Sabtu, 20 Oktober 2012

Maaf Ayah, Maaf Ibu


Maaf Ayah, Maaf Ibu

Prang!!! Suara piring di meja dapur terdengar pecah berantakan, berserakan di lantai tempat ibuku berdiri. Di depannya Ayahku terus memecahkan satu persatu perabotan dapur. Menjatuhkan, mmbanting seolah barang itu sudah tak berguna bagi keluarga kami. Ibuku terus menangis dan hanya bisa menangis. Prang!! Sekali lagi ayahku mengamuk. Kali ini sebuah mangkuk sup yang biasa digunakan ibu untuk menyuapiku saat aku masih berumur 3 tahun. Mangkuk kesayanganku. Ibuku terduduk mengambili pecahan mangkuk tersebut dengan air mata mengalir deras di pipinya.
“Sudah, Yah! Jangan teruskan!” Ibuku memohon, ia masih terus mengambili pecahan mangkuk sup kesayanganku.
“Sudah??! Kamu bilang sudah??! Siapa tadi yang mulai seperti ini?! Sekaran kamu bilang sudah?! Apa kamu tidak berfikir dulu berbicara seperti itu pada suamimu?! Kamu nuduh aku selama ini selingkuh dengan wanita lain hanya karena waktu yang gak pernah ada buat Aldo sama kamu??! Apa itu seorang istri yang baik?! Jawab!!” ayah terus membentak ibu, bertanya dan mmbentak.
Ibu berdiri, “Tapi kenyataannya kan? Selama ini kemana saja Ayah tiap malam keluyuran, alasan meeting dengan teman kantor, inilah itulah. Mama tahu paah…. Mama tahu… hanya saja selama ini aku sabar….!” Ibu berkata dengan menepuk dadanya. Aku tidak kuat mendengar mereka bertengkar seperti ini terus. Aku tak tahan mndengarnya. Aku terduduk di sudut pintu dekat dapur. Menyaksikan kedua orangtuaku bertengkar, beradu mulut tak ada sedikitpun tanda akan usai perang ini. Aku hanya menangis, terdiam, menunduk berusaha menutupi telingaku tak ingin mendengar apa yang terjadi. Kalau Tuhan memang ada, pasti saat ini Dia sudah menjawab doaku untuk menyudahi pertengkaran orangtuaku dan membuat mereka akur kembali. Tapi apa? Mereka terus bertengkar. Meskipun aku sudah duduk dibangku Sekolah Dasar dan hampir SMP tahun depan. aku tetap saja seorang anak laki-laki yang masih membutuhkan mereka menjalani hidupku. Pertengkaran tak kunjun usai, aku terus duduk dan menangis saja. Ayah keluar membanting pintu menyalakan mobilnya, ibu mengejarnya dan terus berusaha menghentikan laju mobil Ayah. Aku melihat dari balik jendela dengan air mata mengurai deras. Ibuku terjatuh terduduk menangis di halaman.
Empat tahun berlalu kini aku bukan lagi seorang bocah kecil. Aku sudah remaja dan duduk di bangku SMA. Selama empat tahun ibuku berjuang sendiri menghidupiku. Membanting tulang memenuhi kebutuhan sekolahku dengan bekerja seadanya hanya berbekal ijazah SMA miliknya sebagai penjaht, hanya itu kemampuannya. Tak penting pekerjaannya. Ia wanita yang tangguh menurutku. Satu hal yang ada dibenakku saat ini. Aku ingin terus membuat ibu tersenyum, bangga dan bahagia karena aku. Tak lagi mengingat masa kelam bersama Pria yang meninggalkannya setelah malam itu. Aku terus mengingat wajahnya. Aku tak bisa memaafkan apa yang sudah ia lakukan pada Ibuku.
“Aku pulang…” ucapku memasuki rumah kami. Rumah yang sederhana berdinding tembok bercat putih yang kini semakin memudar. Di depan terjajar kursi dan meja dari kayu yang masih terawat. Bunga di halaman juga masih tampak segar. Kesibukan ibuku dikala sepulang kerja, menyiram, merawat bunga membuatnya terlihat tenang dan anggun. Aku selalu menintipnya dari jendela.
“Waalaikum salam…. Sudah ibu ingatkan berapa kali kamu ini. Kalo masuk rumah ucapkan salam.” Ibuku menghampiri dari dalam rumah. Aku langsung mencium tangannya dan tersenyum saja.
“Hm… iya…..” hanya senyum dan ucapan iya saja, tak pernah aku mengucapkan kata salam atau semacam itu lagi semenjak kejadian malam itu. Aku bahkan merasa tak percaya keberadaan-Nya memang ada. “Hmm… sepertinya harum masakan ibu nih. Pasti sup ya?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Iya.. kesukaanmu, sup special. Ibu baru aja memasak. Kalau begitu ayo makan bersama saja, kebetulan ibu belum makan juga tadi di tempat kerja.”
Kami berjalan bersama mendekati meja makan, tapi…. “Stop. Ganti baju dulu, baru turun terus makan. Ibu tunggu disini.” Senyumku mengembang lalu begegas mengganti bajuku. Sekitar sepuluh menit aku sudah mengganti bajuku lalu berlari begabun dengan ibu di meja makan. Kami menyantap menu siang ini bersama. Sebuah kebersamaan yang manis. Aku membuka piringku lalu ibuku mengambilkan nasi serta sayur dan lauk. Hmmm… Perkedel kentang, sayur sup lenkap dengan macaroni. Masih hangat dan aromanya menundang rasa lapar. Tak lama kami menyantapnya.
Setelah makan siang, seperti biasa aku menyibukkan diri di kamar. Mengulas buku pelajaran, mengerjakan sebagian tugas yang diberikan guruku di sekolah. Satu persatu kukerjakan hingga aku merasa butuh udara segar. Kulihat ibuku sedang duduk di bangku sudut rumah dengan pandangan kosong. Aku menghampirinya, ia kaget.
“Hayo! Ibu ngelamunin apa?” Tanyaku penuh selidik padanya. Ia memandangku tersenyum, sekali lagi senyuman manisnya membuatku terasa teduh saat memandang wajah cantik yang kini terlihat menua dan uban mulai memenuhi warna dirambutnya yang dulu hitam. Aku ingin melihat senyuman ini, selalu, kapanpun, harus kujaga agar ibuku tetap tersenyum seperti ini.
“Tidak ada apa-apa, hanya teringat sesuatu di tempat kerja saja.” Jawabnya tenang dengan senyumnya masih menghiasi wajahnya.
“Ada masalah ya, Bu? Memang ada apa?” aku mendekatkan diri padanya berlutut dihadapannya.
“Bukan masalah atau apa, hanya saja….” Ia mengalihkan pandangannya, kini wajahnya sayu.
“Hanya saja apa?”
Ia kembali memandangku, kali ini ia tersenyum kembali. “Bukan apa-apa, sudah selesai tugasmu?”
“Hampir, perlu refreshing sedikit agar tak jenuh dengan tulisan dan buku-buku yang penuh angka atau rumus. Hehehe….”
Tujuh hari berselang, aku pulang. Keadaan rumah begitu sepi. Dari luar tak terlihat ibu sama sekali. Tapi sandal dan sepeda motornya terparkir di halaman. Aku masuk, “Aku pulang….. Bu..??” aku mencari-carinya dari ruang tamu, kamarnya, hingga dapur. Lalu aku menuju kamar mandi. “Ibu?”
“Eh iya nak? Kamu sudah pulang? Maaf ibu tadi tidak dengar kamu datang.” Ia terlihat panik.
“Ibu gak papa kan? Kok agak panik gitu?”
“Tidak ada apa-apa.” Ia tersenyum lalu meninggalkanku sambil terbatuk-batuk. Aku terus memandangi ibuku. Kenapa dengan ibuku??
Sebulan berlalu batuk ibuku tak kunjung sembuh, aku berusaha membujuknya beobat. Namun ia bersikeras bahwa batuknya hanya batuk biasa saja. Kadang ia terbatuk sambil menutupkan sapu tangan lalu sapu tangan itu dimasukkan ke kantung celananya. Ia terlihat semakin kurus dari sebulan lalu. Sebulan berikutnya, aku sedang melawan ujian akhir semester yang berarti aku akan naik ke kelas dua. Aku terus belajar, belajar dan belajar. Tetap saja aku tak bisa berkonsentrasi setiap mendengar batuk ibu yang semakin parah. Sudah dua bulan, tapi ia tetap tak mau periksa. Seminggu berlalu Ujian Akhir Semester selesai, aku mengajak ibu beobat. Kalau tak kupaksa mungkin ia tak akan mau. Aku membohonginya bahwa ia akan kuajak jalan-jalan saja. Aku membawanya ke klinik lalu kuperiksakan. Aku menunggu di sebelahnya. Ia sudah terlihat cemas melihat hasil tes darah yang tadi ia lakukan. Seolah Ibu sudah tahu dan menutupinya dariku. Dokter datang.
“Ibu Zibattul, sudah berapa bulan anda batuk seperti ini?”
“Dua bulan lebih, Dok.” Aku menjawabnya. Ibuku menunduk saja.
“Apa anda sudah tahu sebelumnya penyakit yang Ibu anda derita?” aku kaget, penyakit?
“Sama sekali tidak,Dok. Beliau tidak mau bercerita. Setiap kali saya ajak berobat ke dokter, ia tak mau dan terus menolak ajakan saya.”
Dokter tadi menyandarkan tubuhnya, lalu menata tubuhnya agar tetap tegap kembali, “Harusnya anda lebih awal membawa ibu anda kesini. Ibu anda positif terkena Kanker Paru-Paru Stadium empat saat ini. Sudah parah….”
Aku tak bisa berkata apapun, mulutku menganga mendengar penjelasan dokter lalu melihat k arah ibuku yang duduk disampingku dalam keadaan kepala menunduk tak berani menatapku. Aku menatap dokter lagi.
“Masih bisa di Kemo bila ibu anda mau dan setuju. Meskipun…”
“Meskipun apa dok?”
“Hasilnya tetap saja….. hanya akan mengurangi waktu penyebaran sel kanker di paru-paru beliau. Maaf hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semua tergantung ibu anda.” Dokter menatap ibuku. Ibuku mengangkat kepalanya, “Tidak perlu, dok. Saya tidak sanggup dengan biayanya. Saya tahu biayanya sangat mahal. Maaf dan terima kasih.” Ia masih sempat tesenyum. Ibu…
Setelah tahu penyaikt yang ibu derita, aku semakin memperhatikan ibu, keadaannya semakin melemah. Mau tak mau aku masak sendiri, mengurus rumah, menyiram bunga ibu, semua hal kukerjakan. Beberapa teman atau sahabatku di sekolah terkadang ikut mampir membantu, tetanga menengok keadaan ibu. Hingga suatu hari aku mengenal mobil tua yang terparkir di halaman rumah. Aku pulang sekolah saat itu. Mobil ini, mobil beberapa tahun silam yang membuat ibuku berubah, kehidupanku, segalanya milikku. Aku bergegas lari. “Ibu!!” aku masuk ke dalam kamar, kulihat ibuku terbaring lemah dan di depannya, seorang laki-laki yang tak kan pernah kulupakan wajahnya berada tepat di depan ibu yang kusayangi. Aku meraih bajunya, kutarik lalu kuhantam dengan pukulan. Ibuku menjerit berusaha bangun melerai kami namun tubuhnya yang lemah tak mampu menghentikan setiap hantaman yang kujatuhkan di wajahnya. Wajah yang sama, hanya saja kini rambutnya memutih, serta keriput terlihat di setiap sudut wajah yang dulu begitu tampan.
“Bangsat! buat apa Anda kemari!” sambil terus menghantamnya dengan pukulan.
“Hentikan Aldo!!” Ibu menjerit. Lelaki di hadapanku pasrah menerima pukulanku. Aku menyeretnya keluar rumah. Di depan pintu kutarik dia kudoron ia keluar dari rumahku, Rumahnya dulu. “Pergi! Anda tidak diterima disini lagi dan tidak diterima untuk menginjakkan kaki disini lagi! Saya ingin anda pergi sekarang juga!!” tetangga melihat kami berdua, ibuku merangkak dengan keadaan lemahnya menangis.
“Dengarkan Ayah, nak…”
“Ayah saya sudah mati bertahun-tahun lalu! Dan anda…. Dan anda…” tanganku menunjuk ke mukanya, “Anda bukan Ayah saya, karena Ayah saya sudah lama mati! Sekarang Pergi!” ia pergi dengan hidung berdarah dan mulut mengeluarkan darah juga, mengendarai mobilnya menatap sayu seolah menyesal. Ia dan mobilnya sekali lagi meninggalkan kami, hanya saja kali ini aku mengusirnya.
Dua minggu setelah kedatangan Ayahku, keadaan ibu memburuk. Aku tak tidur sama sekali, terus menjaga, mendampinginya. Sementara saudaraku mulai berdatangan, beberapa dari mereka membacakan Surat Yasin. Yah… Ayat yang tak pernah kusentuh, kulihat atau kupelajari lagi, aku melupakannya semenjak SD kelas enam, meskipun dulu aku bisa membacanya. Aku sedih, merasa sendiri, tak bisa menerima keadaan yang kuterima. Saudaraku Elina mendekatiku yang duduk menjauh saat kedua paman dan bibiku membacakan ibu Surat yasin.
“Kak Aldo, kenapa kakak tidak ikut membaca bersama kami?” aku memandangnya, mata bening dengan hidung mancung dengan wajah yang cantik dibalik kerudung yang ia kenakan. Adik sepupuku memandangiku, bertanya. Diam menatap kosong itulah yang kulakukan. “Lina sudah dengar dari cerita Bu Dhe beberapa bulan sebelum sakit. Kak Aldo tidak pernah beribadah sama sekali semenjak Ayah Kak Aldo pergi, jangan menyiksa diri sendiri kak.” Aku memandangnya tajam. Apa maksud perkataannya?
“Jangan menyiksa diri kakak… jangan semakin menjauhi Allah karena hal yang sudah terjadi, ini cobaan buat kakak. Seharusnya kakak mendekatkan diri pada-Nya. Meminta keajaiban kepada-Nya. Berdoa agar semuanya baik-baik saja, agar Bu Dhe diberi mukjizat.”
Berdoa? Ya aku sudah lama melupakannya. Aku bergegas lari mengambil air wudhu seperti saat aku masih kecil dulu. Mengingat semua gerakan yang ada meskipun kikuk. Mengambil sarung hariah ibu setiap kali bulan ramadhan yang hanya tersimpan di lemari lalu aku shalat, aku bertaubat mengingat bacaan yang kuhafal dulu. Membacanya meminta kepada-Nya, kesembuhan ibuku, mukjizat-Nya untuk ibu. Aku menangis dalam sujudku. Terus tersujud, berdoa memohon ampun atas semua dosaku. Melupakan-Nya, tak percaya, dosa terhadap orang tuaku, dan dosa yang kulakukan pada Ayahku.
Semua keluargaku berkumpul, ibuku semakin kritis. Semua makanan yang ia makan selalu kembali, kotoran yang ia keluarkan juga sudah berwarna hitam. Pamanku berpesan aku harus siap menerimanya, kapanpun ibuku bisa dipanggil. Malam itu aku disampingnya, ibuku terbangun melihat aku yang membacakan surat yasin meskipun terbata-bata untuknya. Ia tersenyum tanpa kusadari. Ia berbicara padaku setelah aku selesai membaca. “Nak….” Suaranya lemah, pelan, tapi bibirnya berusaha tersenyum.
“Iya, Bu….?”
“Tetap raih cita-citamu, jangan lupakan Allah SWT. Tetaplah beribadah dan berdoa padanya. Pahamilah kehidupan ini, karena hidup ini berat. Bahkan lebih berat dari yang kau pikirkan atau kau tanggung saat ini. Jangan lupakan kewajibanmu sebagai Muslim. Shalat, puasa, zakat, membaca kitab Al Qur’an. Pelajarilah ilmu yang bermanfaat di dalamnya. Pelajarilah kehidupan ini. Ibu Bangga padamu, Nak.”
Ai mataku mengalir, aku menangis dihadapannya. “Iya, Bu.”
“Cium Kening ibu, nak.” Aku menuruti permintaannya, lalu ia menunjuk pipinya. Aku menciumnya juga, kedua pipinya. Lalu kutingalkan ia sebentar mengambil air putih karena aku merasa haus. Langkahku seolah berat, aku kembali. Ibuku tertidur, terlihat ia tertidur tapi bibirnya tersenyum. Begitu tenang…. Aku mendekatinya… aku bermaksud menata tangannya, namun saat kupegang tangannya terasa dingin. Aku kaget. Lalu kuperiksa detak nadi ibuku. Tidak ada sama sekali. Nafasnya juga berhenti. Aku memeluknya, menjerit…. “IBUUUU!!!”
Tujuh hari setelah ibuku meninggal, aku kini sebatang kara. Aku berusaha tegar menghadapi kehidupanku. Seperti pesannya, aku memperbaiki ibadahku. Mengimani dengan teguh apa yang kupercaya kini. Dulu aku terlalu jauh meninggalkannya. Satu-persatu kerabat kembali pulang. Aku benar-benar sendiri. Satu saudaraku yang belum pulang, Elina. Aku mengajaknya mencari Ayahku dengan maksud meminta maaf atas apa yang kulakukan dan memberitahu tentang ibu yang sudah tiada. Selama tiga hari aku berusaha mencari, akhinya sebuah alamat kutemukan. Sebuah rumah kecil di ujung gang buntu. Rumah usang berwarna biru muda berdiri tak seimbang. Beberapa sudah rusak. Aku masuk ke dalam rumah karena rumah itu tak berpagar. Aku tak melihat mobil tua milik Ayahku. Kuketuk pintu perlahan, tak ada jawaban hingga tiga kali. Aku menyerah, namun Elina memintaku melakukan sekali lagi. Kulakukan…. Lalu dari belakang seseorang menyapa kami. “Maaf… anda mencari siapa?” seorang wanita yang tak terlalu tua dengan baju motif batik dengan memakai kacamata menghampiri kami.
“Maaf, pemilik rumah ini ada, bu?” orang itu memandangiku.
“Saya pemilik rumah ini saat ini. Ada apa ya?” aku kaget, apa mungkin aku salah rumah.
“Saya mencari Ayah saya, Bapak Ilham Nur Hazbullah.” Wanita itu mndekat, memandangiku lekat, menelusuri tiap sudut wajahku.
“Kamu Aldo?”
“Benar….”
Mukanya berubah sedih, tatapannya sayu ia terduduk. Aku hanya melihatnya saja. Lalu ia berdiri. “Mari saya tunjukkan Ayah anda dimana.” Aku mengikutinya, kami masuk dari gang ke gang. Hingga disebuah pemakaman umum. Kami berhenti di sebuah nisan. Nama Ayahku tergores di nisan itu. “Sudah 10 hari kakak saya meninggal, ia menderita sakit secara mendadak dan meninggal saat malam menjelang subuh.” Aku menangis duduk disamping gundukan ayahku, menyumpahi diriku sendiri. Meminta maaf diatas makamnya… semua meninggalkanku. Aku kini benar-benar sendirian, ayah dan ibuku meninggal di hari yang sama meskipun di tempat yang berbeda. Bibiku inilah yang menceritakan semua masalah yang ada selama ini. Aku sadar. Ayahku benar-benar setia pada ibuku. Tapi ia bersikeras pada pendiriannya yang akhirnya mmbuatnya jatuh. Ayahku tak seperti yang kupikirkan, dia tetap mmperhatikan kami meski tak secara langsung. Aku menyesal dan hanya bisa menangisi kesalahanku juga dosaku. Ya Allah maafkan hamba, maafkan aku Ayah, maafkan aku ibu…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar