Pagi cerah menyelimuti pegunungan di Gua Kiskenda tempat para kera sedang menyibukkan diri mereka untuk mempersiapkan dawuh Prabu Ramawijaya menyerang kerajaan milik Rahwana, Alengkadireja, karena istri beliau Shinta telah ia culik. Para kera sibuk sekali, ada yang berlatih perang, ada juga yang bersiap-siap mengumpulkan batu-batu untuk dibuat jembatan menuju negeri musuh, ada juga yang tertidur karena kelelahan. Bukan hanya para kera saja yang ikut bekerja. Tapi beberapa silmuan takhlukan Prabu Rama dan Leksmana ikut serta dalam pekerjaan ini.
Terdengar sorak-sorak dari gerombolan para kera di kejauhan. Mereka memanggil-manggil nama salah satu dari mereka. Dia gagah, lugu, begitu kuat dan hebat. Kekuatannya melebihi kekuatan dari para kera yang ada di sana. Disini dia diceritakan sedang berusaha mencabut satu pohon besar. Weehh . . . bisa gak yah tuh, lanjut aja deh. Dia sudah memulainya, sementara teman-temannya terus memanggil dan menyemangatinya. ”Ayo Anoman, kamu pasti bisa. Ini pohon yang terbesar disini. Kalau kamu bisa nanti tak ajak ngopi di Taman Seribu Lampu. Hehehehe . . . .” Anila menyemangati saudaranya. ”Ayo Raden, pasti raden bisa. Sudah 99 pohon yang Raden cabut dengan mudah. Ini yang terakhir. Nanti saya panggilkan para Bidadari di Kahyangan agar memijit Raden. Hehehe secara ayah saya kan Dewa gitu loh.” Tukas Jembawan pada Anoman yang hanya melirik dan tersenyum sedikit saja padanya. Tanpa berpikir panjang Anoman mulai mengumpulkan tenaganya. Dia sudah bersiap dengan kuda-kuda dan menggeram. Dipeluknya batang pohon yang teramat besar itu. Dengan penuh tenaga dan amarah dia berusaha. Namun sekali ini dia kelelahan dan gagal. Akhirnya dia mencoba lagi. Kali ini dengan kekuatan penuh, tapi apa daya bukan pohon yang tercabut tapi . . . . TuuuuuuUUuuutttttt . . . . suara kentutnya karena menahan kekuatan dan nafasnya yang keluar. Semua kera yang mengerubunginya segera kalang kabut mencium bau seperti ikan busuk itu. ”Hehehe sorry semua, kelepasan nih.” Anoman meminta maaf kepada mereka.
”Kau habis makan apa lah ini Anoman? Bau kali kentut kau . . . . ” salah satu kera dari suku Batak menuai protes dengan kentutnya.
”Maaf, namanya juga kelepasan. Aku kemarin habis makan Jengkol banyak sekali. Jadi maaf baunya lebih busuk dari ikan yang sudah busuk sekalipun. Hehehe”
”Beta tak kuat menahan baunya, rasanya seperti mau pingsan saja.”
”Begitu pula ambo, seperti bau terasi busuk sajo bau kentut kau.”
”Ampun ngonten to kanca-kanca. Lha wong Anoman mboten sengaja lho.”
”Ah malah berdebat ini kalian para monyet. Biarkan Anoman menyelesaikan kewajibannya lah. Ayo Anoman, lanjutkan seperti kata pak SBY.”
”Baiklah aku coba lagi yah . . .”
Sekali lagi Anoman mengumpulkan tenaganya. Dan kali ini dia tidak mau salah untuk ketiga kalinya. Dia meminta pertolongan pada dewata, ‘Oh dewata bantu hamba mencabut pohon ini’ setelah dia berdoa. Salah seorang dewa datang menemuinya. Tapi hanya dia yang bisa melihat. "Hey Anoman, aku diperintahkan oleh Bathara Guru Ayahmu untuk memberikan ini. Dia ingin membantumu. Ambilah batu ini dan tancapkan ketanah. Pohon Jati Alas ini akan segera tercabut dengan sendirinya setelah kau menjejak tanah tiga kali.” Kemudian dewa itu segera pergi. Tanpa pikir panjang Anoman segera melakukan perintah dewa tadi. Dia bersiap, saat mau menancapkan batu tersebut ke tanah. Batu itupun meloncat dari genggamannya. Kali ini dia bingung bukan kepalang. "Duh biyungku Anjani, kenapa anakmu ini apes sekali. Sudah dibantu Bopo masih saja terus salah dan malah menjatuhkan batu pemberiannya. Nasib-nasib.” Dia terduduk lemas. Teman-temannya mendekatinya.
"Hey Anoman, kenapa kau malah duduk saja. Ayo cepat kami mengandalkanmu. Kalau kamu gak bisa nyabut nih pohon bisa ilang pisang setundunku di gudang. Aku mohon yaaahh.” Minta jembawan kepadanya.
Dia mendekati pohon tersebut. Tanpa sadar berbicara kepada pohon tersebut. ”Pohon-pohon, bagaimana agar aku bisa mencabutmu. Kalau begini terus aku bisa gak dapat makan dari Prabu Rama. Duh biyung . . . .”
Tiba-tiba . . .
”Heh cucuku Anoman, aku sudah lama hidup disini. Disinilah aku dan akan selalu disini. Karena pohon tak akan bisa berjalan sepertimu. Kalau kau ingin mencabutku, mintalah padaku dengan baik-baik. Jangan asal cabut aja kayak penebang liar. Mbok ya ijin dikit kan gak papa.”
”Eyang bicara sama saya?”
”Bukan tapi sama kethek putih yang namanya sedang menggantung dari aku. Ya kamu lah siapa lagi.”
”Maaf eyang, sebenarnya saya diperintahkan Prabu Rama untuk mengumpulkan batang pohon yang banyak untuk membuat senjata dan beberapa untuk kayu bakar. Tinggal eyang lah yang harus saya cabut.”
”Hmmm . . . Sang Hyang Wisnu meminta mencabutku??”
”Bukan Eyang, tapi Prabu Ramawijaya, Pangeran dari Ayodya yang gagah perkasa. . . .”
”Lha iiya Sang Hyang Wisnu . . . . pye to bocah iki”
”Bukan Eyang, Prabu Ramawijaya.
”Bathara Wisnu!!”
”Bukan, Prabu Rama!”
"Haduh . . . . kuat-kuat gagah perkasa tapi otaknya lemot alias telmi. . . . Prabu Ramawijaya itu awatara dari Dewa Wisnu. Ahem . . . capek deh jelasion ke kamu, cu.”
”Eh . . . begitu ya eyang. Maaf baru tau soalnya. Hehehehe”
Sementara Anoman dan Pohon itu sedang berbincang-bincang. Teman-temannya hanya bisa bengong melihat Anoman berbicara sendiri dengan pohon. ”Ah sudah gila ini Anoman, masa pohon diajak ngomong. Gak punya otak ah. Gitu kok salah satu anak Dewata.”
Ah kembali saja ke Anoman yang sedang bernego dengan Pohon Jati Alas tadi,
”Jadi apa yang harus saya lakukan eyang?”
”Hmmm . . . begini saja. Kamu tolong sampaikan pesanku pada Prabu Rama. Sampaikan permintaan maafku karena aku harus pergi moksa dulu.sampaikan saja salamku. Tugasku memberi oksigen di dunia sudah habis tanggalnya.”
”Begitu saja eyang? Atau ada yang lain? Minta apa kek gitu.”
”Gak perlu, makan aku juga dari tanah, minum juga dari tanah. Aku lho gak kayak kalian.”
”Ohh . . ya sudah nanti saya sampaikan. Jadi cucu sudah bisa mencabut eyang sekarang?”
”siapa bilang kamu harus nyabut aku? Sakit tau di cabut-cabut. Aku kan gak kuat kalau sakit. Cukup duduk pura-pura bertapa saja. Nanti aku bakal tercabut sendiri. Ya sudah lakukan sekarang!”
Anoman lalu duduk dan berpura-pura bersemedi. Layaknya seperti dukun yang sedang membaca mantra, mulut Anoman berkomat kamit ria. Teman-teman yang melihatnya heran dengan sikap Anoman ini. Mereka semakin berfikir kalau dia benar-benar sudah gak waras. Tak lama kemudian . . . . Daaarrr!!!!!! Suara yang sangat keras membuat mereka kaget dan lari terbirit birit sampai beberapa dari mereka menabrak pohon yang ada di depan mereka. Sementara Prabu Rama yang sedang duduk-duduk melamun istrinya, Dewi Shinta terjungkal dari persinggahannya. Dan Wibisana adik dari Rahwana yang sedang makan buah rambutan juga kaget hingga rambutannya terlempar mengenai wajah Leksmana dan Sugriwa yang duduk didepannya.
Beberapa monyet mendekati Anoman kembali, Anoman tetap bersila namun bukan pada posisi yang semula. Melainkan dengan posisi terbalik kepalanya dibawah dengan tangan menutup telinga dan kakinya menyilang. Dilihat oleh mereka pohon jati tadi sudah menghilang. Saat mereka mulai mendekat lebih dekat dan lebih dekat lagi ke Anoman tiba-tiba sesuatu jatuh menimpa Anoman. Bruaaakkk!!!! ”Aduh Biyung. . . .!!!” segera Anoman diberi pertolongan dan dibawa ke klinik Gawat Darurat.
Hari berikutnya, proyek Pembuatan Jembatan Suramadu. . . eh salah . . . maksud saya Jembatan menuju ke Alengka sudah mencapai setengah jarak. Prabu Rama yang sudah tak sabar lagi menahan rasa rindu kepada istrinya segera memerintahkan untuk mempercepat. Dia mempunyai ide bagaimana kalau dia mengendap-ngendap melihat Anoman di Istana Alengka. Saat dia berbicara demikian, banyak dari para petinggi yang tak setuju, terutama Wibisana.
”lalu harus bagaimana lagi saya mengetahui kalau Dinda Shinta masih baik-baik saja? Jawab Paman.”
”Duh gusti junjungan hamba. Bagaimana kalau mengirim saya kembali kesana untuk sekedar berkinjung kembali ke Negeri asal saya?”
”Jangan Wibisana, terlalu berbahaya kalau kau kesana. Terakhir kali kau di sana. Kakamu Rahwana memukul kepalamu menjadi hancur tak berbentuk. Aku takut kau tak bisa dihidupkan lagi oleh Kembang Wijaya milik kakak ku.”
”Kalau saya lebih cenderung kasian dengan Anoman. Kalau sampean mati lagi terus anoman disuruh mencari kembali Kembang itu. Capek sekali nanti dia harus ngangkat gunung seberat itu. Sampean belum pernah merasakan ngangkat gunung kan?”
”Lho memangnya Paman Sugriwa sudah pernah?”
”Ya belum lah, . . .”
”Eee saya kira sudah pernah.”
”Tapi kalau Paman Sugriwa sudah pernah kok di cepit diantara pohon. Hehehe . . . ya kan paman?”
”wah kalau itu beda lagi.”
Prabu Rama hanya diam saja saat beberapa ponggawanya terus bercanda saat rapat berlangsung. Dia masih terpikir-pikir tentang rencananya itu. Hingga tiba-tiba datang Anoman masuk ke dalam ruang rapat secara tiba-tiba.
”Biar saya saja Gusti Prabu, hamba siap menerima tugas ini.” sembari membungkuk Anoman menawarkan diri.
”Apa kamu yakin Anoman? Lagipula kamu tidak tahu kemana arah Alengka dimana. Kami takut nanti kamu nyasar.” tukas wibisana ragu dengan Anoman.
”Tenang saja Paman. Saya pasti bisa tahu. Lagipula sekarang XL kan setting 3G-nya lebih kenceng. Jadi GPS-nya gak bakal nyendat-nyendat kayak kemarin waktu nyari Kembang Wijaya. Hehe . . .”
”Bener itu, le? Paman Sugriwa nanti kawati lho.”
”Tenang saja Paman Sugriwa dan Raden Leksmana saya pasti bertemu Dewi Shinta. Saya kan bisa janjian dulu lewat Twitter atau Facebook-nya. Nanti tinggal ketemuan dimana gitu. Akunnya saya punya.”
”Lho lho . . . kamu punya kok aku yang suaminya sendiri gak punya? Memangnya Facebook sama Twitter itu apa?? Semacam pesan Dewa ya?”
”Ahahaha . . bukan Gusti Prabu, itu adalah jejaring sosial yang sedang marak dikalangan muda dan orang tua zaman sekarang. Sampai anggota DPR/MPR saja ikut-ikutan lho. Internet itu membuat dunia semakin sempit saja lho.”
”Wah . . . anak muda sekarang memang pintar-pintar ya. . . . kita orang-orang tua semakin ketinggalan.”
”Ya sudah saya berangkat dulu ya Paman, Gusti Prabu . . . . ”
Lalu Anoman segera pergi, dengan sedikit bekal ia berani menjelajahi pelosok negeri Alengka. Dia terus mencari dengan bantuan GPS yang ia miliki. Untung aja ada GPS, man. Kalau gak ada bisa nyasar juga kamu. Nih yang buat cerita memang baik.
Sesampainya di pinggir pantai dia bertemu dengan kura-kura besar. Lalu ia meminta untuk tumpangannya.
”Pak kura-kura . . . boleh saya menumpang menyeberang ke Alengka?”
”Boleh saja menumpang asal ada ongkosnya.”
”lho kok pake ongkos pak? Bukannya seharusnya gak pake ongkos segala ya??”
”Itu dulu mas, sekarang apa-apa mahal. Kalau tidak begini nanti anak istri saya mau tak kasih makan apa coba?? Lha wong Cabai di pasar aja sekaran 1 kg 35 ribu kok di pasar Cepu. Belum lagi beras paling murah 6 ribu lebih. Kencing juga bayar seribu. Nah butuh biaya semua kan??”
”Eh begitu ya Pak? Maaf kalau begitu. Tapi saya gak bawa uang nih, bagaimana??”
”Pake BB itu juga boleh kok, lumayan buat BBM-an sama Yuni Shara atau Raffi Ahmad yang lagi putus cinta. Hehehe itung-itung tak jadiin istri kedua. Kalau Raffi mau tak jadiin menantu.”
”Emang sononya mau sama Bapak? Ada-ada saja sekarang ini. Sudah tua masih juga pengen kawin. Tapi maaf Pak kalau saja kasihin ini BB ke Bapak nanti saya gak bisa menjalankan tugas dari junjungan saya Prabu Ramawijaya.”
”Lho situ Abdi dari Sang Prabu Rama toh? Wah kebetulan sekali. Kalau boleh mintakan sekalian pin BB nya yah. Buat ngadu kalau pemerintahannya agak menurun gitu.”
”Eh kok gitu sih pak? Sayang sekali Gusti Prabu Rama tidak punya BB, lha wong HP aja Cuma model lama Nokia 3315 kok. Itu juga pulsanya jarang ngisi. Kebanyakan di pake sama adiknya Leksmana untuk sms-an sama dayang-dayang istana di Ayodya. Hehehehe”
”Wah kasian sekali sang prabu, sudah kesepian semakin kesepian. . . . ya sudah saya bantu. Tapi ya itu BB-nya kasihin ke saya yah, nanti kamu pake Samsung Galaxy punya Bapak. Jadi tukeran gitu. Mau kan?
”mmmm . . . boleh-boleh . . .”
”Ya sudah mari naik saya antar kan.”
Setelah nego yang agak lama akhirnya kura-kura itu mau mengantarkannya keseberang. Dengan wajah egembira pak kura-kura terus berenang dan lebih cepat lebih cepat. Tak sampai waktu satu setengah jam mereka sampai di pantai Alengka. Disanalah transaksi dimulai seperti janji Anoman tadi. Setelah menukarkan barang mereka dengan cepat kura-kura pergi meninggalkan Anoman sebelum sempat dia bilang terima kasih.
”Baik sekali pak Kura-kura itu, padahal belum sempat aku berterima kasih padanya. Tapi BB-ku diambil. Gak papa kan gantinya samsung Galaxy ini. . .”
Saat Anoman membukanya dia teringat kalau Kartu Sim miliknya belum diambil dari BB yang ia berikan. ”Aduuuhhh sial banget kok sampe lupa sama Sim Card aku.” Saat di cek pulsanya. ”Wah pake indosat . . . sinyal pasti kuat. Coba berapa pulsanya . . . . Oh my God, kok tinggal seratus perak??? Wah buntung buntung banget ini aku, udah BB ilang sama pulsanya dapat samsung galaxy sih dapat tapi pulsanya gak ada sama aja mati di tengah jalan. Mana 0.facebook sekarang juga tetep bayar lagi. Kagak bisa bilang Gusti Dewi kalau sudah sampai pantai. Waaahh Duh Gusti Sang Hyang Widi. . . . Bantu hambamu ini.”
Kemudian Anoman melanjutkan perjalanannya meskipun tanpa GPS dia nekat berjalan. Tak hayal dia kadang salah jalan memasuki rumah para buaya yang kelaparan namun dia berhasil membunuh buaya-buaya itu. Tanpa sadar itu adalah anak dari Rahwana. Rahwana yang mendengarnya menjadi naik pitam. Sekuadron prajurit diperintahkan untuk membunuh kera putih yang masuk ke hutan wilayah Alengka. Namun sayang beribu sayang keinginan sang Raja Angkara Murka tak seperti dia inginkan. Anoman selalu selamat, kekuatannya lebih dasyat dibandingkan para prajurit yang melawan dia. Hanya sekali pukul saja 100 prajurit pecah kepalanya. (hebat banget nih Anoman, kalau dijadikan pejuang pas waktu jaman penjajahan mungkin Indonesia udah merdeka dari tahun sebelum 1945 deh). Balik ke cerita, meskipun sebener e dari tadi aku jadi capek jadi narator terus-terusan. Gratisan pula gak ada yang bayar. Tapi mumpung lagi baik hati jadi tak lanjutin saja. Nanggung ceritanya tinggal beberapa lagi. Jangan lupa baca Part II-nya. Lebih seru soalnya.
Anoman yang terus dihadang di hutan akhirnya datang dengan sembunyi-sembunyi. Dengan siaga dia hampir memasuki istana. Dia melihat penjaga diatas.
”Gawat kalau ketahuan bisa di sate aku. Harus hati-hati . . . ”
Dilihatnya penjaga itu tidak melihat dia masuk lewat tembok. Saat dilihat ke bawah ternyata penjaga itu sedang asyik bermain Notebook. ”waahhh . . . penjaga Alengka ternyata sudah gaul juga punya notebook. Sayang para sahabatku di gua Kiskenda tidak seperti mereka.” lalu dia memukul Penjaga itu hingga pingsan dan diikat dipohon cerme. Disumpalnya mulut penjaga itu dengan kain yang dia temukan di jalan. Diambil notebook milik penjaga tadi. ”Wah kok malah Fb-an nih penjaga. Gak punya tanggung jawab sama sekali. Aku utak atik aja ah FB-nya hehehehe. . . .”
Lalu Anoman terbang mengitari negeri Alengka. Loh kok gak dari tadi lu terbang, man? Kalau gitu kan lu gak bakal kehilangan BB.
”Yeee . . . aku aja baru inget kok kalo bisa terbang, udah narator ya narasi aja jangan ambil pusing. Bikin neg aja jalanin peran jadi Anoman.”
Eh situ mending ya jadi Anoman pelaku utama mestinya bangga, lha aku capek banget dari tadi cerita mulu.
”Sstttooooppp!!!!!!!!!!!!!! Bisa lanjut tidak ceritanya??? Dari tadi debat saja kalian ini!!!”
Eh, maaf pak Penulis, ya bisa dilanjutkan.
Kembali ke cerita. . . .
Disisi lain. Dewi Shinta sedang duduk merenung bersama Trijata putri dari Wibisana di taman Argasoka. Dewi Shinta terlihat sedih karena Rindu dengan Suami tercintanya Ramawijaya.
”Duh kakang Rama, sedang apakah dirimu saat ini. Aku benar-benar rindu padamu. Awas saja yah kalau aku tau kamu sms-an sama wanita lain. Gak tak kasih jatah kalau aku pulang nanti!!”
”Duh dewi jangan berpikir seperti itu, Prabu Rama pasti menunggu dewi kok. Yang sabar ya dewi.”
”Bagaimana aku tak sabar. Rahwana sudah mau menikahi aku dan mencoba-coba dekat-dekat sama aku, tapi kangmas Rama gak pernah sms atau telepon aku sama sekali dan gak ada usaha untuk menjemputku kembali.”
”Bukan begitu Gusti Dewi, tadi saya di istana mendengar kalau sang Prabu Rahwana murka anaknya terbunuh oleh seorang utusan dari Prabu Ramawijaya. Sekuadron pasukan yang dikirim juga binasa. Dan lagi saya mendengar di utara ada sekumpulan kera pimpinan Prabu Rama yang membuat jembatan dan sudah mencakup 50%. Tinggal setengah lagi untuk selesai.”
”Benarkah itu Trijata . . . .?? syukurlah kalau begitu. Duh kangmas maafkan aku berprasangka buruk padamu. Ternyata cintamu begitu besar kepadaku. Oh iya Trijata, aku juga dengar Ayahmu wibisana dibunuh oleh Uwakmu Rahwana. Aku turut bersedih mendengarnya.”
”Sudah nasib saya Gusti Dewi . . .” lalu Trijata menangis. Dewi shinta memeluknya dan mereka berdua pun menangis.
Tiba-tiba . . . .
Gubrak prak . . . Glontang glontang. . . . klinting klinting . . . !!!!!!
Mereka berdua kaget bukan kepalang. Trijata dan Dewi Shinta mencari tau asal suara berisik tadi berasal dari sisi kanan Taman. Takut ada yang mau mnecelakai mereka Trijata dan Dewi Shinta membawa sapu yang ada di taman. Mereka mendekati tempat itu dan saat keluar putih-putih . . . mereka sontak memukuli makhluk itu. ”Hantu . !!! Hantu . . .!!!
”Aduh! Aduh! Aw . . . Aw !! ampun . . . . saya bukan hantu.”
”Eh bukan hantu?? Lalu apa?” Tanya dewi Shinta sembari mendekati makhluk itu. Saat makhluk itu muncul dari kegelapan taman dan berada di cahaya lampu barulah mereka tau kalau itu seekor kera dengan bulu putih.
”Maaf mengganggu, saya mau bertanya saja. Tadi tidak sengaja jatuh saat terbang keliling Alengka ini. Tiba-tiba ada panah melesat dekat saya dan hampir mengenai saya. Jadi saya memilih banting setir ke kiri. Nah saat itulah saya menabrak pohon tinggi di taman ini dan segera melakukan pendaratan darurat . . . .”
”Oh . . . jadi begitu ya?” Trijata seperti terpesona pada kera dihadapannya. Lalu dia bertanya, ”Siapa kamu? Kamu kesini mau apa?”
”Oh, saya Anoman mau mencari Dewi Shinta Istri junjungan Hamba Prabu Ramawijaya. Apakah anda Dewi Shinta??? Pantas sekali dengan kecantikan anda, seperti yang saya dengar dari kera-kera dan beberapa orang lainnya yang memuji kecantikan anda Gusti.”
”Eeehh bukan saya, tapi ini Dewi Shinta . . . !” sambil menunjuk ke arah Dewi Shinta yang di maksud.
”Saya dewi Shinta.”
”Maaf kan saya Gusti Dewi Saya kira wanita cantik inilah dewi Shinta. Habis . . . tak ada bedanya.”
”Saya maklumi kok, lagipula kamu tidak pernah bertemu dengan ku sebelumnya. Jadi wajar. Lalu apa keperluanmu disini?”
”Hamba diutus gusti untuk melakukan spionase dan menjemput Gusti Dewi.”
”Tidak. Biarkan Kangmas Rama saja yang membawaku pulang. Sampaikan saja padanya aku baik-baik saja. Dan tolong cepat sedikit. Rasanya gerah disini. Panas dan kulitku menjadi agak sedikit hitam. Aku berikan kamu cincin ini untuk bukti kalau aku masih setia padanya. Cepat pergi dari sini. Sebelum mereka tahu kau disini.”
”Cepat Kangmas Anoman, sebelum Kakang Indrajit mengetahui kangmas disini.”
”Eh kok manggil kangmas ya???”
”Mmmm . . . tidak apa-apa. Sudah cepat pergi.
Saat itulah Anoman mulai bersiap pergi dan mengambil cincin Dewi Shinta. Saat dia terbang . . . . sebuah jaring mengenainya. Dilihatnya Indrajit sudah ada di salah satu dahan pohon bersiap menjaring saat dia akan terbang.
Anoman kemudian diarak ke alun-alun oleh Indrajit dan dipanggillah Rahwana.
”Jadi dia penyusup itu!! Dasar kethek putih!! Mati kamu sekarang! Bakar dia hidup-hidup!!!” perintah Rahwana.
Kayu di siapkan disekitar Anoman, beberapa rakyat Alengka mengitari alun-alun untuk melihat kera putih yang dimaksud. Api sudah disulut dan siap untuk dibakarkan ke Anoman yang terikat di kayu. Indrajit mengambil Obor Api dan segera membakarnya. Anoman meronta-ronta karena kepanasan. Dia menjerit, dia meronta. . . . .
Nah penasaran seperti apa kelanjutannya??? Tunggu yah di Cerita Anoman Obong Part II
Jangan Lupa yahh . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar