Terduduk dan termenung seorang diri, Aku berada di tengah-tengah kesunyian. Mengingat-ingat segala kebahagiaan bersama dia dulu. Yah, sebuah kebahagiaan yg tak bisa tergantikan. Mungkin tak bisa tergantikan, tapi itu hanya mungkin . . . . karna manusia tak pernah tau apa yg akan terjadi.
Pagi itu, aku berangkat menuju kota semarang dengan perasaan rindu meluap-luap. Perasaan yang membuatku memikirkan seseorang di hati ini. Kereta mengiringi kepergianku. Suaranya yang begitu kukenal karena sering aku menaiki kereta ini. Blora Jaya, ya... itulah yang sekarang kunaiki demi menemui sang pujaan hati. Waktu yang cukup lama bagiku tak apa, semua akan terbayar pikirku.
Setelah menunggu kurang lebih hampir 4 jam aku tiba di Stasiun Tawang. Segera aku keluar mencari angkutan dan menuju ke rumahnya. ’Sebentar lagi, sebentar lagi. Tahan untuk sebentar saja.’ Kata-kata itulah yang selalu terucap dalam hati. Tak lama aku turun dan berjalan beberapa saat. Terlihat rumahnya di kejauhan, aku bergegas karna rasa rinduku. Hingga sampai di gerbang, seseorang sudah berlari membukakan gerbang itu. Hm ... itu dia.
”Assalamu alaikum” Ucapku.
”Iya, sampai grobogan tadi kres dengan Rajawali.” Jawabku tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganku padanya. Diam berdiri di depan gerbang untuk waktu yang lumayan lama, hingga suara Ibunya memanggil. ”Ais, kenapa Imam dibiarin berdiri di gerbang terus? Gak kasian tuh, dia kan capek habis perjalanan nake kereta.” Seru ibunya memecah keheningan kami.
”Iya, Ma.” Sahut Ais segera dan mempersilahkan aku masuk. Kami berbincang terus hingga masuk rumahnya. Aku duduk beristirahat setelah perjalanan tadi.
Malam tiba, Aku bergabung dengan keluarganya bersama. Saling bercanda tawa, bertukar cerita selama kami tak bertemu. Sudah 1 bulan aku tak berkunjung. Sibuk dengan urusan sekolah dan rumah. Kini semua terbayar pikirku.
”Ma, kami ke atas yah. Mau ngobrol berdua di atas gak papa kan?”
"Udah gak papa.”
"Tapi adek jangan boleh ikut yah, ganggu tar.”
"hm, awas ya kak. Pokoknya nanti ku gangguin terus. Weeekkk.”
"Eeee....anak ini. Awas yah kalo ganggu.” Sambil mengepalkan tangan ke adeknya.
Kami berdua meninggalkan keluarganya menuju kamar atas. Dia membawaku melihat bintang-bitnang yang berkelip. Membuat kami terpesona dan hanya diam. Hanya ada suara angin malam dan beberapa suara motor yang lewat, bahkan suara tukang bakso.
”Mmmm... tahu gak, selama satu bulan ini kalo aku kangen sama kamu aku selalu aja kaya gini. Di kamar atas memandangi bintang sambil bayangin kamu. Hehe”
”Oh ya... Aku ngangenin nih berarti. Hehehe”
”Ya iyalah, satgu bulan itu lama tau. Udah gitu di sms jarang banget balesnya. Telpon juga sekarang jarang. Kalo habis pulsanya kan bisa bilang biar diisi.”
”Sebenarnya sih bukan karena itu, aku beberapa hari ini sibuk dengan kegiatan sekolahku. Gak ada waktu istirahatnya. Ini aja aku kesini masih ada beberapa pekerjaan yang tak tinggal. Hm.... sejenak melepas penat lah di sekolah.”
”Tapi gimana sekarang keadaannya di sana? Masih ribut dengan Kepala sekolahmu itu?”
”Masih.... tambah susah aja sebenarnya. Tapi aku gak bakal nyerah.”
”Semangat terus ya, aku dukung kamu kok. Tapi... meskipun gitu jangan terlalu konsen masalah OSIS lah, pelajaran kamu kan juga perlu. Katanya udah dimarahin guru gara-gara telat ngerjain tugas. Aku gak seneng kalo prestasi kamu juga down.”
”Mmmm.... gk seneng gara-gara fokus kegiatan sampe nilaiku down apa lupa gk hubungin kamu nih??”
”Iiiiiihhh..... ya dua-duanya lah. Sapa juga yang betah kalo pacarnya tuh gak ngasih kabar sama sekali. Tapi ya Alhamdulillah, aku bisa ngerti keadaan kamu kok.” Sebuah senyum mengembang menghiasi bibirnya. Senyum yang selalu membuatku semakin sayang padanya. Sebuah senyum yang memberiku semangat dalam setiap saat.
”Makasih ya, dah mau ngerti aku. Cuma kamu yang tau apa pun tentang diriku.”
”Heem...”
Tiba-tiba dia menyuruhku berdiri
”Lihat deh, itu bintang yang selalu aku bicarain kalo lagi telpon sama kamu.” jarinya menunjuk pada sebuah bintang yang menyendiri di arah Timur agak condong ke Tenggara. Cahayanya terang berwarna perak kebiru-biruan. Kami menatapnya lekat tak bersuara. Tangan kami saling berpegangan erat. Terpesona dengan bintang yang kami lihat. Itu bintang kami, bintang yang mengobati rasa rindu kami setelah hari itu. Saat rindu, kami selalu mencari bintang itu untuk mengobati perasaan rindu kami. Aku ingat apa nama yang dia berikan pada bintang itu. ”Blue Emerald”. Agak aneh memang namanya.
Hingga malam kami berdua berbincang. Membicarakan aku, terkadang membicarakan dia hingga sahabat kami dengan senda gurau. Kadang aku jail sesekali. Malam itu kami berdua bahagia. Meskipun esok pagi aku harus pulang. Tapi kami rasa itu cukup.
Beberapa kali aku selalu pergi ke rumahnya. Sekedar bertemu dan melepas rindu. Memang jarang, tapi bagi kami cukup karena saling mengerti keadaan dengan hubungan kami yang jarak jauh seperti ini. Hanya dengan telepon saja kami berhubungan. Mempercayai satu sama lain. Apapun dimanapun kami percaya. Kami setia pada hati kami yang tak ingin saling menyakiti.
Segelintir memoriku terbuka dari kumpulan brangkas-brangkas memori di otakku. Sebuah kenangan yang membuatku terbayang tentang dia. Senyuman, tawa, kasih sayang, kebaikan, segala hal tentang dirinya begitu lekat di pikiran dan terlebih di hatiku. Terkadang aku masih melakukan apa yang dulu kami lakukan saat bersama. Memandang bintang menatapnya kemudian menutup mata kami membayangkan wajahnya. Hanya saja sekarang berbeda. Aku selalu membayangkan dia hadir di sisiku dan memelukku. Menemani malamku yang sepi tanpa dirinya. Meskipun saat membuka mata semua itu hilang. Tapi itu sudah cukup, Allah memberiku jalan seperti ini. Seperti inilah kisah kami.
Aku terbangun dari dudukku yang amat lama. Terduduk termenung dengan kenangan yang dia berikan. Kehangatan dan kasih sayangnya memberiku arti sampai saat ini. Tak sedikit mengalihkan pandanganku, hingga aku harus meninggalkannya. Dan untuk salam perpisahan sebelum aku kembali sebuah kata terucap dariku. "Aku masih merasakan kasih sayangmu sampai saat ini. Terima kasih“
Perlahan aku meninggalkannya, tertidur sendiri dalam kegelapan. Terbaring dan hanya bisa menunggu waktu saja. Aku mulai berjalan meninggalkannya. Sebuah gundukan tanah yang terawat dengan bunga di atasnya. Tertulis dalam ukiran batu berwarna abu-abu sebuah nama,
”Nia Aiska Afturizky”
”Lahir : 14 November 1992”
”Wafat : 27 November 2008”
Karena Cinta Yang Sesungguhnya Itu Anugerah Allah Yang Terindah Untuk Manusia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar