengambil pisau di dapur dan juga golok. Kuseret tubuhnya dikamar mandi. Disanalah aku memotong-motong tubuh pacarku sendiri menjadi 6 bagian. Kumasukkan potongan tubuhnya ke dalam kantung plastik dan di kardus. Aku ambil satu bungkus kapur barus di dalam lemari dan kuhancurkan lalu kutaburkan ke atas potongan tubuhnya. Merasa kurang aku menaruh es batu dan berharap tak akan menimbulkan bau. Kemudian setelah beres aku keluar dan membuangnya terpisah. Saat kembali semua seperti tak pernah terjadi apa-apa meskipun aku masih sedih dengan apa yang kulakukan dan berusaha menutupinya.
Mungkin benar kata pepatah, ”Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga”. Sebulan kemudian, potongan tubuh pacarku satu persatu ditemukan dan diselidiki. Aku pulang ke desaku untuk minta maaf pada orang tuaku. Mereka bingung kenapa aku minta maaf dan tak memberitahu apa masalahnya. Aku meninggalkan mereka dengan tanda tanya. Ah biarlah toh mereka akan tahu juga lama-lama. Lalu aku berangkat ke rumah orang tua pacarku yang sudah selama satu bulan tak mendengar kabar anaknya. Aku menjelaskan kami bertengkar dan meminta maaf. Sama seperti keluargaku aku juga membuat mereka bertanya-tanya kenapa aku meminta maaf pada mereka. Aku hanya mengatakan kalau mereka besok akan tahu kenyataannya.

Setelah permintaaan maafku itulah aku mengendarai motorku dengan hati penuh kebimbangan, tapi kubulatkan tekatku dan terus melaju ke tempat tujuanku. Aku berhenti, salah seorang petugas menanyaiku. Aku meminta berbicara dengan petugas yang menangani kasus pacarku tadi, identitasnya memang belum diketahui saat itu karena bagian tubuh yaitu kepalanya sengaja kusembunyikan di suatu tempat. Aku mengaku bahwa nama korban adalah Rini Atikawati seorang mahasiswa dan berusia 21 tahun. Akupun juga mengaku akulah yang telah membunuh korban dan melakukan tindakan kejam itu. Memutilasi pacarku sendiri. Sedikit kebimbangan dimata polisi yang mendengarku hingga aku memberikan beberapa bukti. Esok harinya kasus itu ditutup dan menuju sidang di pengadilan. Disitulah aku divonis hukuman 15 tahun penjara. Kulihat keluargaku tak ada yang datang saat vonis dijatuhkan. Hanya keluarga pacarku saja, yaitu kakak perempuannya yang hadir. Aku meminta pad hakim untuk ditempatkan di sel penjara sendirian tanpa ada tahanan lain. Aku beralasan takut membuat rusuh lagi dengan keadaanku. Semua itu diterima, mereka berfikir mungkin kondisi psikologisku waktu itu yang tidak labil.

Pagi menjelang, setelah shalat subuh yang aku kerjakan di dalam sel tahanan. Aku langsung bersiap membereskan pakaianku. Hanya beberapa lembar kain yang dibawakan adikku saja. Kumasukkan semua di dalam tas. Tahanan terbuka, kulihat petugas di depan sel ku. Tahanan lain melihatku dengan kebisuan sepanjang jalan, hingga salah seorang memanggilku. ”Hoi, Dir. Selamat karena sudah bebas. Maaf kalau selama di sel tahanan kami tak pernah mengajakmu bicara.”
”Tak apa, itu memang kemauanku. Selamat tinggal.” perlahan aku mulai meninggalkan mereka. Para petugas memberi selamat padaku. Memberiku beberapa nasihat, lalu aku keluar dari pintu LP tempatku ditahan. Pertama kalinya kulihat matahari pagi yang selama ini tak pernah terlihat di sel tempatku berada. Kuhirup udara yang ada. Tas kujatuhkan dan kubentangkan tanganku merasakan kembali udara kebebasan. Lalu aku membuka mataku. Sepi terasa sepi. Hanya beberapa motor yang lewat dan taka da satupun yang menyambutku disana. Tak apa pikirku, lagipula aku memang tak berharap mereka ada disini. Aku tak ingin melibatkan mereka ke dalam masalah yang besar lagi. Cukup dengan nama keluarga yang jelek itu saja membuatku jera. Akupun tak ingin melihat wajah ibuku yang sangat sedih saat melihatku. Terlalu mengecewakan.
Terdengar suara motor berhenti, dan suara langkah mendekatiku. Dia memangilku dan aku seperti kenal dengan suara ini.
”Dir, sorry aku telat.” Itulah yang terdengar. Aku menengok kearahnya dan kulihat sahabatku waktu SMA kakak dari Rini pacarku yang kubunuh. Aku tak menyangka kalau dia yang masih peduli denganku.
”Kamu . . . Ren. Tapi kan . . . ”
”Semua udah aku maafin, aku juga tahu kamu seperti apa. Memang waktu pertama kali aku tak bisa terima. Saat dipersidangan dulu aku hanya diam saja. Aku udah maafin kamu. Aku kemari juga diminta bapakmu. Beliau yang menyuruhku menjemputmu karena sekarang kondisinya sudah renta. Keluargamu menanti. Ayo.”
Berita yang menggembirakan kudengar setelah lama renungan yang kulakukan,  menyalahkan diri sendiri dan membiarkan diriku selalu berfikir hal yang mustahil. Kenyataan yang kini kudengar berbeda dari apa yang kupikirkan.
"Bagaimana dengan om dan tante? Apa mereka . . . ”
”Mereka juga sudah memaafkanmu. Alhamdulillah, mereka berfikir sama denganku. Lagipula semua sudah berlalu.” Sebuah senyum merekah dibibir Rendy. Membuatku yakin apa yang dikatakannya benar. ”Satu hal lagi, kami sudah tahu keadaan Rini saat itu, Nita yang bercerita padaku bahwa saat  itu dia hamil dan berusaha menggugurkannya. Dari situ kami menarik kesimpulan.”
’Terima kasih ya Allah, terima kasih karena Engkau memberikan maaf pada-Ku dari orang-orang yang sudah aku dzalimi hatinya.’
”Jadi, ayo kita pulang ke rumahmu. Keluargamu mungkin sudah menanti.”
”Maaf sebelumnya, Ren, tapi aku gak bisa pulang ke rumah.” Kulihat wajah Rendy bingung.
”Kenapa? Apa kamu masih tak ingin bertemu keluargamu dan takut pada kenyataan yang ada? Semua sudah berubah, Dir.”
”Aku tahu. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan berjanji pada seseorang untuk ikut dengannya. Tolong sampaikan saja pada orang tuaku dan keluargaku semua juga orang tuamu. Aku tak ikut pulang denganmu.”
Rendy diam merasa bingung. Dia menghela napas lalu berkata, ”Kenapa kamu  begini? Kamu mau kemana?”
”Aku akan ke Jombang. Tepatnya Pondok Pesantren Darul Iman. Aku akan belajar dan mendalami tentang ilmu syariat dan juga Al-Qur’an. Aku sadar, kejadian ini teguran untukku karena tak pernah mempelajari dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim.” Kutatap wajahnya lekat, senyumku mengembang. Benar dia hanya diam saja tapi setelah itu dia bisa mengerti dan membiarkanku menuju jalan dan langkahku yang baru. Sepucuk surat yang kutulis secara mendadak saat itu juga kutitipkan untuk keluargaku. Uang yang diberikan oleh orang tua itulah yang kugunakan untuk menuju kota Jombang. Uang ini sengaja dititipkan kepada petugas dan memintanya diberikan saat aku keluar tahanan. Kutinggalkan sahabatku, kakak dari pacarku yang kubunuh dan juga pembawa pesan untuk keluargaku berdiri terpaku melihat kepergianku. Langkah baruku dimulai. Dan langkah baru inilah yang akan kugunakan sebaik-baiknya. Aku harap semoga Bapak dan Ibu bisa mengerti keinginanku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar