April tiba, kemarau pun datang menantang dengan panas teriknya matahari. Kulit serasa terbakar siang itu. Pukul 2 selepas pulang sekolah, rasa capek bercampur dengan bete pelajaran yang sudah kulalui di kelas hari ini benar-benar memancing emosiku. Di kelas ketahuan tidur pula pas pelajaran Pak Dimas si Singa botak. Benar-benar emosi yang siap untuk diledakkan pada mereka yang mencari masalah.
"Oi, bro. Muka nakutin banget. Kenapa lu?"
Andri temen seperjuangan dalam hal kenakalan remaja tiba-tiba menghampiriku.
"Shit, gue lagi bete banget! Sumpah...! Udah kelas panas, si Singa Botak ngehukum gue juga! Bener-bener hari apes! Pengen ngehajar orang kayaknya gue!"
"eits... Tenang bro. Santai aja lagi. Biar lu adem, gimana kalo kita nyari es aja deh... Mau kan lu?" tawaran yang menarik pikirku, "bisa aja lu, Ndri... Tapi... Bayarin lu ya, duit gue udah abis beli rokok tadi pas istirahat plus buat makan siang."
"alah... Lu mah dari dulu kan maunya gratisan, mana pernah bayar sendiri. Alesan mulu..." gerutunya padaku.
"Sial lu! Rokok tadi yang ngisep lu juga kan. Anjing lu ya...." kupiting kepalanya di ketiakku. Lalu ku acak-acak rambutnya. Setelah puas, kami bergegas mencari es yang enak untuk mengobati rasa haus kami. Rasa haus di tenggorokanku dan juga rasa hausnya hati yang kepanasan. Lumayan lama kami berjalan mencari es yang enak untuk diminum. Dari mulai ujung ke ujung hanya berjajar es-es biasa dengan bermacam tulisan. ES TELER, ES DAWET AYU, ES CAMPUR SEGAR, ES DOGER, ES KELAPA MUDA ASLI, kupikir bukanlah kelapa asli, hanya kelapa tua yang diberi sari manis utk menyegarkan saja. Lagipula aku sudah pernah mencobanya dan setelah tau, aku harus menerima akibatnya. Batuk selama satu minggu tak kunjung sembuh. Kami terus berjalan sampai akhirnya berhenti di sebuah gerobak berwarna coklat dan merah muda bertuliskan ICE CREAM. Hanya terlihat payung dan papan namanya saja. Penjualnya tak terlihat batang hidungnya.
"Sst.. Noh kayaknya rame banget, enak kali es nya. Cobain yuk."
"Nurut, situ kan yang jadi bosnya." Andri menarik lenganku mendekati penjual es krim bergerobak coklat dan merah muda. Penjualnya terlihat sibuk, banyak sekali pembeli yang antri menunggu giliran. Dari semua penjual di pinggir jalan trotoar hanya dia yang terlihat rame dibanding yang lain. Kami berdesak-desakan. Karena kenakalan kami berdua, semua cewek dan beberapa cowok yang antri kami dahului dengan menabraki mereka. Satu persatu mulai menyingkir karena badan Andri yang agak besar. Tibalah kami di depan penjual es.
"Bang es-nya dua." lalu menengok ke belakang. "Kalo protes dapat bogeman gratis dari gue! Sapa mau?!"
"Ehm... Apa gak sebaiknya antri saja dek, kasian mereka kan...." ucap penjual es yang terliha masih muda. Umurnya sekitar 24 tahun-an. Badannya tak terlalu kurus, ideal dan rambutnya cepak berwarna hitam memakai kaos warna putih dan celana hitam. Ia tersenyum sembari membujuk kami untuk antri. "Udah deh mas, yang penting layani dulu kita. Pembeli adalah raja kan?"
Dia hanya tersenyum saja lalu bertanya, "mau rasa apa dek? Coklat, strobery, milk vanilla or rasa lainnya?" sambil memberikan daftar rasa es krimnya. Aku melihat dan memutuskan. Saat hampir ku utarakan pesananku. tiba-tiba dari belakang seseorang memesan dengan cepat dari sebelah kananku. Seorang cewek dengan rambut terikat ke belakang seperti ekor kuda, memakai seragam yang sama denganku dengan tinggi mungkin sekitar 165-an. Cukup tinggi. Cantik, kulitnya putih dan halus, hidungnya mancung seperti artis Asmirandah. Wajahnya blesteran eropa kupikir. "Coklat strobery 1, bang. Cepetan." aku hanya terdiam melihat cewek disampingku. Pesanan yang harusnya kusampaikan seolah tak bisa terucap, bibirku kelu dan mataku tak bisa lepas dari cewek itu. Aku terus melihatnya sampai ia mendapatkan es krim yang ia inginkan dan pergi meninggalkan kami. Andri menginjak kakiku, "Wadoo!!! Setan lu... Sakit, Bego!"
"pesenan lu apaan, bengong aja ngliatin cewek."
aku kembali menatap tabel rasa es krim di depanku meski sedikit ingin marah karena didahului seseorang secara tak sopan, meskipun kami juga antri yang tak sopan. Aku ingat pesanan cewek tadi, "Cokelat strobery."
"Gue vanilla aja bang."
perlahan kami pergi setelah mendapat pesanan kami. Tapi aku masih terus terbayang pada cewek yang baru saja bertemu.
"Ndri, tu cewek cantik juga ya. Sial, gue gak tau dia siapa. Tapi nyolot juga, berani banget sama kita."
Sambil menikmati Es krim miliknya ia menjawab, "Udeee biarin, sekarang makan tuh es krim keburu cair."
rasa penasaranku terus berkecamuk di otak. Lalu kumakan es krim pesananku sedikit. Hmm... Rasanya unik, manis bercampur asamnya strobery bercampur menjadi satu dilidah. Bagaimana anak ini tau perpaduannya seperti ini? Apa mungkin dia biasa beli disini ya?
Keesokan harinya aku memaksa Andri untuk membeli es krim itu lagi. Kali ini aku berencana akan duduk di kursi yang disediakan oleh penjual es krim sembari menunggu cewek itu datang. Dengan terpaksa Andri mengikutiku. Sama seperti waktu itu aku memesan rasa yang sama. Menunggu dan menunggu.... Selang lima belas menit cewek itu muncul kali ini bersama temannya. Dia memesan es krim yang sama, lalu mencari tempat duduk dan mengobrol dengan temannya. 'Kesempatan' pikirku. Lalu aku mendekatinya, "Hei... Sory ganggu."
pandangannya tajam menusuk hatiku. Matanya bening dengan warna coklat terang. Cantik sekali.
"Hei juga... kamu kan yang kemaren antrinya gak bener itu kalo gak salah?"
ups, ingatannya tajam. "Yups, sory gue minta maaf kemaren itu."
"It's ok. What do you want?"
'busyet, pake inggris segala. Mampus gue lemah ma bahasa ini'
"Mmmm.... Emmmm..."
dia memandangiku bingung, "so... Kamu mau apa kesini?"
"Oh... Gak papa. Cuma pengen minta maaf aja sambil minta kenalan. Gue Iqbal, lu sapa?"
dia diam memandangi uluran tanganku saja. Lalu tangannya bersalaman denganku. Halus.... "Rossa," senyum tipisnya mengembang. Begitu manis. "Udah kan. Trus ngapain masih disini?"
alamak judes juga. Aku hanya tersenyum minta maaf dan berbalik meninggalkan dia.
Hari esok dan esoknya lagi aku masih terus berusaha mengenal lebih tentang dia. Meski pertama basa-basi hingga kadang dipermalukan di depan orang banyak. Pernah sampai dibentak dan hampir di lempar gelas berisi es krim. Aku tetap saja nekat mendekatinya. Andri hanya menggeleng-geleng dengan sikapku. Seorang preman di sekolah harus dipermalukan oleh seorang cewek. Sampai suatu ketika seperti biasa aku nongkrong membeli es krim sambil menunggunya, kali ini aku sendiri, sampai penjual es sangat hafal denganku. Sekitar seuluh menit dia datang, kali ini kulihat sendiri saja. Wajahnya agak sedih. Aku tertarik untuk mencari tahu. Kudekati ia perlahan. "Hai Rossa, apa kabar? Tumben sendiri?"
dia hanya memandangku dengan mata sayunya. Dia benar-benar merasa tak memperdulikan aku disitu.
"Boleh aku duduk?" kulihat tak ada jawaban hanya pandangan mata yang sama dengan tadi. Kami duduk berhadapan di meja bundar berpayung merah. Aku hanya menatapnya saja. Kutelusuri isi hatinya dengan terus memandang matanya. "Kamu lagi sedih ya?? Gak kayak biasanya kamu gini." sekali lagi dia memandang dengan pandangan sayu, hanya saja kali ini agak lama lalu menunduk. Ia menangis. 'aduh, kok malah nangis' aku mendekatinya kursiku pindah ke samping kanannya. Ia terus menangis meski tangisannya tak bersuara.
"Kamu kenapa?" entah sadar atau tidak ia bersandar dipundakku dengan air mata mengslir dari mata indahnya.
"Damn, he was lie to me. I was stupid believe him. I'm a stupid.... Stupid.... Harusnya aku gak mudah percaya ama dia."
aku diam, kuberanikan memeluknya. Ia terus mengumpat, mengungkapkan isi hatinya. Ia kecewa. Sedih....
"Sorry, aku malah cerita ke kamu." ia membernarkan posisi duduknya dan mengusap air matanya. Kuberikan sapu tangan warna hijauku padanya.
"Sabar ya Ros. Tuhan maha adil, Dia memberitahumu siapa orang itu sebenarnya. Jadikan pelajaran." ups kok gue bisa bijak gini ya....
Rossa berhenti menangis. Dia bercerita lagi panjang lebar segala permasalahannya. ternyata selama ini ia dijadikan selingkuhan. Ia baru tahu tadi. 'Gila tu cowok, cewek kayak gini cuma buat selingkuhan, goblok tuh orang'
"Maaf ya....bal... Aku malah cerita sama kamu kayak gini, padahal sebelumnya aku terus membentak, judes bahkan jahat sama kamu tiap ketemu disini."
"Gak masalah, aku seneng kok bisa menampung curhatmu, aku juga seneng bisa ngasih nasihat sedikit buat kamu... Yaaa... Gak terlalu bijak seperti mereka yang bijak."
"gak papa kok... Thank's ya..." ia kembali diam. Aku berdiri mendekati penjual es krim lalu kembali.
"Spesial buat kamu biar gak sedih lagi. Ice cream strowberry chocolate.... Hehehe"
"thank's ya, Bal." Ia sudah tersenyum kembali. "Tau gak, rasa ice cream ini kayak kehidupan ya... Terasa asam dan manis, seperti juga hidup yang kita alami. Itulah kenapa aku suka rasa ini." dia tersenyum lagi. Aku membalasnya dengan senyuman juga sambil mencerna arti perkataannya.
Semenjak hari itu kami sering janjian bertemu di tempat yang sama. Saling bertukar cerita, pengalaman, bahkan pribadi masing-masing diceritakan. Hubunganku seakan sudah diambang pintu, sedikit dorongan dan aku akan masuk. Aku mulai tahu dia siapa sebenarnya, seorang keturunan prancis dari ayahnya, ibu seorang jawa. Siswi di SMA 86 kelas 2 jurusan IPA. Siswi unggulan, dan satu lagi. Jago karate. Ups...
Kami sudah dekat, hubungan ini hanya belum tahu kemana arahnya. Kupikir ia nyaman denganku dan mungin mau menjadi kekasihku. Toh sudah lama juga ia mungkin sudah terobati dan mau membuka hatinya. Selama 6 bulan kami terus berhubungan selama ini.
Hari sabtu sore aku mengajak dia untuk ke tempat biasa. "Hallo Ros?"
"Oh hei, Bal. Kebetulan kamu telepon. Tar sore ketemu di tempat biasanya yah... I'm happy today. And I wanna say something to you. Don?t forget at 4.00 PM okey..."
"Ohhh... Beres deh. Aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu."
"Thank's.... Oke kita ngomong disana saja" hmmm tepat banget timingnya. Aku bersiap, dengan memakai baju terbaikku, serta kurapikan diriku sedemikian rupa demi bertemu dengannya juga untuk mengungkapkan perasaanku. Aku bersiap lalu berangkat dengan motor Satria merah hitam milikku. Aku tiba dulu, selang 15 menit Rossa datang memakai baju kaos warna pink dan bergambar Angry Bird's. Rambutnya tak diikat seperti biasa. Pajangnya sepunggung dengan poni yang lucu. Ia mendatangiku dengan tersenyum.
"Hey.... Lama kah?"
"Gak kok,"
"Aku pesen dulu ya."
"Gak perlu, udah tak pesenin. So gak usah bingung. Special kayak biasanya deh. Hehe."
aku memandanginya lagi, matanya... Wajahnya....
"So... What do you wanna say to me?"
"kamu aja dulu deh."
"Are you sure?" aku hanya mengangguk saja, "Okey. I wanna tell you... Guess what???
Anton ngajak gue balikan, dan kali ini dia serius sama aku. Dia bener-bener mutusin si Yuli... Aku seneng banget, Bal.... Dan kamu tau, kami baru aja jadian. I'm so happy..."
kupaksakan senyum tetap mengembang dibibirku setelah mendengar yang dia katakan. Aku hanya bisa tersenyum menutupi sedihnya hatiku. Ice cream kami datang ia terus bercerita tentang dia dan Anton. Aku menahan luka perih hati. Aku berusaha menerima semua. Kudengarkan setiap perkataan yang ia sampaikan. Ia memakan es-nya sedikit demi sedikit sambil bercerita hingga sampai setengah dari jauh seorang laki-laki melambai padanya. Dialah Anton, kami berkenalan.
"Oh ya, Bal. Kamu katanya mau ngomong sesuatu sama aku?"
aku tersenyum, "tidak, gak apa-apa kok. Ga jadi dan gak usah dipikirkan. Aku lupa tadi ingin menyampaikan apa." dia menatapku penuh selidik.
"okey.... Kao gitu aku pergi ma Anton dulu yah... Thank's buat waktunya selama ini, kita selalu sahabatan yah."
Rossa pamit pergi dengan Anton. Ia meninggalkanku sendirian. Aku hanya tersenyum dan tersenyum menutupi hancurnya hatiku. Aku memandang es krim ku yang tak tersentuh sedikitpun. Aku mengambil sesendok, kupandangi es krim di sendok dengan warna cokelat dan merah muda. Kutatap lekat. "Memang benar, kehidupan memang seperti es krim ini, terutama masalah cinta.... cokelat strobery.... manis dan asam...." aku memakannya sesendok sambil terus merenungi hal yang baru saja terjadi padaku. Sesendok demi sesendok kuhabiskan es krimku.
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar