Berjalan keluar kelas dengan langkah malas tak menghiraukan teman-temannya. Melangkah dalam urutan terakhir dari semua anak-anak sekelasnya. Dengan langkah lunglai dan sedikit saja menghiraukan sekitar yg mulai memandanginya. Siswa laki-laki yg sering menjadi pujian teman-temannya karena terkenal sangat cuek di sekolah itu. Siswa yg menjadi buah bibir para siswa perempuan karena tidak pernah peduli pada mereka jika bertemu. Yah namanya Aldo, siswa kelas 2 di SMA Jayabakti. Perlahan ia meninggalkan gerbang sekolah, sementara beberapa temannya masih asyik mengobrol dan bergurau sepulang sekolah. Beberapa lagi juga meninggalkan gerbang semakin jauh seperti halnya Aldo.
Sebentar ia berjalan menapaki jalan yg dilewatinya. Tanpa sadar kakinya menginjak sesuatu. Berwarna pink, sekecil ukuran kotak bungkus Susu Milo ukuran kecil. Tersampul pink rapi dan menampakkan gaya cewek sekali bila memandangnya. Benda itu diambil dan dilihatnya tertulis "Diary". ‘Milik siapa ini’ pikir Aldo dalam hati. Lalu dilihatnya di belakang buku itu tertulis ”Semua curahan hati tergores di dalam lembaran kertas, bertumpukkan di dalam sebuah kenangan dalam hati menjadi cerita di dalam hidup yang penuh warna”. Aldo berfikir ’Ah, sepertinya pemiliknya mempunyai sifat yang tertutup dalam sikap dan apa yang dilakukan’. Ia menoleh ke kanan dan kiri mengikuti sudut-sudut gang di jalan sekitar sekolahnya. Tak ada seorangpun yang terlihat. Hanya seorang penyapu jalan di siang hari dan beberapa anak yang sedang bermain bersenda gurau dalam usianya yang terlihat. Selain itu sudah tak ada. Karena teman-teman sekolahnya sudah pulang semua. Hanya tertinggal anak-anak yang berada di dalam halaman sekolah. Tapi itu tidak mungkin pikirnya.
Ia berjalan dengan memutuskan untuk membawa ”Diary” yang ditemukan. Dengan sedikit semangat ingin membaca isi hati orang lain, ia berlari bergegas sampai di rumah untuk segera membaca dan mencari tau isinya. Rasa penasaran memenuhi pikirannya.
’Milik siapa ini sebenarnya?’ Pikirnya dalam hati. perlahan mulai ia buka isi buku bersampul pink itu.
”Sahabat sejatiku saat aku merasa sedih, kegembiraan, dan merasakan cinta”.
’Benar-benar seorang yang pintar bermain kata, mungkin dia pandai dalam sastra’, Sembari tersenyum membaca potongan kalimat itu. Kemudian ia membuka halaman berikutnya. Tertulis nama yang dia kenal selama ini, Karina Dwi Zattulini . Aldo semakin kaget dan penasaran isi buku itu. Tanpa ragu lagi di bukanya halaman demi halaman dan dibacanya dengan seksama.
Sabtu, 13 September 2009
Hari ini aku senang sekali sahabatku. Kau tahu? Hari ini aku bertemu dengan seseorang yg sangat tampan sekali. Aku tidak sengaja menabraknya pagi tadi saat di perpustakaan. Tapi aku tak tahu dia siapa. Sayang sekali. Tapi itu sudah membuatku bahagia. Apa kau tahu kenapa aku sebahagia ini sahabatku? Kenapa aku merasa aneh ya waktu memandang dia tadi? Entahlah sahabatku, aku tak tahu. Mungkin Allah mempunyai rencana dalam pertemuan ini.
Sesejuk angin di musim semi yg kini aku rasakan. Aku bahagia, hari ini aku duduk bersama dia, Mas Aldo. Aku bahagia sahabatku. Dia tak seperti yg terlihat dan tak seperti yg dibicarakan teman-teman dan kakak-kakak kelasku. Dia tidak cuek. Tak seperti yang orang katakan. Dia begitu peduli dan lebih peduli. Mungkin dia hanya sedikit tak mau ikut campur dengan urusan orang lain. Itu yang bisa kulihat dari matanya dan kutangkap dari percakapan kami.
’Ini waktu aku ngobrol dengannya di dekat ruang olahraga. Kenapa dia sebahagia ini ya?’ Aldo semakin ingin menguak kebenaran dari gadis yang dikenalnya sebagai adik itu. Lalu ia melanjutkan dengan halaman-halaman tengah dari buku berwarna pink itu.
Sabtu, 3 Januari 2010
Hatiku dingin sobat, dingin sekali. Rasanya aku membeku dalam dinginnya musim dingin di Antartika. Air mataku tak lagi terbendung jatuh membasahi pipiku ini. Membasahi kain yang menutup mahkotaku ini. Dia sekarang menjadi milik orang lain. Dan aku tak sedikitpun bisa mengucapkan perasaanku. Dia memang menjadi milik Sahabatku, aku tau aku mengorbankan perasaanku. Tapi semoga ini yang terbaik sobat. Allah tahu aku sayang dia. Tapi sahabatku, Diska lebih pantas memilikinya. Biarkan aku menerima segalanya dengan lapang dada.
’Jadi selama ini dia suka sma aku? Kenapa aku bodoh sekali tidak tahu. Ah bodoh banget.’ Aldo merasa bodoh dan menempeleng kepalanya sendiri karena tau dia salah.
Rabu, 27 Mei 2010
Sudah 2 Bulan ini mereka putus. Tapi aku masih belum bisa bersanding dengannya. Ya Allah apakah aku yang harus mengatakannya? Tapi bagaimana dengan sahabatku? Tidak aku tak mau menyakiti sahabatku sendiri. Cukup menjadi adiknya saja hamba merasa bahagia ya Allah. Hanya Engkau dan hatiku yang tau bahwa aku benar-benar mencintai dan menyayanginya ya Allah. Sampaikan puisi kerinduanku dengan syair do'a pada-Mu hanya untuknya. Berikan dia kebahagiaan. Karna senyumnya aku dapat tersenyum.
Perlahan dia menutup ”Diary” yang dia pegang. Aldo sadar dia sudah tahu kelanjutannya dari semua isi diary itu. Dialah yang selalu menjadi tokoh pembicaraan dalam isinya. Ketulusan dan kesabaran seorang gadis demi kebahagiaan orang yang dia cintai, meskipun sang pujaan tak tahu kebenaran yang ada. Dia merasa bersalah. Aldo telentang memandang langit-langit kamarnya dan memikirkan setiap sikap yang Karina perbuat saat bersama dia. ’Kenapa aku tidak tahu ya Allah? Inikah jalan-Mu menunjukkan kebenaran? Dengan cara inikah kau menyadarkanku dari segala kesalahan? Aku tanpa sadar sudah menyakiti hati orang yang benar-benar sayang padaku. Orang yang sebenarnya kucintai juga’. Aldo hanya bisa menyesal dalam hatinya. Andai semua ini tidak berjalan seperti sekarang, mungkin dia dan Karina sudah bersama. Kesalahan kenapa dia memendam perasaannya saja.
Pagi hari, tanda bel istirahat pertama berbunyi dengan nyaring memecah keheningan siswa-siswi yang sedang menimba ilmu di dalam ruangan kelas mereka masing-masing. Seorang gadis cantik, berkerudung putih keluar dari dalam kelas bersama sahabatnya. Karina melangkah meninggalkan kelas. Di kejauhan Aldo sudah menanti dan segera menariknya menuju samping Ruang Olahraga.
”Maaf aku lancang menarikmu ke sini, dek.” Ucap Aldo
”Tak apa, mas. Ada apa sebenarnya kenapa cuma aku saja yang diajak kemari. Aku gak enak sama Diska. Mas tau dia masih sayang sama mas kan?” Balas Karina dengan sedikit rasa bingung.
”Sebenarnya karna sesuatu aku mengajakmu kesini. Sesuatu yang menurutku sangat pentng untukmu.”
”Sesuatu apa ya mas? Aku bingung.”
Perlahan tangan Aldo mengeluarkan sesuatu berwarna pink, sekecil bungkus susu milo ukuran kecil dan tertuliskan ”Diary”. Ia menyodorkan dan memberikan pada Karina, pemilik buku dari sepenggal cerita hati yang dia ungkapkan dalam sahabatnya yang tak kan pernah bisa bcara pada siapapun.
Karina kaget dan menerima buku itu dengan rasa malu terlihat di wajahnya. ”Makasih mas, aku mencarinya kemana-mana. Mas nemuin ini dimana?” Tanya Karina pada Aldo dan mendekap buku itu di dada.
”Aku nemuinnya waktu pulang sekolah kemarin. Sebenarnya buku itu tanpa sengaja terinjak olehku. Tapi sudah aku bersihkan kok.”
Diam untuk beberapa lama. Tak sepatah kata terucap setelah kalimat yg diucapkan terakhir oleh Aldo tadi. Kebisuan menyelimuti mereka berdua.
"Mmm.... dek...” Ucap Aldo memecah keheningan mereka.
"Ya, mas. Ada apa?” tanya Karina.
”Maaf mas sudah lancang membaca Diary dek tadi malam. Mas penasaran dengan isinya. Dan mas udah tahu semuanya. Maaf selama ini mas tidak peka. Mas bodoh..... Aku pergi dulu. Assalamu alaikum.” Aldo mulai beranjak meninggalkan Karina yg terpaku karna kaget dengan kenyataan bahwa Aldo tahu isi bukunya. Dia tak bisa berucap. Hanya termenung melihat Aldo yg semakin hilang dari pandangannya. Lalu ia memandangi sahabat kecilnya itu. Tak terasa air matanya mengalir di pipinya yang manis. Membasahi matanya yang indah seperti batu safir putih yang murni. Dengan suara lirih ia menjawab salam dari Aldo tadi, "Waalaikum salam”.
Saat ia melangkah sesuatu terjatuh dari selipan buku diarynya. Sebuah kertas, dengan tulisan tangan yg cukup dia kenal. Dia membacanya dan semakin menangis tak tertahankan lagi. Menangis di lorong samping Ruang Olahraga tempatnya bertemu dulu. Rasa tangis sedih atau bahagiakah? Tak ada yang tahu, hanya mereka yang tahu dan sang pencipta yang tahu akan hal ini.


wow...i like this story...tp sye x tau la mksud bbrpe p'ktaan kat cni bab dy bnyk gne org indonesia pnye kann...mklumlaa,,,sy kann org mlaysia...so,,sy krg dlm bhsa awa...tp,wlaupn sy x fhm bbrapa prkataan kat crita ni,,,tp sy ttp mrasa bhwa crita ni best!!! heheee
BalasHapusthums up for u and 5 over 5 star for u... hehehee
terima kasih kawan, iya aku orang Indonesia
BalasHapusbaca juga karyaku yang lain ^_^