Maaf
Ayah, Maaf Ibu
Prang!!! Suara piring di meja dapur terdengar pecah berantakan,
berserakan di lantai tempat ibuku berdiri. Di depannya Ayahku terus memecahkan
satu persatu perabotan dapur. Menjatuhkan, mmbanting seolah barang itu sudah
tak berguna bagi keluarga kami. Ibuku terus menangis dan hanya bisa menangis.
Prang!! Sekali lagi ayahku mengamuk. Kali ini sebuah mangkuk sup yang biasa
digunakan ibu untuk menyuapiku saat aku masih berumur 3 tahun. Mangkuk
kesayanganku. Ibuku terduduk mengambili pecahan mangkuk tersebut dengan air
mata mengalir deras di pipinya.
“Sudah, Yah! Jangan teruskan!” Ibuku memohon, ia masih terus mengambili
pecahan mangkuk sup kesayanganku.
“Sudah??! Kamu bilang sudah??! Siapa tadi yang mulai seperti ini?!
Sekaran kamu bilang sudah?! Apa kamu tidak berfikir dulu berbicara seperti itu
pada suamimu?! Kamu nuduh aku selama ini selingkuh dengan wanita lain hanya
karena waktu yang gak pernah ada buat Aldo sama kamu??! Apa itu seorang istri
yang baik?! Jawab!!” ayah terus membentak ibu, bertanya dan mmbentak.
Ibu berdiri, “Tapi kenyataannya kan? Selama ini kemana saja Ayah tiap
malam keluyuran, alasan meeting dengan teman kantor, inilah itulah. Mama tahu
paah…. Mama tahu… hanya saja selama ini aku sabar….!” Ibu berkata dengan menepuk
dadanya. Aku tidak kuat mendengar mereka bertengkar seperti ini terus. Aku tak
tahan mndengarnya. Aku terduduk di sudut pintu dekat dapur. Menyaksikan kedua
orangtuaku bertengkar, beradu mulut tak ada sedikitpun tanda akan usai perang
ini. Aku hanya menangis, terdiam, menunduk berusaha menutupi telingaku tak
ingin mendengar apa yang terjadi. Kalau Tuhan memang ada, pasti saat ini Dia
sudah menjawab doaku untuk menyudahi pertengkaran orangtuaku dan membuat mereka
akur kembali. Tapi apa? Mereka terus bertengkar. Meskipun aku sudah duduk
dibangku Sekolah Dasar dan hampir SMP tahun depan. aku tetap saja seorang anak
laki-laki yang masih membutuhkan mereka menjalani hidupku. Pertengkaran tak
kunjun usai, aku terus duduk dan menangis saja. Ayah keluar membanting pintu
menyalakan mobilnya, ibu mengejarnya dan terus berusaha menghentikan laju mobil
Ayah. Aku melihat dari balik jendela dengan air mata mengurai deras. Ibuku
terjatuh terduduk menangis di halaman.
Empat tahun berlalu kini aku bukan lagi seorang bocah kecil. Aku sudah
remaja dan duduk di bangku SMA. Selama empat tahun ibuku berjuang sendiri
menghidupiku. Membanting tulang memenuhi kebutuhan sekolahku dengan bekerja
seadanya hanya berbekal ijazah SMA miliknya sebagai penjaht, hanya itu
kemampuannya. Tak penting pekerjaannya. Ia wanita yang tangguh menurutku. Satu
hal yang ada dibenakku saat ini. Aku ingin terus membuat ibu tersenyum, bangga
dan bahagia karena aku. Tak lagi mengingat masa kelam bersama Pria yang
meninggalkannya setelah malam itu. Aku terus mengingat wajahnya. Aku tak bisa
memaafkan apa yang sudah ia lakukan pada Ibuku.
“Aku pulang…” ucapku memasuki rumah kami. Rumah yang sederhana berdinding
tembok bercat putih yang kini semakin memudar. Di depan terjajar kursi dan meja
dari kayu yang masih terawat. Bunga di halaman juga masih tampak segar.
Kesibukan ibuku dikala sepulang kerja, menyiram, merawat bunga membuatnya
terlihat tenang dan anggun. Aku selalu menintipnya dari jendela.
“Waalaikum salam…. Sudah ibu ingatkan berapa kali kamu ini. Kalo masuk
rumah ucapkan salam.” Ibuku menghampiri dari dalam rumah. Aku langsung mencium
tangannya dan tersenyum saja.
“Hm… iya…..” hanya senyum dan ucapan iya saja, tak pernah aku mengucapkan
kata salam atau semacam itu lagi semenjak kejadian malam itu. Aku bahkan merasa
tak percaya keberadaan-Nya memang ada. “Hmm… sepertinya harum masakan ibu nih.
Pasti sup ya?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Iya.. kesukaanmu, sup special. Ibu baru aja memasak. Kalau begitu ayo
makan bersama saja, kebetulan ibu belum makan juga tadi di tempat kerja.”
Kami berjalan bersama mendekati meja makan, tapi…. “Stop. Ganti baju
dulu, baru turun terus makan. Ibu tunggu disini.” Senyumku mengembang lalu
begegas mengganti bajuku. Sekitar sepuluh menit aku sudah mengganti bajuku lalu
berlari begabun dengan ibu di meja makan. Kami menyantap menu siang ini
bersama. Sebuah kebersamaan yang manis. Aku membuka piringku lalu ibuku
mengambilkan nasi serta sayur dan lauk. Hmmm… Perkedel kentang, sayur sup
lenkap dengan macaroni. Masih hangat dan aromanya menundang rasa lapar. Tak
lama kami menyantapnya.
Setelah makan siang, seperti biasa aku menyibukkan diri di kamar.
Mengulas buku pelajaran, mengerjakan sebagian tugas yang diberikan guruku di
sekolah. Satu persatu kukerjakan hingga aku merasa butuh udara segar. Kulihat
ibuku sedang duduk di bangku sudut rumah dengan pandangan kosong. Aku
menghampirinya, ia kaget.
“Hayo! Ibu ngelamunin apa?” Tanyaku penuh selidik padanya. Ia memandangku
tersenyum, sekali lagi senyuman manisnya membuatku terasa teduh saat memandang
wajah cantik yang kini terlihat menua dan uban mulai memenuhi warna dirambutnya
yang dulu hitam. Aku ingin melihat senyuman ini, selalu, kapanpun, harus kujaga
agar ibuku tetap tersenyum seperti ini.
“Tidak ada apa-apa, hanya teringat sesuatu di tempat kerja saja.”
Jawabnya tenang dengan senyumnya masih menghiasi wajahnya.
“Ada masalah ya, Bu? Memang ada apa?” aku mendekatkan diri padanya
berlutut dihadapannya.
“Bukan masalah atau apa, hanya saja….” Ia mengalihkan pandangannya, kini
wajahnya sayu.
“Hanya saja apa?”
Ia kembali memandangku, kali ini ia tersenyum kembali. “Bukan apa-apa,
sudah selesai tugasmu?”
“Hampir, perlu refreshing sedikit agar tak jenuh dengan tulisan dan
buku-buku yang penuh angka atau rumus. Hehehe….”
Tujuh hari berselang, aku pulang. Keadaan rumah begitu sepi. Dari luar
tak terlihat ibu sama sekali. Tapi sandal dan sepeda motornya terparkir di
halaman. Aku masuk, “Aku pulang….. Bu..??” aku mencari-carinya dari ruang tamu,
kamarnya, hingga dapur. Lalu aku menuju kamar mandi. “Ibu?”
“Eh iya nak? Kamu sudah pulang? Maaf ibu tadi tidak dengar kamu datang.”
Ia terlihat panik.
“Ibu gak papa kan? Kok agak panik gitu?”
“Tidak ada apa-apa.” Ia tersenyum lalu meninggalkanku sambil
terbatuk-batuk. Aku terus memandangi ibuku. Kenapa dengan ibuku??
Sebulan berlalu batuk ibuku tak kunjung sembuh, aku berusaha membujuknya
beobat. Namun ia bersikeras bahwa batuknya hanya batuk biasa saja. Kadang ia
terbatuk sambil menutupkan sapu tangan lalu sapu tangan itu dimasukkan ke
kantung celananya. Ia terlihat semakin kurus dari sebulan lalu. Sebulan
berikutnya, aku sedang melawan ujian akhir semester yang berarti aku akan naik
ke kelas dua. Aku terus belajar, belajar dan belajar. Tetap saja aku tak bisa
berkonsentrasi setiap mendengar batuk ibu yang semakin parah. Sudah dua bulan,
tapi ia tetap tak mau periksa. Seminggu berlalu Ujian Akhir Semester selesai,
aku mengajak ibu beobat. Kalau tak kupaksa mungkin ia tak akan mau. Aku
membohonginya bahwa ia akan kuajak jalan-jalan saja. Aku membawanya ke klinik
lalu kuperiksakan. Aku menunggu di sebelahnya. Ia sudah terlihat cemas melihat
hasil tes darah yang tadi ia lakukan. Seolah Ibu sudah tahu dan menutupinya
dariku. Dokter datang.
“Ibu Zibattul, sudah berapa bulan anda batuk seperti ini?”
“Dua bulan lebih, Dok.” Aku menjawabnya. Ibuku menunduk saja.
“Apa anda sudah tahu sebelumnya penyakit yang Ibu anda derita?” aku
kaget, penyakit?
“Sama sekali tidak,Dok. Beliau tidak mau bercerita. Setiap kali saya ajak
berobat ke dokter, ia tak mau dan terus menolak ajakan saya.”
Dokter tadi menyandarkan tubuhnya, lalu menata tubuhnya agar tetap tegap
kembali, “Harusnya anda lebih awal membawa ibu anda kesini. Ibu anda positif
terkena Kanker Paru-Paru Stadium empat saat ini. Sudah parah….”
Aku tak bisa berkata apapun, mulutku menganga mendengar penjelasan dokter
lalu melihat k arah ibuku yang duduk disampingku dalam keadaan kepala menunduk
tak berani menatapku. Aku menatap dokter lagi.
“Masih bisa di Kemo bila ibu anda mau dan setuju. Meskipun…”
“Meskipun apa dok?”
“Hasilnya tetap saja….. hanya akan mengurangi waktu penyebaran sel kanker
di paru-paru beliau. Maaf hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semua tergantung
ibu anda.” Dokter menatap ibuku. Ibuku mengangkat kepalanya, “Tidak perlu, dok.
Saya tidak sanggup dengan biayanya. Saya tahu biayanya sangat mahal. Maaf dan
terima kasih.” Ia masih sempat tesenyum. Ibu…
Setelah tahu penyaikt yang ibu derita, aku semakin memperhatikan ibu,
keadaannya semakin melemah. Mau tak mau aku masak sendiri, mengurus rumah,
menyiram bunga ibu, semua hal kukerjakan. Beberapa teman atau sahabatku di
sekolah terkadang ikut mampir membantu, tetanga menengok keadaan ibu. Hingga
suatu hari aku mengenal mobil tua yang terparkir di halaman rumah. Aku pulang
sekolah saat itu. Mobil ini, mobil beberapa tahun silam yang membuat ibuku
berubah, kehidupanku, segalanya milikku. Aku bergegas lari. “Ibu!!” aku masuk
ke dalam kamar, kulihat ibuku terbaring lemah dan di depannya, seorang
laki-laki yang tak kan pernah kulupakan wajahnya berada tepat di depan ibu yang
kusayangi. Aku meraih bajunya, kutarik lalu kuhantam dengan pukulan. Ibuku
menjerit berusaha bangun melerai kami namun tubuhnya yang lemah tak mampu
menghentikan setiap hantaman yang kujatuhkan di wajahnya. Wajah yang sama,
hanya saja kini rambutnya memutih, serta keriput terlihat di setiap sudut wajah
yang dulu begitu tampan.
“Bangsat! buat apa Anda kemari!” sambil terus menghantamnya dengan
pukulan.
“Hentikan Aldo!!” Ibu menjerit. Lelaki di hadapanku pasrah menerima
pukulanku. Aku menyeretnya keluar rumah. Di depan pintu kutarik dia kudoron ia
keluar dari rumahku, Rumahnya dulu. “Pergi! Anda tidak diterima disini lagi dan
tidak diterima untuk menginjakkan kaki disini lagi! Saya ingin anda pergi
sekarang juga!!” tetangga melihat kami berdua, ibuku merangkak dengan keadaan
lemahnya menangis.
“Dengarkan Ayah, nak…”
“Ayah saya sudah mati bertahun-tahun lalu! Dan anda…. Dan anda…” tanganku
menunjuk ke mukanya, “Anda bukan Ayah saya, karena Ayah saya sudah lama mati!
Sekarang Pergi!” ia pergi dengan hidung berdarah dan mulut mengeluarkan darah
juga, mengendarai mobilnya menatap sayu seolah menyesal. Ia dan mobilnya sekali
lagi meninggalkan kami, hanya saja kali ini aku mengusirnya.
Dua minggu setelah kedatangan Ayahku, keadaan ibu memburuk. Aku tak tidur
sama sekali, terus menjaga, mendampinginya. Sementara saudaraku mulai
berdatangan, beberapa dari mereka membacakan Surat Yasin. Yah… Ayat yang tak
pernah kusentuh, kulihat atau kupelajari lagi, aku melupakannya semenjak SD
kelas enam, meskipun dulu aku bisa membacanya. Aku sedih, merasa sendiri, tak
bisa menerima keadaan yang kuterima. Saudaraku Elina mendekatiku yang duduk
menjauh saat kedua paman dan bibiku membacakan ibu Surat yasin.
“Kak Aldo, kenapa kakak tidak ikut membaca bersama kami?” aku memandangnya,
mata bening dengan hidung mancung dengan wajah yang cantik dibalik kerudung
yang ia kenakan. Adik sepupuku memandangiku, bertanya. Diam menatap kosong
itulah yang kulakukan. “Lina sudah dengar dari cerita Bu Dhe beberapa bulan
sebelum sakit. Kak Aldo tidak pernah beribadah sama sekali semenjak Ayah Kak
Aldo pergi, jangan menyiksa diri sendiri kak.” Aku memandangnya tajam. Apa
maksud perkataannya?
“Jangan menyiksa diri kakak… jangan semakin menjauhi Allah karena hal
yang sudah terjadi, ini cobaan buat kakak. Seharusnya kakak mendekatkan diri
pada-Nya. Meminta keajaiban kepada-Nya. Berdoa agar semuanya baik-baik saja,
agar Bu Dhe diberi mukjizat.”
Berdoa? Ya aku sudah lama melupakannya. Aku bergegas lari mengambil air
wudhu seperti saat aku masih kecil dulu. Mengingat semua gerakan yang ada
meskipun kikuk. Mengambil sarung hariah ibu setiap kali bulan ramadhan yang
hanya tersimpan di lemari lalu aku shalat, aku bertaubat mengingat bacaan yang
kuhafal dulu. Membacanya meminta kepada-Nya, kesembuhan ibuku, mukjizat-Nya
untuk ibu. Aku menangis dalam sujudku. Terus tersujud, berdoa memohon ampun
atas semua dosaku. Melupakan-Nya, tak percaya, dosa terhadap orang tuaku, dan
dosa yang kulakukan pada Ayahku.
Semua keluargaku berkumpul, ibuku semakin kritis. Semua makanan yang ia
makan selalu kembali, kotoran yang ia keluarkan juga sudah berwarna hitam.
Pamanku berpesan aku harus siap menerimanya, kapanpun ibuku bisa dipanggil.
Malam itu aku disampingnya, ibuku terbangun melihat aku yang membacakan surat
yasin meskipun terbata-bata untuknya. Ia tersenyum tanpa kusadari. Ia berbicara
padaku setelah aku selesai membaca. “Nak….” Suaranya lemah, pelan, tapi
bibirnya berusaha tersenyum.
“Iya, Bu….?”
“Tetap raih cita-citamu, jangan lupakan Allah SWT. Tetaplah beribadah dan
berdoa padanya. Pahamilah kehidupan ini, karena hidup ini berat. Bahkan lebih
berat dari yang kau pikirkan atau kau tanggung saat ini. Jangan lupakan
kewajibanmu sebagai Muslim. Shalat, puasa, zakat, membaca kitab Al Qur’an.
Pelajarilah ilmu yang bermanfaat di dalamnya. Pelajarilah kehidupan ini. Ibu
Bangga padamu, Nak.”
Ai mataku mengalir, aku menangis dihadapannya. “Iya, Bu.”
“Cium Kening ibu, nak.” Aku menuruti permintaannya, lalu ia menunjuk
pipinya. Aku menciumnya juga, kedua pipinya. Lalu kutingalkan ia sebentar
mengambil air putih karena aku merasa haus. Langkahku seolah berat, aku
kembali. Ibuku tertidur, terlihat ia tertidur tapi bibirnya tersenyum. Begitu
tenang…. Aku mendekatinya… aku bermaksud menata tangannya, namun saat kupegang
tangannya terasa dingin. Aku kaget. Lalu kuperiksa detak nadi ibuku. Tidak ada
sama sekali. Nafasnya juga berhenti. Aku memeluknya, menjerit…. “IBUUUU!!!”
Tujuh hari setelah ibuku meninggal, aku kini sebatang kara. Aku berusaha
tegar menghadapi kehidupanku. Seperti pesannya, aku memperbaiki ibadahku.
Mengimani dengan teguh apa yang kupercaya kini. Dulu aku terlalu jauh
meninggalkannya. Satu-persatu kerabat kembali pulang. Aku benar-benar sendiri.
Satu saudaraku yang belum pulang, Elina. Aku mengajaknya mencari Ayahku dengan
maksud meminta maaf atas apa yang kulakukan dan memberitahu tentang ibu yang
sudah tiada. Selama tiga hari aku berusaha mencari, akhinya sebuah alamat
kutemukan. Sebuah rumah kecil di ujung gang buntu. Rumah usang berwarna biru
muda berdiri tak seimbang. Beberapa sudah rusak. Aku masuk ke dalam rumah
karena rumah itu tak berpagar. Aku tak melihat mobil tua milik Ayahku. Kuketuk
pintu perlahan, tak ada jawaban hingga tiga kali. Aku menyerah, namun Elina
memintaku melakukan sekali lagi. Kulakukan…. Lalu dari belakang seseorang menyapa
kami. “Maaf… anda mencari siapa?” seorang wanita yang tak terlalu tua dengan
baju motif batik dengan memakai kacamata menghampiri kami.
“Maaf, pemilik rumah ini ada, bu?” orang itu memandangiku.
“Saya pemilik rumah ini saat ini. Ada apa ya?” aku kaget, apa mungkin aku
salah rumah.
“Saya mencari Ayah saya, Bapak Ilham Nur Hazbullah.” Wanita itu mndekat,
memandangiku lekat, menelusuri tiap sudut wajahku.
“Kamu Aldo?”
“Benar….”
Mukanya berubah sedih, tatapannya sayu ia terduduk. Aku hanya melihatnya
saja. Lalu ia berdiri. “Mari saya tunjukkan Ayah anda dimana.” Aku
mengikutinya, kami masuk dari gang ke gang. Hingga disebuah pemakaman umum.
Kami berhenti di sebuah nisan. Nama Ayahku tergores di nisan itu. “Sudah 10 hari
kakak saya meninggal, ia menderita sakit secara mendadak dan meninggal saat
malam menjelang subuh.” Aku menangis duduk disamping gundukan ayahku,
menyumpahi diriku sendiri. Meminta maaf diatas makamnya… semua meninggalkanku.
Aku kini benar-benar sendirian, ayah dan ibuku meninggal di hari yang sama
meskipun di tempat yang berbeda. Bibiku inilah yang menceritakan semua masalah
yang ada selama ini. Aku sadar. Ayahku benar-benar setia pada ibuku. Tapi ia
bersikeras pada pendiriannya yang akhirnya mmbuatnya jatuh. Ayahku tak seperti
yang kupikirkan, dia tetap mmperhatikan kami meski tak secara langsung. Aku
menyesal dan hanya bisa menangisi kesalahanku juga dosaku. Ya Allah maafkan
hamba, maafkan aku Ayah, maafkan aku ibu…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar