Selasa, 21 Februari 2012

Lagu Untuk "Erina"

Hanya diri sendiri . . . ♪ ♫ ♫
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti . . . ♪ ♪♪♫♫♪ ♪
Disini kutemani kau dalam tangismu . . .♪   ♪ ♫ ♫♫♪
Bila air mata dapat cairkan hati . . . ♪ ♪  ♫
Kan kucabut duri pedih dalam hatimu . . . ♫ ♫ ♫♪
Agar kulihat senyum ditidurmu malam nanti . . .♪ ♪ ♪
Anggaplah semua ini . . . ♪ ♪ ♫
Satu langkah dewasakan diri, dan tak terpungkiri juga bagimu . . . ♫ ♪♫

Terdengar suaraku yang sedang menyanyikan lagu Last Child Pedih di depan rumah orang lain. Bukan sedang bernyanyi karena berkumpul dengan teman dan menikmati waktu berkumpul, tapi aku menyayi untuk mengumpulkan sedikit receh yang nantinya akan kugunakan. Menjadi musisi jalanan? Bagiku bukanlah hal yang memalukan. Justru bagiku ini adalah tantangan dalam kerasnya hidup sebagai orang yang tak punya. Keahlian ini yang kumiliki, dengan gitar usang hadiah dari kakakku yang kumiliki, kususuri setiap gang dan jalan. Di tengah panasnya hari yang amat menyengat, semua tak terasa. Setiap rumah kuhampiri dan mulai menyanyikan lagu demi lagu meskipun tak banyak lagu yang kuhafal. Yah cukuplah untuk sekedar menghibur orang.
Tak selamanya orang yang kita hibur merasa terhibur, karena aku pernah waktu itu di bentak dan diusir karena dianggap malah mengganggu. Seingatku waktu itu aku ngamen di sebuah rumah, ya gak terlalu besar sih. Ada halamannya juga. Nah pas aku mulai nyanyi malah dibentak dan di caci . . . kerasnya hidup . . . .
Aku juga pernah ngamen di kendaraan seperti bus. Hasilnya memang lumayan tapi aku tak mau lagi menjalaninya karena beberapa wilayah mempunyai lokasi-lokasi yang tak boleh dijamah oleh orang lain. Seperti wilayah pribadi saja. Banyak preman sana sini yang minta uang imbalan, untuk keamanan lah, untuk inilah, itulah. Serba ribet.
Aku bukanlah pengamen setiap hari jadi aku hanya melakukannya kalau ada waktu yang bebas dari jam kegiatan sekolah. Aku seorang siswa di sebuah SMA swasta, aku seperti ini untuk membantu biaya sekolah yang semakin hari semakin mahal. Kasihan orang tuaku, usaha mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan memaksaku melakukan ini. Terkadang pagi aku sekolah, malam kugunakan untuk mencari uang dengan ngamen. Dan saat hari Minggu aku juga menggunakannya untuk mencari uang. Lumayan, penghasilannya kalau hari libur bisa agak banyak tidak seperti hari-hari biasa. Waktu yang panjang itulah yang menguntungkan, rute yang ditempuh pun juga berpengaruh, juga satu hal, aku bukan mengamen untuk tujuan mencari uang saja, tapi juga untuk menghibur orang-orang dengan suaraku. Banyak yang bilang suaraku bagus dan enak di dengar. Hehe
Cukuplah cerita tentang aku, kalau tidak bagaimana aku melanjutkan cerita yang kumulai ini?
Rumah demi rumah kuhampiri dan kunyanyikan lagu yang lain-lain dan berganti-ganti tiap kali ngamen. Yaa . . . Cuma berfikir aja dari pada yang mendengar merasa bosan lagunya itu-itu aja. Jadi kalau ada lagu yang baru dan sedang hits aku nyanyikan saja.
Satu gang sudah kuhabisi (hehehe maksudnya sudah ku mintai semua ^_^), kulanjutkan ke gang lain. Nah di jalan inilah setiap kali aku ngamen pasti banyak yang respon denganku. Mereka kadang mengajakku ngobrol (jarang banget yang kayak gini), kadang sampe ada yang request lagu.
Sore ini agak berbeda, suasana gang yang biasanya rame terlihat agak sepi. Padahal setiap aku kemari pasti banyak anak yang bermain, terkadang mereka juga ikut menyanyi denganku. Sayang hari ini anak-anak begitu sepi. Tak apalah aku terus ngamen saja. Satu . . . dua . . .tiga rumah sudah terlewat nah saat sampai rumah bercat hijau inilah aku agak grogi. Seperti biasanya, dia sedang duduk dirumah dengan membaca buku entah novel atau apa aku tak tahu. Kulihat sedang serius sekali, tapi toh aku kesini untuk mencari uang juga jadi aku mulai nyanyi saja. Lagu Budi Do Re Mi kunyanyikan . . . agak lama aku menyanyi . . . apa mungkin nih anak suka sama lagunya? Tak kuhiraukan yang penting tetap nyanyi aja. Sampai lagu hampir selesai lagunya dia baru mulai berdiri menghampiriku. ’Hmm . . . wangi banget’ pikirku. Parfum yang digunakan bikin tergoda aja, cantik pula wajahnya, sayang setiap kali kemari sampai sekarang belum tahu namanya.
”Ini mas, tapi . . .  tolong nyanyiin lagu Kerispatih yang Aku Harus Jujur ya. Gak boleh gak, harus!” sedikit senyum terpancar dari wajahnya, membuat semakin dag dig dug saja. Dan mau tak mau aku nyanyikan saja lagu yang dia minta.
”Iya deh, tapi tarifnya nambah lah mbak, hehehe.” tanggapku sembari bercanda.
”Eh, kok pake nambah tarif segala?” tanyanya agak kaget.
”Ya iyalah mbak, kan penyanyi aja nyanyi dibayar perlagu. Akunya juga lah. Hehehe.” jawabku seenaknya.
”Mmm . . . ya udah lah tar tak tambahin, udah nyanyi ge.”
Lalu aku mulai menyanyikan lagu yang dia minta. Kulihat ia menikmatinya. Akhirnya lagu selesai kunyanyikan aku segera membalikkan badan. Toh tadi aku Cuma bercanda saat minta unag tambahan, tapi tiba-tiba dia memanggilku.
”Lho, mas kok langsung cabut. Ini uangnya belum diambil juga.”
”Ah udah mbak, tadi aku Cuma bercanda kok.”
”Udah ambil aja, buat tambahan.”
Senyumnya inilah yang membuatku tak bisa berkutik dan menuruti saja apa yang dia inginkan. Seperti tersihir saja. Perlahan aku mengambil uang itu dan segera pergi dengan langkah yang agak cepat karena malu. Cowok mana yang tak malu kalau di goda dengan cewek cantik secara langsung. Apalagi dalam keadaan seperti aku ini.

Hari berganti hari, sudah agak lama aku tak mengambil rute ngamen di daerah cewek cantik itu. Sedikit rasa kangen melanda. Hingga kuputuskan untuk mengambil rute itu malam nanti. Berhubung pulang sekolah nanti ada pertandingan persahabatan futsal dengan SMA lain. Jam kerja pun kuundur nanti malam. Meskipun itu adalah malam minggu. Ah tak apa, toh aku juga tak punya pacar, tak perlu ngapel atau keluar dengan cewek.
Kumulai ngamen setelah Maghrib. Malam ini jalanan agak becek karena habis hujan sore tadi. Tapi itu bukan alasan untuk tak ngamen. Toh sekarang terang benderang. Hehehe . . .
Seperti biasanya, dari rumah satu ke rumah lainnya. Receh demi receh terkumpul. Lima ratus perak kadang seribu rupiah kadang ada yang memberi dua ribu rupiah. Ada juga lho yang memberi lima ribu atau kadang sepuluh ribu, tapi hanya orang-orang tertentu saja yang sering memujiku sesaat setelah aku ngamen di rumahnya.
Nah . . . saat masuk gang rumah cewek yang kuceritakan itu, dadaku berdegup kencang. Aneh pikirku, karena tak seperti biasanya aku seperti ini. Kulihat di depan rumahnya ada motor terparkir. Wow motor Ninja!! ’Cowoknya tajir juga’ pikirku. Saat sudah di pinggir rumahnya aku mendengar suara cewek itu sedikit marah-marah. Sepertinya mereka bertengkar. Tapi kenapa di rumahnya sendiri? Bagaimana dengan orang tuanya? Ah masa bodoh. Aku hanya menguping di samping pagar rumahnya. Kudengar semua celoteh dan amarah mereka berdua.
”Kamu tuh yang gak pernah ngerti keadaan aku kayak gimana.! Selalu aja egois mentingin diri sendiri! Aku capek!” Suara pacar cewek itu keras sampai terdengar di pagar.
”Ohh . . . Capek!! Capek mana sama aku yang tiap kali ngliat kamu jalan sama cewek lain?! Mikir dong aku juga punya perasaan! Kamu bilangnya itu temenmu lah, yang minta dianterin ini, itu apalah. Sama pacar sendiri aja gak pernah!”
”Tapi mereka emang Cuma temen aku doang, gak lebih!”
”Udah deh ya, aku tuh sekarang minta penjelasan dari kamu. Aku pengen kamu tuh jujur. Gak usah bohong lagi. Temenmu udah banyak yang cerita kamu tuh kayak gimana di luar sana. Aku tuh dah sabar, kamunya aja yang semakin hari gak nyadar juga!”
”Trus kamu lebih percaya orang lain ketimbang sama aku??! Ok! Fine, kalo gitu! Terus mau kamu sekarang gimana?!”
Mereka bedua diam beberapa saat hingga suara cewek itu terdengar lirih.
”Kita . . . putus . . . .”
Suara ini lirih dan penuh keputusasaan. Penuh dengan kesedihan.
”Apa?” pacarnya tak begitu mendengarnya,
”Kita Putus!! Aku gak mau lagi sakit terus kayak gini. Jadi lebih baik . . . . kita putus . . . .”
Suasana kembali hening tak bersuara lagi.
”Sekarang, aku minta kamu pergi dari sini. Jangan temuin aku lagi.”
”Fine! Kalo gitu. Kalo itu emang mau kamu. Moga aja kamu gak nyesel dengan keputusanmu.”
Kulihat pacarnya meninggalkan rumah dengan motor yang terparkir. Saat sudah terlihat jauh aku segera keluar dari samping pagar rumahnya. Aku berpura-pura tak tahu. Terdengar suara tangisnya dari luar. Akhirnya kuurungkan niatku untuk ngamen. Kutunggu beberapa saat akhirnya kuputuskan untuk masuk juga. Saat aku masuk itulah kulihat dia cepat-cepat menghapus air matanya kemudian dia diam. Aku mengurungkan niatku untuk ngamen disitu dan membalikkan badan. Sebelum sempat berjalan suaranya memanggilku.
”Mas . . . kok malah pergi . . .”
”Yah. . . gak enak aja, mbak kan lagi sedih kayaknya.”
”Udah, gak papa kok. Tolong nyanyiin lagu yang menghibur aja yah.”
Waduh, aku bingung ini. Lagu apa yang mau kunyanyikan untuk menghibur dia. Hampir lima menit aku diam bingung mau menyanyikan lagu siapa. Akhirnya kuputuskan menyanyikan lagu Last Child Pedih. Yah memang pas dengan keadaan mungkin yang terpikir olehku.
Saat kunyanyikan dia sedikit kaget. Lalu dia ikut menyanyi juga denganku meskipun pelan, tapi aku tetap mendengarnya. ’Berhasil sepertinya’ pikirku. Kulanjutkan menyanyi lagu itu terus. Dia terlihat menikmati lagu ini meskipun beberapa butir air matanya jatuh. Tapi dia memintaku terus melanjutkan. Aku merasa tak enak dengan hal ini. Tak kuasa melihat seorang wanita menangis di depanku. Aku berhenti meskipun lagu belum selesai.
”Kenapa berhenti mas?” suaranya terdengar parau.
”Aku gak enak aja, kamu malah nangis kayak gitu mbak. Jadi tak udahin aja.”
Dia tersenyum, ”Hm . . . gak apa-apa kok terus aja nyanyi, lagunya emang pas sama suasana hatiku.”
’Jelas paslah, orang aku dari tadi dengar kalian berantem dari luar’. Aku diam saja.
”Kok diem mas? Nyanyi lagi dong . . . . lagu itu sekali lagi aja . . . .”
”Tapi . . .”
”Udah gak ada tapi-tapian. Temenin aku, malam ini kuminta show disini aja. Gak papa kan?” permintaan yang aneh pikirku. Tapi aku tetap saja menanggapi dan bilang iya.
Malam itu kami berdua bernyanyi entah lagu siapa saja. Rumah dalam keadaan sepi, saat kutanya ternyata orang tuanya sedang pergi keluar dan pulang malam. Waktu yang banyak mungkin untuk berduaan. Tapi bukan untuk berpacaran kawan, hanya sekedar ngobrol menghibur kesedihannya. Terkadang menyanyi, terkadang juga berbincang-bincang tentang hal-hal lain hingga ngobrol tentang maslah tadi. Aku tak bertanya apapun tentang itu, tapi ia sendiri yang bercerita panjang lebar. Aku mendengarnya, memandang matanya yang terlihat sayu dan begitu terluka. Semua terlihat dari matanya saja. Kesedihan, rasa sakit, penyesalan, dan kehilangan semangat. Ia bercerita panjang lebar.
”Kok aku bercerita panjang lebar gini ya sama kamu mas? Aneh banget padahal kita baru aja kenal.”
”Aku gak tau, aku kan Cuma mendengar aja dari tadi.”
”Tak apalah daripada tak ada teman sama sekali untuk bercerita. Oh iya, beberapa kali bertemu meskipun waktu kamu ngamen, sampai saat ini aku belum tahu nama kamu siapa, Hmm . . . Aku Erina . . . ”
Oohhh jadi namanya Erina. Aku baru tahu namanya malam ini, itupun bukan kejadian yang terduga. Semuanya seperti sudah diskenariokan. Sungguh aneh pikirku pertemuan dengan Erina ini.
”Aku . . . Ical, sebenernya itu Cuma nama panggilan. Namaku sebenarnya Haikal.”
”Hihihi, kayak nama panggilan buat anak-anak deh.” dia tertawa mendengar nama panggilanku.
”Yah, itu nama panggilan dari temen-temenku. Dulu sih kejadiannya waktu ibuku lagi manggil aku pas dirumah itupun waktu SMP, kalau di rumah panggilanku kan Ical, tapi kalo di sekolah Haikal. Nah pas temen SMP ku sedang main ke rumah, ibuku manggil pake nama itu, sampe sekarang akhirnya aku dipanggil gitu.”
”Hahahaha . . .  lucu juga lho, sampe sekarang?”
”Iya . . .”
”Terus kamu memang kerja kayak gini atau Cuma buat sampingan??
”Oh . . . ini Cuma buat nambah uang jajan sama bantu orang tua bayar sekolah.”
”Eh? Sekolah? Aku kira kamu udah gak . . . .”
"Aku masih sekolah kok, masih SMA kelas 2.”
"Ohh . . . . ternyata sama ya . . .” kulihat senyumnya merekah. Hatiku merasa tentram melihatnya, senang melihat ia sudah bisa tersenyum setelah yang terjadi tadi.
Kulihat waktu sudah larut malam sekitar jam setengah sepuluh. Akhirnya aku pamit pulang. Malam ini hasil yang  kudapat tak lebih dari tiga puluh ribu. Sedikit, karena terlalu banyak waktu yang kuhabiskan dengan Erina.

Setelah malam itu setiap kali aku kesana, kami selalu mengobrol sebentar karena kuperhitungkan waktuku untuk mengamen mencari uang. Hubungan kami semakin baik dan dekat. Kamipun sudah bertukar nomor handphone. Setiap kali dia sms aku, bahkan terkadang menelponku dulu. Sekarang malam minggu pun aku jarang keluar untuk ngamen. Memang aku keluar membawa gitar, tetapi bukan untuk mencari uang. Gitar inilah temanku setiap kali ke rumah Erina. Semua tetangganya dan orang tuanya sampai hafal denganku karena seringnya aku kesana dulu sebelum semua ini terjadi. Tak jarang beberapa dari mereka kadang menyindirku. ”Waah . . . udah gak ngamen lagi nih disini, malah ketemu jodoh kayaknya.” Banyak dari ibu-ibu dan bapak-bapak tetangga Erina yang seperti itu padaku. Tapi itu hanya sekedar bercanda saja dan tak lebih.
Lama-lama hubungan kami semakin hari semakin dekat, aku berinisiatif untuk mengutarakan perasaanku namun aku sendiri masih takut. Lagipula keadaannya yang masih terbayang-bayang mantannya membuatku pupus harapan. Kadang kala dia masih bercerita tentang mantannya itu denganku. Entah dia menganggapku apa, aku masih belum tau sama sekali. Dari apa yang kulihat sepertinya dia sedikit ada perasaan denganku tapi ia masih dibayangi oleh masa lalunya. Mungkin itu yang menjadi penghambat hubungan kami.
Hari demi hari berganti, aku berfikir sesuatu tentang hubungan ini, mungkinkah kami bisa bersatu? Atau hanya sekedar sahabat seperti ini terus. Hal yang mengganggu pikiranku setiap hari bahkan saat sedang bersama Erina. Aku ingin bersamanya, mengisi hatinya, memilikinya sepenuh hati itu yang selalu ada dalam benak dan hatiku.
Entah berapa hari aku tak bertemu atau menghubunginya. Beberapa kali dia mencoba menghubungiku tapi tak pernah kutanggapi. Tak tega sebenarnya tapi aku mempersiapkan segalanya, mempersiapkan apa yang ingin aku lakukan pada hari yang kutentukan. Mengungkapkan perasaanku yang sudah lama terpendam saja. Kadang memang aku menghubunginya agar tak salah paham, tapi tak terlalu sering. Selama satu minggu lebih aku tak menghubungi dia atau bermain ke rumahnya.

Pagi itu pada hari Minggu aku membawa gitar kesayanganku. Kali ini tak kugunakan untuk ngamen seperti minggu-minggu biasanya. Aku langsung menuju rumah Erina. Aku juga sudah bilang padanya aku akan ke sana. Meskipun setelah itu kami akan pergi ke tempat lain.
Setelah sampai di rumahnya kami segera berpamitan pergi berdua. Kami menuju sebuah taman di pinggir kota. Meskipun hanya berjalan kaki tapi ia tetap dengan senang hati pergi denganku. Memakan waktu lima belas menit karena jaraknya memang agak jauh, kami sampai di taman yang kumaksud. Disana kami mengobrol, bercanda dan kadang bernyanyi bersama. Sekedar bertukar cerita bahkan bermain seperti anak kecil. Tak bisa terlupakan pokoknya hari itu.
”Thank’s ya, Cal.”
”Eh, buat apa?”
“Ya buat semuanya, kamu udah bikin aku bahagia selama ini, dan juga bisa menenangkan kesedihanku. Ada buat aku setiap waktu. pokoknya makasih ya . . . “
“Hmm . . . udah seharusnya kok, aku juga seneng kalo bisa ngeliat kamu tersenyum bahagia kayak gini.”
Kami berdua terdiam, dia memalingkan muka seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Aku terus memperhatikannya hingga dia melihat ke arahku.
“Kamu kenapa? Sepertinya ada yang kamu sembunyiin dari aku, Er??”
“Eh . . . gak kok gak ada. Aku bingung aja.”
“Bingung kenapa memangnya?”
“Mmm.. . . katanya kamu pengen ngomong sesuatu yang penting sama aku. Emang mau ngomong apa sih?”
”Ohh . . . . itu . . . . Cuma ini aja . . . . dengerin yah . . . .”
Dia memperhatikanku. Aku mulai mengambil gitar yang sejak tadi ku letakkan di pinggir bangku tempat kami duduk. Aku mulai menyanyikan sebuah lagu . . . .

Awalnya kudiam, terpesona . . . ♫ ♫ ♪
Tersihir senyummu yang sangat menggoda . . . ♫ ♪ ♫
Akalku tak waras berpikir tentangmu . . . .  ♪ ♪ ♪♫ ♪
Jantungku berdebar saat didekatmu . . . ♫ ♪

Namun kutahu kau tlah bersamanya . . . . ♪ ♫
Tak pupus harapku untuk menantimu . . . .♫ ♪♪
Kan kugantikan bayangnya denganku . . .♫♫♪
Tuk obati perih luka dihatimu . . . .♪ ♫
#
Erina dengankan aku, Terima cintaku
Janjiku kan setia . . .  ♫♫
Kutak seperti dirinya, Yang slalu lukai hatimu . . .
Hatimu . . .♪♪
Ijinkanlah diriku, Tuk terus coba
Bahagiakan dirimu . . . .♪♪♫
Tak ingin kulihat air matamu
Jatuh skali lagi . . . . ♫ ♪
Oh Erina . . .♪ ♫ ♫

Erina hanya terdiam, dia tersenyum.
”Ini yang mau tak ungkapin, Er. Ini adalah kata hatiku yang kubuat menjadi lagu. Aku menunggu jawaban kamu.“
Dia terdiam tapi tetap tersenyum. Senyum yang membuat aku bingung. Aku merasa deg-degan. apa dia mengerti maksud dari syair laguku? Atau dia hanya menikmati saja? Ah entahlah.
”Jadi . . . gimana Er? Kamu . . . .kamu mau jadi pacarku??"
Aku menunggu dan terus menunggu. Dia tak berucap tapi ia mengangguk dan tersenyum. Lalu aku memeluknya erat. Aku begitu bahagia. Semua berakhir, kebimbanganku kini telah reda dengan jawabannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar