Minggu, 12 Februari 2012

For my Love


“Pak . . . Bapak . . . bangun, udah adzan subuh. Jamaah dulu di masjid.” Suara lembut terdengat dari seorang yang begitu cantik meski wajahnya sudah sedikit terlihat keriput dimatanya. Tapi kilauan cahaya kecantikannya tak pernah padam, meskipun usianya kini tak semuda dulu. “Pak . . . . bangun dulu . . .” lanjutnya membangunkan suami yang ia cintai.
“Hmmm . . . . iya . . . “ suaminya bangun sambil mengucek matanya dan memandang istrinya sekarang sedang mempersiapkan pakaian untuk Shalat lalu dilihatnya pergi dari kamar. Dia bangun dan segera keluar kamar juga, mengambil air wudhu. Sementara di kamar sebelah wanita tadi mengetuk-ngetuk pintu perlahan membangunkan putranya yang sulung. Lama dia menungggu jawaban anaknya bangun, tapi dia terus berusaha. “Kakak . . . . bangun kak, udah subuh.” Kata itu diulang-ulang berkali-kali sampai akhirnya terdengar sahutan dari dalam menjawab suara wanita tadi. “Ya bu . . . . sebentar. . .” Pintu kamar terbuka dan wanita itu segera meninggalkan kamar si sulung. Kali ini ia melangkah ke kamar berikutnya, kamar putri-putri mereka. Kamar ini tak terkunci jadi ia langsung membukanya saja kemudian melangkah mendekati seorang anak perempuan yang mungkin masih berumuran belasan tahun, kurang lebih 16-an. Di samping tempat tidur anak perempuannya, tertidur pulas si kecil putri bungsunya. Dengan halus ia membangunkan mereka berdua.
Bapak sudah siap menunggu di bawah, suara shalawatan di Masjid masih terdengar jelas. Disusul si sulung menghampiri bapaknya, kemudian ibu dan putri-putri mereka. Bersama-sama keluarga ini pergi menunaikan ibadah di masjid . . . .
Paginya . . . .
”Linda . . . . Ayu . . . . ayo sarapan dulu sini.” panggil ibu mereka untuk sarapan. Tak lama kedua anak itu muncul berbarengan. Kemudian mereka duduk bersebelahan, makanan sudah disiapkan ibu mereka di piring. ”Langsung dimakan aja ya, nak. Ibu mau nyuci piring bekas bapak sama kakak kamu dulu.”
”Memang bapak sama kakak berangkat duluan ya, bu?” tanya si kecil padanya.
”Iya . . . . bapak ada urusan pekerjaan, jadi berangkat pagi-pagi takutnya nanti macet dulu.” jelas ibunya.
”Kalau kak Dody, bu? Pasti ke rumah mbak Santi dulu ya? Hehehe . . .” Putri keduanya ganti bertanya tentang kakak mereka. Ibunya hanya tersenyum dan menjawab, ”Mungkin iya, soalnya biasanya kan juga gitu . . . .”
Kemudian sang ibu menuju dapur mencuci piring, sedangkan anak-anak mereka melanjutkan sarapan mereka. Setelah selesai mereka bersama berangkat dan berpamitan dengan ibunya.

Suasana ramai, penuh dengan suara-suara anak-anak yang sedang bergurau dengan teman-teman mereka. Beberapa sibuk dengan buku dihadapan mereka. Ada juga yang menjaili temannya. Begitulah suasana kelas Linda. Sementara itu Linda berada disudut kelas bersama dua temannya. Bukan membaca buku, tapi sekedar ngobrol-ngobrol layaknya anak-anak perempuan. Membicarakan ini-itu sembari bergurau dan tertawa-tawa.
”Lin, Er, seminggu lagi hari spesial tuh . . . apa yang bakal kalian lakuin nih??” Dini teman Linda bertanya secara mendadak ditengah keasyikan mereka tertawa bersama.
”Ups . . . sorry ya . . .  emang hari spesial apaan? Ulang tahun kamu lo?” tanya Erni ganti karena merasa tidak tahu.
”Bukan laaahh . . . masa baru kemaren ulang tahun besok mau ulang tahun lagi, sekarang bulan apa emangnya nona Oneng?? Hihihi . . . .”
”Eh . . . sialan lo Din, lo tu songong . . .  hehehe”
”Eh udah-udah malah berantem sendiri.” Linda melerai teman mereka yang saling mengejek. ”Din, emang seminggu lagi hari apaan??”
”Aduuhh . . . . terlihat banget kalo gak pernah peduli sama  hari yang kumaksud ini. Tuh liat aja kalender di depan kelas. Tar juga tau kok . . . hehe”
”Iiiiiihh . . . Cuma mau tau aja pake liat kalender. Emang apaan sih, Din? Kasih tau ngapa . . .”
”Ahahaha . . . pada bingung ya . . . pada bingung ya . . . . cacian bangeeett . . .” kemudian dini mengeluarkan Handphone-nya.
”Eh, kok HP yang dikeluarin. Orang kita tanya tentang hari yang dimaksud juga.”
”Easy my baby . . . . makanya jadi orang tunggu dan bersabar dulu. Nih . . . . seminggu lagi” Linda dan Erni penasaran melihat ke dalam layar HP Dini. Terlihat sebuah tanggal yang tak asing bagi mereka. ”Gimana??? Udah tau kan sekarang?? Udah nyiapin belom buat hari spesial itu??”
Mereka berdua diam. Dini yang melihatnya menjadi bingung. ”Eh .. .eh kok malah pada diem??”
”Maaf ya Din, harusnya bukan kamu yang ngingetin kita tentang hal itu. Kami malah merasa malu. Padahal keadaan kami gak kayak kamu saat ini . . .” Linda berbicara dengan suara sedih.
”Iya, Din . . . ” sambung Erni
”SShhh . . . . udah sekarang bukan ajang menangis. Aku fine aja kok dengan hal ini. Lagipula aku juga udah nyiapin planning pas hari-H. Seperti biasa . . . cukup kok nengokin beliau. Ya gak?? Nah buat kalian ini yang penting. Saatnya mengungkapkan rasa sayang kalian. Aku kan tau kalian jarang banget berani ngungkapin betapa sayangnya kalian dan berterima kasih, apa lagi lo Er. Paling berani deh . . . . hehehe”
”Iya nih Din. Nyadar gue kalo sering marah-marah kalau di ceramahin. Paling ogah dengerin suara nyaring dari beliau.”
Sementara itu Linda hanya diam disaat temannya saling ngobrol. Dia berpikir sesuatu yang mungkin harus dia lakukan. Mengingat kesalahannya dan bagaimana sikap dia selama ini.
Hari berganti hari . . . . aktivitas keluarga Linda terjadi seperti biasanya hanya saja ada sedikit perbedaan yang terlihat jelas dari hari sebelumnya. Ibu Linda merasakan keanehan itu, tapi ia hanya diam saja. Di hari esoknya suasana rumah kembali lagi terasa aneh. Semua anggota keluarganya saling diam tak ada komunikasi. Mungkin  hanya bertanya hal-hal sepele saja, tak lagi berkumpul bersama di ruang keluarga mengobrol sambil menonton tv, semua sepi . . . .
Di kamar, Linda yang sedang sendirian membaca-baca majalah tak tahu kalau ibunya ada di depan pintu kamar miliknya. Ibunya mendekat perlahan, tapi saat ibunya memanggilnya majalah tadi langsung ditutup dengan cepat. Dilihatnya majalah apa yang dilihat anaknya, ’sebuah majalah fashion?’ pikir ibunya. ”Boleh ibu ngobrol sama kamu?” tanya ibunya dengan suara yang khas dan begitu halus.
”Mmmm . . . boleh kok, Bu. Ada apa memangnya?” jawab Linda menanggapi sambil melirik ke arah majalah yang tadi ia baca.
”Bukan itu kok yang mau Ibu bicarakan. Kalau itu ibu malah menganggap lumrah sebagai anak cewek, terutama seumuran kamu ini . . .Ibu mau bicara tentang hal lain.”
”tentang apa ya, Bu . . .”
Pandangan ibunya begitu lembut dengan senyum mengembang di bibirnya. ”Ibu liat kamu beberapa hari ini diem terus. Pulang sekolah langsung masuk kamar, kadang pintu juga dikunci, kadang-kadang keluar malem-malem sama temen-temen kamu. Gak biasanya kamu kayak gini. Memangnya ada masalah ya??? Cerita dong sama ibu . . .”
Linda diam menatap wajah ibunya, kemudian ia tetunduk dan menjawab, ”Gak ada masalah kok, Bu. Linda keluar malem itu ada kerja kelompok. Linda diem juga karena pengen aja di kamar. Ibu gak usah khawatir gitu ya . . . .” Linda terus menjelaskan kenapa dia diam beberapa hari sambil terus sibuk membolak-balik halaman majalah. Ibunya sedikit bingung tapi kemudian wajahnya tersenyum. Kemudian berdiri dan meninggalkan putrinya terus membolak-balikkan halaman majalah. Disamping itu saat ibunya sudah membalikkan badan, Linda memandang ibunya  berjalan meninggalkan kamarnya dengan sedikit senyum.
Ibu menghampiri suaminya yang sedang menonton tv di ruang keluarga. ”Pak,”
”Iya . . . . kenapa Bu?” tanggapannya agak dingin.
”Ibu mau ngomong sebentar aja.” Tapi dilihatnya bapak masih saja fokus dengan tv di depannya. Akhirnya diambilnya remote tv di tangan bapak dan dimatikan.
”Lho? Eh? Kok dimatiin??” Bapak kaget dengan sikap ibu.
”Habisnya bapak diajak ngomong ngliatnya ke tv terus, ya tak matiin.”
”Iya deh ada apa . ..  cintaku sayangku ???”
”Ihhh inget umur pak udah tua, anak udah tiga gedhe-gedhe semua juga . . .”
”Hehehe . . . . kalau gak mau di panggil gitu ya udah . . . . .” kemudian melengos lagi.
”iiihh . . . . bapak ini serius ini” dengan muka agak jengkel.
”hm. . . ada apa to?”
”Ibu kok ngrasa aneh ya pak, beberapa hari ini tu anak-anak diem aja. Sama ibu juga jarang ngomong, gak si Linda, Dody, Ayu . . . . . malah bapak juga. Kayaknya kok ada sesuatu yang ditutuptutupi dari mereka. Ibu khawatir aja pak.”
”Ahh . . . biasa lah bu, anak muda. Mungkin memang ada masalah. Toh . .  gak semua masalah bisa di ceritakan sama orang tuanya sendiri kan?? Udah lah ibu gak usah khawatir kayak gitu.“ Kemudian bapak berdiri secara tiba-tiba dan menguap, "Huaaaahhhheemmmm . . . . bapak ngantuk, mau tidur dulu ya. Besok berangkat pagi lagi.“ Ibu ditinggalkan sendiri dengan rasa penasaran akan keluarganya. Ia merenung dan merenung sendiri di ruang keluarga hingga akhirnya dia mengikuti suaminya masuk kamar dan tidur.

Esoknya pagi saat subuh, ibu terbangun. Dilihatnya Bapak sudah tak ada di tempat tidurnya. ’Padahal belum adzan subuh, tumben kok bapak gak ada?’ kemudian ia bangkit dari tidurnya dan segera keluar pintu menuju kamar anaknya. Saat sampai di depan kamar putranya, kamarnya tidak terkunci dan kosong saat dibuka. Lalu ia melanjutkan ke kamar putrinya. Sama saperti kamar putranya, kosong. Lalu dari belakang . . .
”Bu, ” suara bapak mengagetkan ibu yang sedang kebingungan. ”Udah mau subuh tuh kok malah bengong disini? Anak-anak udah bapak bangunin tadi. Tuh mereka lagi di ruang keluarga.”
Kemudian terdengan adzan subuh berkumandang, ”Nah . . . itu adzan, cepet ambil mukenanya. Bapak sama anak-anak nunggu di teras ya.”
Bapak meninggalkan ibu yang sedikit keheranan dengan sikap bapak pagi itu. Tak seperti biasa pikirnya. Lalu ia berjalan untuk mengambil wudhu dan mengambil mukena, setelah itu ia segera menyusul keluarganya di teras untuk pergi bersama ke masjid.
Sepulang dari masjid, Linda menaruh mukenanya di kamar lalu menuju dapur membantu ibunya yang mulai masak untuk sarapan. Sementara itu Dody dan Ayu berpamitan berolahraga sebentar. Sementara bapak menunggu di teras sambil menunggu koran datang. Pemandangan yang tak seperti biasanya bagi ibu mereka. Esoknya hal seperti ini berulang lagi, hanya saja bergantian. Tapi setelah sarapan selalu saja mereka buru-buru. Biasanya mereka berangkat jam setengah tujuh, kini lebih awal lima belas menit dari biasanya. Mungkin sedikit kesadaran atau hal lain, itulah yang selalu dipikirkan oleh ibu mereka.
 Hal itu terjadi lagi hingga 4 hari kemudian, ibu sedikit senang dan juga sedikit bingung dengan perubahan sikap keluarganya. Memang berubah menjadi lebih disiplin dan mau membantu pekerjaannya, tapi mereka jarang berbicara dan memilih diam saja. Bukan hanya Bapak, tapi juga anak-anaknya. Hal ini membuat dia bingung dan bingung, hingga esoknya . . . .
”Bu, nanti bapak pulang cepet sekitar jam 1 siang. Ibu sebelumnya bersiap-siap ya mau bapak ajak keluar sebentar.”
”Eh, kok tumben. Lha anak-anak nanti gimana kalo pulang? Rumah kan sepi.”
”Udah bapak kasih tau kok, nanti Dody jam kuliahnya sedikit jadi pulangnya cepet juga. Dia mau jemput Ayu di sekolahnya. Pokoknya harus mau ya . . . ” setelah berkata demikian Bapak langsung pamit berangkat kerja.

Sedikit rasa lelah dirasakannya, kemudian ia beristirahat duduk-duduk didepan rumah. Makanan sudah siap kalau-kalau nanti anak-anak pulang saat dia dan Bapak pergi keluar. Rumah juga sudah dibersihkan, semua sudah rapi. Waktu bapak pulang hampir tiba, ibu segera pergi mandi dan bersiap-siap dikamar. Tak lama bapak datang . . .
”Assalamu’alaikum . . . .”
”Waalaikumsalam . . .”
”Udah siap, Bu??” bapak yang sedang melepas sepatunya langsung memandang istrinya yang datang padanya. Senyum merekah dibibir bapak. ”Ya udah kalo gitu tunggu sebentar saja, bapak mau ganti pakaian dulu, terus kita berangkat.”
Tak lama ibu menunggu bapak sudah keluar dan siap. Kemudian mereka berdua segera berangkat. ”Kita mau kemana to pak? Ibu masih penasaran, soalnya bapak jarang ngajak ibu keluar berduaan saja kayak gini.”
”Udah nanti juga tau, pokoknya ibu nemenin bapak aja hari ini. Gak usah kepikiran anak-anak. Toh mereka juga udah besar-besar.”
”Besar gimana? Ayu kan baru kelas 4 SD . . . .”
”Yaa . . . yang bapak maksud itu Dody sama Linda . . . mereka udah bisa ngurusin adiknya. Jadi ibu sekarang tenang aja. Ok??”
”Iya deh iya . . . .”
Selama seharian Bapak dan Ibu bepergian, mulai menjenguk orang tua mereka atau sanak saudara, sekedar ke makam Ibu dari bapak. Kemudian mampir ke teman-teman mereka. Juga mereka mampir ke tempat-tempat dimana awal-awal mereka bertemu saat sebelum menikah. Mengulas kembali memori-memori masa muda.
Ibu begitu senang, begitu cerah terlihat di wajahnya. Bapak melihat hal tersebut menjadi puas. ”Pak, . . . Ibu mau telpon rumah dulu ya . . .”
”Oh, ya . . . pake HP bapak aja. Tadi pagi baru aja bapak isi.”
Ibu mengambil HP bapak dan mencari nomor Linda yang kemudian ditelepon. Tuuuttt . . . . tuuuttt . . .tuuutt . . . Halo Assalamu’alaikum . . . .” terdengar jawaban suara anak perempuannya. "Waalaikumsalam, ini Ibu nak . . . udah makan tadi? Sebentar lagi ibu sampe rumah. Kira-kira satu jam lagi.”
"Ohhh . . . udah kok, Bu. Adek juga udah makan. Terus mas Dody juga . . . .
"Hmmm ya udah . . . " Terdengar suara ramai di telepon anaknya, "Suaranya rame banget? Di rumah ada siapa itu? Temen sekolah kamu?”
”Eh, bukan Bu. Itu . . . itu . . . suara Adek sama mas Dody, sebenarnya sama Mbak Santi juga sih. Tadi dateng sama mas Dody waktu pulang maen. Bentar ya, Bu . . . . " telepon di tinggal sebentar oleh Linda. Sayup-sayup terdengar suara mereka ngobrol ini-itu. "Halo . . . Bu, ??”
"Ya, Lin? Ada apa?”
"Aku tutup dulu ya . . . soalnya aku lagi sibuk nih. Udah yaa . . . love you . . . assalamu’alaikum . . .” tuuuttt. . . .  tuutt . . . tuuuttt . . . telepon sudah terputus. Kemudian HP dikembalikan kepada Bapak.
”Gimana anak-anak?”
”Udah makan, Ayu maen sama kakaknya. Dirumah ada Shanti juga.”
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang. Bapak terus fokus melihat jalan dan tak banyak bicara selama perjalanan pulang. Ibu juga terdiam hingga akhirnya mereka sampai dirumah tepat dalam waktu kurang lebih satu jam. Dari luar terlihat rumah sepi, ibu perlahan masuk membuka pintu rumah. ’Apa mungkin anak-anak sudah tidur?’ lalu ia melihat jam pukul 21.38. ’Pantas kalo sepi, sudah jam segini.’ Saat ibu mulai masuk ke ruang keluarga, ruangan ini sudah gelap. Lampu sudah dimatikan. Terlihat hanya gelap saja, bapak juga belum menyusul. Baru melangkah sebentar menuju tengah-tengah . . . . lampu tiba-tiba menyala dan terlihat tulisan besar berwarna warni . . . . .HAPPY MOM’S DAY . . . . lalu anak-anak muncul dari belakang mereka dengan Bapak yang sudah ikut bergabung, juga pacar Dody Shanti . . . . Mereka membawa kue kecil dengan lilin diatasnya.
”Selamat hari ibu ya, Bu . . . . ” ucap Bapak yang disusul oleh Dody.
”Happy mom’s Day yah, Bu . . . . you are the best Mom for us. Gak ada yang ngalahin Ibuku pokoknya. Hehehehe . . . .”
Kini giliran Shanti, “Selamat hari ibu ya tante . . . . maaf kalau ikut serta, aku juga ikut peran dalam hal ini. Hm ^_^”
”Gak papa kok, tapi . . . kamu udah bilang mama mu?”
"Tenang, bu . . . Shanti udah tak ijinin kok ke mamanya. Katanya suruh nginep sekalian. Biar nanti tidur sama Linda.”
Ibu mereka tersenyum . . . . kemudian Ayu maju dan melepaskan gandengan bapaknya. ”Bu . . . Ayu minta maaf kalo selama ini nakal dan bandel yah . . . ini hadiah buat ibu . . .” sebuah bingkisan dikeluarkan dari balik sofa dan diberikan kepada ibunya. ”Boleh ibu buka?”
”Boleh kok . . . .” Bingkisan pemberian Ayu dia buka. Dilihatnya sebuah gambar fotonya serta gammbar wajahnya di sisi kanan atas dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah rangkaian kata dengan tulisan tangan yang tak asing. Tulisan putrinya . . . . sebuah puisi . . .

Terhatur kasih selalu terucap dari sikap dan ucapanmu
Penuh kasih dan rasa sayang yang menggelora
Mengalahkan semua kasih sayang yang pernah ada
Saat engkau tersenyum hatiku damai
Saat engkau diam
Aku tau kau memikirkan kami yang kau sayangi
Entah berapa detik hingga tahun kau tulus memberi cinta
Sebuah cinta sejati di dunia yang tak pernah terganti
Sebuah cinta yang selamanya akan terus ada dihati
Mentari pun kalah dengan cintamu
Keindahan bulan dan bintang tak dapat mengalahkan cinta kasihmu
Ketulusanmu yang penuh kasih
Memberi kami semangat tersendiri menjalani hidup
Ibu . . . .
Bagi kami kaulah cinta kami
Sebuah anugrah bagi kami
Sebuah kebanggaan menjadi putra-putrimu
Lahir dari rahimmu,
Hidup dengan kasih sayangmu

Mom . . . .
You are my everything . . .
For now and forever . . . .

Note : from  . . . . Ayah , Kak Dody, Kak Shanti, Kak Linda dan Ayu . . .
Kami yang menyayangimu . . . .

Air mata bahagia keluar dimata Ibu mereka, suasana begitu haru akan kebahagiaan. Ayu dipeluk ibunya lalu semua juga memeluk ibu mereka, termasuk Shanti . . . .
Ini hanya sekedar cerita kecil dariku yang tertumpahkan untuk kalian. Mengingatkan kita semua pada sosok Ibu yang begitu tegar menghadapi kehidupan rumah tangga, mengatur segalanya memberi semangat dan peneduh batin kita. Satu-satunya orang yang begitu tulus memberi cinta dan kasih saying sejati. Mungkin kadang beliau marah pada kita, tapi dalam hati mereka hanya mengingatkan kalau kita bertindak salah. Tak ada ibu yang tega untuk menyakiti buah hatinya sendiri. Bila ada mereka akan menyesalinya dan merubah sikap mereka menjadi cinta kasih lagi. Doanya adalah doa Yang Kuasa. Murka ibu adalah murka Yang Kuasa . . . . sayangilah ibumu seperti ia menyayangimu, cintailah ibumu seperti ia mencintaimu, berikanlah senyuman selalu diwajahnya. Linangkan air matanya untuk hal-hal yang bahagia. Ibumu adalah malaikat di dunia dan pemberi cinta yang tak pernah habis selamanya.


~Sekian~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar